ayah berdiri tegak dengan wajah merah padam, suaranya tegas namun penuh amarah.
"Pergi kalian dari sini! Raka dan keluarganya tidak pantas lagi berada di rumah ini!”
Seketika suasana menjadi kacau. Semua mata tertuju pada keluarga Raka yang tampak tertunduk malu. Livia hanya bisa terdiam, sementara ayah dan ibu Raka berusaha mendekati orang tuaku.
“Kami mohon maaf, benar-benar mohon maaf atas semua kejadian ini…” suara ibu Raka bergetar, mencoba menahan tangis.
Namun papah tidak goyah sedikitpun, matanya penuh kekecewaan yang .
"Bagaimana dengan tamu undangan, dengan keluarga kita? Bukankah ini memalukan sekali? Ayah pasti sangat malu… Ibu juga kan?”
Mama mengelus kepalaku lembut, sementara papa menoleh kepadaku dengan tatapan penuh ketegasan.
“Tidak, nak. Kamu jangan khawatir. Semua urusan biar ayah yang tanggung. Biarlah orang bicara apa saja, yang penting kamu selamat dari pernikahan yang salah.”
Aku hanya bisa menunduk, mencoba menenangkan diri, meski hatiku masih tercabik-cabik
Aku duduk di kamar, masih dengan gaun pengantin yang belum sempat kuganti, wajahku sembab karena tangisan.
Tok… tok… tok…
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu. Kupikir itu mama, tapi ternyata seorang pria asing melangkah masuk bersama salah satu kerabat papa yang mengantarnya.
Pria itu tinggi, berwibawa, dengan tatapan tajam yang membuatku tanpa sadar menahan napas.
“Maaf jika kedatanganku tiba-tiba,” katanya datar. “Aku hanya ingin berbicara sebentar. Tidak ada yang lain yang tahu aku ada di sini.”
Aku mengernyit, bingung sekaligus waspada. “Siapa Anda?” tanyaku pelan.
Dia lalu menyebutkan namanya—seorang CEO muda yang ternyata punya hubungan bisnis dengan perusahaan ayah. Tanpa basa-basi, ia duduk berhadapan denganku.
"Aku tahu apa yang baru saja terjadi padamu,” ucapnya dingin. “Dan aku punya tawaran yang mungkin akan terdengar gila.”
Aku menelan ludah, jantungku berdebar tak karuan.
“Aku ingin menikah denganmu.
Pernikahan kontrak.
Tidak ada cinta, hanya kesepakatan. Aku membutuhkan istri untuk menghadapi keluargaku, juga demi sebuah syarat warisan. Dan kau… sedang dalam posisi yang tidak banyak pilihan.”
Aku menatapnya, masih sulit mencerna kata-katanya. “Kenapa aku? Kita bahkan tidak saling kenal.”
“Karena kau bebas,” jawabnya singkat. “Dan karena situasimu sekarang… sama hancurnya dengan yang kubutuhkan.”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk, tapi ada benarnya.
“Aku tak butuh jawaban sekarang,” lanjutnya sambil bangkit berdiri. “Pikirkan baik-baik. Aku akan menunggu jawabannya… dalam waktu dua puluh empat jam.”
aku yang masih terguncang, terjebak di antara luka dan tawaran gila yang bisa mengubah seluruh hidupku.
Ayah dan ibu masuk ke kamarku tanpa mengetuk, mungkin karena khawatir aku melakukan sesuatu yang bodoh setelah peristiwa memalukan tadi.
Namun langkah mereka terhenti ketika melihat seorang pria asing berdiri di dalam kamar bersama aku.
“Kamu siapa?” suara ayah langsung meninggi, penuh curiga.
Pria itu buru-buru menunduk sopan, lalu memperkenalkan diri.
“Om, Tante… perkenalkan, nama saya Devan. Saya teman lama anak Om dan Tante. Sebenarnya… saya sudah mencintai anak kalian sejak lama.”
Aku yang masih duduk di tepi ranjang sontak mengusap air mataku dengan cepat, tak percaya dengan kata-katanya.
“Ha? Bohong ya, Buk! Aku bahkan tidak kenal dia!” seruku dengan nada histeris.
Mama menatapku bingung, lalu menoleh ke arah Devan. “Benarkah begitu, Nak? Kenapa baru sekarang kamu muncul?”
Devan tetap tenang, wajahnya datar tapi tatapannya menusuk.
“Anak Om dan Tante sangat pemalu. Dia tidak pernah berani menunjukkannya, begitu pula aku. Tapi hari ini… aku tidak bisa diam lagi. Aku tidak mau kehilangan dia.”
Aku hampir terbahak jika saja suasana tidak segenting ini.
“Pemalu? Apa-apaan! Kita bahkan tidak pernah bicara sebelumnya. Lalu sekarang tiba-tiba datang, bilang cinta, lalu ngajak nikah? Ini konyol!”
Ayah menatapku lalu ke arah Devan, raut wajahnya belum bisa ditebak. Sementara mama tampak masih dilanda dilema.
Devan maju selangkah, suaranya lebih dalam dan mantap.
“Memang terdengar aneh, bahkan konyol. Tapi aku serius. Aku ingin menikahi anak Om dan Tante.”
Aku tercekat, mataku membesar.
Ini orang… benar-benar gila!
Aku berdiri dengan tergesa, menatap Devan dengan sorot mata tajam penuh ketidakpercayaan.
“Cukup! Jangan main-main dengan perasaanku. Baru saja hidupku hancur karena pengkhianatan, lalu sekarang kau datang seenaknya bilang cinta, bilang ingin menikahiku? Kau pikir aku ini apa? Boneka yang bisa dipindah-pindahkan semaumu?”
Mama mencoba meraih tanganku, “Nak, tenang dulu, jangan bicara seperti itu—”
“Aku serius, Tante,” potong Devan tanpa mengalihkan pandangannya dariku. “Aku tidak main-main. Aku tahu waktunya tidak tepat, tapi aku tidak ingin menunda lagi. Aku benar-benar mencintaimu.”
Aku tertawa miris, air mata jatuh lagi meski bibirku tersenyum pahit.
“Cinta? Hah… apa artinya cinta bagimu? Aku bahkan tidak mengenalmu. Dan sekarang kau muncul dengan segala omong kosongmu, seolah-olah jadi penyelamat hidupku? Tidak, Devan. Aku tidak butuh laki-laki asing yang tiba-tiba muncul dan memutuskan masa depanku tanpa aku kehendaki!”
Ayah yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara, suaranya berat.
“Cukup, Devan. Anak saya masih syok dengan kejadian hari ini. Jangan menekannya lagi.”
Namun Devan masih bergeming. Tatapannya kukuh, seolah kata-kataku barusan sama sekali tidak mematahkan tekadnya.
“Aku akan menunggu,” katanya singkat, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan kamar.
Aku terduduk lemas, sesak oleh amarah dan kepedihan. “Aku benci semua ini, Buk… Yah… kenapa hidupku harus jadi seperti ini?”
Mama memelukku erat, sementara ayah hanya menghela napas panjang.
Sesaat kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Pakde masuk dengan wajah kikuk, keringat membasahi dahinya.
“Pak penghulu sudah datang…” katanya lirih, tapi cukup jelas membuat seluruh ruangan hening.
Ayah langsung terperanjat, wajahnya menegang. “Apa? Penghulu?” gumamnya pelan, jelas ia tak menyangka semuanya jadi serumit ini.
Mama memandang ayah dengan ragu, lalu tiba-tiba bersuara. “Yah, kejar Nak Devan… tadi dia sudah bilang ingin menikahi Rania. Tidak ada salahnya, kan? Aku pikir dia pria baik. Lagipula, kalau Rania menikah dengannya… kita tidak akan malu di depan tamu dan keluarga besar.”
Aku mendongak kaget, “Buk!!” suaraku meninggi, tercekat oleh tangis dan amarah.
Ayah menatap mama dengan sorot mata tak percaya. “Ibu, apa-apaan ini? Kamu mendesak anakmu menikah begitu saja dengan pria asing?”
Mama menggenggam tangan ayah erat, suaranya bergetar tapi penuh keyakinan.
“Nek… ini demi keluarga kita. Kamu mau apa? Mau kita diomongin seluruh desa? Mau kita dicap gagal, dicemooh seumur hidup? Setidaknya dengan pernikahan ini, harga diri keluarga masih bisa diselamatkan.”
Ayah diam sejenak, napasnya berat. Ia menunduk, lalu menatapku sekilas. Ada keraguan di matanya, tapi juga tekanan besar sebagai kepala keluarga.
Kamar terasa pengap, detik-detik berjalan lambat.
“Kamu ada benarnya, Buk…” akhirnya ayah bersuara pelan, seolah menyerah pada keadaan. Ia melepas genggaman tangan mama lalu berdiri. “Tunggu sebentar. Aku akan bicara dengan Devan.”
Aku langsung tersentak, berdiri dari dudukku dengan tubuh gemetar.
“Tidak! Yah, jangan! Aku tidak mau! Aku tidak akan menikah dengan cara seperti ini! Apakah harga diriku tidak lebih penting dari harga diri keluarga di mata orang lain?”
Tapi ayah sudah melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan tegas.
Aku jatuh terduduk di lantai, air mataku mengalir deras. Mama mendekat, memelukku erat meski aku meronta.
“Rania… maafkan ibu. Ibu hanya ingin yang terbaik. Percayalah, Devan akan menjagamu.”