“Zell? Zell? Ck Zella,” Teriak Renna, ia mencari keberadaan Renna di kamar.
“Iyeee Gue ke atas, bentar,” teriak Zella dari bawah. Ia mengambil buah yang berada di kulkas dapur, karena kulkasnya dikamar hanya untuk makanan dan minuman ringan saja.
“Apa Renn?,” tanya Zella sambil mengupas buah apel yang ia ambil tadi.
“Dengerin Gue ya, jadi Ayahnya Adhira itu sekarang mau bicara sama Adhira. Dan tugas Lo adalah ngehubungin Adhira atau Exel terserah, bilang kalo Ayahnya nanyain, Dhira suruh jawab di dari main bareng kita terus kelupaan dan hp lowbet, dan barusan ia dari pergi beli bakso depan gang kompleks gitu, paham kan Lo Zell,” jelas Renna pada Zella. Ia berharap penyakit loading Zella sembuh, ya setidaknya untuk saat ini.
“Hah?” gumam Zella sambil berpikir keras.
“Sympah ya, Gue tabok Lu kalo sampe kagak paham omongan Gue Zell,” geram Renna.
“Jagat banget, ok sip laksamakan eh laksanakan,” ucap Zella dengan tangan yang hormat bak tertara. Renna pun mengacungkan jempol.
“Hallo Om?” tanya Adhira sopan.
“Kenapa lama sekali?” ujar Ruslan sedikit curiga.
“Iya Om, ternyata Si Adhiranya masih beli bakso di depan gang kompleks. Tapi Saya sudah menyuruh Zella untuk menyusulnya Om,” jelas Renna hati-hati. Ia tak ingin salah bicara yang akan membuat Ruslan tambah curiga.
“Baiklah kalau begitu, telpon Saya lagi jika Anaknya sudah pulang, wassalammualaikum.” Ujar Ruslan sebelum akhirnya ia menutup sambungannya.
“Baik om, waa-“ ucapan Renna terpotong dengan suara panghilan yang diputus oleh Bapak Ruslan terhomormat. Renna sedikit lega dan menarik nafas dalam. Meski ia jengkel t
Ia segera menghampiri Zella yang sedang menjelaskan taktik kepada Adhira.
“Udah Lo jelasin semua kan? Gak ada yang ketinggalankan?” tanya Renna pada Zella. Dan diangguki oleh Zella.
“Ok Gue udah paham guys,” ucap Adhira yakin.
“Paham, pale Lu peyang Dhir, pen Gue tabok bener otak Lu yang katanya pinter itu. Buset dah,” oceh Renna dengan suara yang sedikit berteriak. Adhira yang mendengarnya pun langsung meringis.
“Ya Elu Ren, Ele pyu tu muuaach hehe,” ucap Adhira diakhiri dengan tawa. Renna tak mempedulikan ucapan Adhira, karena mereka harus menyelesaikan drama antara ayah dan anak ini.
“Ok kembali ke laptop, pada siap ya di posisi masing-masing. Jangan lupa dialognya ok,” ucap Renna menginstruksi Zella dan Adhira.
“Siap komandan galak,” jawab Adhira dengan nada tegas layaknya tentara pasukan perang.
“Siap laksamanak, eh laksanakan,” jawab Zella dengan hormat. Renna yang melihat dan mendengar tingkah sahabatnya itu hanya geleng-geleng kepala.
“Eh Dhir, ntar pas balik dari rumah Exel beli makanan yang banyak ya, jan lupa coklatnya juga ok,” pinta Zella,
“Siap lapan enam,” jawab Adhira.
Lalu mereka pun bersiap untuk menelepon Ayah adhira. Renna sedang mengambil handphon, Zella sedang mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena gugup, dan Adhira yang sedang berdoa, Adhira berharap ayahnya tak curiga. Sedangkan Exel, ia hanya diam bingung harus bagaimana. Karena Dirinya pun tak bisa membantu jika berurusan dengan Ayah adhira. Exel harus bersabar, ia bertekad menjadikan Adhira miliknya kelak, jika Tuhan menghendaki.
“Ok, Kita mulai Guys,” ucap Renna memberi tahu Zella dan Adhira. Zella pun mengangguk mantap menanggapi ucapan Renna.
“Siyap,” jawab Adhira.
Renna segera memencet tombol hijau dan panggilan pun terhubung.
“ Assalamualaikum Om,” ucap Renna memberi salam dengan sopan.
“Waalaikumussalam Ren,” jawab Ruslan dan Ranti bersamaan.
Renna pun memberi kode Zella, agar Zella memberi tahu Adhira bahwa ini gilirannya berbicara.
“Oh iya Om, ini Dhiranya udah pulang dari beli bakso.” Ucap Renna memberi tahu Ruslan.
Renna segera mendekatkan handphon yang ia pegang dengan handphon yang sudag terhubung dengan Adhira.
“Hallo Yah. Maaf Yah, tadi Adhira belum sempet kabarin Ayah kalo mau main di rumah Zella. Soalnya, hp nya Adhira lowbet dan Adhira baru sadar tadi Yah. Maaf Ayah,” ucap Adhira minta maaf.
“huuuuftt,” terdengar helaan nafas yang panjang dari seberang telepon.
“Syukurlah kalau Kamu baik-baik saja, Ayah dan Ibu hanya khawatir. Lain kali jangan diulangi lagi, paham? Dan langsung pulang Dhir, ini sudah sore ” ucap Ruslan lega.
“Baik Ayah, Adhira tidak mengulanginya lagi janji. Eemm,, Ayah apa Adhira boleh menginap sekalian? Lagian ini juga mendung Yah, ga enak sama Mamanya Zella, soalnya tadi Adhira udah bilang mau nginep. Boleh ya Yah?” ucap Adhira memohon.
“Baiklah. Tapi ingat, lain kali Kamu harus mendahulukan izin Orang tua, paham!” jawab Ruslan tegas.
“Baik Ayah, Dhira ngerti. Makasih Ayah.” Ucap Adhira lega karena ayahnya tidak curiga sama sekali.
“Ayah tutup teleponnya, wassalamualaikum.” Ucap Ruslan sebelum akhirnya sambungan itu pun terputus bahkan sebelum Adhira menjawab salam.
Zella dan Renna yang sedari tadi mendengarkan dengan perasaan was-was pun lega.
“Gimana guys akting Gue? Udeh kayak Michel Zudit belom? Hahaaha,” ucap Adhira berusaha membangun suasanya yang santai.
“Bagus Dhir, tapi lebih bagus lagi kalo besok ditambah traktir makanan. Iya ga Renn?” ucap Zella meminta persetujuan Renna.
Renna yang sedang rebahan pun langsung bangun. Ia teringat sesuatu, ya benar dia ingin mengomeli sahabat cerobohnya ini.
“Dhir?” panggil Renna dengan nada yang terkesan dingin.
Adhira yang mendengar nada bicara Renna pun menghela nafas. Ia salahnya, yang membuat sahabat-sahabatnya ikut dalam masalah juga.
“Iya Renn, maaf ya. Gara-gara kecerobohan Gue, Kalian ikut dalam masalah. Huft,” sesal Adhira.
Renna yang mendengar penyesalan Adhira pun tak tega jika harus melimpahkan kekesalannya pada Adhira. Baiklah, ia akan memarahi Exel saja. Karena ia tidak becus menjadi pacar Adhira.