Tuhan mengapa harus Renna?

1539 Kata
“Mama?” ucap Renna, air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Reino mengerutkan dahinya, ia bingung dengan panggilan Renna terhadap wanita itu. Apakah benar hubungan mereka adalah antara anak dan ibu. Reino tak tahu apa pun, jadi ia hanya menyaksikan drama antara anak dan ibu itu. Rika menoleh, melihat seorang gadis remaja tersebut. Betapa terkejutnya ia, ketika menyadari bahwa remaja itu adalah putrinya yang sangat ia rindukan. “Re-Renna?” Rika langsung melepaskan pelukannya dari lengan pria di sampingnya. Ia beranjak untuk menghampiri putrinya. Namun tanpa dugaannya, Renna malah melangkah mundur seolah enggan. “Renna putri Mama, sayang Mama rindu,” Rika meneteskan air matanya senang bercampur sedih. Satu sisi ia senang bisa berjumpa dengan putrinya kembali, setelah empat tahun lamanya. Namun disisi lain ia juga sedih karena Renna harus bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini. “Stop Ma, Mama yang ninggalin Renna, MAMA PERGI NINGGALIN RENNA DAN PAPA! MAMA LEBIH MEMILIH PRIA LAIN DARI PADA PAPA!” Renna berteriak kepada sang ibu, nafasnya juga memburu. Rika terkejut mendengar perkataan Renna, ia menyesal namun ia juga tak tahu harus menjelaskan dari mana kepada Renna. “Kenapa Ma? Kenapa?” Suara Renna bergetar dan begitu lirih, seolah menyiratkan luka yang begitu dalam. “Renna, Mama gak ninggalin Kamu sayang, Papa Kam—“ ucapan Rika terpotong. “MAMA CUKUP! Stop menyalahkan Papa buat kesalahan Mama, Aku selalu membela Mama di hadapan Papa, bahkan Aku selalu bertengkar sama Papa saat membahas Mama. Aku selalu percaya sama Mama, namun tidak mulai detik ini. Aku udah ngeliat semuanya Ma, bahkan pria ini adalah pria yang berbeda, Dia bukan pria yang kabur bersama Mama. Huft, ada apa Ma? Apa yang Mama cari dari para p****************g ini? Uang? Papa punya Ma, apa itu juga tak cukup. Aku tidak bermaksud menuduh yang bukan-bukan, tapi tingkah laku Mama mencerminkan itu semua. Mama bukan orang yang ba—“ Ucapan Renna terpotong. Plaaaaakkkk Rika menampar putrinya, ia tak sadar telah melakukan hal tersebut. “haha, terima kasih Ma untuk kasih sayang yang baru saja Mama berikan,” Renna tersenyum miring dengan air mata yang menetes deras di kedua pipinya. Rika menatap tangan yang telah menampar putrinya itu, kemudian ia juga melihat pipi putriny yang merah bekas tamparannya. “Renna, maafkan Mama. Mama tak bermaksud menamparmu,” Rika berjalan mendekat ke arah Renna. Renna memajukan telapak tangannya, menyuruh ibunya untuk berhenti. Renna mengusap air matnya kasar. Kuat itu adalah hal yang dipaksakan Dunia atas dirinya. “Ga papa Ma, semuanya udah terjadi. Mungkin Renna ditakdirkan seperti ini. Kesepian juga sudah menjadi teman Renna setiap harinya. Semoga Mama selalu bahagia dan maaf sudah mengganggu waktu Mama. Permisi.” Pamit Renna dengan suara yang bergetar, ia juga mencoba tersenyum meski terasa begitu sulit. Renna melangkah mundur dan meninggalkan tempat itu dengan segala rasa sakitnya. “Renna tunggu Mama nak hiks,” Rika menangis, kemudian ia ingin berlari mengejar putrinya. Reino yang melihat pertengkaran antara ibu dan anak itu, kini mencoba ikut andil untuk menenangkan keduanya. “Tante emosi Renna masih belum stabil untuk saat ini, tak akan ada gunanya bila menjelaskan semuanya sekarang,” Reino menghentikan langkah wanita paruh baya ini. “Tapi nak Reino, Tante gak mau Dia terus salah pahan terhadap Tante,” Rika masih beruraian air mata. Reino yang melihat ibu Renna seperti ini benar benar tak tega, karena biasanya Rika memang selalu terlihat bahagia. Reino memang cukup mengenal baik Rika, semenjak ia sering datang ke club ini. “Tante Aku memang tidak tau ada masalah apa antara Kalian berdua, tapi Reino mohon Tante tetap di sini dan tenangkan dulu diri Tante. Biar Reino yang mengejar Renna dan menenangkannya. Akan lebih mudah menjelaskan kepada Renna, jika Kalian berdua juga sudah tenang. Terutama Renna,” Reino mencoba meyakinkan wanita di depannya ini. “Kamu benar nak Reino, tolong Kamu kejar Renna dan tenangkan Dia. Tolong pastikan Dia baik-baik saja untuk Tante, Tante percaya padamu nak,” Rika memegang tangan Reino dan memohon padanya. “Baik Tante,” Reino melangkah pergi untuk mengejar Renna. Rika terduduk lemas di lantai, ia menyesal telah melukai hati putrinya. Putri kesayangannya, buah hatinya dengan pria yang masih ia cintai sampai detik ini. Sesak, itu yang sekarang Rika rasakan. “Renna maafkan Mama nak,” Rika menepuk dadanya yang terasa sangat sesak. “Mas, maafkan Aku,” ucapnya lirih, lirih sekali. Pria yang sedari tadi duduk di sofa dan menyaksikan semuanya, kini ia bangkit dam berjalan ke arah Rika. Ia menyentuh pundak ringkih wanita itu, membantunya untuk berdiri. “Rik, sepertinya Kamu harus menenangkan dirimu dulu, mari Aku antar Kamu ke rumah. Istirahatlah dan selesaikan masalahmu,” ucap pria itu menatap wajah Rika. “Maafkan Say Mas,” ucap Rika pada pria yang selalu baik padanya. “Tidak apa-apa, Aku sudah mengatakannya berulang kali Rika. Aku tidak memaksamu,” ucap Pria itu tulus sembari tersenyum. Rika menunduk mendengar pernyataan dari pria di sampingnya ini, ia juga semakin merasa bersalah karena sudah menyakiti perasaan pria itu. Kemudian pria itu menuntun Rika menuju mobilnya, dan akan mengantarkannya ke rumahnya. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, pria itu juga membukakan pintu untuk Rika. Mobil tu pun melesat begitu saja, melewati remaja yang sedari tadi memperhatikan keduanya dengan mata yang berkaca. “Bahkan saat ini Mama masih memilih pergi dengan pria lain, ketimbang harus mengejar Renna. Kenapa Ma?” Renna menatap mobil yang membawa ibunya pergi itu. Sedih, kecewa, semua Renna rasakan saat ini. Berniat untuk mencari udara segar, Renna malah mendapatkan kejutan indah dari Tuhan. Renna kembali melangkahkan kakinya, ia berjalan gontai tak t**i arah. “Cantik, kok sendirian aja sih? Sini biar Abang temenin,” beberapa Pria dengan tubuh gempal mendekati Renna. Bahkan salah satu diantara nya berani menyentuh dagu Renna. “Gak usah kurang ajar ya Lo!” Renna menyingkirkan tangan pria itu kasar. “Widiww, galak banget coy,” ucap pria itu, “Galaknya nanti aja di ranjang biar panas, iya gak coy hahaa,” pria yang lainnya ikut menimpali dan mereka tertawa bersama. “Yoi hahaaha,” ucap yang lainnya. Mereka pun menyentuh tangan Renna dan berniat membawanya pergi. Namun bukan Renna namanya jika tak melawan, bahkan mungkin ia bisa melampiaskan emosinya pada para pria ini. “Lepas atau Lo pada masuk rumah sakit, “ ucap Renna masih tenang. “Uuh atuuuttt, hahaha” mereka kembali tertawa tak jelas. Renna yang sudah sangat kesal dari tadi, ia pun menghajar ke tiga pria itu dengan bringas dan tanpa ampun. Tak utuh waktu lama, ketiga pria itu sudah terkpar di aspal. Ilmu bela diri Renna memang tak bisa di remehkan. Kemudian Renna melangkahkan kakinya lagi. Reino yang sedari tadi di dalam mobil dab menyaksikan Renna pun dibuat ternganga dengan cara Renna menghajar ketiga pria tadi. Reino memang berniat membantu Renna tadi, namun aaat akan membuka pintu mobil. Renna sudah berubah menjadi wonder women. Reino masih terus mengikuti kemana Renna pergi. “Mengapa? Mengapa harus Renna tuhan?” Renna berhenti di trotoar jalan, ia menatap langit malam yang terlihat mendung. “Karena Tuhan tahu Kamu bisa melewatinya, Tuhan tahu Kamu kuat, dan Tuhan pasti sudah menyiapkan hal yang menakjubkan untuk Mu,” Reino menghampiri Renna. “Sampai kapan? Ini sudah terlalu lama,” ucao Renna sendu, ia tak mengalihkan pandangannya dari langit. “Sampai waktunya tepat menurut Tuhan, Kamu akan bahagia Renna,” ucap Reino menyentuh tangan Renna lembut. Mata Renna berkaca, ia tak mengerti arti dari kata bahagia selama ini. Tuhan tolong beri tahu Renna makna kata bahagia. “Ayo, Gue anter pulang. Udah mau ujan,” Reino menarik tangan Renna untuk memasuki mobilnya, Renna tak menolak. Tenaga sudah terkuras habis hari ini, setelah pertengkarannya dengan Papa dan Mamanya. “Rumah Lo di mana?” tanya Reino yang sedang fokus menyetir. “Tolong bawa Gue ke mana pun, asal bukan rumah itu,” Rumah yang Renna maksud adalah rumah Papanya. Ia masih belum bisa bertemu dengan Papanya setelah pertengkaran mereka, Renna juga ingin menenangkan diri sejenak. “Ok, ikut Gue ke apartemen Gue aja, di sana Lo bisa nenangin diri dulu,” Reino mengelus pucuk kepala Renna sayang, kemudian ia kembali fokus menyetir kembali. Renna memperhatikan wajah Reino dari samping, pria asing yang tiba tiba masuk di hidup Renna. Tuhan, apa Pria ini sengaja Kau kirimkan untukku? Batin Renna berkata. “Masuk, Lo bisa istirahat sementara di sini. Gue mau mandi dulu,” Reino mempersilahkan Renna masuk ke apartemennya. “Thanks,” Renna memilih duduk di ruang tamu Reino. Ia melihat apartemen Reino yang cukup mewah dan rapi menurutnya. “Huuuftt,” Renna menghela nafas panjang, d**a masih terasa sesak. “Jangan di tahan, menangialah kako itu buat Lo lebih baik?” Reino berjalan ke arah Renna dan menjatuhkan bokongnya di samping Renna. Renna menoleh ke arah pria di sampingnya ini, kemudian ia menunduk lagi dengan mata yang kembali berkaca. “Menangislah Renna, jangan di tahan itu hanya akan membuat semakin sesak,” Reino membawa Renna dalam dekapannya. Renna juga memeluk Reino erat, sangat erat. Ia menumpahkan semua air matanya di sana, Reino mengelus punggung Renna dan sesekali memberikan kecupan di pucuk kepalanya. Cukup lama Renna menangis, sampai akhirnya ia tertidur dalam dekapan Reino. Reino menidurkan Renna di ranjang miliknya, kemudian ia memeluk tubuh ringkih Renna dari samping. “Selamat tidur By,” Reino mengecup bibir Renna singkat dan menyusul Renna ke alam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN