Sayangnya Gue nih!

1070 Kata
“Em, makan ya Xel?” Adhira mengambil makanan di atas meja. Exel hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Adhira, bahkan matanya masih fokus menatap layar televisi. Adhira pun menyuapi Exel dengan telaten. “Ga makan?” tanya Exel melirik Adhira sekilas. “Em, masih kenyang,” jawab Adhira, Kemudian keheningan menyelimuti mereka, sampai Exel benar-benar menghabiskan makanannya. Adhira pun menyodorkan minum untuk Exel, dan Adhira memberesi piring kotor dan membawanya ke dapur. Namun sebelum Adhira melangkah pergi, Exel mencekal tangannya. “Mau kemana Yang?” ucap Exel tersenyum manis. Exel memang tidak bisa marah dengan waktu yang lama, terutama kepada Adhira. Adhira tersenyum, syukurlah Exelnya sudah tak marah. “Ngembaliin piring kotor sayang,” jawab Adhira tersenyum manis. Exel yang mengerti pun mengangguk dan melepaskan cekalannya pada Adhira. Kemudian, Adhira beranjak pergi ke lantau bawah. Adhira membuka pintu kamar Exel dan menutupnya kembali, ia melihat Exel sedang tiduran di atas kasur. “Sini Yang,” Exel menepuk-nepuk kasur sebelahnya. Adhira pun mengangguk dan merebahkan badannya di sebelah Exel. Ia sedikit menjaga jarak karena Exel yang masih belum memakai bajunya. Adhira malu. “Kok jauhan?” Exel mengerutkan dahinya, ia merasa aneh karena Adhira yang menjaga jarak dengannya. Pasalnya, Adhira selalu memeluk Exel di saat-saat seperti ini. “Em, Kamunya ga pake baju,” ucap Adhira sambil melirik perut kotak-kotak Exel sekilas. Kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya lagi, takut khilaf batin Adhira. “Emang kenapa? Seksikan Aku yang hahaa,” ucap Exel tanpa dosa. Adhira memutar bola matanya jengah dengan kepedean kekasihnya ini. “Sini ah, Kamu kalo pegang juga ga papa kok,” Exel mengedipkan sebelah matanya menggoda Adhira. Kemudian ia menarik pinggang Dhira mendekat ke arahnya. Adhira pun melotot dan mencubit perut keras Exel. “Duh, udah ga sabaran ya Yang? Main grepe-grepe Aku aja, hahha,” ucap Exel tak jelas. “Pake baju sana ih,” ucap Dhira sambil mendorong d**a Exel menjauh. Tapi bukannya menjauh, Exl malah menangkup kedua tangan Adhira. Kemudian Exel menuntun tangan Adhira menyusuri pahatan demi pahatan tubuh bagian atasnya. Adhira terkejut sekaligus menikmatinya, karena ini pertama kakinya ia menyentuh sesuatu yang disebut roti sobek itu. Saat Adhira masih begitu kagum dengan apa yang dimiliki kekasihnya, Exel sudah memberhentikan tangan Adhira. “Gimana? Terpesona eh? hehe,” ujar Exel yang melihat wajah mupeng Adhira. Kemudian Exel menarik tangan Adhira dan memeluk Adhira nyaman seperti tadi. Sebenarnya Exel juga menikmati sentuhan Adhira di bagian atas tubuhnya. Namun, untuk menghindari hal yang tak diinginkan pun Exel terpaksa menarik tangan Adhira. Exel hanya ingin menjaga Adhiranya dengan baik itu saja. “Ngapain ya enaknya Xek? Masih sore nih, masa mau bobok sih,” Adhira mendongakkan wajahnya ke atas untuk menatap Exel. Exel juga menundukkan wajahnya guna melihat wajah cantik Adhira. Bahkan, jarak antar wajah mereka hanya beberapa senti saja. “Yang kayak tadi enak ga sayang?” goda Exel, mengingatkan Adhira dengan hak baru saja ia lakukan. “Apaan sih, enggak biasa aja. Masih bagus perutnya Om Sehun kok,” Adhira menenggelamkan wajahnya ke d**a bidang Exel. Sebagai wanita Adhira tak munafik, jika ia sendiri kagum dengan bentuk tubuh Exel yang atletis dibandingkan anak remaja seusia mereka. Bukan berarti Adhira pernah melihat tubuh pria lain, ia mengetahuinya dari Zella dan Renna. Membayangkan kejadian tadi membuat Adhira senang dan malu sendiri. “Hah? Om Sehun siapa Dhir? Ka-kamu?” ucap Exel syok, ia tak menyangka jika Adhira bermain dengan Om-Om di luar sana. Kemudian Exel melepaskan pelukannya sedikit menjaga jarak dengan Adhira. Adhira yang sudah mengerti isi kepala kekasihnya itu langsung menoyor kepala Exel pelan. “Dasar m***m, pergilah wahai pikiran-pikiran kotor,” Adhira membaca mantra, kemudian meniupkannya di kepala Exel. Rupanya Adhira sedang cosplay menjadi Mbah dukun saat ini. Sedangkan Exel memasang wajah cengonya dan mengerjap lucu. “Ih lucu banget mukanya pacar Adhira,” Adhira memeluk kepala Exel gemas. Exel yang merasa sesak pun melepas pelukan Adhira. Ia masih tak paham dengan situasi saat ini. “Apa sih Dhir? Aku ga paham. Sekarang Kamu jawab pertanyaan Aku tadi, apa bener Kamu sama Om-“ Adhira memotong perkataan Exel cepat. “Heh, Kamu kira Aku cwe apaan Xel? Om Sehun itu artis Kore. Nih lebih ganteng nan seksi dari situ kan,” Adhira mengambil handphonnya dan mencari foto sang Idol kesayangan. Setelah dapat foto Sehun, Adhira menunjukkannya di depan mata Exel. “Ooh, bilang atuh Yang, maaf ya Aku ga bermaksud nuduh Kamubyang enggak-enggak. Cuman kalo emang mau yang enggak-enggak ya sama Aku aja gitu lho,” Exel menarik kemvali Adhira dan mengedipkan sebelah matanya. “Iye,” tanggap Adhira singkat. Ia tak meladeni godaan Exel yang mungkin tak akan ada ujungnya di ladeni. Kemudian Adhira mencari tempat ternyaman di pelukan Exel. “Nonton Upin dan Ipin dong Sayang, mana tadi remot tvnya? Adhira celingak-celinguk mencari remot televisi. Pasalnya tasi Ia melihat remot itu di sekitar ranjang. “Nih,” Exel menyerahkan remot televisi itu kepada Adhira. Ia tadi menyimpannya di nakas, agar tak tertindih badan Adhira. Adhira mengambil remot tersebut dari tangan Exel, kemudian ia segera mencari acara kesayangan sejuta umat itu. “Kamu kenapa suka Upin dan Ipin sayang? Kenapa ga suka Dora atau barbie gitu?” tanya Exel penasaran. Karena di saat mood Adhira sedang tidak stabil pun hanya Upin dan Ipin yang bisa menjadi pawangnya. “Dora kepoan orangnya, Aku ga like. Barbie keliatan lebih cantik dari Aku, yavwalau pun Cuma keliatannya ajablho ini, kalo aslinya ya tetep aku nomer one. Tapi tetep aja Aku ga like.” Ucap Adhira mantapbdan sekaligus kesal, antahlah ada masalah apa antara Adhira dengan Dora dan Barbie tersebut. “Oh gitu, tapi cocok loh Dhira dan Dora inilah dia teman seiras itu biasa, nanaanaa siapa juaaa hahaa,” Exel menyanyikan lagu Upin dan Ipin. Tapi liriknta ia ganti menjadi Dhira dan Dora yang membuat Adhira kesal dan menggelitiki perut Exel tanpa ampun. “Iya-iya, udah Dhir, ampun nyonya,” Exel memang tidak tagan jika digelitiki, ia bisa sampai kencing di celana jika tak tahan. Exel kemudian menangkup tangan Adhira dan menggigitnya pelan. Tidak es balok sekali eh maksudnya tidak aesthetic sekali jika Exel ngompol di depan Dhira. Bisa-bisa Adhira akan meledeknya sampai tua nanti. “Mangkanya jan ngeledekkin Aku,” kesal Adhira kepada Exel. “Iya-iya nyonya,” ucap Exel, kemudian ia mengecup dahi Adhira. Mereka pun melanjutkan aktivitasnya menonton televisi, atau lebih tepatnya Adhira lah yang menonton. Sedangkan, Exel hanya menemani Adhira, ia sibuk menyisir rambut panjang Adhira dan sesekali menghirup aroma wangi dari rambut tersbut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN