Exel

981 Kata
Setelah bel istirahat berbunyi, para murid pun berhamburan keluar. Ada yang jajan di kantin, nongkrong di taman sekolah, ataupun hanya tiduran di lantai. Sedangkan Adhira kini sudah bersama Exel di taman. “Kenapa Xel? Kok diem aja hemm,” tanya Adhira sabar. Sebenarnya saat ini ia sangat lapar, namun karena Exel yang tiba-tiba menariknya ke taman belakang mau tidak mau iya pun berakhir di sini. Ingin sekali Adhira memarahi Exel, tapi hal itu iya urungkan melihat wajah Exel yang mungkin tidak baik baik saja. “Papaku selingkuh Dhir, Papaku sama perempuan lain Dhir. Aku kasihan sama Mama,” ujar Exel dengan lirih. Adhira pun langsung memegang punggung tangan Exel guna menguatkannya. “Apa Kamu benar-benar yakin jika yang bersama perempuan itu Papa Kamu Sayang?” tanya Adhira lembut. Exel pun mengangguk lemas. “Aku yakin seratus persen kalo itu Papa, aku ngeliat sendiri. Mulai dari club, b******u dan berakhir cek in di hotel Dhir. Ini bukan pertama kalinya Aku mergokin Papa bareng sama perempuan lain, tapi Aku coba buat berpikir positif. Sampe apa yang Aku curigakan itu bener. Aku marah Dhir, Aku benci. Tapi waktu itu Aku juga dapat kabar kalo Mama masuk rumah sakit. Mama sakit kanker paru-paru stadium tiga Dhir. Aku benci Papa, Orang yang selama ini selalu Aku banggakan dan idolakan malah melakukan hal yang menjijikkan seperti itu.” Ujar Exel dengan air mata yang tak terbendung lagi. Adhira tidak bisa melakukan apa pun selain memeluk Exel sayang. Ia pun meneteskan air mata. Exel memang dikelilingi harta yang berlimpah namun tidak dengan kasih sayang. Ayahnya yang jarang pulang dengan alasan mengurus bisnis. Sedangkan ibunya mengidap Stroke saat Exel berumur sepuluh tahun. Semenjak hari itu, ia diasuh oleh Mbok inah. Exel benar-benar merasa hampa. “Adhira?” panggil Exel dengan suara teredam. Karena saat ini posisi mereka masih berpelukan. “Iya sayang,” jawab Adhira lembut. Ia pun mengelus rambut Exel sayang. Sesekali Exel mengecup bahu Adhira yang tertutup seragam itu. “Temenin aku pleasee,” ujar Exel dengan nada memohon. “Tapi Ex, emm,” jawab Adhira bimbang, “Aku mohon,” ujar Exel dengan sorot mata terluka. Akhirnya Adhira pun tak tega dan mengiyakan permintaan Exel. “Terima kasih sayang,” ucap Exel lalu memeluk Adhira sayang. *#* “Lo gak balik Dhir?” tanya Zella yang kini tengah membereskan buku-bukunya. “Em, Gue mau nemenin Exel hari ini. Jadi, nunggu jemputan Dia,” ucap Adhira dengan wajah yang tak yakin. Zella mengangguk menanggapinya. “Terus kenapa muka Lo kayak gitu Dhir? Bukannya waktu itu juga Lo udah pernah tidur sama Exel ya?” tanya Renna tanpa filter. Memang Adhira pernah menginap di apartemen Exel dulu, tapi Adhira tak melakukan apa pun dengan Exel. Adhira hanya akan memberikannya pada suaminya kelak. “Heh mulut Lo Renna, filter mana filter. Gue Emang pernah nginep di apartemen Exel, tapi Kita bener-bener gak ngapa-ngapain sumpah. Itu Cuma buat Mas suami Gue kelak. Emang Elo Ren hehe,” ujar Adhira menjelaskan. Namun, kemudian ia tersadar ketika melihat ekspresi Zella yang melotot dan Renna yang langsung menunduk tersenyum kecut. “Reen, Gue minta maaf. Gue bener-bener gak bermaksud ngingetin Elo sama kejadian itu. Maaf,” ujar Adhira penuh sesal. Ia langsung memeluk Renna dan menangis, begitu pula Zella. Sedangkan Renna, ia hanya tersenyum dan menyambut pelukan kedua sahabatnya. “Gapapa Dhir, Gue gapapa kok. Makasih ya, kalian selalu ada buat Gue. Apalagi waktu kejadian itu, mungkin kalo Gue ga ketemu kalian, Gue udah di surga sekarang hehe,” ujar Renna, ia mencoba melupakan kejadian itu, namun masih sulit. Di antara mereka bertiga memang hanya Adhira yang masih perawan. Namun, Renna dan Zella selalu mengingatkan Adhira agar selalu menjaga kesuciannya. Walaupun, Zella dan Renna masih pergi ke klub hanya bersenang-senang saja untuk melupakan masalah mereka. *#* “Gue duluan ya Renn, Zell. Byee,”Pamit Adhira pada teman-temannya. “Byeee.” Jawab Renna dan Zella bersamaan. Kemudian, Adhira pun pulang bersama Exel mengendarai mobil. Alasannya, agar siapapun tidak mengenali Adhira, karena mereka juga akan melewati toko ayah Adhira. “Mau mampir makan dulu ga Lu?” Tanya Exel sambil melirik sekilas orang yang di sampingnya. “Eem, enggak aja kali ya Xel, ntar Go Food aja deh,” jawab Adhira, Tidak seperti pasangan pada umumnya, yang selaku memanggil dengan sebutan sayang, yang, by atau pun dear. Mereka hanya akan saling memanggil sayang jika salah satu dari mereka sedang terluka. Selebihnya mereka akan terlihat seperti sahabat. Bukannya tidak saling menyayangi atau bagaimana, tapi mereka lebih nyaman seperti itu. “Dhir? Dhir? Ck, Adhira Alhumaira binti Muhamammad Ruslan?” Teriak Exel tiba-tiba tanpa melihat Adhira. Ternyata, Si empu sedang senyum-senyum sendiri dengan earphon di telinganya. “Astagfirullah,” ujar Adhira kaget. “Heh Lo apa-apaan sih Ex? Teiak-teriak ga jelas banget njiir,” kesal Adhira. “Teros, ngomong kasar lagi Lo depan Gue, Gue tabok ya bibir memble Lo itu,” ujar Exel sadis. Adhira langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan. Exel sudah sering mengingatkannya untuk tidak berbicara kasar, apalagi di depan Exel. Dan tentu saja Adhira sudah pernah dipukul pelan oleh Exel di bibirnya. Meski tidak sakit karena Exel langsung mengobatinya dengan kecupan singkat di bibir Adhira. Adhira benar-benar tidak ingin itu terjadi lagi, ia takut Exel akan melewati batasnya. “Iya maaf atuh sayangnya Adhira,” ucap Adhira sambil mengeluarkan jurus andalannya. Ia mengambil tangan Exel dan mengecupnya berkali kali. Exel pun tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. “Iya, tapi janji gak boleh ngomong kasar lagi paham?” ujar Exel tak terbantahkan. Adhira pun segera mengangguk lucu seperti anak kucing. Setelah saru jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di apartemen Exel. Setelah memarkirkan kendaraannya, Exel dan Adhira segera menuju lantai dua belas. Setelah sampai di depan apartemen Exel, Adhira langsung memasukkan kode. Jika ditanya kenapa Adhira mengetahui password apartemen Exel, jawabannya karena passwordnya tanggal lahir Adhira sendiri. “Aku mandi dulu Dhir,” ucap Exel dan berlalu pergi. Adhira hanya mengangguk menanggapi pertanyaan kekasihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN