“Kenapa menangis hm?” Tanya pria yang kini duduk di sampingnya. Adhira menoleh, melihat pria itu dengan wajah sembabnya. Pria itu menghapus air mata Adhira dengan ibu jarinya, kemudian ia mencium kedua mata Adhira dan tersenyum manis. Adhira hanya diam saja, seolah tubuhnya hanya bisa menurut saja.
“Apa yang Kau inginkan?” tanya Pria itu kepada Adhira.
“Apa Kau bisa mengabulkan permintaanku?” tanya Adhira polos,
“Aku juga tidak tahu, tapi Aku akan berusaha supaya Kau tersenyum lagi,” ucapan pria itu membuat Adhira tenang sekaligus bahagia.
“Aku ingin Ayahku menyayangiku lagi seperti dulu,” ucap Adhira sendu,
“Tapi Aku rasa itu tidak mungkin, tak apa Aku sudah terbiasa dengan hal itu,” Adhira memandang pria itu sejenak, kemudian menunduk lesu.
“Tidak ada yang tidak mungkin, hanya soal waktu saja,” ucap pria itu sembari mengelus pucuk kepala Adhira sayang. Adhira menoleh ke arah pria itu, namun ia sudah pergi. Adhira kira pria itu akan menemaninya, ternyata dia juga pergi.
Adhira melihat langit yang biru, angin di sekitarnya yang segar juga membuat perasaan Adhira lebih tenang dari sebelumnya. Rambut panjangnya juga beterbangan, ia merentangkan kedua tangannya untuk menenangkan diri. Tiba-tiba bibirnya mengukir senyum, saat dilihatnya banyak kupu-kupu terbang ke arahnya. Semuanya begitu indah, dan Adhira bahagia.
“Adhira putri Ayah, kemari Nak,” Ruslan melambaikan tangannya, menyuruh Adhira untuk menghampirinya. Melihat Adhira yang tak bergeming sedikit pun, Ruslan menghampiri putri sulungnya.
“Ayah?” Adhira ragu jika yang di hadapannya sekarang adalah Ayahnya. Ia menepuk pipinya pelan, guna menyadarkannya apakah ini mimpi atau bukan pikirnya. Ternyata ia merasakan sakit di pipinya, nyata ya ini nyata pikirnya.
“Mari Kita jalan-jalan Nak,” Ruslan menggandeng tangan mungil Adhira.
Ruslan mengajak putri sulungnya itu bermain-main di lapangan ini. Mereka mengunjungi banyak tempat di sini, Adhira terlihat sangat bahagia sekali. Pria yang menyaksikan kedekatan ayah dan anak itu pun tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya ke depan.
“Ayah, Adhira maen sepeda,” Adhira menunjuk sebuah sepeda di ujung jalan sana. Ruslan pun melihat arah pandang Dhira, kemudian ia mengangguk setuju.
“Ayo,” Ruslan menuntun putrinya menuju tempat di mana sepeda itu berada.
“Yeeeeyyy,” Adhira tersenyum, riang nan gembira.
Mereka pun berkeliling menggunakan sepeda tersebut, sesekali juga berhenti untuk berteduh seperti keinginan Adhira. Ruslan menuruti semua keinginan putri sulungnya ini, Dhira benar benar terlihat bahagia di sini. Semoga saja Dhira akan selalu bahagia selamanya.
“Ayah?” Adhira memanggil Ruslan. Kini mereka sedang duduk menghadap sungai yang mengalir.
“Iya Nak?” jawab Ruslan, kemudian fokus memperhatikan sang putri yang sedang berbicara kepadanya.
“Adhira rindu Ayah,” ucap Adhira sembari memandang air yang ada di depannya. Tak punya keberanian untuk menatap wajah sang ayah, saat mengatakan hal tersebut.
“Ayah juga rindu Adhira, putri Ayah yang ceria ini,” Ruslan membawa putrinya ke dalam sekapannya.
“Ayah gak boleh berubah lagi ya, terus sayang sama Dhira kayak gini. Kayak dulu juga, kayak waktu Dhira masih kecil. Ayah, walau Adhira sekarang sudah dewasa. Tapi Adhira tetap putri Ayah kan?” tanya Adhira masih dalam dekapan Ayahnya.
“Tentu saja, sampai kapan pun Adhira tetap putri Ayah yang sangat Ayah sayangi,” Ruslan mengecup kepala putrinya sayang.
“Terima kasih Ayah,” ucap Adhira bersyukur.
“Iya sama-sama Sayang,” jawab Ruslan sembari tersenyum.
Namun senyum di wajah Ruslan tiba-tiba saja luntur, ketika ia melihat sosok pria yang kini tengah memperhatikan keduanya dengan bersedekap d**a dan smirk di bibirnya. Wajah Ruslan tiba-tiba saja menjadi sedih, bahkan kini ia mengusap air yang ada di sudut matanya.
“Ayah? Ayah menangis?” tanya Adhira, yang menyadari Ayahnya tengah bersedih.
“Tidak Nak, ini adalah air mata bahagia,” ucapnya sembari memeluk lebih erat sang putri, seolah ia tak ingin melepaskan pelukan tersebut.
Ruslan menggelengkan kepala menatap sosok pria tersebut, seolah memohon kepada pria itu untuk tidak melakukan sesuatu pada putri sulungnya. Namun pria itu hanya cuek, dan memberikan senyum yang menyeramkan di wajahnya.
“Lho Ayah ke mana?” Adhira bingung, ketika ia tak melihat sosok yang ia rindukan itu.
“Apa Kau merasa lebih baik?” tanya pria yang baru datang dari arah belakang punggungnya. Adhira menoleh ke arahnya dan tersenyum.
“Tentu saja, Aku merasa jauh lebih baik,” Adhira tersenyum manis ke arah pria itu.
“Baguslah kalau begitu,” ucap Pria itu sembari mengelus pucuk kepala Adhira dengan lembut.
“Kamu sendiri mengapa tiba-tiba di sini?” tanya Adhira,
“Karena mu, tentu saja,” Pria itu menarik pinggang Adhira untuk mendekat ke arahnya.
“KarenaKu? Aneh sekali,” ucap Adhira bingung dengan perkataan pria yang ada di sampingnya ini. Pria itu hanya tersenyum sampai terlihat mata sipitnya itu, manis sekali batin Adhira berkata.
“Aku bisa membuat mu bahagia, bahkan lebih dari ini Adhira,” pria itu mengangkat dagu Adhira, agar bisa menatapnya.
“Oh ya? Apa Kau benar benar mampu membuatku bahagia?” Adhira memberikan pertanyaan itu, hanya ingin memastikan kesungguhan pria tersebut.
“Tentu saja,” ucap pria itu yakin kepada dirinya.
“Asal Kau mau menjadi milikku,” ucap pria itu dengan sungguh. Adhira menatap mata sipit pria itu, ia hanya ingin melihat apakah ada kesungguhan atau tidak di mata pria itu. Tidak ada, Adhira hanya melihat kesungguhan dan keyakinan di sana.
“A-Aku—“ ucapan Adhira terpotong.
Kriiiing kringggg krrriiiiiing
Suara jam beker Adhira membangunkan Adhira dari tidur cantiknya, ia segera mencari keberadaan jam tersebut dan mematikannya. Adhira terduduk di kasurnya, kemudian ia menatap sekeliling kamarnya. Di mana lapangan dan ilalang itu?
“Ah tidak, ternyata Aku hanya bermimpi tadi,” Adhiura mengusap wajahnya kasar.
“Mengapa terasa begitu nyata Tuhan?” Adhira bingung,
Adhira menundukkan kepalanya sedih, ketika mengingat momen indah bersama Ayahnya tadi. Ia benar benar ingin melakukan jalan-jalan dengan ayahnya seperti di mimpi tadi. Apa itu semua tak bisa terjadi di dunia nyata Tuhan? Lalu dengan pria itu, mengapa pria itu selalu hadir di mimpinya akhir-akhir ini? Jakson, mengapa dia? Mengapa tidak Exel saja yang mengatakan hal menyenangkan seperti di mimpi tadi? Huft, Adhira menghela nafas panjang, ketika memikirkan itu semua.