Di bonceng Mas jaemin

696 Kata
“Wah kenapa dari tadi kagak ada angkot sih,” Adhira melihatbujung jalan ke kanan san kiri. Setelah mengantar anak perempuan tadi, Adhira langsung perg menuju sekolahnya. Namun sampai saat ini ia pun belum mendapatkan angkot atau pun ojol yang menerima pesanannya. “Hei, Adhira kan?” sebuag sepeda motor berhenti di depannya, pria itu membuka helmnya. “Eh iya kak Rei, ini Dhira,” Adhira tersenyum ramah, setelah mengetahui bahwa pengendara motor tersebut adalah Reino. “Mau ke sekolah?” tanya Reino, “Iya kak, tapi dari tadi belum dapet angkot atau pun ojol,” ucap Adhira dengan raut wajah yang bingung. “Yaudah bareng kak Rei aja Dhir,” Reino menawari tumpangan untuk Adhira. Adhira yang sangat membutuhkan tumpangan tersebut pun langsung mengangguk semangat dan naik ke atas motor Reino. Reino pun melajukan motornya sedikit cepat, karena jambdi tangannya juga sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. “Pegangan Dhir, kakak mau ngebut,” perintah Reino, “Siyap kak,” Adhira melingkarkan kedua tangannya di pinggang Reino erat. Kebetulan sekali hari ini Reino sedang mengendarai motor ninjanya, jadi ia bisa lebih sedikit cepat. Bayabgkan saja jika Reino mengendarai motor skupinya, mungkin Adhira akan telat sampai di sekolah. Terlepas sari itu semua, sebenarnya Reino memang ingin ke sekolah Adhira guna bertemu Renna atau lebih tepatnya ingin melihat Renna. Kebetulan ia melihat Adhira yang sedang kebingungan, jadi Reino mengajak Adhira bersamanya juga. Reino juga sudah menganggap Adhira sebagai adik kecilnya. “Ok sampai Dhir,” ucap Reino, Adhira segera turun dari kotor Reino dan menyerahkan helm kepada Reino. “Wooh, makasih Kak udah bikin jantungku mau copot ini. Kakak bawa motornya kenceng banget astagaa,” ucap Adhira yang masih menyetabilkan detak jantungnya. Baru kali ini adhira di boncenf secepat kilat oleh seseorang. “Haha, biar cepet sampe Dhir,” ucap Reino sembari tertawa. “Hehe iya deh Kak, kalo gitu Adhira langsung mau ke kelas ya,” Adhira pamit kepada Reino. “Iya, belajar yang bener okey,” Reino mengelus rambut Adhira sayang. Adhira pun melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sedangkan Reino masih mencari keberadaan orang yang ia cintai selama ini, ia hanya ingin memastikan bahwa wanita baik-baik saja. “Kamu di mana Renn?” Reino bergumam pelan. Ia tak melihat keberadaan Renna di sekitar sekolah, ia pun memutuskan untuk pergi ke rumag sakit dan akan menemui Renna nanti. Di sisi lain, seorang perempuan memperhatikan ineraksi Adhira dan Reino sedari tadi, ia tersenyum sendu. Tidak, ia tak cemburu dengan Adhira. Ia tahu sikap Reino yang baik pada semua orang itu kadang membuatnya bingung. Ia hanya sedang teringat masa-masa dulu saat masih bersama Reino, apa jika dulu Reino tak pergi, ia yang ajan di posisi Adhira saat ini? Entahlah ia juga bingung dengan perasaan benci sekaligus cinta yang ada di hatinya. “Gue mikir apaan sih, enggak Lo asti bisa Renn,” Renna menguatkan hatinya dan melangkah pergi menuju kelasnya. Saat berada di kelasnya, terlihat semua teman-temannya sudah berkumpul di sana, tak terkecuali Adhira dan Zella di sana. “Lo lama banget Renn beli kuacinya,” protes Zella, Renna tak menanggapi perkataab Zella, ia langsung duduk di bangkunya. “Man kuacinya Renn?” tanya Zella lagi, “Kagak dagang mamangnya, istrinya lahiran kata mbah iyem,” ucap Renna, mbah iyem adalah penjual nasi uduk di kantin dan mamang yang di maksud Renna adalah mang dadang penjual makanan ringan. “Oalah, laki-laki atau perempuan anaknya Ren?” tanya Zella lagi, Renna tak menjawabnya, ia malah melanjutkan kegiatan membaca novelnya. “Njiiiir kacang mahaal dong,” Adhira meledek Zella yang di kacangin oleh Renna. “Heleh Renna taik emang,” Zella mendumel kesal, sedangkan Renna hanya mengedikkan bahunya acuh, ia tak mengerti juga mengapa moodnya tiba-tiba down saat mengingat Rein dan kenangab mereka. “Woy kalian tau gak nih guys!” heboh Adhira, bahkan ia sampai menggebrak mejabyang membuat semua orang yang ada di kelas itu menoleh ke arahnya. “Hehheh kalem coy, gw mau cerita ke Zella dan Renna aja kok hehe. Sok atuh lanjutkan ngerumpinya buk ibuk hehe,” ucap Adhira, setelah melihat seluruh mata menuju ke arahnya dengan tatapan tajam tentunya. “Kebiasaan Lu Dhir, bikin kaget ae,” ucap sang kepala keluarga, eh maksudnya ketua kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN