Tak sengaja

1091 Kata
“Lo ngomong apa sih Dhir, Gue ga suka ya Lo ngomong kek gitu” ucap Renna tak setuju dengan pendapat Adhira. “Iya Renn,” ucap Adhira, iya tahu sahabatnya itu tak ingin menambah beban Adhira dengan memarahinya. Ia benar-benar bersyukur. “Cepet panggilin Cwo Lo! Gue mau ngomong,” suruh Renna pada Adhira cepat. Adhira langsung paham apa yang akan Renna bicarakan kepada Exel. Ia pun memberi handphonnya kepada Exel. “Maaf,” ucap Adhira tanpa suara kepada Exel. Exel menganggukkan kepala sambil tersenyum manis, kemudian ia mengambil handphon dari tangan Adhira. Exel juga menyempatkan untuk mengelus rambut Adhira, supaya Adhira tidak khawatir terhadapnya. “Hallo Renn, iya gimana?” tanya Exel pada Renna. “Gua udah peringatin Elu ya Xel buat hal kayak gini, Lo sebagai cwoknya kalo gak bisa ngelindungi Adhira dari Bokabnya, Lo jangan buat Dhira dalam masalah!” ucap Renna dengan nada tinggi. Zella yang di sebelahnya pun mencoba menenangkan Renna dengan menepuk pelan bahu Renna. “huuft..” helaan nafas panjang terdengar dari Exel. Iya memang salah. “Iya Renna. Maaf, Gue tadi lagi kalut dan butuh banget Adhira di samping Gue. Gue emang sal-“ Exel belum menyelesaikan perkataannya, karena Renna yang memotong perkaannya. “Ya iyalah Lo salah, salah banget malah. Gue bener-bener ga peduli sama masalah Lo, tapi tolong jangan egois Xel. Karena kesalahan Lo, Adhira jadi kena masalah. Jangan ceroboh paham!” ucap Renna sebelum akhirnya ia memberikan handphon kepada Zella. “Maaf ya Xel, Renna Cuma khawatir aja sama Adhira. Yaudaa ya, ga usah dipikirin lagi toh semuanya udah beres. Have fun Kalian. Byeee..” pamit Zella, “Iya Zell, byeee..” ucap Exel sebelum akhirnya ia memutus panggilan tersebut. Adhira yang sedari tadi di sampung Exel pun memeluk Exel sayang. Saat ini perasaan Exel juga campur aduk, semua perkataan Renna tadi benar. Dirinyalah yang salah. Kemudian Exel mengambil tangan kanan Adhira dan mengecupnya pelan.“Maaf sayang,” ucap Exel lirih. “Gapapa, Kamu ga salah kok. Udah ya jangan terlalu dengerin perkataannya Renna, tadi Dia lagi emosi aja Xel.” Ucap Adhira sambil mengelus rambut Exel sayang. “Tapi Renna bener, Aku gak bisa jagain Kamu. Aku-“ ucapan Exel terpotong, “Udahlah, kalo Lo ngomong gitu mulu Gue balik nih. Males banget deh,” ucap Adhira sambil melepas pelukan Exel kasar. Ia hanya pura-pura saja, supaya Exel tidak memikirkan hal tadi lagi. “Eh, eh, jangan dong Adhira sayang,” ucap Exel cepat dan menarik kembali Adhira ke dalam pelukannya. “Ya mangkanya jangan bahas itu lagi, kan Aku kesini mau hibur Kamu. Malah Kamunya melow-melowan sekarang, kan gak seru,” dumel Adhira dalam pelukan Exel. “Iya-iya enggak lagi deh, janji,” ucap Exel sambil mempererat pelukannya. Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, bahkan Exel pun sudah tertidur dalam keadaan masih memeluk Adhira. Adhira sempat tertidur sebentar, namun ia terbangun karena badannya yang terasa lengket. Ia baru teringat, bahwa ia belum mandi dan sekarang hari sudah sore. Adhira melepaskan pelukan Exel perlahan, agar tak membangunkan Exel. Ia mengecup pelan dahi Exel, lalu beranjak pergi ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, Adhira keluar dari kamar mandi lengkap dengan kaos pendek dan celana trening panjang. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia tak suka mengeringkan rambut dengab alat pengering rambut, itu sangat panas dan membuat rambutnya seperti singa menurut Adhira sendiri. Setelah selesai mengeringkan rambut, ia memoles sedikit wahahnya dengan bedak dan liptin. Kemudian, ia turun ke bawah untuk membangunkan Exel. “Exel, Xel bangun udah sore,” ucap Dhira sambil menepuk pelan pipi Exel. Exel hanya menggeliat dan berdeham, kemudian tidur lagi. “Bangun kagak Lu Xel, Gua tendang nih!” ucap Adhira di telinga Exel. Exel pun terkejut dan langsung berdiri. “Kenapa lagi sih Dhir? Ck,” Exel berdecak pelan, “Muuach, hehe laper ih,” Adhira ingin mencium pipi Exel, namun karena Exel yang terlalu tinggi, alhasil Adhira malah mencium rahang Exel. Exel terkejut akan tindakan Dhira tersebut, pasalnya tempat yang di kecup Adhira adalah te.pat yang sedikit sensitif bagi Exel. Kemudian, Exel menyeringai dan berjalan mendekati Adhira, Adhira bingung dengan tindakan Exel, namun ia tetap was-was. Punggung Adhira terbentur tembok, ia tak bisa ke mana-mana lagi saat kedua tangan Exel sudah mengukungnnya. Exel sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Adhira. Ia menatap lekat bibir ranum Adhira, Adhira benar-benar gugup saat ini. “Xel, jangan aneh-aneh ya Lo!” ucap Adhira mencoba memberanikan diri. Exel kembali menyeringai seram. “Aneh-aneh kayak mana? Kayak gini..” Exel mengecup dahi, kedua pipi Adhira. Saat akan mengecup dagu Adhira, mulut Exel diremas oleh tangan Adhira. Setelah dirasa cukup, Adhira pun melepaskan tangannya dari mulut Exel. “Awww, sakit Dhir,” rintih Exel sambil menyentuh bibirnya. “Em, ya Kamu sih, dibilangin jangan aneh-aneh juga masih aja.” Ucap Dhira jengkel, ia tak merasa bersalah sama sekali. Menurutnya tindakannya tadi benar sesuai ajaran Renna dan Zella tentunya. “Aku tadi mau nyium dagu Kamu b**o,ck, ga mau tau obatin bibir Aku sakit,” ucap Exel lalu berlalu pergi ke kamar. Memang Adhira sempat melihat bibir Exel mengeluarkan darah, mungkin karena terkena kuku-kuku cantiknya. Lalu Adhira pergi mencari obat merah dan kapas di nakas. Tak lupa iya memesankan makanan untuknya dan Exel. Setelah menunggu beberapa saat, pesanannya pun datang. Dgira menyiapkan semuanya dan pergi menuju kamar Exel. “Xel? Aku masuk ya,” ucap Dhira kemudian mendorong pintu pelan dan menutupnya kembali. Dilihatnya Exel yang sedang duduk di sofa kamar dengan tv yang menyala. Perlu di ingat saat ini Exel tengah bertelanjang d**a. Adhira menghela nafas, memang bukan pertama kalinya ia melihat Exel seperti ini. Tapi tetap saja Adhira merasa tidak nyaman dengan roti sobek itu. “Xel, sini Aku obatin dulu bibirnya,” ucao Dhira sambil menaruh makanan di atas meja. Exel tak menjawab pertanyaan Dhira, melirik juga pun tidak. Dhira sudah hafal tingkah Exel yangbingin dimanja seperti ini. Kemudian Dhira menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan Exel, Dhira menarik lembut dagu Exel guna memudahkannya mengibati bibir Exel. Exel tak menolak juga pun tak melihat wajah Dhira. Dengan telaten Adhira mengoleskan obat merah di bibir Exel. “Maaf, tadi Adhira ga sengaja,” Adhira menyentuh dan membelai lembut bibir Exel, kemudian mengecup sudut bibir trsebut. Exel terkesiap dengan tindakan Adhira, karena ini pertama kalinya Adhira melakukan hal tersebut. “Gapapa Dhir, udah lupain aja. Dan Kamu juga ga perlu lakuin hal kayak tadi lagi,” ucao Exel tak suka dengan tindakan Exel. Ya, Exel tagu Adhira melakukannya bukan karena kemauannya, tapi karena Adhira takut Exel marah padanya. “iya,” Adhira menundukkan kepalanya. Kemudian, Exel melanjutkan acaranya menonton televisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN