“Zell Renna mana? Ga bareng sama Lo?” tanya Adhira yang baru datang. Ia melihat Zella yang duduk sendiri di bangkunya, tanpa Renna di sampingnya.
“Lha? Gue kira Dia jemput Lo terus bareng sama Lo?” Zella juga bingung,
“Lha biasanya juga bareng Lo Zell, Renna gak ada kasih kabar gitu ke Elo?” tanya Dhira, karena memang biasanya Renna berangkat bersama Zella.
“Enggak ada tuh, mungkin bentar lagi Renna dateng. Kita tunggu aja Dhir,” ucap Renna, kemudian ia membuka buku tulisnya kembali.
“Ok deh, Gue juga udah coba hubungin nih, tapi hp nya kagak aktif. HEH ini tangan apa apaan nih?” Dhira yang sedang berbicara terhenti, ia melihat tangan Zella yang sudah akan mengambil buku tugasnya. Dhira memukul punggung tangan Zella pelan, si pemilik tangan pun mengaduh. Untuk apa lagi jika bukan mencontek tugas Adhira, dasar si Zella ini memang.
“Hehehe mau mastiin jawaban aja Dhir, pelit amat deh sama cabat sendiri,” Zella mengelus tangannya yang di pukul Dhira tadi.
“Nye nye nye, gaya Lo mau Mastiin jawaban, buku masih mulus bersih gitu njiir” Dhira melirik buku tugas Zella yang memang masih bersih itu, bahkan Zella juga belum menulis soalnya. Ampun sekali manusia langka ini.
“Hehehe Dhira baik Dhira cantik 123, cling,” Renna menggerakkan tangannya seperti seorang pesihir.
“Gila Lo, nih buruan keburu masuk kelas,” Dhira menyerahkan buku tugasnya kepada Zella.
“Uhhh maaciiihh muah,” Zella menerima buku dari Adhira, kemudian ia memberikan ciuman jarak jauh untuk Adhira. Adhira memutar bola matanya jengah melihat tingkah Zella ini. Zella juga segera menyalin semua tugas dari buku Adhira, ia menulis secepat kilat dan tak memedulikan bentyk tulisannya yang amburadul.
“Heran Gue, kebiasaan Lo buruk amat Zell,” cibir Adhira, ia melirik Zella yang tengah sibuk menulis.
“Karena Gue punya sahabat yang kebiasaannya baik, Gue mau jadi pembeda aja bro, hehe,” ucap Zella sembari melirik Adhira sebentar.
“Serah, serah, serah Lu dah,” ucap Dhira menyerah jika berdebat dengan Zella. Kemudian Dhira membuka novel kesayangannya.
Derrrrtt derrrrttt derrrrrt
“Hallo ini siapa?” Zella mengangkat panggilan tersebut. Terpampang nomor yang tidak dikenal di sana, namun Zella tetap mengangkatnya mungkin saja penting pikirnya. Adhira yang ada di sampingnya juga ikut menoleh, melihat Zella mengangkat telepon dari orang yang tak di kenal sepertinya.
“siapa?” tanya Dhira tanpa suara.
“Ga tau,” jawab Zella sembari menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Halloooo, ini siapa ya?” Zella mengulang pertanyaannya, karena tak ada jawab dari seberang tadi.
“Zell, ini Gue Renna,” jawab orang yang berada di seberang sana.
“Renna, Lo ganti nomer atau gimana?” tanya Zella langsung, pasalnya Renna bukan orang suka gonta ganti nomor telepon. Bahkan Renna baru mengganti nomor teleponnya dua kali seumur hidupnya. Adhira yang mendengar Zella menyebut nama Renna pun ikut mendekat, ia menggeser kursinya dan menyuruh Zella menaikkan volume panggilannya.
“Ehem, Gue gak bisa masuk sekolah hari ini Zel, tolong izinin Gue ya. Dan ini bukan nomer Gue, Gue pinjem hp orang, hp Gue lowbet,” ucap Renna dari seberang telepon.
“Lo baik-baik aja kan Renn?” tanya Adhira khawatir, sebab tak biasanya Renna seperti ini. Adhira tahu mungkin saat ini Renna sedang ada masalah, namun ia tak memaksa Renna untuk menceritakannya. Karena ia tahu, Renna akan menceritakan semuanya di waktu yang tepat.
“Ya, gitu Dhir. Sedikit ada problem? But its okey, .dont worry guys. I am fine,” Renna berucap legowo, ia tak ingin sahabat sahabatnya khawatir.
“Ok deh, Gue tau Lo kuat, selalu berpikir positif okey!” ucap Adhira memberi Renna kekuatan.
“Yaudah Gue tutup dulu teleponnya, bye guys and thanks,” ucap Renna tulus.
“Ok bye.” Ucap Adhira dan Zella bersamaan, kemudian Zella menutup sambungan telepon tersebut.
Tak berselang lama, bel pun berbunyi. Para murid mulai memasuki kelas masing-masing, begitu pula Adhira dan Zella yang segera memperbaiki posisi duduk mereka. Mereka mulai mengikuti pelajaran dengan tertib dan tak ada kata bolos untuk hari ini, karena memang bukan jadwal mereka membolos hehe.
*#*
“Zell?” panggil Adhira kepada Zella. Zella yang masih sibuk dengan pikirannya itu tak bergeming sedikit pun.
“ZELLA ZELLIIII BUDEEK!” teriak Adhira di telinga kanan Zella. Ia kesal melihat wajah datar Zella yang tengah melamun, benar-benar seperti orang yang tak ada semangat hidup. Entah apa yang sedang di pikirkan sahabatnya itu.
“Astagfirullah, Adhira Gue kageet njiing,” Zella meniup-niup tangannya, kemudian ia dekatkan ke telinga kananya.
“Ye Elu plonga plobgo kek sapi ompong,” sarkas Adhira.
“Gue lagi berimajinasi b**o,” Zella membela dirinya.
“Kebanyakan berimajinasi bisa jadi gila Lo Zell,” Adhira membisikkan itu di telinga Zella. Zella melotot mendengarnya, menakutkan sekali pikirnya.
“Apa iya Dhir? Waduh Gue harus banyalK-banyak insaf deh ini,” Zella menatap Adhira bingung,
“Nah iya tuh Zell,” Adhira mengacungkan jempol kanannya, tanda setuju dengan perkataan Zella.
Saat ini mereka sedang berada di gerbang sekolah, mereka hanya duduk duduk saja di sana sambil menunggu sekolah sepi. Sebenarnya itu hanya alasan saja, karena Adhira yang memaksa Zella menemainya di sana. Adhira sedang malas pulang, tidak tahu mengapa. Ia ingin menginap di rumah Zella, namun Ayahnya tak mengizinkan. Ayahnya malah berkata akan menjemput Adhira di sekolah hari ini, namun sudah hampir tiga puluh menit Adhira menunggu dan belum ada tanda-tanda mobil ayahnya datang.
“Dhir, Lo balik bareng Gue aja deh, Gue anter. Kayaknya Bokap Lo gak jadi jemput atau malah kena macet,” Zella menawari tumpangan untuk Adhira. Ia juga sebenarnya sudah mengantuk dab ingin segera pulang untuk tidur.
“Lha, Gue takutnya pas Gue balik bareng Lu, Ayah nyampe sini gimana dong?” Adhira masih mengawasi ujung jalan dan berharap ada tanda mobil ayahnya datang.
“Lo hubungin Bokap Lo coba,” usul Zella,
“Lo lupa? Ayah Gue kan gak peduli sama hal hal gitu. Dia juga mana pernah bawa hp kemana-mana,” jelas Adhira,
“Lha iya, Gue lupa. Aneh bin ajaib emang Bokap Lu Dhir hehe,” Zella mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Adhira, kemudian ia terkekeh pelan.
“Heh gitu gitu Bokap Gue, b**o,” Adhira menoyor dahi Zella ke belakang dengan pelan.
“Iye iya ndoro, nyai,” ucap Zella sembari merapikan poni di dahinya.
“Gini aja Zell, Lo balik duluan aja. Gue gapapa di sini nunggu ayah sendiri. Lagian masih bamyak orang yang jualan kok di sono,” putus Adhira, ia juga tak enak jika menyuruh Zella tetap menemaninya, setelah sekitar dua jam mereka menunggu.
“Beneran Dhir, Lo gapapa sendiri? Atau bareng Gue aja deh Dhir?” Zella juga tak tega membiarkan Adhira sendiri di sini, ia mengajak Adhira pulang bersamanya.
“Kagak usah, udeh sono balik Zell, bye,” Renna mendorong punggung Zella menuju mobil Zella tentunya, ia juga memastikan Zella masuk mobilnya.
“Ok deh, Gue duluan Dhir. Hati-hati, kalo ada apa aoa langsung call me okey!” Zella melajukan mobilnya. Adhira mengangguk sambil melambaikan tangannya. Setelah mobil Zella pergi dan tak terlihat lagi, Adhira kembali duduk di depan gerbang sekolah. Kebetulan di sana ada saung kecil untuk berlindung dari sinar mata hari.
“Ayah ke mana ya? Kok belum dateng,” Adhira turun dan melihat ujung jalan lagi, berharap mobil ayahnya terlihat dari sana. Lagi dan lagi, hasilnya nihil. Tak ada tanda tanda dari ujung jalan.
Bosan itu yang sekarang Adhira rasakan, sudah hampir tiga jam ia menunggu ayahnya menjemputnya. Bukan tanpa alasan, Adhira mau menunggu ayahnya selama ini, itu semua Adhira lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah. Namun lagi, dan lagi, niat baik Adhira selalu terhambat seperti ini.
Dreeeet dreeeet dreeeeeet
Suara dering telepon dari saku bajunya terdengar, nama ibunya lah yang terpampang di sana. Adhira segera memencet tombol hijau tersebut, dan mendekatkan ho nya ke telinga.
“Assalamualaikum Nak,” suara Ranti terdengar seperti sedih dari seberang telepon.
“Waalaikumussalam Bu, ada apa buk?,” tanya Adhira yang mulai khawatir terhadap ibunya.
“Begini Nak, Ayahmu tak jadi menjemputmu, karena tadi Ayah mendadak dapat panggilan dari sekolah Dhita. Panggilan tersebut khusus untuk laki laki saja Dhir, jadi Ibu gak bisa gantiin Ayahmu,” ucap Ranti hati-hati, ia tak ingin menyakiti hati putri sulungnya ini. Renna menghela nafas panjang mendengar penuturan sang ibu, lagi dan lagi niat baik Adhira di kecewakan.
“O-oh gitu ya Bu, oke deh Adhira pulang naik taksi aja hehe,” Adhira mencoba biasa saha, agar ibunya tak khawatir padanya.
“Kamu ga apa Nak? Atau mau ibu jemput? Biar Ibu pesan grab untuk ke sana,” tawar Ranti, ia tahu pasti saat ini putri sulungnya itu kecewa pada Ayahnya.
“Gak usah Bu, nanti malah kesorean. Biar Adhira naik angkot atau ojek aja nanti, yaudah ya Bu, Dhira mau cari ojek dulu, Assalamualaikum,” ucap Adhira sopan.
“Hati-hati Nak, Waalaikumussalam,” Ranti menutup sambungan telepon tersebut.
“Ayah kenapa? Kenapa mengesampingkan Adhira?” Adhira menunduk dan memeluk lututnya, ia terduduk di aspal yang dingin.