“Kita pamit dulu ya Buk,” ucap Adhira sopan. Mereka bersiap untuk melanjutkan kembali kegiatan mereka tentunya.
“Iya nak, terima kasih banyak, sudah mau berkunjung ke sini. Sering-sering main ke sini ya, anak-anak pasti senang,” Dian tersenyum tulus kepada tuga remaja tersebut.
“Iya Buk, insyaAllah kalo ada waktu luang, Kita pasti main,” Adhira menyalimi tangan Dian, kemudian di ikuti Renna dan Zella.
“Pamit Buk, Assalamualaikum,” ucap Adhira dan kedua sahabatnya,
“Hati-hati nak, wassalamualaikum,” ucap Dian sopan. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih bahagia. Entah rasanya begitu tenang, setelah melihat anak-anak panti di sana.
“Itu Renn, berhenti! Itu ada kakek-kakek tua yang lagi duduk di pinggir jalan, ayo Kita turun,” Zella melihat seorang kakek yang sudah begitu tua, terlihat kakek tersebut sedang mengadahkan tangan meminta belas kasih orang yang melihatnya. Zella sangat prihatin melihatnya.
“Eh iya tuh Renn,” Adhira menoleh untuk melihat arah pandang Zella. Begitu pun Renna, ia mengangguk untuk menanggapi kedua sahabatnya. Ia segera memberhentikan mobilnya di dekat kakek tersebut.
Mereka pun turun dari mobil, tak lupa membawa sembako dan uang yang sudah mereka siapkan. Mereka berjalan menghampiri kakek tersebut. Terlihat begitu lusuh baju yang kakek itu kenakan, bahkan sudah terlihat tak layak pakai. Kulitnya begitu keriput dan rambutnya sudah memutih sempurnya, menandakan ia sudah benar-benar tua. Terlihat sebuah batok kelapa di depan kakek tersebut, yang berisikan uang recehan lima ratus rupiah.
Adhira dan kedua sahabatnya tercekat melihat keadaan kakek tersebut, kakek itu belum melihat mereka. Mungkin karena usianya yang sudah tua, matanya juga sudha tak berfungsi dengan sempurna.
“Assalamualaikum Kek,” Zella mengucapkan salam, nada suaranya terlihat bergetar.
“Waalaikumussalam,” Kakek tersebut menoleh dan tersenyum tulus ke arah mereka. Kemudian mereka bertiga berhongkok di dekat kakek tersebut.
“Kakek kenapa di sini? Di usia kakek yang sdah saagat tua?” tanya Zella memperhatikan wajah kakek yang ada di depannya.
“Jika kakek tidak seperti ini, lalu siapa yang akan memberi makan kakek hehe,” ucapnya sembari tersenyum.
“Apa kakek hidup sendiri?” tanya Renna,
“Tidak, kakek masih menpunyai istri di rumah, namun kedua matanyana kini sudah sangat buram untuk melihat,” ucap kakek itu tegar,
“Dulu kakek ini berjualan asongan atau menjual koran, tapi mau bagaimana lagi usianya sudah tua dan tidak memungkinkan lagi untuk berjualan. Jadi sekarang kakek hanya bisa mengemis seperti ini, tidak ada pulihan lagi,” lanjut kakek itu bercerita.
“Kakek mengapa tidak ikut dengan anak kakek saja?” tanya Adhira,
“Tidak nak, anak kakek sudah meninggal karena kecelakaan lima tahun lalu. Dan kakek hanya mempunyai anak satu saja,”ucapnya sembari tersenyum ke arah Adhira.
“Maaf Kek Dhira tidak tahu,” Adhira merasa tak enak, setelah menanyakan hal tersebut kepada kakek itu.
“Tidak apa-apa nak, kakek juga sudah mengikhlaskan anak kakek. Semua orang akan meninggal begitu pula dengan kakek, kakek ini juga tinggal menunggu giliran saja hehe,” ucap kakek itu tegar, ia terlihat tersenyum lebar hingga menampakkan gusi-gusnyabyang sudah tanggal giginya.
“Iya kek bener banget,” ucap Renna tersenyum ke arah kakek tersebut.
“Kakek apa pendapatan kakek ini cukup untuk memenuhan kakek dan istri setiap harinya?” tanya Renaa sembari memperhatikan isi batok kelapa, yang ada di sampingnya.
“Yaa cukup tidak cukup nak, yang penting kakek dan istri bisa makan itu saja sudah sangat bersyukur. Kadang kalo benar-benar tidak ada yang memberi uang seperti ini, kakek mencari makanan sisa yang ada di sekitar, atau kadang juga kakek dan istri harus menahan lapar,” jawab kakek tersebut, senyumnya tak pernah luntur dari wajahnya.
Mereka terkejut mendengar cerita sang kakek, di saat orang di usia kakek ini bisa duduk manis di rumah dan menikmati hari tuanya, kakek ini harus terus berjuang melawan kerasnya hidup di hari tuanya.
“Kakek ini kita ada sedikit rezeki untuk kakek,” Adhira memberikan bungkusan sembako kepada sang kakek.
“Alhamdulillah ya Alla, terima kasih banyak ya nak,” Kakek iti menerima bunhkusan sembako tersebut dengan tangan yang sudah bergetar.
“Ini juga ada sedikit uang buat kakek dan istri ya,” Zella memberikan uang ke tangan kakek tersebut.
“MasyaAllah terima kasih abnyak Ya Allah,btelah mengirimkan bidadari-bidadari baik ini untuk hamba,” terlihat kakek itu menitikkan air mata haru bahagianya.
“sama-sama kek, semoga ini semua bisa membantu kakek dan istri,” ucap Renna,
Kemudian mereka tersenyum kepada sang kakek, mereka juga menyalimi tangan kakek tersebut dan pamit untuk melanjutkan perjalanan. Banyak sekali hal yang bisa mereka ambil dari pertemuannya dengan kakek tadi, membuat mereka tak sabar untuk bertemu dengan orang orang lainnya.