Tolong berikan jeda Adhira untuk istirahat

592 Kata
“Lho Kak Dhira kok baru pulang? Maen-maen dulu yaaa,” tuduh adik perempuannya itu, kini ia tengah duduk di samping Ruslan. “Brisik,” ucap Adhira datar, ia juga sempat melirik Ayahnya yang tengah duduk santau merangkul adiknya. Adhira tersenyum kecut, kemudian mengalihkan pandangannya kembali. “Ih Dhita kan nanyanya baik-baik, Kak Dhira kok malah jawabnya gitu ya Yah,” ucap Dhita mencari perhatian Ayahnya. Kesal, sungguh Adhira sangat muak sekarang. Ia mempercepat langkahnya, namun suara bariton Rualan menghentikannya. “Adhira kemari Nak, Ayah mau bicara,” panggil Ruslan, ia berpikir harus menjelaskannya kepada Adhira. “Ada apa Yah? Adhira capek. Adhira capek nunggu Ayah selama tiga jam di depan gerbang sendirian, dan berharap Ayah benar-benar datang menjemput Dhira. Adhira capek Ayah. Selalu seperti ini, seharusnya Adhira belajar dari pengalaman dan tidak menerima tawaran Ayah,” Adhira berusaha kuat dan menahan air matanya. “Adhira maafkan Ayah, Ayah tidak bermaksud—“ ucapan Ruslan terpotong. “Sudahlah Yah, bukannya Ayah selalu bilang pada Adhira untuk selalu mengalah karena Dhira yang tertua bukan? Dan Adhira harus selalu melakukannya bukan? Tolong berikan jeda Adhira untuk istirahat, Adhira permisi,” Adhira melangkah pergi menuju kamarnya. Ia tak bisa menahan air matanya terlalu lama lagi. Ia harus segera pergi agar tangisnya tak di ketahui orang lain. “Adhiraa,” ucap Ruslan lirih, menatap punggung kecil putrinya. Tanpa ia sengaja, ia sendirilah yang telah menyakiti putrinya dan mengubahnya menjadi seperti ini. Ruslan sendiri lah yang membuat putrinya kecewa. Ranti yang melihat percakapan Adhira dan ayahnya diam-diam di dapur, ia meneteskan air mata. Hubungan keduanya semakin jauh, Ranti benar benar sedih dibuatnya. Perubahan sikap Adhira yang dulunya ceria, kini menjadi pendiam dan murung. Ia juga lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar. Ranti juga tak bisa banyak membantu, ia hanya bisa mencoba menasihati keduanya. Namun semua keputusan tetap berada di tangan Ruslan, selaku kepala keluarga. “Mas?” Ranti memanggil suaminya yang terlihat sibuk dengan ipednya. “Iya? Ada apa Ran?” Ruslan meletakkan ipednya di nakas meja kamarnya, kemudian ia beralih memperhatikan istrinya. “Tanpa Mas sadari, Mas telah memperlakukan Adhita spesial dan mengesampingkan Adhira. Kenapa Mas?” tanya Ranti sendu, ia juga tak tega melihat putri sulungnya tidur dengan bekas air mata di pipinya. Ruslan menghela nafasnya panjang, lalu terdiam beberapa menit sebelum ia menjawab pertanyaan istrinya. “Aku sama-sama menyayangi Adhira dan Andhita, tapi Kamu tahu sendiri Ran, Andhita sakit-sakitan, ia juga tak sepandai Adhira. Andhita butuh waktu lama untuk memahami sesuatu, ia lebih butuh Kita sebagai orang tua. Sedangkan Adhira, Aku juga sangat menyayanginya Ran. Kini ia sudah dewasa, Aku rasa dia sudah cukup tahu alasanku lebih memperhatikan Dhita. Bukannya Kamu juga tahu Ran, Aku dulu memperlakukan Adhira kecil seperti Aku memperlakukan Dhita sekarang,” ucap Ruslan, “Mas, memang benar jika Kamu dulu memperlakukan Adhira kecil seperti Kamu memperlakukan Dhita sekarang. Tapi itu dulu Mas, tidak ada yang merasa tersakiti, karena memang hanya Dhira anak Kita. Tapi sekarang Kita mempunyai Adhira dan Andhita Mas, perlakuanmu sekarang membuat Adhira Kita merasa tidak adil Mas. Apa Kamu merasa hubunganmu dengan Adhira semakin jauh? Apa Kamu tidak melihat perubahan sikap anak Kita Adhira? Adhira yang ceria sudah menjadi lebih pendiam sekarang, dan hal itu benar-benar membuatku sedih Mas,” Ranti mengusap air matanya yang mengalir begitu saja. Ruslan menarik tubuh istrinya, dan mendekapnya. Ia tak menjawab pertanyaan istrinya, ia terdiam dan termenung memikirkan penuturan istrinya. Apa yang dikatakan istrinya benar, hubungannya dengan putri sulungnya semakin renggang, dan sikap Adhira juga semakin hari semakin terlihat pendiam dan murung. Apa perlakuannya selama ini benar telah menyakiti putrinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN