“Hahaha geli tauk, hahha udah,” Renna sampai bergulung-gulung di lantai, untuk menghindari gelitikan dari tangan pria di sampingnya.
“Bilang ampun dulu na, ntar aku baru berenti,” pria di sampingnya itu terus menggelitikinya tanpa ampun.
“Hahha iya No, ampun hahahah,” Renna memohon ampun agar di lepaskan, karena perutnya juga sudah sangat sakit karena terlalu banyak tertawa. Pria itu pun melepaskan Renna, kemudian ia berbaring di samping tubuh Renna.
“Hah, capek tau No,” ucap Renna menghadap ke arah wahah pria itu. Pria tersebut juga menoleh dan menarik kepala Renna. Menjadikan tangannya sebagai bantalan untuk kepala Renna.
“Mangkanya jan ngeledekin aku mulu Na,” pria itu sembari mengusap rambut Renna sayang.
“Iya iya,” Renna memeluk tubuh kekar pria di sampingnya itu.
“Na Kamu kelas berapa sekarang?” tanya pria di sampingnya.
“Hm, kelas dua SMP. Kenapa emang?” tanya Renna penasaran.
“Masih kecil ya ternyata pacarku ini hehe,” pria itu mencubit hidung bangir Renna pelan.
“Iya emang masih kecil, ngapa emang hah!?” Renna mendongak kepalanya ke atas untuk melihat wajah kekasihnya itu.
“Ya gak apa apa dong sayang, yang pentingkan itunya besar hahha,” Pria itu melirik d**a Renna, kemudian ia tertawa. Renna yang mengerti maksud kekasihnya itu pun langsung mencubit perut sispek pria itu.
“Duuh,” Pria di sampingnya mengaduh pelan, namun ia juga masih nyengir-nyengir tak jelas.
“Nono ih m***m,” ucap Renna,
“Kamu tu gemesin tau Na, jadi pengen remesin,” ucap pria itu yang langsung di hadiahi jambakan keras di rambutnya.
“Adoooooh, sakit na. Maksudnya gemesin lho, suuzhon aja Na,” pria itu menyentuh rambutnya yang masih dalam genggaman Renna. Sakit tentu saja, tapi ia sanga suka menggoda Renna. Seperti sudag menjadi hobi baru untuk pria tersebut.
“Sayang sakiitt,” pria itu menunjukkan wahah imutnya, supaya Renna melepaskan jambakannya dari rambutnya. Renna pun melihat wajah kekasihnya, ia langsung melepaskan tangannya ketika melihat pria itu menahan sakit. Dilihatnya juga tangannya yang ada beberapa helaibrambut kekasihnya, yang membuatnya merasa bersalah.
“Sakit banget ya No?” tanya Renna, ia merasa bersalah.
“Iyaa Na,” pria itu menyentuh rambutnya.
Melihat kekasihnya yang merasa kesakitan, Renna pun duduk bersila dan membawa kepala pria itu di atas pahanya. Ia mengelus dan memijat kepala pria tersebut.
“Maaf ya No, nana kekencengan ya jambaknya?” Renna merasa tak enak dengan kekasihnya.
“Na nikah yok,” ucap pria itu menatap wajah Renna.
“Tapi kan kita masih kecil No, kita juga belum lulus sekolah No,” ucap Renna, tangannya masih terus mengelus rambut pria tersebut.
“Yang penting itu nya udah gede Na,” ucap pria itu sembari mengedipkan sebelah matanya genit. Renna yang melihat itu pun memutar bola matanya malas.
“Katanya mau jadi dokter, ya harus sekolah yang tinggi dong,” ucap Renna,
“Iya Na bener, sekarang Aku kelas tiga SMA bentar lagi kan lulus, ntar aku mau kuliah jurusan dokter empat tahun, setelah wisuda kita langsung nikah ya Na hehe. Kalo empat tahun lagi kan kira-kira kamu udah lulus SMA udah bisa lah jadi istri aku hehe,” pria itu menatap Renna sembari tersenyum manis.
“Iya, aku mah terserah kamu aja no” ucap Renna menyetujui pendapat pria tersebut.
“Ciiee kek nya udah cinta mati nih sama aku ya na? Haha,” ucap pria itu mencolek hidung bangir Renna.
“Apaan? Enggak kok,” Renna buru-buru mengalihkan pandangannya dari pria tersebut, ia merasa gugup dan malu. Pria itu mengganti posisinya, kepalanya menghadap perut rata Renna, ia memeluk pinggang ramping Renna erat, menenggelamkan wajahnya di sana.
“Na?” panggil pria tersebut.
“Hmm?” jawab Renna dengan gumaman.
“Nanti Aku mau punya anak banyak dari kamu, nanti perut kamu akan membesar, anak kita menendang-nendang di sini. Kita akan jadi orang tua dengan keluarga kecil kita yang bahagia. Huaaa aku gak sabar banget pen kawinin kamu na,” pria tersebut menyingkap kaos yang digunakan Renna, tangannya mengelus-ngelus perut rata Renna. Renna tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, Renna juga tak sabar menantikan hari itu tiba. Ya semoga saja.
“Nikah Nono, bukan kawin ih,” Renna menepuk lengan pria itu pelan.
“Iya itu maksudnya Na, sama aja kan. Abis nikah juga kawin hehe,” pria itu mengeratkan pelukannya di pinggang Renna.
Terlihat sangat bahagia bukan sepasang sejoli tersebut. Saling berbagi kasih sayang satu sama lain, bertukar cerita dan pikiran mereka. Meski terkadang ada kerikil yang datang, namun dengan ketulusan perasaan kedua insan itu mampu melewatinya bersama, setidaknya sebelum hari itu datang. Yang membuat semuanya berubah, sebagian diri mereka pergi jauh.
“Na, aku mau ngomong sesuatu penting,” ucap Pria itu menyentuh kedua bahu Renna.
“Iya ngomong aja No, aku dengerin kok,” ucap Renna sembari melirik pria itu dari cermin yang ada di depannya, ia masih sibuk menyisir rambutnya.
“Aku,” Pria itu menarik nafasnya panjang.
“Aku di suruh kuliah di luar negri Na,” Pria itu menundukkan wajahnya, ia tak sanggup melihat wajah kekasihnya. Renna yang tadinya sibuk menyisir rambutnya seketika terhenti, ia mencoba menenangkan perasaannya saat ini. Air matanya sudah mengumpul di pelupuk matanya, ia menyekanya sebentar sebelum akhirnya menghadap pria tersebut. Renna menyentuh rahang pria di depannya, menatap mata indah pria di depannya.
“Di suruh mama ya?” tanya Renna mencoba tersenyum kepada pria itu. Pria itu hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rena.
“Aku udah nolak Na, tapi mama maksa. Aku gak bakal pergi kalo kamu gak—“ ucapan Pria itu terpotong. Renna berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibir pria tersebut. Renna cukup lama menempelkan bibirnya, kemudian ia melepaskannya.
“Aku ngizinin kamu pergi No, Dokter adalah impian kamu bukan? Dan apa pun pilihan mama buat kamu itu adalah yang terbaik,” ucap Renna,
“Tapi Kamu gimana Na?” ucap Pria itu menatap Renna lekat.
“Aku akan nunggu kamu pulang No, kita juga masih bisa saling menghubungi lewat hp. Aku mendukung cita-cita kamu No,” ucap Renna tersenyum manis.
“Makasih sayang,” pria itu memeluk erat tubuh mungil Renna.
Hari itu tiba, di mana orang yang menjadi sandaran Renna selama ini harus pergi. Sedih tentu saja renna merasakannya, namun ia juga tak bisa egois. Kekasihnya itu sangat ingin mengejar masa depannya, maka Renna harus mendukung keinginan baik kekasihnya.
“Udah gak ada yang ketinggalan kan No?” tanya Renna sembari mengecek kembali koper kekasihnya. Entah sudah berapa kali Renna bolak balik membongkar koper tersebut, untuk memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal sama sekali.
“Gak ada Sayang,” Pria tersebut memeluk Rena dari belakang dan mendaratkan kecupan ringan di leher Renna. Renna mengelus punggung tangan kekasihnya, yang melingkar di pinggangnya.
“Kamu beneran gak nganter aku ke bandara Na?” tanya Pria itu,
“Gak bisa No, aku ada ujian hari ini. Lagian aku takut nanti malah gak kuat liat kamu pergi,” Suara Renna terdengar parau, tak terasa ternyata air mata yang ia tahan pun mengalir deras sekarang.
“Na,” pria itu membalikkan tubuh gadisnya, Renaa langsung memeluk erat pria tersebut.
“Aku ga hiks gak papa No,” ucap Renna sesegukan. Pria itu mengelus rambut serta punggung Renna untuk menenangkannya.
“Biar aku batalkan saja ya Na, aku gak—“ ucapan pria itu terpotong.
“Enggak No, kamu harus tetep pergi buat mewujudkan impian kamu. Aku bener-bener gak papa di sini, mungkin aku hanya terbawa suasana saat ini,” ucap Renna meyakinkan pria tersebut untuk pergi.
“Aku akan berusaha secepat mungkin menyelesaikan study ku, dan kembali ke sini Na,” ucap Pria itu, kemudian ia mengecup dahi Renna.
Rena yang saat ini sedang melamun di atas balkon pun menarik nafasnya panjang. Kenangan itu begitu indah, janjinya untuk Renna juga sangat indah. Namun semuanya begitu cepat berlalu, tak terasa empat tahun itu sudah Renna lewati sendiri dengan pahit.
“Huuft, kenapa No? Kenapa Kamu gak pernah hubungin aku dulu? Kenapa kamu juga harus datang lagi seolah semuanya baik-baik saja?” Renna menatap langit malam yang sunyi tanpa bintang-bintang.
“Jika saja dulu aku tidak mengizinkanmu pergi, kita pasti masih bersama bukan? Atau mungkin saja kita sudah akan membangun rumah tangga yang harmonis seperti janji mu dulu No?, Nono aku rindu,” Renna memejamkan matanya, membiarkan air matanya mengalir deras di sana.