Niat baik para remaja

1125 Kata
“Thanks,” Renna bersiap untuk keluar dari mobil mewah. Namun tangannya di tarik oleh seseorang yang ada di sampingnya, pria itu menatapnya lama tanpa berkata sepatah kata pun. “Kenapa lagi?” tanya Renna yang menunggu pria ini untuk bicara. “Mau Gue jemput nanti pulangnya?” pria itu membuka mulut, setelah lama terdiam sembari menatap Renna. “Ga usah, Gue bareng temen aja,” jawab Renna, “Udah ga ada yang mau di tanyain lagi? Kalo gitu lepasin tangan Gue Rei,” Renna mencoba untuk sabar dan bersikap baik pada pria ini. Bagaimana pun pria ini telah memberinya penginapan kemarin, meski begitu menyebalkan bersama pria ini. “Hehe, morning kiss by,” ucap pria itu tanpa dosa. Kemudian memajukan wajahnya dan menarik kerah baju yang di pakai Reino, Renna mencium rahang Reino singkat. “Udahkan, Gue permisi,” Renna langsung keluar dari mobil itu, tanpa menunggu jawaban dari Reino. Reino sedikit terkejut dengan Renna yang benar menciumnya, ia sangat senang juga sedih. Reino tak suka sikap Renna yang pasrah seperti tadi, seolah Renna sudah sangat lelah. Reino tak menyukai hal itu, ia lebih suka Renna yang galak seperti biasa. Reino tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja saat ini. Reino memukul stir mobil kasar, ia harus membuat Renna merasa lebih baik. Dreeeeet dreetttt dreeert Sebuah panggilan menyadarkan lamunan Reino, ia segera mengangkat telepon tersebut. “Ya?” tanya Reino singkat, “Buruan dateng ke rumah sakit, sekarang jadwalnya kunjungan ke pasien Lo yang manja itu!” suara seorang pria terdengar dari seberang sambungan. Bisa di tebak dari nada si penelpin, bahwa saat?ini ia sedang kesal. “Ok, Gue ke sana sekarang,” Reino mematikan sambungan tersebut. Ia kemudian menghidupkan mesin mobilnya, dan pergi menuju rumah sakit. Renna berjalan gontai menuju kelasnya, rasanya masih sangat lelah dan ingin tertidur saja untuk selamanya mungkin? Begitu banyak kejutan dari Tuhan kemarin, bahkan rasanya Renna masih tak percaya jika hal hal itu nyata. Ia mencoba melupakan masalah kemarin, mungkin akan sulit tapi Renna akan berusaha. “REEEENNN,” Panggil Dhira dan Zella dari ujung kelas. Renna melihat kedua sahabatnya yang sedang menunggunya, ia melambaikan tangan untuk menjawab panggilan tersebut. Baiklah untuk kali ini saja, Renna pasti bisa menunjukkan sikap baik-baik saja seperti biasanya bukan. “Baiklah Renna tersenyumlah, jangan buat Mereka khawatir okey!” ucap Renna menguatkan dirinya sendiri. Kemudian Renna mulai memasang senyum palsunya, selamat memakai topeng Renna. “Kalian tumben banget berangkat pagi, ada apa nih?” Tanya Renna semangat. Dhira dan Zella saling bertukar pandang, aneh sekali tingkah Renna batin mereka berkata. “Ada apa ya Zell? Ya mau introgasi Elu lah canteeek,” ucap Dhira, ibu jari dan telunjuknya di gunakan untuk mencubit kedua pipi Renna gemas. “Aw, melar nih ntar pipi Gue Dhir,” ucap Renna geram, kemudian ia menyedot kedua pipinya dari dalam, agar kembali tirus mungkin. “Iya nih Dhir, jarang-jarang lho Lu gak masuk tanpa ngomong sama Kita lagi ya Dhir,” Zella melirik Zella, untuk minta persetujuannya. “Iya nih,” Adhira mengangguk mantap. “Iye ntar Gue kasih tau alasannya, yuk masuk dulu pegel nih kaki Gue berdiri mulu,” Renna berjalan memasuki kelas mereka, kemudian di ikuti Dhira dan Zella. “Lo gapapa Renn?” Dhira ingin memastikan keadaan sahabatnya ini. “Hmm ya sekarang mendingan,” jawab Renna, kemudian ia menjatuhkan bokongnya di kursi kayu yang ada di kelasnya. “Oke deh, semangat selalu Renn,” ucap Dhira sambil mengepalkan telapak tangannya ke atas udara, untuk menyemangati sahabatnya. “Jiaayooo jijie Renna,” Zella juga ikut menyemangati Renna. “Thanks guys,” Renna merangkul pundak kedua sahabatnya, kemudian mereka pun tertawa bahagia. “Lo butuh refreshing gak Renna? Atau mau jalan-jalan? Ke pantai? Mall? Mendaki gunung? Bilang sama Gue Renn, Gue siap mengabulkan.” Zella menepuk dadanya sombong. “SOMBONG AMAT LU!” Adhira berucap tepat di telinga Zella. Zella langsung menutup telinganya, sungguh suara Adhira ini membuat telinganya berdenyut-denyut seperti orang jatuh cinta. Eeeaaaa. “Worang kaya mah bebas Dhir,” Zella mengibaskan rambutnya di depan wajah Adhira. “Pegangin Gue Renn, biar ga ngehajar nih bocah tengil, Astagfirullah sabar,” Renna langsung memegang kedua lengan Adhira, agar tak menghajar Zella. Mereka hanya bergurau saja. “Sabar Dhiir, orang sabar jodohnya lebar. Sabar,” ucap Renna menenangkan Adhira. Haha. “Heh buset, Lo ngedoain jodoh Gue gendut gitu? Wah parah nih Renna,” Adhira menggulung kedua lengan bajunya ke atas, bersiap untuk menghajar Renna. “Maksud Renna itu jodoh Lo lebar, lebar bahunya biar kek mark ncit,” Zella membela Renna sembari terkikik geli. “Nah, iya itu maksud Gue Dhir, Lo mak seujon mulu,” Renna terkikik geli. “Ya itu itu sih gapapa atuh,” Adhira tersenyum salting, ketika ia memikirkan Mark ncit itu. “Eh guys, Gue kemaren acroll sosmed tuh, Gue liat banyak orang-orang di luar sana yang kesulitan buat makan. Jadi Gue ke pikiran gini, berhubung dosa Zella paling banyak dan kebetulan uang nya dia juga banyak. Gimana kalo kita ngasih bantuan buat mereka-mereka yang kurang mampu? Tentu pake duitnya Zella karena alasan yang udah Gue sebutin ya, sedangkan Gue dan Renna bertugas mempermudah jalannya orang yang mau insaf plus dapet pahala ya, hehe.” Adhira menjelaskan maksudnya psnjang kali lebar kali tinggi, yang menghasilkan volume. “Lah buset ide bagus bet sumpah, tapu kenapa pake jelek-jelekkin Gue njiiiir,”? Zella melotot ke arah Dhira. Sedangkan Dhira hanya terkikik geli melihat ekspresi Zella saat ini. “Wah keren juga ide Lo, Gue setuju banget, kegiatan kayak gitu juga bisa buat pelajaran, setuju banget Gue, kapan nih mau direalisasikannya?” tanya Renna tak sabaran. “Gue sih pengennya secepatnya, tapi tergantung sama pemilik dana nih,” Adhira menyenggol lengan Zella. “Sekarang aja gimana guys? Gue juga dah ga sabar pen denger cerita mereka, supaya Gue bisalebih bersyukur lagi ke depannya,” ucap Zella sangat antusias dengan kegiatan tersebut. Saking antusiasnya, Zella sudah memakai tasnya kembali dan menggandeng tangan Renna dan Adhira untuk keluar kelas. Namun kedua sahabat Zella tak bereaksi apa pun, bahkan mereka masih diam tak bergerak di tempatnya. “Lho ayaoook, kenapa malah pada diem deh,” Zella kembali akan menarik tangan Renna dan Adhira, namun mereka langsung memukul tangan Zella pelan. Agar Zella bisa sadar dari erornya. “Duuhh,” Zella mengelus punggung tangannya bergantian. “Heh sekarang Kita sekolah dulu begoo,” ucap Renna sembari memutar bola matanya jengah. “Iye, ntar abis pulang sekolah aja Kita berangkatnya,” putus Adhira, kemudian ia kembali duduk di tempatnya, dan meninggalkan Zella dengan loadingnya yang lama. “Oh iya iya, sekolah duli ya,” ucap Zella sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Hehee,” iya terkikik sendiri menyadari kebodohannya yang hakiki, kemudian ia menyusul kedua sahabatnya yang sudah terlebih dahulu duduk dan membaca buku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN