Panti asuhan

1467 Kata
“Buk kenapa nangis?” tanya Adhira kepada ibu penjual makanan di pinggir jalan. “Itu neng, ada yang pesen nasi sama Saya tujuh puluh kotak tapi di cansel. Padahal Saya sudah masak semua, pokonya semua sudah siap. Gimana ini,” ibu tersebut terlihat bingung sekali. Adhira menoleh kepada Zella dan Renna untuk meminta pendapat, dan keduanya mengangguk setuju. “Gini aja buk, Saya ambil nasi kotaknya semuanya buk. Daa ibu jangan sedih lagi ok,” Adhira mengelus punggung ibu itu sayang. “Beneran neng? Se-semuanya?” ibu itu terlihat memastikan. Adhira menganggukkan kepala dan tersenyum. “Terima kasih neng,” Ibu itu memeluk Adhira dan kedua sahabatnya bergantian. Wajahnya terlihat sangat bahagia, melihat ibu itu bahagia, membuat Adhira, Renna, dan Zella juga bahagia. “Baik Ibu akan ambilkan neng, tunggu sebentar ya. Ini nasinya juga baru masak kok neng, sebentar ya neng,” ibu tersebut bergegas ke belakang untuk mengambil nasi kotak. Adhira dan Zella juga mengikuti ibu tadi, berniat membantu membawa nasi kotak itu ke mobil. Sedangkan Renna menuju mobil dan membuka bagasi mobilnya, ia akan membantu menyusunnya di dalam mobil. “Dah beress,” ucap Renna menutup bagasi mobil. “Ini buk uangnya,” Zella memberikan uang tersebut kepada ibu penjual nasi kotak tersebut. “Terima kasih neng,” ibu tampak senang dan menghitung uangnya. “Yaudah Buk, Kita pamit ya,” ucap Renna sopan. Namun belum sempat mereka membuka pintu mobil, ibu tadi memanggil mereka kembali. “Neg, tunggu neng,” ibu tersebut melangkah cepat ke arah mobil mereka. “Iya ada apa ya Buk?” tanya Adhira sopan. “Ini neng uangnya kebanyakan sekali, ini Saya kembalikan,” ibu itu menyerahkan uang kembaliannya. “Eh enggak usah Buk, ini buat Ibuk saja. Ini sudah rezeki Ibu,” Adhira menggenggamkan uang itu ke tangan ibu penjual nasi kotak tersebut. “Terima kasih neng neng cantik, terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian,” ibu tersenyum tulus kepada Adhira dan sahabatnya. “Iya buk, sama-sama. Kalau begitu Kami pamit ya, permisi Buk.” Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk membagikan makanan dan uang kepada orang yang lebih membutuhkan. “Ini makanannya kita bagiin di jalan-jalan atau gimana nih?” tanya Zella, “Iya ya, kelamaan kalo Kita harus bagi-bagi perorangan, soalnya ini banyak banget. Takutnya kalo kelamaan malah basi,” ucap Renna, matanya juga masih fokus menyetir. “Em, gimana kalo Kita kasih nasi kotaknya ke panti asuhan aja?” Adhira memberikan usulnya. “Wah iya tuh, setujuuu,” ucap Zella antusias. “Ok deh, Kita langsung ke sana aja. Kebetulan Gue tau panti asuhan deket sini,” ucap Renna, “Wokeee, gaaaaas Reeen, hahah” ucap Adhira dan Zela bersamaan. Renna yang mendengarnya, langsung memutar bola matanya jengah. Ia kembali fokus menyetir, dan kedua temannya yang enak-enakkan tidur. Kadang orang cerdas dan dapat di andalkan itu lebih banyak tanggung jawabnya. Tiiiiin tiiiin tiiiiiiin Renna mengklakson mobilnya, agar Adhira dan Zela segera bangun. Mereka sudah sampai dari lima menit yang lalu, namun Renna sengaja tak membangunkan mereka, karena ia ingin meregangkan otot-ototnya dulu. “Buseeett, apa gimana gimanaa hah huh hah?” Adhira langsung hendak berdiri dari duduknya, saking kagetnya mendengar klakson dari Renna. Namun ia kembali terduduk kembali, karena sabuk pengamannya yang menahannya. Jika tidak memakai sabuk pengaman, maka sudah dipastikan kepala Adhira akan benjol terkena atap mobil. Sedangkan Zella, ia terbangun namun langsung menggelengkan kepalanya bingung dan linglung tentunya. “Udah sampee hoy!” ucap Adhira sembari membuka sabuk pengamannya. Adhira yang melihatnya pun gemas dan menjambak rambut Adhira keras. “Aawww aduuh Dhir, udeh udeh, sakit anjiiiiir” Renna mencoba melepaskan tangan Adhira dari rambutnya. “Mangkanya jan usil ih, jantungan nih Gue,” Adhira menjauhkan tangannya dari rambut Renna, kemudian Renna merapikan rambutnya yang sedikit berantakkan karena ulah tangan Adhira. “Ini tuh bukan usil, tapi Gue lagi bangunin Lo pada dengan cara epektip,” ucap Renna membela diri. “Helleh taik Lu Renn,” Adhira membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil. Renna pun tertawa melihat reaksi Adhira. “Lo kenal sama pengasuhnya Renn?” tanya Adhira saat mereka sudah keluar mobil. “Kenal kok,” ucap Renna, “Zell woy turun,” panggil Adhira, setelah menyadari bahwa ternyata Zella masih berada di dalam mobil. “Eh hem? I-iyaaaaa,” jawab Zella dari dalam mobil. “Oh udah sampai to,” ucap Zella setelah berada di luar mobil. “Yaudah kuy masuk dulu, ntar baru balik lagi kesini ngambil nasi kotaknya,” Renna mengajak Adhira dan Zella untuk masuk ke dalam bangunan sederhana di depannya. “Assalamualaikum, buuuk,” Renna mengetuk pintu rumah tersebut. Namun tidak ada jawaban dari dalam, Renna kembali mengetuknya kembali. “Panggil lagi Renn,” perintah Adhira, “Assalamualaikum buuuk, ini Renna buuk,” Renna mengucapkan salam lebih keras dari sebelumnya. “Waalaikumussalam, eh nak Renna. Bawa teman-temannya juga ternyata, ayo masuk nak,” Dian mempersilahkan Renna, Dhira, dan Zella masuk ke dalam. “Maaf ya nak, tadi buka pintunya agak lama, soalnya ibu lagi cuci piring di belakang tadi. Oh ya, biar ibu buatkan minuman dulu ya, sebentar,” Dian hendak pergi, namun ucapan Dhira menghentikanmya. “Eh gak usah repot-repot Buk,” Adhira menolak dengan sopan. “Lho enggak repot kok nak,” ucap Dian, “Kita enggak lama kok buk di sini, Kita ke sini mau nganterin makanan buat adek-adek di sini,” ucap Zella dengan senyum di wajahnya. “Alhamdulillah terima kasih nak,” Dian tersenyum tulus. “Iya buk, sama-sama. Kami juga sangat senang bisa berbagi dengan adik-adik di sini,” ucap Renna sembari tersenyum. “Yaudah Buk, Kita ambil makanannya dulu di mobil,” ucap Adhira, “Iya nak, biar ibu panggilkan anak-anak biar membantu kalian,” Dian pun beranjak ke belakang untuk memanggil anak-anak lainnya. “Hati-hati bawanya Zell,” Adhira memperingati Zella, pasalnya ia membawa enam nasi kotak sekaligus di tangannya. “Iye iye Dhir,” ucap Zella, “Sini Kak biar Kami bantu juga,” ucap seorang anak perempuan dengan senyum manis di wajahnya. “Ini cantik, hati-hati ya,” Renna memberikan nasi kotak tersebut kepada bocah tersebut dan juga anak-anak lainnya. “Baik Kak,” ucap bocah perempuan tersebut. Kemudian ia berjalan hati-hati dengan kedua tongkat yang menopang tubuh kecilnya. Renna termenung melihat keadaan anak perempuan itu, bahkan anak itu masih bisa tersenyum dan bersemangat dengan keadaannya sekarang. Apa kabar Renna yang di berikan kesempurnaan fisik, namun ia tak sekuat dan setegar anak perempuan itu. Bahkan tak jarang, ia masih menyalahkan takdir. Renna tersenyum, ia harus banyak bersyukur ke depannya. Semua makanan telah di bawa ke dalam rumah, bahkan saat ini semuanya sudah siap untuk menyantap nasi kotak tersebut, begitu pula Adhira dan kedua sahabatnya. Bu Dian memimpin doa sebelum makan, kemudian mereka menyantapnya senang. “Alhamdulillah ya, uh makanannya enak bangeeeet,” ucap anak laki-laki bertubuh gempal. “Iya, enak banget, alhamdulillah ya.” Sahut anak laki-laki lainnya yang bertubuh kurus. Adhira tersenyum melihat interaksi anak-anak tersebut, menjadi suatu kebahagiaan tersendiri barinya. “Eh maaf kak,” ucap anak perempuan yang tak sengaja menginjak kaki Zella dengan tongkatnya. “Iya gak apa-apa, sini duduk di samping Kakak,” ucap Zella sembari menepuk tempat di sebelahnya. Anak perempuan tadi pun duduk di sampingnya, sepertinya ia sudah selesai makan. Begitu pula dengan Zella. “Nama Kamu siapa?” tanya Zella sembari merapikan kerudung anak perempuan tersebut. “Namaku Gadis Kak, Kakak cantik sendiri namanya siapa?” Anak perempuan itu tersenyum manis. “Nama Kakak Zella, nama Kamu bagus sekali Gadis,” Zella sangat menyukai nama anak perempuan ini. “Iya makasih Kak Zella, yang kasih nama Aku adalah Mamaku Kak,” anak perempuan itu terlihat sangat antusias saat membicarakan perihal ibunya. Zella terdiam mendengar jawaban anak perempuan tersebut, namun kemudian ia tersenyum kembali. Adhira mengelus pucuk kepala anak perempuan ini. “Mama kasih surat buat Aku waktu bayi Kak, katanya Mama sayang banget sama Aku Kak, dan Mama juga katanya mau jemput Aku nanti. walau pun Aku sendiri belum pernah bertemu dengan Mama, tapi Aku sangat sayang sama Mama. Makanya Aku selalu menolak untuk diadopsi orang, karena Aku yakin dan percaya Mama pasti datang untuk jemput gadis, iya kan Kak Zella?” ucap anak perempuan itu tersenyum sangat lebar, mungkin saja ia sudah membayangkan hal-hal indah yang akan terjadi nanti saat ibunya menjemputnya. Zela mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Gadis, ia tak tahan mendengar cerita anak kecil tersebut. Zella memeluk tubuh kecil anak perempuan itu, Zella menangis di sana. Ia tak menyangka tubuh kecil dan rapuh ini mampu berdiri sendiri melawan semua badai yang menerpa, ia juga tak pernah menyalahkan siapa pun untuk apa yang terjadi di hidupnya. Bahkan anak ini masih menyayangi dan mengharapkan ibunya kembali menjemputnya, ibu yang sudah membuangnya. Lalu bagaimana dengan Zella yang di berikan kesempurnaan fisik, harta berlimpah, dan masih mempunyai orang tua, apakah masih pantas baginya untuk mengeluh dan menyalahkan takdir?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN