Saat ini Adhira tengah merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah, tentu saja ditemani dengan makanan ringan dan minuman soda. Sebenarnya ia sangat lapar, namun di kulkas Exel tidak ada apa pun kecuali makanan ringan dan soda. Ia ingin memesan makanan tapi baterai handphonnya habis, dan berakhirlah Adhira seperti? sekarang ini.
“Lapeer banget ya Allah, Dhira harus gimana?” ucapnya dengan suara keras, agar Exel mendengarnya dan segera keluar dari kamar mandi.
Adhira heran entah apa syang dilakukan Exel di kamar mandi, karena sudah hampir tiga puluh menit Adhira menunggu Exel dengan suara perut yang terus berbunyi. Tapi yang ditunggu baru keluar empat puluh menit kemudian. Sebenarnya Adhira sudah kesana kemari mencari handphon kekasihnya itu, namun ia tak menemukannya.
“Dhir mandi gih. Dhir? Lo kenapa? Sayang?” ujar Exel sambil menepuk-nepuk pipi Adhira pelan. Exel juga sedikit khawatir karena Adhira terlihat lemas dan tak bertulang.
“Gue laper ih, beliin makanan cepet,” jawab Adhira lirih. Sebenarnya ia masih kuat untuk sekedar menonjok perut kotak-kotak Exel itu, namun ia urungkan. Karena makan lebih penting untuk saat ini pikirnya.
“Ok,” ujar Exel cepat.
“Udah aku pesenin makanan kesukaan Kamu. Sambil nunggu makanannya dateng, kamu mandi dulu aja Dhir,” ujar Exel sambil mengelus rambut Adhira yang menjuntai ke bawah.
Adhira tak menjawab, ia malah membalikkan badan menghadap wajah Exel, ia menjulurkan tangannya dan memeluk leher Exel. Exel pun terkejut, namun segera menetralkan diri dan membalas pelukan Adhira.
“Maafin Adhira ya Xel,” ucap Adhira tiba-tiba.
“Maaf kenapa hemm?” tanya Exel lembut. Ia tak mengerti maksud Adhira, namun ia pikir kekasihnya itu sedang dalam masalah.
“Karena Aku...,” ucap Adhira, sebelum akhirnya ia menggigit bahu Exel dengan sekuat tenaga.
“Aww, ck,” Teriak Exel kesakitan. Memang tubuh Adhira sedang lemas tapi tenaganya tidak berkurang sedikit pun. Setelah dirasa cukup puas menggigit bahu Exel, Adhira pun melepaskannya. Ia menampilkan cengiran khasnya.
“Hehe jangan malah, calangeo Exel muaach,” ujar Adhira sambil memonyongkan bibirnya. Exel yang melihatnya pun jengah dan mencubit biri Adhira pelan.
Setelah lama menunggu, akhirnya makanan pesanan mereka pun sampai. Dan mereka langsung menyantapnya, lebih tepatnya Adhira yang menyantapnya. Hampir semua makanan itu Adhira lah yang menghabiskan. Sedangkan Exel, ia hanya memakan satu potong pizza. Ia sudah kenyang hanya dengan melihat Adhira makan. Setelahnya, mereka bercanda dan bermesraan.
“ Alhamdulillah kenyangnya cacing-cacing Akuh,” ujar Adhira sambil menjilati sisa makanan di jarinya. Exel yang melihatnya, segera mengambil tisu basah untuk membersihkan tangan dan bibir Adhira.
“Ck, kebiasaan,” ujar Exel, kemudian ia membersihkan bibir Adhira dengan telaten. Adhira memonyongkan bibirnya, agar Exel dan membersihkan seluruh permukaan bibirnya.
“muaach, dah selesai,” Exel mengecup dagu Adhira.
Sebenarnya, ia hanya mengalihkan pikirannya dengan mengecup dagu kekasihnya itu. Jika tidak cepat dialihkan, ia mungkin bisa saja mencium bibir Adhira itu. Namun, ia tak mau itu terjadi. Exel sangat menjaga dan menyayangi makhluk bernama Adhira ini. Sedangkan Adhira, ia hanya bisa tertegun dengan mata yang berkedip lucu. Dan tanpa ia sadari, pipinya sudah merona.
“Sayang?” panggil Exel guna menyadarkan Adhira.
“Eh iya, kenapa?” Adhira bertanya balik,
“Ciee ciee pipinya merah lho, cie anaknya Pak Ruslan merona eaa,” ledek Exel karena melihat pipi Adhira yang merona. Ia menoel-menoel pipi Adhira. Adhira memang jarang terlihat malu-malu kucing seperti ini, mak dari itu Exel sangat senang melihat Adhira saat ini.
“Exel ih, apaan dah kagak ya,” Adhira benar-benar malu. Ia menutup wajahnya dengan bantal sofa. Exel yang melihatnya pun tertawa puas. Setelahnya, ia segera menarik Adhira ke dalam pelukannya. Sungguh Exel sangat menyayangi wanita ini.
Adhira dan Exel yang bermesraan, sedangkan di sisi lain ada Renna dan Zella yang kelabakan. Bagaimana tidak, mereka yang sedang asyik maskeran tiba-tiba menerima telepon dari ibu dan ayah Adhira. Mereka menanyakan keberadaan Adhira dan ingin berbicara dengan Adhira langsung.
“Kapan ni masker keringnya Zell? Lama amat perasaan,” Keluh Renna. Ia memang kebetulan sedang menginap di rumah Zella.
“Jan pake perasaan Renn, pake kipas noh biar cepet kering,” saran Zell,
Dreeeettt dreeeerrrtt dreeeertttt
Zella langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama yang tertera.
“Assalanualaikum nak Zell, ini Ibunya Adhira,” ujar orang di seberang sana, yang tak lain adalah ibu Adhira.
Zella melotot dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, ia segera meletakkan handphonnya di nakas dan memberi tahu Renna.
“ck, apa sih Zell,” ujar Renna yang tak mau diganggu.
“Itu, itu handphon Gue telpon Ibu Adhira. Gimana dong?” ucap Zella terbalik balik sangking gugupnya.
“Hah gimana? Lo kalo ngomong yang bener dikit dong Zell,” jengkel Renna dengan kebiasaan temannya itu.
“Ck, itu IBU ADHIRA NELPON GUE SEKARANG ITU. Set dah,” ucap Zella dengan sekali tarikan napas. Seperti orang ijab qobul hehee.
“Hah? Terus Ibunya bilang apa?” tanya Renna, sebenarnya ia juga terkejut dan bingung, namun ia mencoba tenang di saat genting seperti ini.
“Kayaknya Ibunya mau mastiin Dhira beneran nginep disini gak gitu, kayak biasnya, tapi kok perasaan Gue ga enak ya duh,” ujar Zella,
“Ck, sekarang dimana hp nya? Biar Gue yang ngomong,” ujar Renna mempersiapkan kalimat-kalimat pembuka dan penutup. Ia hanya berjaga-jaga saja jika berhadapan dengan ayah Adhira.
“Nih Renn, jiayoo,” ucap Zella memberi semangat menggunakan bahasa China. Renna mengangguk mantap dan menerima handpon tersebut.
“Hallo tante, ada apa ya tan?” tanya Renna sopan.
“Apa Adhira menginap di tempat kamu? Dari siang belum pulang Anak itu dan hp nya juga tidak aktif,” suara bariton Ruslan menginstruksi. Renna terkejut mendengar penuturan Adhira. Benar-benar Adhira ini sangat ceroboh dan Renna dan Zella yang selalu membentenginya.
“Ehm..oh iya Om, Adhira menginap bersama saya di rumah Zella tepatnya. Maaf Om kami keasyikan bermain jadi lupa memberi tahu Om, maaf sekali Om. Soal hp, memang hp saya dan Adhira sedang lowbet dan baru diisi sekarang Om. Om ga usah khawatir Adhira aman sama Kita Om,” ujar Renna menjelaskan serinci mungkin.
“Yasudah kalau begitu, tapi saya mau bicara dengan Adhira untuk memastikannya ada bersama Kalian,” ujar Ruslan,
“Ooh iya Om, sebentar Saya panggilkan Adhiranya hehe,” sungguh otak kecil Renna benar-benar diuji disaat genting seperti ini. Ia pun meletakkan handpon itu kembali, dan segera menghampiri Zella untuk menyusun rencana.