Bab 3 - Rahasia di Balik Janji Suci

1221 Kata
“Tapi buk, Rania tidak kenal pria itu,” seruku dengan nada kesal. Suaraku bergetar, perasaan bercampur antara marah dan takut. “Ssstttt…” Ibu menempelkan telunjuk di bibirnya, matanya berkaca-kaca menatapku. “Rania, ibu nggak mau kamu diolok-olok, ibu nggak mau kamu dipermalukan di depan keluarga dan para tamu. Ibu mohon, nak…” “Tapi buk…” suaraku melemah, hampir pecah menjadi tangisan. Aku menunduk, jantungku berdegup kencang tak karuan. Ibu menggenggam tanganku erat, hangat tapi penuh kegelisahan. “Percayalah, kamu akan bahagia bersama dia, nak. Ibu yakin itu. Lagian, tamu undangan sudah berdatangan, penghulu pun sudah hadir. Apa kata orang nanti kalau pernikahan ini batal? Malu, nak… keluarga kita akan menanggung malu seumur hidup.” Aku terdiam, d**a terasa sesak. Ingin sekali aku berlari keluar, membantah semua keputusan ini. Tapi tatapan ibu yang penuh ketakutan membuatku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Di satu sisi aku ingin melawan, di sisi lain aku tidak tega melihat ibu yang sudah begitu tertekan demi menjaga kehormatan keluarga. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Tapi, buk… bagaimana kalau aku tidak bahagia?” bisikku lirih. Ibu memelukku erat, seolah mencoba menutup luka yang semakin dalam di hatiku. “Bahagia itu bisa dicari bersama, nak. Yang penting sekarang, jangan bikin keluarga kita hancur di depan semua orang…” Tak lama kemudian pintu terbuka, Devan melangkah masuk bersama ayah. Jantungku serasa berhenti berdetak sejenak. Wajah ayah begitu berseri, seakan semua beban hilang begitu saja. “Ran…” suara ayah terdengar mantap, penuh keyakinan. “Dia—Devan—sangat tepat untukmu. Dia seorang CEO, pengusaha besar, masa depanmu akan terjamin bersamanya.” Aku menatap ayah dengan mata yang mulai basah. Setiap katanya bagai belati yang menusuk hatiku. “ayah yakin, Ran,” lanjut ayah sambil menepuk pundak Devan dengan bangga. “Dia bukan hanya pria baik, tapi juga sosok yang mampu menjaga dan membahagiakanmu. Percayalah, dia pasangan yang sangat pas untukmu.” Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Bahagia? Bagaimana mungkin aku bisa bahagia dengan seseorang yang baru saja aku kenal, bahkan tanpa cinta? Sementara ayah berdiri begitu angkuh, seakan keputusannya adalah mutlak, aku hanya bisa terdiam, tubuhku gemetar menahan resah. Devan menatapku tenang, seolah tidak terganggu dengan kegelisahanku. Senyum tipisnya malah membuatku semakin bingung. Aku tidak tahu, apakah senyum itu sebuah ketulusan atau hanya formalitas belaka. “Ran, ayah mohon jangan mengecewakan keluarga kita,” bisik ayah lirih namun tegas, “ini kesempatan besar, jangan kau sia-siakan.” Aku terdiam, menunduk, dan air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Ayah dan ibu akhirnya keluar dari kamar, meninggalkan aku berdua dengan Devan. Ruangan itu terasa begitu hening, hanya terdengar detak jantungku yang berdentum kencang. Devan berdiri di hadapanku, tatapannya tajam namun dingin. Wajahnya kaku, sulit sekali terbaca apakah ia marah, ragu, atau sekadar menjaga wibawanya. Aku menggenggam jemariku sendiri, berusaha menenangkan diri. “Kenapa kamu diam saja?” tanyaku pelan, hampir berbisik. Devan menarik napas panjang, matanya tak lepas dari wajahku. “Aku juga tidak menyangka akan berada di posisi ini, Rania.” suaranya rendah, berat, dan membuat dadaku semakin sesak. “Tapi… sepertinya kita tidak punya pilihan.” Aku menggeleng, air mataku jatuh lagi. “Aku bahkan tidak mengenalmu, Devan. Bagaimana mungkin aku bisa menjalani semua ini?” Devan menghela napas, lalu melangkah satu langkah mendekat. “Aku tahu ini tidak mudah. Tapi jika kita menolak sekarang, bukan hanya kamu yang dipermalukan, keluargamu juga… dan aku pun akan menanggung malu di depan semua orang.” Aku terdiam, hatiku semakin kacau. Kata-kata Devan penuh logika, tapi kosong dari rasa. Seolah-olah aku hanyalah sebuah kewajiban yang harus diselesaikan, bukan pilihan yang lahir dari cinta. Langkahku terasa berat ketika pintu aula pernikahan terbuka. Semua mata seolah menatapku tanpa berkedip. Gaun putih yang kupakai terasa bagaikan beban, bukan kebahagiaan. Di sampingku, Devan berdiri tegak dengan jas hitam elegannya. Wajahnya tetap datar, dingin, tanpa ekspresi. Seakan pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak bisnis, bukan ikatan sakral yang seharusnya dilandasi cinta. Aku menunduk, mencoba mengatur napas. Di kejauhan, kulihat ayah dan ibu tersenyum lega, seolah semua masalah sudah selesai dengan acara ini. Padahal, hanya aku yang tahu betapa rapuhnya hatiku saat ini. Penghulu mulai membuka acara, suara lantang memecah kesunyian hatiku. Kata demi kata yang keluar dari mulutnya membuat dadaku semakin sesak. Dan ketika tiba saatnya ijab kabul, aku mendengar suara Devan yang begitu tegas, mantap, seolah pernikahan ini adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Tepuk tangan dan ucapan selamat bergema di seluruh ruangan. Aku? Hanya bisa berdiri kaku, tersenyum hambar pada setiap tamu yang menghampiri. “Selamat ya, Rania,” bisik salah satu tanteku sambil menepuk pundakku. “Kamu beruntung sekali mendapatkan pria seperti Devan.” Beruntung? Kata itu menamparku. Aku tidak merasa beruntung, aku justru merasa terjebak. Sepanjang resepsi, aku bisa merasakan sorot mata para tamu yang penuh bisikan. Bisikan-bisikan yang sayup-sayup sampai ke telingaku. “Katanya cuma istri kontrak…” “Pernikahan ini pasti ada udang di balik batu…” “Mana ada CEO sebesar Devan menikah dengan gadis biasa kalau bukan karena sesuatu…” Bisikan itu menusuk lebih dalam daripada seribu pedang. Aku tersenyum di hadapan semua orang, tapi hatiku menangis dalam diam. Devan tetap seperti batu. Tatapannya dingin, senyumnya tipis, dan jaraknya dariku tak pernah berkurang. Seolah-olah kami hanyalah dua orang asing yang dipaksa berdiri di panggung yang sama. Aku mencoba mengajaknya bicara pelan di sela-sela tamu yang datang. “Apakah… semua ini benar-benar jalan yang kau inginkan?” Devan menoleh sekilas, matanya tajam menusukku. “Kita sudah terikat sekarang, Rania. Jadi jalani saja.” Jawaban singkat itu bagai palu godam yang menghantam dadaku. Aku menggenggam erat gelas minumanku, menahan perasaan yang hampir meledak. Aku ingin menjerit, ingin berlari, ingin membatalkan semua ini. Tapi tatapan orang-orang yang terus mengawasi membuatku terperangkap. “Kenapa semuanya tahu, Devan, kalau kita hanya nikah kontrak?” bisikku pelan dengan suara bergetar. Mataku berusaha mencari jawaban di wajahnya, tapi yang kutemukan hanyalah dingin yang semakin menusuk. Devan menatapku singkat, tatapannya sulit diartikan, lalu tanpa sepatah kata pun ia melangkah pergi meninggalkanku yang masih berdiri kaku di tengah keramaian. Jantungku serasa copot. Aku melihatnya naik ke atas panggung, meraih mikrofon dari tangan MC. Seluruh ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju padanya. Aku bisa merasakan bisikan-bisikan yang tadi terdengar samar kini makin jelas, seolah-olah mereka menunggu pengakuan dari mulut Devan sendiri. Dengan suara berat dan tegas, Devan berbicara, “Saya ingin meluruskan sesuatu. Beredar kabar bahwa pernikahan saya dengan Rania hanyalah pernikahan kontrak. Saya tegaskan di sini, kabar itu tidak benar.” Ruangan langsung riuh. Beberapa tamu berbisik-bisik, sebagian tampak terkejut, sebagian lagi pura-pura percaya. Aku berdiri mematung, tanganku meremas gaun putihku sendiri. Devan melanjutkan, suaranya semakin mantap, “Rania adalah istri saya yang sah, dan saya menikahinya bukan karena kontrak ataupun paksaan. Jadi, tolong hentikan semua spekulasi yang tidak benar.” Aku menatapnya dari kejauhan. Kata-katanya terdengar indah di telinga orang lain, seolah ia sedang membelaku. Tapi hatiku tahu, ucapan itu hanya untuk menjaga nama baik, bukan karena ia benar-benar menginginkanku sebagai istrinya. Sesaat mata kami bertemu. Tatapan Devan tetap datar, tapi ada sekilas sorot tajam yang membuatku semakin yakin: pernikahan ini penuh rahasia yang belum terungkap. Aku menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Di hadapan semua orang, Devan mungkin terlihat sebagai suami yang tegas membela istrinya. Tapi aku tahu, begitu pesta ini selesai, aku hanya akan kembali menjadi seorang istri kontrak yang terjebak dalam permainan besar. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN