Adhira harus gimana Ayah?

558 Kata
“Adhira dari mana kamu? Kenapa jam segini baru pulang?” tanya Ruslan yang sedang duduk di sofa ruang tamu. “Ini hari Sabtu Ayah, Renna ada ekstra kurikuler di sekolah,” Renna menghentikan langkahnya sebentar, untuk menjawab pertanyaan dari Ayahnya. Adhira akan melanjutkan langkahnya kembali, namun ucapan Ayahnya membuat mengurungkan langkahnya. “Jangan bergaul dengan Renna dan Zella, Ayah tidak suka. Mereka membawa dampak buruk buat kamu Adhira,” ucap Ruslan menatap putrinya tegas. “Buruk yang bagaimana ayah? Dhira yang mendapat peringkat setelah berteman dengan mereka? Nilai Dhira bisa bagus itu juga karena Renna dan Zella yang membantu Dhira Yah,” ucap Adhira membela kedua sahabatnya. “Kamu itu pintar turunan dari Ayah dan Ibumu, tidak ada sangkutannya dengan kedua temanmu itu,” ucap Ruslan tegas. “Ayah kenapa? Ayah Adhira selalu mengikuti kemauan Ayah selama ini. Adhira sudah berusaha belajar dengan giat, supaya Adhira bisa mendapat peringkat seperti kemauan Ayah juga. Karena Adhira tau, Ayah akan sangat senang bila Adhira mendapat peringkat. Bahkan sampai saat ini Adhira pun masih berusaha Ayah menjadi yang terbaik seperti yang ayah mau. Tapi apa Ayah pernah bertanya tentang keadaan dan perasaan Adhira? Apa yang pernah tau keinginan Adhira? Apa Ayah pernah memberikan pilihan untuk Adhira? Tidak Ayah. Ayah sama sekali tak pernah menanyakan hal itu kepada Adhira. Ayah hanya menanyakan apakah Adhira sudah belajar atau belum, ayah selalu menanyakan peringkat berapa yang Adhira dapat, Ayah tidak pernah menanyakan apakah Adhira bahagia atau tidak,” Nafas Adhira terengah-engah, ia mengungkapkan semua perasaannya kepada Ayahnya. “Karena Ayah tahu yang terbaik buat kamu Adhira!” Ruslan menaikkan nada bicaranya. “Haha, apa yang terbaik Ayah? Hal yang membuat Adhira tertekan? Itu yang Ayah anggap terbaik buat Adhira? Ayah Adhira capek, Adhira selalu mengerti ayah. Adhira selalu memprioritaskan keinginan ayah dari semuanya, tapi apa Ayah? Ayah gak pernah melihat itu semua, ayah gak pernah lihat usaha Adhira selama ini, ayah hanya melihat hasilnya saja. Adhira capek ayah, bahkan Adhira merasa gak punya hak atas diri Adhira sendiri, semua karena ayah yang selalu mengekang Adhira! Tolong Ayah Adhira harus bagaimana supaya ayah mengerti dengan Adhira, Adhira harus bagaimana hiks,” Luluh sudah pertahanan Adhira, air matanya mengalir deras di pipinya. Ia tak bisa menahannya lagi, ia benar-benar lelah saat ini. Ruslan teratung melihat putri sulungnya menangis tersedu-sedu si sana, hatinya begitu sakit melihat putri sulungnya yang terlihat kuat kini menutup wajahnya menangis. Ruslan ingin memeluk putrinya dan menenangkannya, kakinya melangkah mendekati Adhira. Namun Adhira sudah berdiri tegak terlebih dahulu. “Tak apa Ayah, Adhira sudah terbiasa. Bukankah Ayah selaku menyuruh Adhira untuk kuat? Dan maaf untuk tadi Ayah. Adhira permisi,” Adhira mengusap air matanya kasar, ia mencoba tersenyum kepada ayahnya sebelum ia benar-benar pergi menuju kamarnya. Ruslan menatap punggung kecil putrinya, ia menghembuskan nafasnya panjang. Apa selama ini Ruslan terlalu keras dengan putri sulungnya? Ia terus berpikir, tak terasa rasa menyesal itu hadir. Adhira memasuki kamarnya, ia langsung menuju kasurnya. Ia menangis sambil menutup mulutnya, dadanya begitu terasa sesak. Ia menangis cukup lama sampai akhirnya Adhira tertidur karena lelah menangis. Ruslan berjalan ke arah sang putri, ia ingin membicarakan hal tadi dengan putrinya. Berharap semua akan baik-baik saja, namun saat akan memutar knop pintu kamar Adhira. Ia mendengar suara tangisan putrinya yang begitu menyesakkan d**a. Akhirnya Ruslan mengurungkan niatnya, ia memejamkan matanya mencoba tenang dan air matanya terjatuh begitu saja di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN