“Huft kenapa mata Gue gede banget sih?” Adhira melihat pantulan dirinya si cermin. Ia terbangun karena ibunya membangunkannya untuk menunaikan ibadah Shalat Ashar. Ia juga sangat kaget saat bercermin, wajahnya sudah seperti momok saja. Bagaimana tidak? Kedua matanya kini membengkak dengan kantung mata hitam di bawahnya, jangan lupakan hidung tomat Adhira, dan oh ya bibir atas Adhira juga membengkak ketika ia menangis lama seperti ini. Ia sedikit bersyukur, karena dirinya sudah bangun sebelum ibunya masuk ke kamarnya. Entah bagaimana ia menjelaskannya pada ibunya nanti.
“Gue pake apa yaak biar muka Gue normal dikitlah, ya Allah gini amat ni muka,” Adhira menyentuh bagian wajahnya yang bengkak dan menekan-nekannya pelan.
“Ini aja kali lha,” Adhira mengambil salah satu krim pelembab wajahnya, untuk menutupi bagian wajahnya yang merah. Adhira mulai mengoleskan krim itu ke wajahnya, ia benar-benar harus segera memperbaiki wajahnya karena ia harus turun ke bawah untuk membantu sang ibu memasak. Ia tak ingin ibunya khawatir saat melihat wajahnya nanti, terlebih saat tahu jika ia menangis karena bertengkar dengan ayahnya untuk yang sekian kalinya.
“Wadoh masih keliatan bengkaknya nih, pake apa yaak?” Adhira mengerutkan dahinya dalam, mencoba berpikir sesuatu.
“Ah Gue tanya Zella aja kali ya, dia kan jago kalo soal make up mah,” Adhira menyambar hp nya, ia mengetikkan nama zella di sana dan segera meneleponnya.
“Naon Dhir?” tanya Zella dari seberang telepon sana.
“Gini Zell krim wajah apa ya yang bisa menghilangkan bengkak?” tanya Adhira,
“Bengkak ape dulu Dhir? Bengkak ke siram air panas? Bengkak biduran? Atau bengkak gendut?” tanya Zella,
“Anjiiir ngeri amat, ya bengkak kek buat orang abis nangis gitu lho Zell. Lo tau sendiri muka Gue kalo abis nangis kek zombi gitu,” jelas Adhira kepada sahabatnya itu.
“Oalah abis nangis, Eh Lu yang abis nangis Dhir? Kenapa lagi?” tanya Zella yang baru paham jika Adhira menanyakan obat itu untuk Adhira sendiri.
“Busset Lu dari tadi Gue ngoceh baru ngeh Lu Zell?” Adhira tak habis pikir dengan kelemotan Zella.
“Hehe iye Dhir,” Zella cengengesan di seberang sana.
“Okeh kembali ke laptop, Gue kudu pake apa nih Zell? Gue udah pake pelembab gitu, tapi cuman ngilangin warna merah di bagian muka doang, bengkaknya masih ketara nih,” Adhira menjelaskan lagi kepada Zella.
“Coba pake krim k***** aja Dhir, kayaknya punya Gue ada kok di kamar Lu, waktu itu ketinggalan. Lu pake aja coba,” ucap Zella.
“Oh yang itu, okeh dah Gue coba pake ya, makasih Zell. Gue tutup ye byeee cabatkuuuh,” Adhira langsung menutup sambungan tersebut. Ia segera mencari krim yang disarankan oleh Zella.
“Nah ketemu,” Adhira menemukan krim itu, kemudian ia menciumnya saking senangnya. Tak menunggu waktu lama, Adhira langsung mengoleskan krim itu ke wajahnya yang bengkak. Kemudian ia mengipas-ngipasi wajahnya, ia sedikit gerah pemirsa hehe. Setelah beberapa menit, Adhira melihat pantulan wajahnya di cermin, dan tersenyum lega.
“Syukur deh mendingan,” Adhira menyentuh wajahnya yang sudah mendingan, setelah memakai krim yang di anjurkan Zella.
“KAAAAAK DHIRA DI PANGGIL IBU, SURUH TURUN BANTUIN MASAK KATANYA!” suara Adik perempuan Adhira menggelegar di seluruh ruangan. Ya, Adhita berteriak dari ruang tengah untuk memanggil Adhira yang ada di lantai dua. Sungguh adik no akhlak sekali Andhita ini.
“IYEEEE,” Adhira menjawab panggilan Andhita, jika tidak maka adiknya itu akan terus berteriak seperti tarzan sampai Adhira menjawab panggilannya. Adhira pun segera menuju ke bawah, tepatnya di dapur tempat ibunya saat ini berada.
“Bu, masak apa kita haru ini?” tanya Adhira ceria seperti biasanya.
“Masak capcai sama goreng ikan Dhir,” ibunya yang sedang memotong bakso itu menoleh ke arah Adhira, sedikit aneh melihat wajah anaknya yang tampak putih sekali.
“Muka kamu kenapa Dhir? Sakit? Kok pucet gitu?” tanya Rantu khawatir dengan keadaan putri sulungnya.
“Eng-nggak Buk, ini Adhira lupa pake liptin aja, jadi keliatan pucet. Biasanya kan Adhira pake liptun terus Buuk hehe,” Adhira gelagapan, namun ia mencoba menjelaskan ke pada ibunya dengan logis.
“Oalah, ibu kirain Kamu abis nangis Dhir,” ucap Ranti sembari kembali melanjutkan kegiatannya memotong bakso. Sebenarnya Ranti sudah sangat hafal dengan gelagat Anaknya yang seperti ini, ia tahu bahwa saat ini Adhira sedang berbohong padanya, ia juga tahu jika Adhira usai menangis tadi. Namun Ranti pura-pura tak tahu, agar putrinya juga tak khawatir dengannya.
“Enngak atuh Buk, Adhira mah kuat no nangis-nangis hehe,” Adhira menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
“Yaudah gih Kamu potongin sayurannya biar pekerjaan kita cepet selesai Nak,” perintah Ranti kepada Anaknya.
“Siap ibu negara hehe,” Adhira mengangkat tangannya untuk hormat kepada sang ibu. Ranti pun tertawa melihat tingkah putrinya ini.
Kemudian Adhira mulai memotong sayuran di sana. Dan Ranti memotong bakso sambil menggoreng ikan. Mereka melakukannya dengan cepat, sesekali juga di selingi obrolan atau candaan ringan di antara keduanya.
“Okeh beres dah,” ucap Adhira senang. Mereka berdua telah menyelesaikan masakannya dengan cepat.
“Iya, makasih ya udah bantu ibu,” ucap Ranti sembari tersenyum kepada sang anak.
“No no no, Adhira mah emang harusnya gini selalu bantu ibu,” ucap Adhira,
“Yaudah gih sana kamu mandi dulu, udah sore juga ini. Ntar biar Ibu yang nyiapin ini di meja makan,” perintah Ranti kepada sang anak.
“Siap buk, Adhira mandi dulu ya,” Adhira pamit, dan kemudian ia segera menuju ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Saat melewati ruang tengah, Adhira sedikit mempercepat langkahnya, karena ia tahu di sana pasti ada Ayahnya.
“Hahahaaa geli Ayah, jan gelitikin Dhita haha,”
terdengar suara tawa Dhita yang menggelegar di sana. Apa lagi jika bukan karena Dhita dan Ruslan sedang bercanda ria. Jelas, jelas sekali terdengar di telinga Adhira saat ini. Ingin sekali ia berada di posisi adiknya saat ini, bercanda ria dengan sang ayah. Bahkan Adhira tak ingat kapan terakhir bercanda dengan Ayahnya. Bahkan hanya untuk mengobrol biasa pun jarang, karena Adhira memang juga menghindar karena pembicaraan Adhira dan ayahnya yang selalu berakhir dengan pertengkaran. Adhira benar-benar sedih mengingatnya. Saat air matanya kembali akan menetes, Adhira cepat-cepat menyekanya, ia mempercepat langkahnya kembali. Entah mengapa rasanya begitu lawa saat melewati ruang tengah tersebut, di mana ayah dan adiknya berada di sana dan bercanda ria. Tuhan semoga semuanya kan baik-baik saja, Adhira sungguh tak apa Adhira baik-baik saja.