Belanja untuk Mereka

1298 Kata
“Lo gak izin dulu sama Bokap Lo Dhir? Nanti beliau khawatir nyariin Lo,” Renna mengingatkan Adhira, karena sedari tadi ia belum melihat Adhira menelepon Ayahnya. Saat ini Mereka sedang berada di mobil, dengan Renna sebagai sopir. Sedangkan Adhira duduk di bangku depan dan Zella duduk di bangku penumpang belakang. Mereka akan menuju ke Mall yang ada di sekitar, untuk membeli beberapa kebutuhan pokok, yang nantinya akan di bagikan ke pada warga yang membutuhkan. “Enggak Renn, Gue udah izin sama ibu tadi sekalian izin nginep di rumah Zella. Urusan Ayah itu biar Ibu Gue yang ngurus,” ucap Adhira, “Lo ada problem sama Bokap Lo?” Tanya Zella yang melihat raut sedih dari wajah Adhira. “Sedikit sih, mangkanya Gue usulin kegiatan ini. Ya itung-itung biar Gue lupa sama my problem mungkin? Hehe,” Adhira kembali menunjukkan senyumannya, agar Mereka tak khawatir. Lagi pula Adhira sudah sering menghadapi masalah seperti ini dengan Ayahnya. “Oalah, pantesan. Tapi tumben sih ide Lo positif kali ini, ” Zella memberikan apresiasi untuk Adhira, ia meletakkan jempol tangannya di dahi Adhira dan mendorongnya ke belakang. Adhira sedikit terdorong ke belakang, kemudian ia menyingkirkan jempol Zella kasar. “Ide Gue emang selalu pisitif, emang ide Lo yang dikit-dikit Club guys, kuy club, club aja gimana dll. Cih, mangkanya Zell kayak yang Gue bilang tadi, ini tuh itung-itung sebagai penghapusan sedikit demi sedikit dari dosa Lu yang seambrek itu, hehe,” ucap Adhira kembali menggoda Zella. “Eh dasar mukut b******n!” Zella bernyanyi sembari mengadap wajah Adhira ketika kata b******n itu ia ucapkan. Namun Adhira malah tertawa saja melihat wajah Zelaa yang kesal. “Udah sampe bro,” ucap Renna, kemudian ia membuka sabuk pengamannya. “Lha iya cepet bet Renn?” tanya Adhira heran, perasaannya ia baru?masuk mobil dan sekarang sudah sampai Mall saja. “Bacot mulu, mana kerasa perjalanannya,” ucap Renna membuka pintu mobil. “Buset dah, congor lu pedes amat Renn,” Adhira mengelus dadanya sampai alus, eh maksudnya agar sabar. Kemudian mereka memasuki Mall tersebut, mereka langsung menuju tempat penjual sembako. Mereka juga mulai memilih sembako yang di butuhkan seperti beras, minyak, gula, teh, mie instan, telur ayam, dan kopi. Mereka juga membeli beberapa obat-obatan dan buah. “Apa lagi ya guys?” tanya Zella sembari berpikir. “Pakaian juga kayaknya deh,” Adhira berucap bingung, karena memang ini baru pertama kalinya mereka melakukan kegiatan sosial seperti ini. “Iya, pakaian, s**u bayi, dan makanan mungkin?” usul Renna juga sama masih bingung. “Iya bener tuh Renn, tapi ntar kita beli kayak nasi kotak aja kali ya? Biar praktis dan banyak. Ih ga sabar aaayiook guys,” Zella sangat berantusias, ia juga sampai berlari menuju pakaian yang ada di seberang sana. Adhira dan Renna pun hanya tersenyum malu, ketika banyak orang menoleh je arah mereka, dikarenakan suara Zella yang cempreng. Mereka berdua juga melangkah menyusul Zella yang sudah memilih beberapa pakaian di sana. “Zell, Gue tau niat Lo baik, mau ngasih mereka pakaian yang mahal, tapi ya kira-kira juga dong! Masa di beliin baju seksi sih? Ini apa lagi perutnya bolong? Astaga celananya ke kecilan b**o?” Renna mengoceh sambil meneliti pakaian yang di pilih oleh Zella. Renna benar-benar tak habis pikir. “Lha terus harus yang kayak gimana dung Bunda Renna?” tanya Zella frustasi. “Yang kek gini-gini aja Zel, cari ukuran yang kira-kira sedeng bisa buat orang kurus dan gemuk,” Adhira menunjukkan celana trening dan kaos oblong pilihannya. “Nah iya, kayak gini Zell,” ucap Renna sembari menyentuh pakaian pilihan Adhira. “Lha itu mah terlalau murah, masa Kita ngasih barang murah buat Mereka?” tanya Zella bingung dengan pilihan Renna dan Dhira yang menurutnya jekek. “Jelasin deh Renn, esmosi Gue lama-lama. Gue nyari pakaian yang laen lagi,” Adhira meninggalkan Renna dan Zella, Adhira mulai memilih pakaian lainnya. “Zella terus Lu mau kasih baju yang kayak gimana? Merek prada, gucci, LV,dan chenel iya? Mereka ga butuh barang mahal Zell, selagi cukup mereka udah sangat bersyukur. Gue tau Zell niat Lu baik, tapi lebih baik kalo Kita kasih mereka uang tunai aja, supaya bisa untuk buka usaha dan mulai hidup lebih baik. Gimana?” Renna menjelaskan panjang kaki lebar kepada Zell. Renna sangat tahu mengapa cara berpikir Zella seperti itu, karena Zella sendiri sudah hidup kaya dari kecil dan orabg tuanya juga selalu memberikan barang bermerek kepada Zella. Bahkan Zella baru mengenal hal-hal sederhana seperti makan di warteg atau pinggir jalan saat berteman dengan Adhira dan Renna. Zella banyak belajar hal baru dari sahabatnya, begitu pun sebaliknya. “Oalah gitu ya, oke deh, kalo gitu Gue mau narik uang aja di ATM, biar kalian aja yang cari pakaiannya biar cepet beres dan cepet ketemu Mereka,” ucap Zella bersemangat. Renna pun mengangguk menyetujui usul Zella. Zella segera pergi menuju mesin ATM yang tak jauh dari tempatnya tadi. “Kamu ngapain di sini Zell?” tanya seorang pria yang ada di belakangnya. Saat ini Zella sedang mengantre untuk menarik uang, terlihat antrean itu cukup panjang dan parahnya Zella mendapat antrean paling terakhir saat ini. “Eh Om Bara, ini Zella mau ngambil duit nih,” ucap Zella dengan raut wahah yang sedikit gelisah. “Berapa banyak yang mau Kamu ambil?” tanya Bara sembari menarik Zella untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Zella menurut dan mengikuti Bara. “Dua puluh juta Om,” jawab Zella. “Untuk apa mengambil uang sebanyak itu?” tanya Bara heran. “Buat di bagi-bagiin ke orang yang lebih membutuhkan Om, niatnya sore ini mau kasihbabntuannya, tapi ini aja antreannya panjang banget. Pasti lama dan bisa sampe sore,” Zella menghela nafas panjang ketika melihat antrean itu lagi. “Bagaimana kalo Kamu pakai uang Saya dulu? Kebetulan Saya ada uang cash di mobil,” tawar Bara. Ia memang baru saja menarik uang tadi untuk kebutuhan renovasi rumahnya, dan uang terebut masih tersisa lumayan banyak. “Iya deh, Zella mau. Zella langsung transfer aja ke Om Bara sekarang. Berapa nomer rekening Om?” Zella segera mengeluarkan hp nya dan bersiap mengetikkan nomor rekening Bara. “Ga usah, anggep saja Saya juga membantu Mereka,” ucap Bara lembut, “Jangan dong Om, masa kayak gitu? Zella kan maunya uang Zella yang di kasih ke Mereka,” ucap Zella dengan mata berbinar. “Giamana ya?” Bara berpura-pura seolah sedang berpikir keras. “Ayo dong Om, masa gituuuu,” Zella hampir saja merengek, terlihat sangat menggemaskan menurut Bara. “Baiklah bagaimana kalo kamu menggantinya dengan menemani Saya jalan-jalan?” usul Bara, “Lho kok kayak gitu? Ga mau ah, Zelaa maunya bayar pake uang Zella,” Zella masih tetap kekeh ingin membayar dengan uang miliknya. “Yasudah kalau begitu, Saya tifak jadi memberi Kamu uang cashnya,” ancam Bara, kemudian ia berlagak akan meninggalkan Zella. “Eh, tunggu Om, oke deh Zella setuju,” Zela menarik kemeja belakang?yang di kenakan Bara. Bara tersenyum senang, ternyata ancamannya ampuh juga. “Oke ikut Saya ke mobil,” Bara pergi menuju ke tempat mobilnya di parkirkan, Zella mengikuti Bara dengan sedikit berlari, karena langkah Bara yang besar. “Nih uangnya dua puluh juta,” Bara menyerahkan segepok uang ke tangan Zella. “Ok deh Om makasih,” ucap Zella senang. “Nanti malam Saya jemput jam delapan,” ucap Bara, “Nanti malam? Jangan nanti malem dong Om, soalnya temen-temen Zella pada nginep di rumah Zella. Gimana kalo besok malem aja?” Zella memberi usul. “Em ok,” Bara menyetujuinya. Zella mengangguk menanggapi perkataan Bara, ia pun segera pergi menuju ke tempat kedua sahabatnya berada. “Kalo dipikir-pikir Aku kok kayak cwe nakal ya? Masa di tuker sama uang dua puluh juta? Hehe bodo amat lah itu urusan nanti, yang penting Aku bisa bantu Mereka dulu,” Zella kembali melangkahkan kakinya lebih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN