“Ternyata masih banyak orang di luar sana yang butuh banget sama uluran tangan Kita ya,” ucap Zella sembari memandangi Kakek tadi yang mereka temui.
“Iya bener, mangkanya Kita harus sering-sering bikin kegiatan sosial kek gini nih Zell,”sahut Renna dengan masih fokus menyerir mobil.
“Iya bener tuh Zel hehe,” tambah Adhira,
“Iye iye, mangkanya Lu pada doain Mak Gue supaya rezekinya lancar aaammeeeen,” ucap Zella sembari melirik kedua sahabatnya.
“Aaameeeen..,” Renna dan Adhira mengucapkannya bersamaan.
Saat ini mereka sedang menuju ke perumahan yang ada di bawah jembatan. Mengingat hari yang semakin gelap, tak memungkinkan mereka untuk terus menyusuri jalan. Jadi mereka memutuskan untuk langsung mengunjungi perumahan di sana.
“Ini masih lama Renn?” tanya Zella yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan orang-orang tersebut.
“Engak, bentar lagi nyampe kok,” jawab Renn,a sembari melirik Zela lewat kaya dalam mobil.
“Ok deh,” ucap Zell,
Mereka pun sampai di perumagan kumuh yang ada di bawah jembatan besar. Orang-orang di sana juga terlihat memandang Adhira dan kedua sahabatnya dengan was-was. Entah apa yang mereka pikirkan tentang ketiga remaja tersebut, yang jelas niat baik itu yang membuat para remaja tersebut datang ke tempat ini.
“Hallo,” Sapa Adhira dengan senyum terbaiknya, kepada orang-orang yang ada di sana. Mereka tak menjawabnya sama sekali. Melihat respons mereka yang tak diinginkan, adhira di buat bingung sendiri.
“Lha gimana ya Guys, jujur Gue sedikit takut deh sekarang. Ngelitinnya gitu amat dah,” Adhira berbisik pelan kepada kedua sahabatnya.
“I-iya, Gue juga,” Zella meper ke arah Renna, dan memegang lengan Renna erat guna menyalurkan rasa takutnya sekarang.
“Ok, mungkin Kita langsung pada intinya aja dan gak usah bertele-tele,” ucap Renna, memberi solusi. Adhira dan Zella pun mengangguk setuju dengan ide berlian Renna. Selalu bisaadi andalkan? Di mana pun dan kapan pun itu adalah Renna.
“Hallo semuanya, pernalkan nama Saya Adhira, dan ini kedua sahabat Saya Renna dan Zella,” ucap Adhira dengan lantang.
“Hallo, senang bertemu dengan Kalian semua,” ucap Zella sembari tersenyum manis.
“Hallo, senang bisa berjumpa dengan Kalian semua,” ucap Renna sopan dan sedikit membukukkan badannya. Mereka tak menjawab apa pun, hanya terlihat sebagian orang yang berbisik-bisik di sana.
“Baiklah, jadi kedatangan Kami ke mari untuk membantu saudara sekalian. Dan sama sekali tidak ada niat buruk dalam hati Kami, jadi Kalian tidak perlu merasa khawatir untuk itu semua,” Adhira mencoba menjelaskan secara ringkas daa tak bertele-tele. Zella pun segera mengambil uang yang akan di bagikan kepada orang-orang yang ada di sana, sedangkan Renna mengambil sembako yang akan di bagikan. Terlihat orang-orang di sana memperhatikan gerak-gerik Adhira dan kedua sahabatnya. Ketika orang-orang melihat apa yang di bawa oleh ketiga remaja itu pun mulai tersenyum.
Mereka bertiga mulau membagikan apa yang mereka bawa sekarang,bguna mempersingkat waktu karena haru sudah gelap dan alat penerangan di tempat ini juga sangat minim sekali. Renna mendatangi orang-orang tersebut, dan membagikan sembako yang ia bawa pada setiap kepala keluarga di sana. Sedangkan Zella, ia bertugas membagikan uang kepada setuap keluarga di sana, meski sedikit takut karena tatapan mereka yang kurang bersahabat, tapi tak membuat Zella mundur. Ia tetap bersikap ramah dan sesekali bertanya kepada mereka. Begitu pula dengan Adhira, ia membagikan jajanan dan mainan kepada anak-anak di sana, dan mencoba mengajak anak-anak tersebut berbicara atau bercerita.
“Ini pak ada sedikit sembako untuk Bapak dan sekeluarga,” ucap Renna sopan kepada kepala keluarga di sana. Namun Respons yang diberikan mereka tak sesuai dengan perkiraan Renna. Para kepala keluarga disana hanya mengangguk, terlihat sekali jika mereka masih was-was terhadap kedatangan ketiga remaja tersebut. Saat Renna menyerahkan sembako kepada mereka pun sikap mereka tak berubah, malah ada sebagian dari mereka yang langsung berebutan untuk mengambil sembako yang ada di samping Renna saat ini. Melihat respons dari mereka yang ditunjukkan, membuat Renna menghela nafas. Mungkin butuh waktu untuk bisa berkomunikasi lebih dengan mereka.
“Hati-hati Pak,” ucap Renna yang melihat para bapak-bapak itu berebutan hingga membuat Renna harus mundur beberapa langkah agar tak terkena doronf-dorongan mereka. Sikap yang orang-orang itu tunjukan semata-mata untuk melindungi diri mereka, mungkin banyak dari mereka yang tidak diperlakukan adil sebagai manusia. Perbedaan kasta mungkin menjadi sebab hal itu terjadi, jadi tak bisa di salahkan. Tugas Kita sebagai manusia hanya mencoba menjelaskan bahwa masih ada orang-orang baik di bumi pertiwi ini.
“Pak, buk, ini ada sedikit rezeki dari kami untuk baoak dan ibu sekalian. Semoga bermafaat buk,” ucap Zella dengan sopan.
“Kami tidak mau,” ucap seorang laki-laki bertubuh bogel di sana, matanya juga menyorot tajam ke arah Zella. Zella sedikit takut dengan orang-orang yang berbisik-bisik kembali.
“Pak kam—“ ucapan zella terpotong,
“Hallah kamu ini suruhan curut-curut kota kan? Kamu ini mau menggusur tempat tinggal kami kan? Jadi kamu ini pura-pura memberikan uang itu agar natinya menghancurkan tempat tinggal kami to?” ucap perempuan psruh baya tersebut. Zella menggeleng keras mendengar penuturan ibu tersebut.
“Tidak buk, demi Allah, kami benar-benar ikhlas membantu kalian semua. Tidak ada niat buruk sedikit pun dalam benak kami, tolong terima pemberian ini buk,” ucap Zella memohon.
“Kami tidaj percaya dengan ucapanmu wahai anak muda!” sahut seorang pria bertubuh kekar dengan tato yang ada di sevagiab besar tubuhnya. Gemetar, tubuh Zella mulai gemetar takut.
“Iya! Iya benar! Kami tak percaya!” ucap mereka bersamaan. Saat ini Zella dan kedua sahabatnya memang sedang berpencar untuk membagikan barang yang mereka bawa. Zella mulai melihat kanan dan kiri guna mencari bantuan dari teman-temannya, namun nihil Zella tak melihat kedua temannya.
“Begini saja pak, buk. Kalian terima saja uang dari saya, lalu saya akan segera pergi dari sini,” Zella mencoba bernegosiasi, agar mereka mau menerima uang darinya.
“Tidak butuh pemberian dari orang-orang seperti kalian ini. Kami sudah sering mendapat iming-iming seperti ini dan ujung-ujungnya selalu kalian berbuat tidak adil dengan kami, lebih baik kitanusir saja orang ini!” ucapan bapak ini cukup bereaksi untuk mereka.
“YA BENAR! SETUJU YA! UAIR SAJA!” mereka bendondong-bondong maju ke arah Zella, zella binging harus bagaimana?
“TUNGGU!”