“TUNGGU!” seorang pria menghampiri Zella dan orang-orang di sana.
“Om Bara,” Zella menoleh ke arah pria tersebut. Entah dari mana dan mengapa pria itu sudah ada di tempat ini, Zella juga tak tahu.
“wanita ini adalah pacar Saya,” ucap Bara tegas. Zella langsung menoleh ke arah pria yang ada disampingnya ini, Zella terkejut dengan pernyataan pria ini.
“Maafkan, Kami pak bara. Kami tak mengetahuinya, kami hanya khawatir dengan jika ternyata wanita ini adalah utusan orang-orang jahat itu pak. Sekali lagibkami mohon maaf,” ucap salah satu pria di sana, mungkin saja ia ketua dari orang-orang di sana. Zella merasa aneh dengan perubahan sikap orang-orang, setelah kedatangan Bara. Mereka seperti begitu mengenali Bara, begitu pula sebaliknya.
“Baik, kalian terima uang dari wanita ini, lalu segera lanjutkan kegiatan kalian!” Bara menyahut uang yang ada di genggaman Zela dan memberikannya kepada ketua kelompok orang di sana.
“Sekali lagi kami minta maaf nona, dan terima kasih banyak nona,” ucap pria tersebut mewakili kelompoknuya. Ia juga sedikit membungkukkan badannya kepada Zella dan Bara dengan sopan.
“Iya pak, tidak apa-apa,” ucap Zella seadanya, ia masih bingung untuk mencerna keadaan saat ini, otaknya sedang loading rupanya. Mengecape sekali ya rupanya.
“Lain kali jangan berpencar dari teman-temanmu,” ucap Bara menghadap Zela.
“Zella gak berpencar, Cuma memang semua ada pada tugasnya masing-masing Om,” Zella memutar bola matanya malas, kemudian ia duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Tapi kamu berada cukup jauh dari teman-temanmu saat iini Zela,” Bra menjatuhkan bojongnya di bangku samping Zella.
“Om ngikutin Aku yaa?!” Zella menunjuk wajah Bara curiga tentunya. Bara yang melihat ekspresi Zella itu sangat gemas rasanya. Bara menggigit jari telunjuk Zella cukup keras.
“Aaaduuh Om sakit lho ini,” Zella mengusapkan jari telunjuk basahnya ke baju yang di gunakan Bara. Jijik sekali rasanya, pasti bau jigong. Kemudian ia melihat bekas gigitan Bara di jari telunhuknya. Zella mengesedih ih.
“Abis kamu gemesin,” ucap Bara santai.
“Yuk Saya antar pulang,” Bara berdiri dari duduknya, kemudian menghadap Zella yang masih duduk di sana.
“Enggak bisa Om, Zella sama temen. Nanti mereka bingung lagi nyariin Zelka ke mana, udah mending Om pulang sendiri sana. Hus hus,” Zella mengusir dan mendorong-dorong punggung lebar Bara.
“Ok ok, tapi kamu belum berterima kasih sama sama,” ucap Bara sembari bersekap d**a.
“Ok terima kasih Om bara yang terhormat! Udah sana pergi,” ucap Zella, ia masih terus mendorong punggung lebar Bara.
“Kurang,” bara menangkup kedua tangan mungil Zella. Zella sesikit terkejut dan bingung.
“Kan Zella udah bilang terima kasih Om baraaa, terus kurang apa lagi?” tanya Zella bingung. Perasaannya ia sudah melakukan etika dan akhlak yang baik tadi, lalu mengapa om ini selalu mempersulit semuanya?
“Cara berterima kasih yang benar dengan saya? Sini biar saya tunjukkan,” Bara menarik tubuh Zella agar menempel dengan tubuhnya. Dan secepak kilat Barabtelah menyatukan bibir mereka, tidak lama, hanya lumatan ringan saja. Lalu bara melpaskan tautannya, ia tak ingin melakukan lebih dari itu. Kali ini ia sudah berjanji untuk menjaga gadis kecil ini. Namun kadang juga keinginan itu tak bisa di tahan. Zella melotot melihat bibirnya dan bara telah menyatu, bahkan bibir Bar juga mulai bergerak di atasnya. Ia tak membalas atau apa pun, ia hanya diam dengan pukirannya loadingnya, saat ia sudah terbawa suasana dan akan membalas ciuman Bara, Bara secepak kilat juga melepaskannya dan kemudian pergi begitu saja.
“Aneh, kenapa Gue kek ngerasa devaju gitu ya?” Zella bermonolog, sembari menyentuh bibirnya yang masih basah, karena ulah Bara. Tak ingin berlarut dengan pikirannya sendiri, Zella pun pergi menuju tempat Adhira dan Renna berada kini.
“Ini untuk Kamu adik manis,” ucap Adhira tersenyum manis. Anak kecil perempuan itu pun mengambil maianan yang ada di tangan Adhira dengan malu-malu.
“Jangan lupa belajar yang rahin ya, supa yang di cita-citakan bisa terwujud,” ucap Adhira sembari mengelus pucuk kepala anak mania tersebut.
“Iya kak terima kasih banyak,” Anak kecil itu mendongak untyk melihat wajah Adhira, kemudian ia tersenyum menampilkan gigi depannya yang ompong.
“Iya sama-sama sayang,” ucap Adhira tulus.
Terdengar suara tangisan anak kecil yang tak jauh dari tempat Adhira berada saat ini. Adhira segera menghampiri anak laki-laki tersebut. Terlihat ia duduk di tanah dengan tongkat butanya. Adhira terkejut melihat anak tersebut, sepertinya ia terasingkan dari teman-temannya di sini.
“Hai, kamu kenapa menangis?” Adhir berjongkok di samping tubuh ringkih anak tersebut. Anak laki-laki itu menoleh kw arah Adhir, pendengarannya cukup tajam.
“Aku diejek sama anak-anak lain, mereka juga gak mau temenan sama Aku karena Aku buta, terus aku harus gimana kak? Aku pengen main bareng sama mereka kayak temen-temen yang lain hiks,” anak tersebut menunduk lesu.
“Kamu jangan bersedih, ada kakak di sini. Kamu main sama kakak aja, nih kakak bawa mainan buat kamu,” Adhira memberikan mainan itu ke tangan anak laki-laki tersebut. Anak itu meraba-bara bentuk mainan tersebut.
“Waah ini kan mobil-mobilan ya kak? Wah gede banget kak,” ucap anak tersebut, ia masih meraba mainan barunya. Terlihat wajahnya yang murung sudah kembali cerah.
“Iya, gimana? Kamu seneng ga?” tanya Adhira sembari memperhatikan wajah lugu bocah di sampingnya ini.
“Iya kak, aku seneng banget, makasih ya kakak baik,” Ucap anak laki-laki tersebut.
“Ita sama-sama ganteng,” Adhira menglus pucuk kepala bocah tersebut dengan sayang.
“Nama kamu siapa adik manis?” tanya Adhira, bocah laki-laki tersebut menoleh ke arah suara Adhira.
“Nama aku Aiden, kakak baik namanya siapa?” Aiden bertanya balik kepada Adhira.
“Nama kakak, Adhira. Panggil kak Dhira juga ga papa,” ucap Adhira,
“Aku maunya panggil kakak baik boleh?” tanya bocah itu dengan wajah polosnya. Adhira pun tersenyum melihatnya.
“Iya boleh dong,” Adhira mencubit gemas kedua pipi bocah gembul tersebut.
“Hehehe,” bocah ity tertawa.
“yaudah ya, pokoknya Aiden gak boleh sedih lagi, harus selalu berbuat baik, dan bahagia aelalu Aiden. Nanti kapan-kapan kakak ke sini lagi, dan kita main bareng lagi okey, ” nasihat Adhira,
“Okey Kakak baik, siap86 hehe,” ucap Aiden menggemaskan.
Kemudian Adhira pergi, ia menghampiri Renna yang terlihat sudah menunggunya di depan mobil mereka. Namun Adhira hanya melihat Renna di sana, ia tak melihat Zella. Atau mungkin Zella juga sedang dalam perjalanan menuju mobil mereka.