Untuk bocah perempuan yang malang

803 Kata
“Eh iya kak, sebenarnya Aku belum pulang ke rumah sejak semalam,” ucap bocah perempuan itu, “Lho kenapa? Terus kamu semalem tidur di mana?” ucap Adhira kaget dengan pernyataan anak perempuan di sampingnya ini. “Eh iya kak, soalnya sore kemarin ada satpol PP kak, jadi aku harus sembunyi, dan aku tidur di bekas warung di ujung jalan sini kak. Kebetulan juga kemaren rongsokan yang aku sapet jufa banyak banget, sayang kalo sampe ke tangkep rongsokannya hehe,” ucap bocah perempuan tersebut. Adhira tak habis pikir bahkan di waktu yang mendesak sekali pun ia masih memikirkan rongsokan yang ia dapat, dari pada mengutamakan dirinya sendiri. “Ya ampun, terus kamu udah makan belum hari ini?” tanya Adhira, “Belum kak, aku kan belum sempet jual hasil cari rongsokannya hehe,” bocah perempuan itu menggelengkan kepalanya. “Yaudah gini aja, sebelum kamu pulang kita nyari makan deket sini duiu yuk,” ajak Adhira, “Eh enggak usah kak, kakak kan mau sekolah nanti kesiangan. Aku ga papa kok, masih kuat,” anak perempuan tadi mengangkat kedua tangannya dan melambaikannya ke kanan dan ke kiri. “Enggak, kakak masuk sekolahnya masih lama kok. Pokoknya kita cari makan dulu titik.” Adhira langsung menarik tangan Anak perempuan itu yang kosong, mengajaknya mencari makan di sekitar jalan yang tak jauh dari tempatnya. Setelah beberapa menit berjalan, Adhira dan bocah perempuan itu pun menemukan wateg yang ada di seberang jalan. “Nah itu dia ada Wargteg, kita ke sana aja yuk,” Adhira langsung menarik kembali tangan anak perempuan itu, setelah memastikan bahwa aman untuk mereka menyeberang saat ini. “Tapi kak aku—“ ucapan anak perempuan itu terpotong. “Iya, nanti kita bungkus aja makanannya sekalian buat keluarga kamu nanti. Okey! Dan kamu gak boleh banyak protes,” Ucap Adhira sembari tersenyum manis ke arah anak tersebut. Membuat anak perempuan itu nyaman dan tersenyum manis juga. “Makasih kak,” anak perempuan itu merasa terharu sekali dengan kebaikan Adhira. “Sama-sama cantik,” Jawab Adhira sembari tersenyum. Mereka pun sudah sampai di depan warteg, terlihat suasana yang masih lenggang di sana. Mungkin karena ini masih terlalu pagi, dan Adhira juga sangat bersyukur dengan hal itu. “Ayok kita masuk, biar kakak pesenini,” Adhira mengajak anak perempuan itu ikut bersamanya, namun anak itu menggeleng. “Enggak usah kak, aku nunggu di sini aja. Takutnya badan aku ini bau dan malah mengganggu orang-orang yang ada di sana,” ucap anak perempuan itu, “Beneran kamu gak mau ikut kakak masuk aja?” tanya Adhira lagi untuk memastikan. “Enggak kak,” ucap Anak perempuan itu sembari tersenyum. “Yaudah deh, oh ya, keluarga kamu semuanya ada berapa orang?” tanya Adhira, “Eh e ada Lima orang kak,” jawab bocah tersebut, “Oke deh, kakak masuk dulu. Kamu jangan ke mana-mana oke!” ucap Adhira memperingati anak perempuan itu. Anak itu pun mengangguk sembari tersenyum manis ke arah Adhira. Adhira pun pergi memasuki warteg tersebut, ia pun segera memesan makanan kepada ibu warteg yang kebetulan sedang asyik menggoreng ikan. “Buk, saya mau pesen nasi lima bungkus ya,” ucap Adhira, “Siap neng, lauknya apa nih?” tanya ibu warteg tersebut. “Lauknya telur, tahu, tempe bacem, sayur gori, urap, dan ikan mas goreng buk,” ucap Adhira sembari menunjuk lauk yang ada di meja dapur tersebut. Ia sengaja hanya memesan lima bungkus saja, karena dirinya masih kenyang saat ini. Adhira pun duduk menunggu pesanannya siap, sesekali ia juga melihat dan mengecek, apakan bocah perempuan tadi masih menunggunya atau tidak. Ia khawatir anak tersebut kabur, bukannya bagaimana, tapi Adhira sudah pernah mengalaminya. Ia berniat membantu seorang anak, namun ternyata anak tersebut malah kabur, saat Adhira sedang membelikannya makanan. Alhasil membawa makanan yang ia pesan ke sekolah dan membagikannya kepada teman-teman sekelasnya. Dan Adhira benar-benar tak mau hak itu terjadi lagi. “Ini neng pesenannya udah siap,” Ucap ibu warteg, terlihat juga ia sedang membawa lima buah nasi kotak. “Eh iya buk, totalnya berapa ya buk?” Adhira menerima pemberian nasi kotak dari tangan ibu warteg tersebut. “Emapat puluh ribu aja neng, buat penglaris ini, si eneng udah beli pagi-pagi gini hehe,” ucap ibu warteg sembari tersenyum ke arah Adhira. “Wah iya buk, terima kasih banyak lho,” ucap Adhira, kemudian ia memberikan dua lembar uang dua puluh ribuan. “Iya neng sama-sama, Alhamdulillah lares manis tanjung kibul,” itu warteg menerima uang dari Adhira dan mengibaskannya ke dagangannya. Adhira pun langsung menghampiri anak perempuan tadi, terlihat anak itu sedang menunggunya sembari duduk menatap langit di atasnya. “Hey ayuk kita langsung ke rumah mu,” Adhira membuyarkan lamunan anak perempuan tadi. “Eh iya kak, yuk,” ucap anak perempuan dengan senang. Adhira pun mengantar anak perempuan itu sampai rumahnya dengan selamat, aman, dan sentosa hehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN