Renna mengamati gerak gerik Mamanya. Mamanya terlihat memakal baju yang sedikit terbuka, ia juga terlihat bersama beberapa wanita dan satu pria. Rila terlihat memasuki mobil bersama pria itu. Renna yang melihat Mamanya pergi pun berniat mengikutinya, ia segera memberhentikan taksi dan mengikuti mobil yang di tumpangi Mamanya.
“Mama mau pergi ke mana Ma?” Renna bertanya pelan, ia menatap mobil yang membawa Mamanya sendu.
Sudah hampir empat tahun Renna tak pernah bertemu ibunya, bahkan hanya bertukar kabar lewat media sosial pun tidak. Selama ini ia selalu mencari keberadaan sang ibu, namun ia tak menemukan hasil. Semenjak perceraian Ayah dan Ibunya empat tahun lalu, Renna memang di larang keras untuk berhubungan dengan sang ibu. Saat perceraian itu terjadi Renna juga cukup besar untuk memahami sebab orang tuanya bertengkar setiap hari dan berujung perceraian. Ia mengerti jika Ibunya salah, tapi apa pun yang terjadi Rika adalah Mamnya dan akan selalu begitu.
Mobil yang membawa ibunya berhenti di sebuah club malam, ibunya juga terlihat turun dan menggandeng lengan pria itu. Renna tak ingin berpikiran buruk tentang ibunya, ia akan memastikan apa yang akan dilakukan ibunya di sana. Renna pun beranjak keluar dari mobil, tak lupa ia memberikan uang kepada sopir taksi tersebut.
“Ini pak uangnya, kembaliannya untuk Bapak saja,” Adhira memberikan selembar uang merah kepada Pak sopir itu.
“Alhamdulillah, terima kasih Neng,” ucap sopir itu sembari tersenyum bahagia.
“Iya Pak sama-sama,” jawab Renna tulus.
Renna pun segera menyusul ibunya masuk ke dalam club tersebut. Ia sempat kehilangan jejak ibunya, ia mencoba mengamati satu persatu orang di sana. Namun ia belum menemukan sosok ibunya.
“Hei,” sapa seorang pria dari belakang punggungnya. Renna menoleh ke sumber suara.
“Hem?” Renna memutar matanya malas, ketika mengetahui ternyata orang yang menyapanya adalah Reino. Reino tersenyum melihat perubahan ekspresi Renna setelah melihatnya.
“Lo sekarang lagi di club Renna sayang, bukannya mau ke pasar tradisional,” Reino mengamati penampilan Renna yang sedikit aneh untuk memasuki club. Karena biasanya wanita di sini menggunakan pakaian mini dan seksi. Lalu apa ini? Kaos oversize dan celana selutut? Lalu apa ini denaan topi? Reino sangat heran dengan penampilan Renna ini.
“Huft, bodo amat, terserah Gue. Mending Lo pergi sana? Gak usah gangguin Gue,” Renna membalikkan badan untuk mencari keberadaan ibunya lagi.
“Lo nyari siapa?” tanya Reino yang sedari tadi memperhatikan Renna yang celingak celinguk.
“Em, Lo sering ke sini?” tany Renna dengan mata yang masih fokus mencari keberadaan ibunya.
“Lumayan sering,” Reino berpindah tempat menjadi di samping Renna, ia juga menarik pinggang Renna menuju salah satu sofa di sana. Adhira awalnya menolak, tapi akhirnya ia menurut saja karena sebetulnya ia juga tak nyaman berdesak desakkan.
“Em Gue mau nanya, Lo kenal gak sama wanita sekitar umur empat puluhan, cantik, putih, orangnya agar sedikit pendek, Lo kenal ga?” tanya Renna, ia berharap bisa menemukan ibunya lagi.
“Di sini banyak wanita cantik Renna, contohnya Kamu,” Reino menarik pinggang Renna untuk mendekat ke arahnya.
“Tolong Gue lagi serius,” ucap Renna dengan tatapan seriusnya.
“Ok ok Lo punya photonya gak? Supaya lebih jelas,” tanya Reino.
“Oh iya, bentar,” Renna mengambil Hp nya dan segera mencari foto sang ibu.
“Ini, ini foto empat tahun lalu sih,” Renna memberikan hp nya kepada Reino.
“Oh Tante ini, Gue tau,” Renno mengembalikan kembali hp Renna.
“Hah? Lo kenal? Serius?” Renna langsung menatap Reino dengan binar di matanya, akhirnya ia akan menemukan sosok bidadari dalam hidupnya kembali. Mama tunggu Renna, Renna rindu.
“Hm, Tante itu pemilik club ini. Biasanya Dia sering kesini buat ngecek atau pun sekedar minum aja,” jelas Reino kepada Renna. Renna menundukkan kepalanya, Mamanya ternya pemilik club ini. Seingat Renna ibunya dulu adalah sosok yang tidak menyukai hal seperti ini, atau Renna yang salah ingatan. Entahlah .
“O-oh pe-pemilik club ini ya? Kenapa semuanya berubah Ma,” ucap Renna sendu, ia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh. Ia tak ingin orang lain melihat sosoknya yang begitu rapuh ini.
“Hah? Lo bilang apa sayang?” Reino mengangkat dagu Renna dengan telunjuknya. Ia memandang wajah Renna yang sedikit murung.
“Gapapa, Lo tau tempat Tante itu nongkrong di sini?” tanya Renna,
“Iya Gue tau, emang Dia siapanya Lo by?” Reino memandang wajah mungil Renna.
“By?” Renna mengerutkan dahi bingung dengan panggilan aneh Reino.
“Beby lho,” Reino mengedipkan matanya genit, dan senyum yang membuatnya ingin menampol wajah tampan orang ini. Namun Renna harus menahannya, karena ia membutuhkan informasi lebih dari pria ini.
“Terserah Lo deh,” Renna memutar bola matanya malas. Reino tersenyum melihat Renna, kemudian ia memajukan wajahnya mendekat ke arah Renna. Renna yang melihat sinyal bahaya itu pun langsung menahan bahu Reino. Reino menaikkan alisnya sebelah bertanya.
“Tolong bawa Gue ke tempat Tante itu dulu, please.” Renna memohon kepada Reino.
“Ok, tapi setelah itu Lo—“ ucapan Reino terpotong.
“Terserah Lo, tapi sekarang bawa Gue ke tempat Tante itu oke?” Renna tak peduli apa yang akan Reino lakukan nantinya, yang pikirkan sekarang adalah Mamanya.
“Ok ayo ikut Gue,” Reino menarik pinggang Renna untuk mendekat dan membawanya ke tempat yang ingin ia tuju. Reino tak tahu ada apa dengan Renna, yang jelas sepertinya ia sedang tak baik-baik saja.
Reino mengajak Renna ke sebuah ruangan yang di duga tempat ibunya bekerja di sini. Mereka berhenti di depan pintu ruangan itu.
“Ini ruangannya, mau Gue panggilin juga By?” Reino menatap wajah Renna yang kembali sendu.
“Gak usah Rei, biar Gue sendiri aja,” Renna menatap pintu yang ada di depannya. Ia menyiapkan diri untuk pertama kalinya bertemu sang ibu, setelah empat tahun lamanya.
“Permisi?” Renna memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu yang ada di depannya.
“Ga bakal kedengaran By, langsung buka aja. Biasanya ga di kunci,” Reino akan memutar knop pintu tersebut, namun Renna mencegahnya.
“Biar Gue aja,” Renna memegang knop pintu, dan memutarnya perlahan.
Pintu di depannya pun terbuka, menampilkan seorang wanita yang cantik. Wanita itu terlihat sedang bergelayut manja di lengan seorang pria. Wanita tersebut belum menyadari kehadiran Renna di sana, mungkin karena Renna yang membuka pintu dengan perlahan dan tak menimbulkan suara. Renna terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini, ia tak menyangka perubahan pada ibunya yang sangat signifikan. Renna kehilangan sosok bidadarinya.
“Mama?” ucap Renna, air matanya mengalir tanpa bisa di cegah.