Buru-buru

676 Kata
“Adhira langsung berangkat Buk, Assalamualaikum,” Adhira langsung berpamitan kepada sang ibu, tak lupa ia juga mencium punggung tangan sang ibu. Adhira sengaja bangun pagi buta, langsung bersiap untuk sekolah tadinya. Namun saat melewati meja makan, ibunya sudah berada di sana, maka mau tak mau Adhira harus mampir ke sana untuk sarapan. Adhira makan dengan cepat, ia harus segera berangkat ke sekolah sebelum Ayahnya melihatnya. Adhira masih belum bisa melihat interaksi ayah dan Adiknya yang membuatnya sedikit merasa terabaikan. Adhira hanya tak ingin terlihat sedih atau pun murung di depan ibunya, itu hanya akan membuat ibunya sedih saja. Benar saja, ketika terdengar suara sepatu Ayahnya, Adhira cepat-cepat berpamitan dengan ibunya. “Lho Dhir, kok buru-buru. Ini makanannya di habisin dulu nak,” ucap Ranti, “Engga buk, Dhira udah kenyang. Dhira berangkat dulu ya buk, Dadaaah,” ucap Adhira yang langsung melenggang pergi begitu saja. Ranti tahu mengapa Anaknya itu begitu terburu-buru saat ini, namun bagaimana lagi Ranti juga sudah berusaha bicara dengan suaminya itu. Namun suaminya itu masih seperti itu, sedikit banyak suaminya itu terlalu keras dengan Adhira, seolah mendidik Adhira seperti mendidik laki-laki. Adhira di tegaskan harus kuat, kuat, dan kuat. Ranti menghela nafas panjang, setelah melihat punggung Adhira yang menghilang dari pintu. “Ran, kenapa kok muka sedih?” ucap Ruslan yang baru datang dari kamarnya. Ranti pun menoleh ke arah sang suami, kemudian ia tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak ada apa-apa Mas, yuk sarapan keburu dingin nanti,” Ranti segera menarik lengan suaminya untuk duduk, ia juga menyiapkan makanan untuk suaminya. “Andhita mana Mas?” tanya Ranti, yang belum melihat keberadaan putri bungsunya itu. “Dhita lagi nyiapin buku Buk, mungkin sebentar lagi turun,” ucap Ruslan, ia memang selalu memanggil putri bungsunya di kamar dan memastikan bahwa putri bungsunya sudah bangun. Namun ia tidak lagi ke kamar Adhira untuk membangunkannya seperti apa yang ia lakukan kepada Dhita, dengan alasan Adhira sudah dewasa dan sebagainya. “Yah, Buk, Kak Dhira nya gak ada di kamar. Udah berangkat mungkin,” ucap Dhita yang baru saja turun dari lantai atas. Ia tadi sempat ke kamar kakaknya, untuk mengecek keberadaan kakaknya. “Ke mana lagi anak itu,” ucap Ruslan, yang terdengar jelas di telinga Ranti. “Adhira sudah berangkat tadi barusan,” ucap Ranti mengerti dengan keadaan saat ini. Jujur saja Ranti juga tak habis pikir dengan suaminya, sikap suaminya sangat terlihat jika ia memperlakukan kedua putri mereka dengan berbeda. “Kenapa berangkat pagi-pagi sekali Dia buk?” tanya Rusla, “Dhira ada piket hari ini yah,” ucap Ranti asal, ia tak mungkin mengatakan jika Adhira berangkat pagi memang untuk menghindari Ruslan. “Oalah,” ucap Ruslan, Mereka pun melanjutkan kegiatan makannya. Setelah selesai sarapan, Ruslan pun mengantarkan putri bungsunya ke sekolah terlebih dahulu, baru ia akan berangkat menuju tokonya. Sedangkan Ranti, ia membereskan bekas piring kotor tadi, kemudian ia segera membuka toko rotinya. *#* Adhira berjalan gontai di trotoar, ia sengaja berjalan kaki dan tak memesan ojol, karena hari yang masih sangat pagi. Ia berniat berjalan kaki saja sampai ia lelah pikirnya, hitung-hitung sambil berolah raga juga. Saat berada di jalan, ia tak sengaja melihat anak perempuan yang sedang kesulitan membawa barang rongsokan yang ada di punggung kecilnya. “Ayo dek, kakak bantu,” Adhira menghampiri bocah tersebut dan menawarkan bantuan. Bocah perempuan tersebut menoleh dan berpikir sebentar. “Eh enggak usah Kak, bunga bisa sendiri kok,” tolak anak perempuan itu dengan halus. “Udah gak papa, sini biar kakak yang narik aja deh,” adhira mengambil alih karung yang berisi rongsokan tersebut dari tangan Bocah kecil itu. “Makasih kak,” ucap bocah tersebut dengan senyuman di wajahnya. “Sama-sama cantik,” ucap Adhira sembari tersenyum manis. “Lagian kamu jam segini udah dapet sebanyak ini? Wah hebat kamu,” Adhira mengacungkan jempol tangannya kepada anak perempuan tersebut. “Eh iya kak, sebenarnya Aku belum pulang ke rumah sejak semalam,” ucap bocah perempuan itu, “Lho kenapa? Terus kamu semalem tidur di mana?” ucap Adhira kaget dengan pernyataan anak perempuan di sampingnya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN