“I-iya Mba bentar ya, Saya lagi nungguin temen Saya. Soalnya kartu debitnya ada di Temen Saya Mbak,” ucap Adhira mencoba memberi pengertian kepada penjaga kasir.
“Mbak, Saya juga gak bisa percaya sama Mba begitu aja ya. Jadi sambil menunggu Temen Mba, Saya minta jaminannya aja dulu Mbak. Ini banyak lho yang Mbaknya udah pilih,” petugas kasir itu melirik bawaan Dhira dan Renna yang lumayan banyak.
“Ok gini aja Mbak, Saya ada kartu debit, tapi kebetulan kartunya ketinggalan di mobil. Gimana kalo Saya ambil dulu kartunya di mobil, soalnya Kami ga bawa uang cash Mbak,” Renna berbicara dengan sopan kepada petugas kasir tersebut, berharap petugas kasir itu mengerti.
“Gak bisa Mbak, Saya sudah sering mendengar alasan seperti ini. Mbak jangan coba-coba nipu Saya ya!” petugas kasir itu bersedekap d**a.
“Mbak, Saya bukan penipu ya! Katanya tadi suruh bayar, sekarang Saya mau ambil kartu debit malah di kira mau nipu!” Renna sedikit menaikkan nada bicaranya karena kesal dengan respons petugas kasir yang kurang enak itu.
“Renn, udah Renn. Sabar ya,” Adhira mencoba menarik lengan Renna untuk mundur.
“Heh Mbak yang sopan ya! Udah gak bayar malah marah-marah!” petugas kasir itu menunjuk wajah Renna sembari melotot ke arah mereka.
“HEH MBAK YANG SOPAN YA JADI PETUGAS KASIR! GUE HAJAR JUGA LO LAMA-LAMA!” Renna mengepalkan tangannya ke arah wajah petugas kasir itu. Adhira yang melihat itu pun segera menarik lengan Renna mundur. Bahkan sekarang mereka menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
“E-eh Renn, udah ya,” Adhira mencoba menenangkan Renna yang sepertinya sudah sangat emosi.
“Gak bisa Dhir, nih orang udah kebangetan,” Renna kembali melangkah maju ke arah petugas kasir itu. Mbak kasir itu sedikit was-was melihat Renna yang sudah kebakaran jenggot itu.
“Kamu jangan macem-macem ya, Saya panggilin satpam baru tau rasa Kamu!” ancam petugas kasir itu. Melihat Renna yang tak takut dengan ancamannya, lantas petugas kasir itu langsung memanggil satpam.
“Pak satpaaaam, satpaaam. Tolong pak tangkep ini orang penipu!” Teriak petugas kasir tersebut. Beberapa satpam yang mendengar pun langsung mendatangi tempat itu.
“Tangkep mereka Pak! Mereka tidak mau bayar!” ucap petugas kasir itu.
“Aduuuh pak lepas pak, Kami bukan penipu. Kami pasti bayar, tapi kartunya ada di mobil. Biar Kami ambil dulu pak,” ucap Adhira menjelaskan kepada para satpam, namun sia-sia. Para satpam tersebut tak mendengarkan penjelasannya, dan langsung menangkap Renna dan Adhira.
“Renn, gimana nih?” Adhira mulai panik. Sedangkan Renna masih diam dengan mata tajam menyorot petugas kasir itu.
“Gillaaa, ini si Zella ke mana sih?” Adhira menengok ke kanan dan kiri, untuk mencari keberadaan Zella.
“Pak lepas pak, bapak gak bisa kayak gini! Ini kenapa sih?” Adhira mengoceh frustasi dengan nasibnya.
Zella berjalan santai sembari bersenandung riang, kemudian ia melihat orang-orang sedang berkumpul melihat sesuatu. Ia juga mendengar ada suara orang bertengkar dan saling berteriak di sana. Karena keinginan tahuannya tinggi, akhirnya Zella melangkahkan kakinya ke sana untuk melihat apa yang sedang orang-orang tonton.
“Saya sudah bilang, kartu debitnya ada di mobil, KALIAN b***k APA GIMANA SIH?!” Renna benar-benar hilang kesabaran.
Zella ternganga ketika melihat kedua sahabatnyalah yang sedang bertengkar hebat dengan beberapa orang di sana. Zella segera membelah kerumunan, kemudian ia menghampiri kedua sahabatnya.
“Lepasin sahabat Saya!” Zella datang dan mencoba menjauhkan tangan satpam itu dari kedua tangan sahabatnya. Adhira dan Renna menoleh ke arah Zella dan sedikit bernafas lega, namun juga kesal tentunya.
“Mbak gak usah ikut campur ya! O-oh Mbak bilang Mereka itu sahabat Mbak kan? Jadi tolong bayar barang-barang yang Mereka ambil sekarang! Jangan coba menipu Saya ya Mbak,” petugas kasir itu menagih uang kepada Zella.
Zella mengerutkan dahinya, ia masih berpikir keras. Setelah mengetahui maksud dari ucapan Mbak kasir itu, ia kemudian segera mengeluarkan black kardnya , dan memberikannya pada wanita gila itu.
“Nih BLACK KARD,” Zella menyerahkan kartunya. Mbak kasir itu menerimamya, dan langsung memproses tagihan Mereka.
“Heh Lo lepasin tangan temen Gue!” Zella mendorong kasar para satpam itu. Kemudian Zella tersenyum kikuk melihat Renna dan Dhira yang menatapnya seperti singa betina yang lapar. Menakutkan sekali, sepertinya Zella harus menebalkan telinga setelah ini, untuk mendengar ocehan dan mantra-mantra dari Adhira dan Renna.
“Dan Lo, gak usah belagu jadi kasir! Gue juga bisa beli ini Mall kalo Gue mau,” Zella berbicara dengan Mbak kasir tadi, namun di luar dugaan, ternyata Mbak kasir tersebut tidak terpengaruh dengan ucapan Zell. Dan itu membuat Zella kesal sendiri.
“Ok total semuanya tujuh juta delapan ratus empat puluh dua ribu rupiah ya Mbak,” ucap Mbak kasir itu seolah tak terjadi apa-apa. Sakit jiwa mungkin ini orang batin Renna berkata.
“LO! Gue bis—emmb--“ ucapan Zella terpotong, karena Adhira langsung membekap mulut Zella dengan tangannya. Jika di biarkan mungkin Zella akan terus mengoceh sendiri, karena Mbak kasir yang terlihat tak menanggapi ucapan Zela sama sekali.
Renna juga segera mengode Adhira dengan kepalanya, agar segera membawa Zella ke mobil. Sedangkan ia yang akan mencari petugas lainnya, untuk membantu membawakan belanjaannya ke mobil.
“Hah, apa sih Dhir? Kan Gue mau marahin itu Mbak kasir belagu,” Zella langsung protes setelah Adhira melepaskan tangan dari mulutnya. Mereka sudah sampai di dalam mobil, dan menunggu Renna kembali dengan belanjaannya.
“Telat begoooo! Kesel banget Gue sama Lo,” Adhira menonyor kepala Zella, sehingga membuat kepala Zella terhuyung ke belakang.
“Iiiiiih,” Zella mengerucutkan mulutnya.
“Heran Gue, Lo tadi ngambil duit di mana? Afrika? Terus di kejar burung unta dulu hah?” Adhira mulai mengocehi Zella.
“Ya kan maap Dhir, tadi tuh yang ngantri buanyaaaaaak bangeet di sono. Mangkanya jadi lama,” Zella tak menceritakan kejadian sebenarnya, takut Adhira malah tak berhenti mengoceh nantinya.
Braak
Renna menutup pintu mobil kasar, Adhira dan Zella yang ada di dalam mobil pun terkejut. Zella sudah akan melontarkan kata-k********r, namun setelah melihat wajah Renna yang kesal, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Zella menundukkan kepalanya, ia jadi tak enak dengan kedua sahabatnya, karena Zella mereka jadi dituduh penipu oleh Mbak kasir belagu itu.
“Huft, yadah yoook gas ke tempat tujuan selanjutnya,” ucap Renna mencairkan suasana. Ia tak ingin kegiatan mereka jadi berantakkan gara-gara hal sepele ini.
“Woke gaaas, mau nyari nasi kotak di mana nih Zell?” tanya Adhira antusias, namun Zella masih menundukkan kepalanya.
“Maaf ya guys,” Zella mendongakkan kepalanya menatap kedua sahabatnya bergantian.
“Udah lha Zell, Kita saling memaapkan aja lah biar bersih dosanya hehe,” ucap Adhira santai. Zella juga sedikit lebih tenang mendengarnya. Kemudian ia melirik Renna hati-hati.
“Ngapa Lo liat-liat Gue? Klo Lo sok bersalah gitu Gue tabok muka melas Lo itu,” Renna mengancam Zella dan menunjukkan telapak tangannya ke arah Zella. Mereka sudah tahu jika Renna sedang bercanda saat ini, sedikit aneh memang bercandanya Renna. Haha.
“I-iye Renn, kagak lagi,” Zella sudah lega sekarang.
“Mending Lo masukin amplop uangnya, satu juta per amplopnya Zell,” suruh Renna,
“Iya tuh bener, biar Gue yang nata sembakonya. Biar cepet gitu hehe,” Adhira pindah duduk ke belakang bersama Zella.
“Siaaaap bosque,” Zella langsung mencari amplop dan memasukkan uang ke dalamnya.
“Bener-bener kek sopir dah Gue,” Renna melirik kedua sahabatnya lewat kaca mobil. Adhira dan Zela pun tertawa melihat ekspresi Renna yang melas itu.