Zella jalan-jalan sore

1438 Kata
“Aduuh, kenapa sih Renn,” Adhira mengaduh dan memegang dahinya yang di pukul oleh Renma dengan novel tebalnya itu. “Dibilangin jan di potong mulu omongan si Zella, biar dia nyelesain ceritanya dulu. Baru Lu nanya,” ucap Renna sembari melotot ke arah Adhira, Renna gemas sekali ingin menampol wajah Adhira ini. “Iye iye mangap,” ucap Adhira mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. “Lanjot,” perintah Renna, agar Zella segera melanjutkan ceritanya. “Jadi gini ceritanya,” ucap Zella. Sore itu Zella yang sedang berada di rumah merasa sangat bosan sekali, ia pun akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan sore. “Hah, cocok banget nih buat jalan-jalan sore. Lumayan sepi juga,” ucap Zella yang melihat jalanan yang lumayan longgar. Ia pun segera berlari menyusuri jalanan, sesekali ia menyanyikan lagu mengikuti alunan musik yang ada di telinganya. Saat sudah mulai jauh dari kompleknya, Zella tak menyadari bahwa ada segerombolan laki-laki yang sedang nongkrong di ujung jalan sana. Ia terus berlari-lari kecil tanpa menghiraukan kadaan sekitarnya. “Cuit cuiit, cantik,” ucap salah satu pria di sana. Zella tak menghiraukannya, selagi mereka tak menyentuh Zella, maka Zella tak menanggapi ucapan mereka. “Woow seksinya,” ucap salah satu pria di sana. Zella mulai was-was mendengar ucapan pria tadi, ia mencoba mempercepat langkahnya. Ia juga tak sadar bahwa saat ini ia hanya memakai tanktop dengan belahan dadanya yang terekspos, ia juga hanya mengenakan celana pendek dengan menampakkan kaki mulus nan jenjangnya. “Huft syukur deh gue udah ngelewatin kumpulan orang-orang gak jelas itu,” ucap Zella lega. Saat ini ia sudah merasa lebih aman, karena sudah melewati orang-orang tadi. Ia juga sudah cukup lelah sekarang karena lari yang lumayan jauh. Saat ini yang Zella inginkan hanya pulang dan mandi, ia sudag sangat merasa lengket di seluruh badannya. “Huh, lengket banget, iuuh,” Zella mencium ketiaknya sendiri yang kecut itu. “Harus pulang nih gue, masa gue bau ketek sih ih,” ucap Zella panik sendiri karena bau badan miliknya. Saat Zella sudah berdiri dan bersiap untuk lari lagi menuju rumahnya, tiba-tiba ia eringat bahwa harus melewati orang-orang tadi, dan melihat langit yang mulai gelap pun ia memutuskan untuk memesan grap saja. Ia taj mau mengambil resiko dengan melewati orang-orang tadi. “Yah, gue harus pesen grap,” Zella segera mengambil hp nya, namun saat ia akan menghidupkan hpnya ternyata hp Zella havis baterai. “Nah lho, kok mati sih,” Zella segera mengecek saku celananya apakah ada uang atau tidak. Namun ternyata saat ini Zella mengenakan celana yang tak ada sakunya sama sekali. Habis lah Zella. “Nah lho Zella, lu b**o banget sih, mana kagak ada sakunya lagi,” Zella menepuk jidatnya bingung. Ia mulai mengerutkan dahinya dan berpikir keras bagaimana cara ia pulang tanpa melewati orang-orang tadi. “Gimana ya? Apa gue jual hp ini aja kali ya?” ucap Zella bermonolog dengan dirinya. “Tapi di sini gak ada konter hp lagi, ih Zella kesel,” Zella menelungkupkan wajahnya, ia juga menekuk kaki panjangnya. Hari sudah mulai gelap, Zella muali mengusap-usap lengannya karena angin malam yang dingin. Saat ini ia juga tengah duduk di bawag pohon besar di pinggir jalan. Ia sedikit menyembunyikan tubuhnya, karena pakaian yang ia gunakan sangat terbuka dan Zella tak bisa percaya dengan orang asing. Ia takut malah orang asing itu yang akan mencelakakannya. Tiba-tiba sebuah mobil hitam bwrhenti di dekat Zella, Zella mulai was-was ia sampai menutup mulutnya agar tak bersuara. Braakk Terdengar seseorang yang menutup pintu mobil dengan kasar, langkah kaki seseorang itu pun mulai terdengar semekin dekat dengan Zella. Zella benar-benar takut saat ini, ia mencoba meraih bongkahan bata yang menjadi tumpuannya duduk sejak tadi. Daaaan— Tak braak “Emmb emmb,” pria itu dengan cepat membuang bata yang ada di tangan Zella, kemudian tangannya sebelahnnya ia gunakan untuk membekap mulut Zella agar tak berteriak. Tubuh kecil Zella berontak, namun tak membuahkan hasil. Pria itu membawanya ke dalam mobil, dan melepaskan tangannya dari mulut Zella. “Huuh, huuh, huuuh,” Zella mengatur nafasnya yang tak beraturan, kemudian ia menolehkan wajahnya ke arah pria di sampingnya. “O-Om Bara?” beo Zella bingung. Bara menoleh ke arah Zella sekilas, kemudian ia memalingkan wajahnya kembali. “Pake sabuk pengamannya,” perintah Bara tak terbantahkan. Dasar otak Zella yang lemot, ia malah hanya bengong diam saja tanpa melakukan hal yang di perintahkan Bara. Bara yang melihat Zella hanya diam saja pun menghela nafas, kemudian ia memasangkan sabuk untuk Zella. “Eh?” ucap Zella, saat wajah bara dan wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja. Bara memperhatikan wajah Zella yang binging itu, tak sengaja ia melihat pakaian Zella yang tak seperti pakaian lagi, belahan d**a Zella begitu terekspos membuat Bara salah fokus. “Eh, ini tadi—“ Zella menutup dadanya dengan kedua tangan, ia merasa sangat malu saat Bara dengan terang-terangan menatapnya seperti itu. “Kenapa pake baju kurang bahan gini sih?” ucap Bara, ia masih dalam posisi yang sama saat ini. Bahkan ia sedikit menghimpit tubuh ramping Zella. “Eh aduh, em tadi Zella buru-buru. Jadi gak tau kalo Zella keluar pake baju kayak gini Om,” ucap Zella. Tangan Zella yang tadi ia gunakan untyk menutup dadanya, kini ia gunakan untuk menahan d**a Bara agar tak terus meghimpitnya. Bara mencekal kedua tangan Zella dengan satu tangannya, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Zella. Ia menempelkan bibirnya di atas bibir ranum Zella. Zella merasakan benda kenyal itu ada di sana, perlahan matanya terpejam menikmati sentuhan Bara. Bara mulai melumat bibir Zella pelan, kemudian bibirnya pindah ke arah d**a Zella yang menyembul keluar dari tempatnya. Bara mengecup, menghisap daging itu. Bara juga membuat beberapa kiss mark di area d**a atas Zella. Zella menggeliat tak karuan, menikmati sensasi yang di buatnoleh Bara. Bara benar-benar mencium d**a atas Zella dengan intens, hampir seluruh area itu basah dan berwarna merag keunguan karena ulah Bara. “Cup, cup,” Suara kecupan terdengar dari mulut Bara. “Eeungh, hah,” Desahan Zella terdengar, ia bahkan sudah menggigit bibir bawahnya agar suaranya tak keluar. Namun sensasi yabg di berikan Bara membuat tubuhnya benar-benar melayang. Bara tersenyum di sela-sela ciumannya, ia melihat wajah Zella yang begitu seksi menurutnya. Setelah benerapa menit dengan kegiatannya, Bara melepaskan bibirnya dari sana, ia tersenyum melihat maha karyanya di atas d**a Zella. “Nanti lagi, sekarang Kita pulang dulu,” Bara melepaskan cekalannya dari tangan Zella. “Hah, hah,”Zella hanya diam saja, ia sibuk mengatur nafasnya yang tak beraturan. Bara juga langsung menghidupkan mesin mobilnya danmelaju pergi dari sana. Sesekali ia juga tersenyum melihat Zella yang sepertinya bingung. Saat Zella akan menutup bagian atas dadanya dengan menaruk kaosnya ke atas, tangan Bara mencekalnya. “Jangan,” ucap Bara, “Kok jangan Om? Ini d**a Zella keliatan lho gara-gara Om,” ucap Zella bingung dengan Bara yang malah mencegahnya menutup dadanya. Bara memperhatikan d**a Zella kembali, ia tak sadar bahwa saat ini tanktop yang di gunakan Zella sudah sangat melorot dan beha Zella juga sudah terpampang di sana. “Ehm, biarin aja. Nanti gabti baru di apartemen saya,” Ucap bara tenang, ia kembali fokus menyetir kembali. Sedangkan Zella yabg sudah lelah itu pun, menurut saja. Zella memejamkan matanya ngantuk, ia tertidur. Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Bara dan Zella sampai di apartemen milik Bara. Bara menggendng tubuh mungil Zella dari mobil sampai ke apartemennya. Ia menidurkan tubuh Zella di atas kasur miliknya. Ia memperhatikan Zella dari atas hingga bawah. “Apa gue gantiin aja bajunya? Gila gilaaak, yang ada malah dia bakal abis sama Gue,” ucap bara, “Gue gantiin aja lah, bisa pasti kuat,” ucao bara dengan tekat yang kuat. Ia beralih menuju lemarinya dan mengambil celana traning daa kaos untuk Zella. Ia mulai melepas celana Zella. “Gillak mulus banget njiiir,” tangan Bara mengelus paha muluas Zella, hanya sebentar, kemudian ia segera memakaikan Zella celana traning yang tadi sudah ia ambil. Kini bara beralih ke bagiab atas tubuh Zella, ia mencoba melepas tanktop yabg di gunakan Zella, namun sulit. Kraaaaaakkk Bara yang tak sabaran pun langsung merobek tanktop tersebut, kemudian ia membuangnya di kotak sampah yang ada di kamarnya. Kemudian saat ia akan memakaikan kaos ke tubuh Zella, ia memperhatikan d**a Zella yang menyembul keluar dengan tanda di atasnya, karena saat ini Zelka tidur dengan posisi miring. Bara yang melihat itu pun mengurungkan niatnya, ia meletakkan kaos itu di atas nakas. Kemudian ia menggantu baju formalnya, bara hanya mengenakan celana traning dan bertelanjang d**a. Kemudian ikut bergabung tidur dengan Zella. Ia memeluk erat tubuh Zella, kadang sesekali tangan nakalnya meremas d**a Zella yang membuat Zella menggeliat. Bara tersenyum ia bisa tidur bersama lagi dengan Zella setelah beberapa tahun lalu. Mereka pun tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN