“Jangan ganjen!” Exel melirik Adhira yang sedang membuka sabuk pengamannya.
“Tumben Lo? Kesambet hah?” Adhira menoleh ke arah Exel, setelah melepaskan sabuk pengamannya.
“Karena Lo punya Gue,” Exel menyandarkan tangan kanannya di kursi penumpang tempat Adhira duduk. Ia juga menunjuk dahi Adhira, kemudian menunjuk dadanya sombong.
“Iidiiih,” ucap Adhira sambil melirik dengan tatapan aneh ke arah Exel. Ia tak mengerti dengan Exel hari ini, tumben sekali ia mengatakan hal tersebut. Biasanya Exel cuek bebek saja yang penting Adhira tak selingkuh darinya, itu cukup bagi Exel. Tapi hari ini tidak.
“Heh dibilangain juga,” Exel mencubit bibir Adhira yang tadi telah mencibirnya. Adhira pun mengkrucutkan mulutnya.
“Iya iya ndoro,” ucap Adhira malas.
“Lo gak boleh ganjen, bolehnya kalo sama Gua aja, paham!” ucap Exel sok tegas.
“Iye dah serah Lu, Gue mau ke kelas nih. Bye orang aneh,” ucap Adhira, kemudian ia langsung menutup pintu mobil Exel, sebelum pemiliknya perotes lagi. Exel pun melajukan mobilnya pergi, ia labgsung menuju sekolahnya.
“Du du du du,” Adhira bersenandung ria sembari berjalan menuju kelasnya. Saat ia menoleh ke arah tempat duduk yang ada di dekat lapangan basket, ia melihat pria itu lagi. Ya pria itu menatapnya tajam, sangat-sangat tajam. Adhira meliriknya sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya. Ia teringat ucapan Renna, yang menyuruhnya untuk menjauhi pria tak jelas itu. Adhira segera mempercepat langkahnya, ia berlari kecil menuju kelasnya. Namun perjalanan menuju kelasnya begitu terasa sangat jauh, bahkan kaki Adhira mulai lelah dan lemas. Ketika ia menoleh ke belakang tempat di mana pria itu duduk, dan pria itu masih memperhatikannya. Bahkan pria tersebut mulai bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Adhira. Adhira mulai was-was di buatnya, entah mengapa keringat dingin mulai menetes dari dahinya, tangannya juga mulai gemetar, dan ya Adhira sedang ketakutan saat ini.
“Hati-hati, tidak perlu terburu-buru,” tiba-tuba jakson sudah ada di hadapannya, ia sedang mengusap keringat dingin di dahi Adhira, kemudian ia memasukkan kembali sapu tangannya di dalam saku celananya. Pria itu beralih menyentuh kedua kaki Adhira, ia memijat pelan pergelangan kaki Adhira. Adhira yang awalnya begitu gugup dan takut, perlahan mulai sedikit tenang. Tapi ketika ia ingin mengatakan sesuatu, Adhir tak mampu membuka mulutnya. Seperti ada sesuatu yang menahan mulutnya untuk terbuka, namun adhira juga tak tahu apa itu.
Setelah selesai sengan kegiatannya, pria itu beralih menatap adhira. Tatapan yang semula sangat tajam itu, kini berubah menjadi lebih lembut.
“Maafkan Saya, jika perbuatan Saya kemarin menyakiti Kamu. Saya hanya mau hilang pria yang bersamamu dalam mobil tadi, bukanlah pria yang baik Adhira Alhumaira.” Seperti di hipnotis, Adhira hanya mengangguk patuh menyikapi pernyataan dari jakson.
“Ya sudah, Saya pergi dulu. Sampai berjumpa lagi,” pria itu tersenyum sangat manis sekali, kemudian ia juga menyempatkan mengusap pucuk kepala Adhira dengan sayang. Adhira hanya melongo menatap wajah tampan pria di depannya ini.
“Dhiiiir, bangun. Masih pagi udah ngedrama deh Lo,” ucap Zella sembari menepuk-nepuk pipi Adhira pelan.
“Belum bangun Dia Zell?” tanya Renna yang baru saja kembali dari kelas, ia tadi mengambil minyak kayu putih dari dalam tasnya, karena kebetulan minyak kayu putih yang ada di UKS sedang habis.
“Oy bangun Dhir,” Renna membuka tutup botol minyak kayu putih tersebut, kemudian mengoleskannya di hidung Adhira.
“Eennghh,” Adhira membuka kelopak matanya, ia menatap sekitarnya.
“Lo kenapa tiduran di pinghir lapangan basket tadi hah? Kurang kerjaan banget b**o,” ucap Renna,
“Hah? Gimana? Tiduran di pinghir lapangan basket? Gue?” ucap Adhira bingung, seingatnya tadi ia memang terjatuh di pinggir lapangan, kemudian jakson membantunya sudah. Ia tak pernah tidur di pinggir lapangan basket seperti ucap Renna tadi.
“Gini lho Dhir, jadi tadi tuh Elu pingsan di pinghir lapangan basket. Tapi anehnya Lu posisi pingsan Lu kek orang tidur gitu, Lu pingsannya miring dan pake bantalan tas pula. Gila ga tuh haha,” jelas Zella kepada Adhira. Adhira mengerutkan dahinya, mengapa penjelasan Zella begitu aneh menurut Adhira.
“Kenapa Lu kek orang d***o sih Dhir? Lu cuman pingsan kagak ilang ingatan lho ya,” ucap Renna yang kesal melihat ekspresi adhira seperti itu.
“Sumpah Renn, Gue baik baik aja tadi. Gue juga gak ngerasa pingsan juga,” Adhira mencoba menjelaskan kepada kedua sahabatnya, namun tampaknya kedua sahabatnya ini tak percaya dengan ucapannya.
“Yaiyalah Elu kagak ngerasa pingsan, orang pingsan itu kan gak sadarkan diri Adhiraa. Udah lah mengecape banget jelasin ke Elunya,” ucap Zella,
“Tapu Zell Gue—“ Adhira tak sengaja melihat pria itu lagi. Sepertibhalnya hipnotis lagi, Adhira hanya diam kemudian mengangguk samar.
“Eh iya bener, mungkin saking capenya Gue jadi sampe pingsan tadi,” Pria yang memperhatukannya pun tersenyum di sana.
“Yaudah Lu mau masuk kelas, atau di sini istirahat Dhir?” tanya Renna,
“Em, gue masuk kelas aja guys. Boaen gue di sini, lagian gue juga udah enakan kok,” jawab Adhira, kemudian ia beranjak turun dari brangakas.
“Ok deh kuy,” ucap Zella yang membantu Adhira untuk berjalan. Sepertinya kaki Adhira benar-benae terkilir, karena rasa nyeri itu masih ada. Adhira melirik sekilah tempat di mana pria tadi berdiri, namun ia tak menemukannya. Pria itu hilang begitu saja, Adhira sendiri masih bingung dengan soal ia yang di temukan pingsan tadi. Entahlah Adhira juga bingung dengan apa yang terjadi tadi pagi.
“Em, Gue pingsannya berapa lama ya guys,” tanya Adhira,
“Sekitar satu jam lebih,” jawab Renna singkat.
“Lama banget,” Adhira kaget dengan pernyataan Renna. Mengapa ia begitu lama pingsan, sepertinya ia benar-benar tidur tadi.
“Abis gadang Lu sama Exel?” tanya Zella, ia bari saja teringat jika Adhira semalam menginap di apartemen kekasihnya.
“Mulut Lo,” Adhira menggeplak lengan Zella pelan.
“Aduuh, maksud gue itu Lu gadang sama Exel nonton drakor gitu. Mesuk aje pikiran Lu astagfirullah Adhira ih,” ucap Zella sembari mengelus dadanya sampai galus hahah.