“Gue tadii....apa coba tebak dong guys,” ucap Adhir, sengaja memotong perkataannya agar kedua sahabatnya ini penasaran. Zella yang sudah memasang wajah serius itu pun berdecak malas.
“Ck, buruan dong Dhir,” perintah Zella yang sudah tak sabaran.
“Iye nih, kebiasaan lu mah,” ucap Renna, walau pun ia sudah mengetahui apa yang akan Adhira ceritakan, ia mencoba terlihat tak tahu apa-apa di depan kedua sahabatnya.
“Heh, iya iya. Netijen sabar dong,” Adhira cengengesan tak jelas. Adhira pun melanjutkan ceritanya yag sempat terpotog tadi.
“Jadiii, GUE TADI DI ANTER SEKOLAH SAMA MAS JAEMIN DOONG HUAAAA,” ucap Adhira heboh sendiri, sedangkan kedua sahabatnya hanya memutar kedua bola matanya jengah.
“Heleh-heleh,” cibir Zella,
“Heleh ape Lu, iri kan Lu huu dasar,” ucap Adhira, kemudian kembali cengengesan tak jelas lagi. Sedangkan Renna hanya menggelengkan kepalanya, tak abis pikir dengan kedua sahabatnya yang begitu tergila-gila dengan Reino.
“Kok lu bisa bareng Kak reino Dhir?” tanya Zella penasaran.
“Iya gue ketemu di jalan, jadi gue kek kebingungan gitu gak ada angkot atau pun ojol yang mau terima pesenan gue. Terus Kak Rei dateng nawarin tumpanfan ke gue, yaa auto gaas pol dong Gue hahahha,” Adhira menceritakan kronologinya kepada kedua sahabatnya, terutama Zella yang sangat penasaran ini.
“Lu hoki banget deh kayaknya idupnya Dhir,” ucap Zella, yang iri dengan Adhira.
“Hahha iri kan Lu Zell hahaha,” Adhira tertawa puas, melihat Zella yang memasang wajah cemberut karena iri dengan cerita Adhira.
“Dhira melihara ikan koi Zell, mangkanya dia hoki mulu,” ucap Renna menanggapi ucapan Zella.
“Wah iya kah Dhir? Kalo gitu gue nantimau bikin kolam ikan koi dah,” ucap Zella, yang membuat kedua sahabatnya ini tertawa lepas.
“Nah iye tuh Dhir, jolam renanglu kan banyak. Sulap aja jadi kolam ikan koi, biar lu bisa mandi sekalian bareng tu ikan. Biar hokinya lebih banyak,” ucap Renna mengerjai Zella yang polos ini.
“Emang gitu ya Dhir?” Renna mengerutkan dahinya, kemudian bertanya kepada Adhira. Adhira yang mendengar penururan Renna dan pertanyaan Zella pun tertawa sembari sampai perutnya terasa sakit.
“Hahhahah aduh perut gue sakit hahha,” Adhira tertawa lepas.
“Ada-ada aja lu Zel hhha,” ucap Renna, ia juga ikut tertawa mendengar pertanyaan bodoh Zella itu.
“Kalian mah,” Zella mengkrucurkan bibirnya melihat kedua sahabatnya yang malah menertawakannya.
Tak lama kemudian, bel tanda masuk pun berbunyi. Mereka segera kembali ke tempat duduknya masing-masing. Begitu pula dengan Adhira, Zella, dan Renna, mereka juga mengikuti pelajaran dengan tertib.
“Guys, Zella mau celitaa,” ucap Zella dengan nada manja seperti anak keci.
“Jijik gue denger suara Lu,” ucap Renna sarkas.
“Hooooek,” Adhira pura-pura seperti orang yang muntah, setelah mendengar suara Zella.
“Jahat amat lu pada ih,” Adhira menkrucutkan bibirnya.
Saat ini mereka sedang istirahat, ada yang ke kantin untuk makan, dan ada pula yang memilih tinggal di kelas karena malas. Seperti yang di lakukan Adhira dan kedua sahabatnya ini misalnya, mereka sedang tiduran di lantai kelas.
“Diiih gelok,” ucap Dhira mencibir. Sedangkan Renna, ia masih setia dengan novel yang ada di tangannya saat ini.
“Jadi gini, gue kemaren ketemu sama Om bara di jalan,” ucap Zella,
“Hah? Om bara yang ketemu di pantai itu Zell?” tanya Adhira yang langsung menghadap Zella, agaknya ia juga mulai kepo dengan cerita Zella kali ini.
“Terus?” ucap Renna melirik ke arah Zella. Renna memiliki fokus yang sangat kuat, ia bisa membaca buku namun telinganya juga ia gunakan untuk mendengar cerita Zella. Benar-benar otak jenius Renna.
“Ciee pada penasaran nih yeee,” Zella tersenyum tengil yamg membuat Adhira dan Renna memutar bola matanya malas.
“Terus gue di ajak jalan-jalan sama dia,” ucap Zella,
“Kok lu mau Zell?” tanya Adhira yang tak sabaran,
“Biarin Zella cerita dulu b**o, kalo lu tanya mulu, kapan Zella selesai ceritanya!” ucap Renna,
“Hehe iye-iye orang pinter,” ucap Adhira menatap tajam sahabat dinginnya ini.
“Lanjot,” perintah Renna.
“Apa genjoot? Gu-gue gak di genjot kok astagaaaa,” ucap Zella ambigu karena ia salah dengar perkataan Renna.
“Gobloook!” Adhira menoyor dahi Zella, ia gemas sekali ingin membuang Zella ke laut.
“Lanjoot Zell bukan Genjoot, astagaa pikiran Lu,” ucap Renna memperjelas perkataannya.
“Heheh bukan salah otak Gue kok, kuping gue ini yang salah hehe,” ucap Zella cengengesan.
“Gue dipaksa sama Om bara buat—“ ucapan Zella di potong oleh adhira.
“GILLAAAA, JADI LO BENERAN DI GENJOT SAMA OM BARA ZELL?!” Adhira menutup mulutnya tak percaya dengan cerita Zella.
“Aduuh, kenapa sih Renn,” Adhira mengaduh dan memegang dahinya yang di pukul oleh Renma dengan novel tebalnya itu.