Bab 1 – Pengkhianatan di Hari Pernikahan
Gaun putih yang melekat di tubuhku seolah kehilangan kilaunya ketika sahabatku sendiri, Livia, berdiri di hadapanku dengan wajah tanpa dosa. Tangannya gemetar, tapi matanya penuh kemenangan. Dan yang membuatku hampir kehilangan napas adalah benda kecil yang dia sodorkan kepadaku.
Sebuah tespek. Dua garis merah yang begitu jelas.
“Aku hamil, Ran.” Suaranya lirih, tapi cukup untuk menghancurkan duniaku.
Dia menatapku tanpa rasa bersalah sebelum melanjutkan, “Anak ini… anak Raka.”
Aku tertegun, tubuhku seolah membeku. Ruangan tempat aku bersiap menjadi pengantin berubah menjadi ruang penghakiman. Suara detak jantungku berdentum begitu keras, membuatku sulit bernapas.
“Livia… jangan bercanda,” suaraku bergetar, mataku memohon agar semua ini hanya lelucon kejam.
Tapi tatapan Livia terlalu tenang. Terlalu yakin.
“Kenapa aku harus bercanda? Aku tidak ingin menutupi ini di hari bahagiamu. Kau pantas tahu kebenarannya.”
Air mataku jatuh seketika. Bagaimana bisa? Raka—lelaki yang kupercayai, calon suamiku, yang sebentar lagi seharusnya menungguku di altar—ternyata menusukku dari belakang dengan cara yang paling menyakitkan.
Tanganku meremas gaun pengantin, berusaha menyangkal semuanya. “Tidak… tidak mungkin. Raka tidak akan—”
“Dia milikku, Ran,” potong Livia tajam, senyumnya menusuk lebih dalam daripada kata-katanya. “Kau hanya terlalu sibuk memimpikan pernikahan sempurna. Sementara aku, aku yang sebenarnya dia inginkan.”
Dunia seketika runtuh. Harga diriku diinjak. Cinta yang kupertahankan selama ini ternyata hanya ilusi.
Aku jatuh terduduk, gaun putihku ternodai air mata. Di saat itulah aku merasakan tatapan tajam dari sudut ruangan. Seorang pria asing dengan setelan jas hitam berdiri, memperhatikan setiap detik kehancuranku dengan sorot mata dingin dan penuh rahasia.
Aku tak mengenalnya, tapi tatapannya seolah berkata:
“Kamu akan menyesal sudah menghina aku hari ini.”
Dan aku belum tahu, tatapan itu akan mengubah seluruh hidupku.
“Aku hamil, Ran.”
Kata-kata itu berulang di kepalaku, menusuk lebih tajam daripada belati. Tanganku gemetar, menatap dua garis merah di tespek yang Livia sodorkan tanpa rasa bersalah.
“Jangan bercanda, Liv… ini pasti bohong, kan?” suaraku bergetar, hampir tak keluar dari tenggorokan.
Livia mendengus kecil. “Kenapa aku harus bohong di hari sepenting ini? Aku benar-benar hamil… dan anak ini milik Raka.”
Air mataku jatuh deras. Aku mengguncang kepalaku, menolak kebenaran yang dia paksakan kepadaku. “Tidak mungkin! Raka… Raka tidak akan pernah mengkhianatiku.”
Tapi Livia justru menatapku penuh keyakinan, senyum sinis terukir di bibirnya. “Kamu terlalu percaya diri, Ran. Selama kamu sibuk dengan persiapan pernikahanmu, aku dan Raka… kami saling membutuhkan. Dia datang padaku saat kamu terlalu sibuk mengejar kesempurnaan.”
“Berhenti, Liv!” aku berteriak, d**a terasa sesak, mataku basah.
Namun, Livia justru melangkah mendekat, menempelkan tespek itu ke dadaku hingga aku bisa melihat jelas dua garis merahnya. “Kamu pikir aku rela menunjukkan ini kalau bukan kenyataan? Aku hamil, dan anak ini darah daging Raka!”
Aku mundur, hampir tersandung gaun putih yang menjuntai panjang. Rasanya seluruh dunia berputar. Nafasku terengah, tubuhku bergetar. Hari yang seharusnya menjadi hari terindah justru berubah jadi mimpi buruk.
“Aku sahabatmu, Liv… bagaimana bisa kau lakukan ini padaku?” tanyaku lirih, hampir tak terdengar.
Sekilas, ada keraguan di matanya. Tapi dengan cepat dia kembali mengeras. “Cinta itu tidak bisa dipaksa, Ran. Raka mencintaiku… dan sekarang aku mengandung anaknya. Kau hanya perlu menerima kenyataan.”
Aku terisak hebat, lututku lemas. Semua harga diri, semua mimpi, semua keyakinanku runtuh dalam sekejap.
Aku masih terisak ketika pintu kamar pengantin tiba-tiba terbuka.
“Rania?”
Suara yang begitu kukenal. Suara yang selama ini kupercaya akan menjadi sandaran hidupku. Raka berdiri di ambang pintu dengan jas pengantin hitamnya, tampan, gagah—tapi kini sosok itu membuatku mual.
Aku segera berdiri, air mataku membasahi wajah. “Raka… katakan sesuatu. Bilang padaku kalau semua ini bohong!” suaraku pecah, penuh harap.
Raka menoleh pada Livia. Dan di situlah aku melihatnya—tatapan itu. Bukan tatapan dingin atau penolakan… melainkan rasa bersalah yang begitu jelas.
Hatiku langsung runtuh.
“Raka…” suaraku tercekat. “Katakan, itu bukan anakmu!”
Tapi Livia malah menyelipkan tangannya ke lengan Raka. “Kenapa kamu harus memaksa dia berbohong, Ran? Kamu sendiri sudah melihat tespeknya.”
“Diam, Livia!” teriakku, hampir histeris. “Aku ingin dengar langsung dari mulutnya!”
Raka terdiam lama. Rahangnya mengeras, matanya menunduk, seolah sedang mencari kata. Hingga akhirnya dia membuka suara dengan suara serak penuh penyesalan.
“Rania… aku… aku memang sudah salah.”
Dunia serasa berhenti berputar. Nafasku terhenti.
“Tidak…” aku menggeleng, mundur selangkah. “Kamu… kamu tidak mungkin…”
Raka melangkah maju, mencoba meraih tanganku. “Aku tidak pernah berniat menyakitimu, tapi semuanya terjadi begitu saja. Aku dan Livia… kami—”
“Cukup!” aku menepis tangannya, terengah di antara tangis. “Di hari pernikahan kita? Kamu mengakuinya di hari ini juga?! Raka, kamu menghancurkan aku!”
Air mataku deras, membasahi pipi. Gaun putihku kini terasa seperti kain kotor yang tak ada artinya lagi.
Sementara Livia, sahabatku sendiri, justru tersenyum puas di sisinya.
Hari yang seharusnya menjadi hari terindah berubah menjadi luka paling kejam dalam hidupku.
Ketika air mataku belum juga reda, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari luar.
“Rania? Raka? Kalian di sini?”
Pintu kamar kembali terbuka lebar. Ayah dan ibu masuk bersama orang tua Raka. Wajah mereka penuh senyum awalnya—tapi mendadak berubah kaku melihatku terisak dengan gaun pengantin, sementara Livia berdiri menempel di sisi Raka.
“Ya Tuhan, ini apa?” suara ibuku tercekat, tangannya menutup mulutnya.
Aku ingin berlari memeluknya, tapi kakiku terasa begitu lemah.
“Rania, ada apa ini? Kenapa kamu menangis di hari bahagiamu?” Ayah bertanya, nada suaranya bingung sekaligus khawatir.
Aku tak sanggup menjawab. Mulutku terbuka, tapi suara tak kunjung keluar. Pandanganku kabur oleh air mata.
Livia justru maju selangkah, menatap orang tua kami dengan wajah penuh percaya diri. “Maaf, Om, Tante… tapi aku tidak bisa diam lagi. Aku… aku sedang hamil. Dan anak ini… anak Raka.”
“APA?!” seru ayah Raka, matanya membelalak. Ibunya pun langsung menatap putranya dengan kaget dan kecewa.
Ibuku gemetar, berpegangan pada lengan ayahku. “Raka… apa yang Livia katakan ini benar?”
Aku menatapnya penuh harap, meski hatiku sudah hancur. “Raka… katakan sesuatu…”
Raka hanya menunduk, rahangnya mengeras. Ia tak berani menatap siapapun. Diamnya sudah cukup jadi jawaban.
“Raka!!” ayahnya membentak keras. “Kamu sadar ini hari apa?! Kamu mempermalukan keluarga kita di depan semua tamu?!”
Sementara itu, dari luar ruangan, suara musik dan riuh rendah terdengar—tanda para tamu undangan mulai memenuhi aula pernikahan. Mereka menunggu pengantin. Mereka menunggu aku… dan Raka.
Dadaku sesak. Aku menatap semua orang: Livia dengan senyum puas, Raka yang diam tak berdaya, dan kedua orang tua kami yang penuh amarah dan kekecewaan.
Aku benar-benar bingung.
Haruskah aku tetap melangkah keluar sebagai pengantin yang sudah dipermalukan?
Atau aku harus kabur, meninggalkan segalanya dan merelakan semua mimpi yang sudah kususun?
Tanganku gemetar. Air mata menutup pandangan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.
*****