"Sampai kapan lo mau diem, nanti bisu beneran baru tau rasa"ujar Benji karena sedari di rumahnya sampai sekarang udah di mobil, Mentari masih diam saja.
Mentari tak peduli dia tetap mengacuh kan Benji. Dia terus memandang ke luar jendela. Tapi syukur Benji mau mengantarnya pulang tanpa harus dia guling-gulingan dulu.
"Jangan buat gue marah" ucap Benji serius, wajahnya kembali datar.
Mentari menelan ludahnya susah payah. Dia sangat takut kalau Benji sudah begini.
"Lihat gue sekarang" perintah Benji.
Mentari menoleh kan wajah nya perlahan ke arah Benji. Benji menatapnya tajam.
"Gue udah bilang cukup jadi pacar yang penurut itu aja yang gue minta sama lo, apa itu susah?" Tanya Benji geram.
"Tapi aku juga nggak mau.."
"GUE NGGAK MINTA JAWABAN LO" bentak Benji dengan memotong ucapan Mentari.
Mentari terperanjat kaget matanya sudah berkaca-kaca. Kenapa Benji gampang sekali berubah-ubah sikapnya.
"Turun" suruh Benji dengan mengalihkan tatapanya ke depan.
Mentari mebuka pintu dan keluar dari mobil Benji, dia menghapus air matanya yang sudah jatuh.
Benji melajukan mobilnya dengan sangat kencang meninggal kan rumah Mentari.
Kenapa dia harus berurusan dengan Benji. Dan pria itu bilang dia menyukainya, Mentari menggelengkan kepalanya dan tersenyum masam. Kata suka, cinta dan apa pun itu dia sudah tidak percaya. Itu semua hanya kebohongan, apalagi pria seperti Benji yang mengucap kan nya.
"Mentari.." ujar seseorang yang datang menghampiri Mentari.
Mentari melebar kan matanya saat melihat siapa yang ada di depanya sekarang.
"Maafin gue Tar.." ucap orang itu.
Mentari mengalihkan tatapan nya, dia benci melihat wajah orang yang ada di depanya ini.
"Aku udah maafin kamu" ucapnya dengan berbalik untuk pergi.
Romi mencekal tangan Mentari yang hendak pergi.
"Gue tau gue salah dan gue keterlaluan waktu itu, gue siap ngelakuin apa pun untuk menebus kesalahan gue" ujar Romi tulus.
Mentari menghempaskan tangan Romi lalu dia berbalik menghadap ke pria itu lagi.
"Yang perlu kamu lakuin hanya satu. jangan pernah muncul di hadapan aku lagi, jangan temuin aku yang menjijikan ini" ujar Mentari, setelah itu dia langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.
Mentari menutup pintu rumahnya tubuhnya merosot ke bawah tangis nya pun pecah. Dia teringat dengan kejadian dua tahun yang lalu.
Flashback
Mentari tersenyum senang saat melihat lukisan yang dia buat telah selesai.
Lukisan ini akan dia kasih sebagai hadia ulang tahun untuk Romi kekasihnya.
Sudah satu tahun mereka pacaran , Romi pria yang selalu membuat dia bahagia.
Walaupun dulu Mentari sempat ragu terhadap Romi, dia tidak yakin kalau Romi benaran suka padanya.
Romi itu tampan, dia juga kaya banyak wanita yang suka padanya dulu, tapi Romi malah memilih Mentari gadis cupu yang tidak terlalu cantik.
karena usaha Romi untuk meyakinkan Mentari kalau dia sungguh-sungguh akhirnya membuat Mentari percaya.
Walaupun Mentari harus menahan sakit hati karena semenjak dia pacaran dengan Romi semakin banyak yang membully nya.
Mereka bilang Mentari tidak pantas untuk romi, angka lima tidak pantas untuk bersanding dengan angka sepuluh. Karena Rentari terlalu jelek untuk bersama dengan Romi.
Jujur dia merasa sangat sedih. tapi Romi selalu bilang jangan pernah dengarkan omongan orang lain, karena kita yang menjalankan nya.
Romi juga selalu membelanya ketika ada yang mengganggunya.
Dia sangat bersyukur pada tuhan karena menghadirkan Romi di dalam hidupnya. Dan membuat dia merasa sangat di cintai.
Mentari segera membungkus lukisan dan surat yang telah dia buat.
Drttt...drtttt
Dia mengambil handphone nya yang berbunyi.
Love❤
Seketika senyumnya mengembang saat melihat siapa yang menelponya.
"Hallo" sapa Mentari ceria.
"Hallo Tari... maaf ya malam ini kayak nya aku nggak bisa jemput kamu, kamu bisa pergi sendirikan?" ujar Romi di sebrang sana.
"Oh iya nggak papa aku bisa pergi sama Mila aja nanti malam" Mentari memaklumi karena Romi pasti sibuk menyiap kan acara ulang tahunnya.
"Ya udah kalau gitu sampai ketemu nanti malam dah."
"Ya dadah "sambungan pun terputus.
Mentari segera mandi dan bersiap untuk pergi ke pesta romi.
"Cieeeee yang dari tadi senyum-senyum mulu" goda Mila saat melihat Mentari terus tersenyum sedari tadi.
"Apa sih.."Mentari memukul lengan Mila.
"Apa sih.." Mila meniru ucapan Mentari.
"Mila" tegur Mentari.
"Hahaha iya iya gue seneng deh lihat lo bisa sebahagia ini" ucap Mila tulus.
Mereka pun tiba di rumah Romi sudah banyak yang datang.
"Eh tuh Romi" tunjuk Mila saat melihat Romi.
Mentari menoleh ke arah yang di tunjuk Mila. dia melihat Romi yang sedang berbicara bersama teman-temanya, ini pertama kalinya Mentari melihat Romi memakai setelan formal seperti itu, dia sangat tampan membuat Mentari semakin tidak percaya kalau Romi itu pacarnya.
"Ya udah samperin sana gue mau ambil minum dulu" seru Mila.
Mentari mengangguk dam berjalan menuju Romi.
"Romi.." panggil Mentari saat tiba di belakang pria itu.
Membuat Romi menoleh, begitu juga teman-temanya yang menatap Mentari tidak suka.
"Nih buat kamu" dia memberikan hadianya ke pada Romi.
"Makasih" ujar Romi datar dan berlalu pergi meninggal kan Mentari begitu saja.
"Dasar penganggu" ucap salah satu teman Romi.
Mentari mengerut kan keningnya, kenapa Romi bersikap begitu padanya. pria itu tidak pernah begitu sebelumnya.
Mentari berusaha berpikir positif mungkin Romi hanya lelah.
Acara pun di mulai dan sekarang semua orang menatap ke layar besar yang sedang menampil kan sebuah video.
Terlihat di video itu Romi dan teman-temanya sedang berkumpul.
"Rom...rom... lo mau aja pacaran sama si cupu" ucap salah satu teman Romi.
"Ya lo tau lah gue pacaran sama dia cuma buat bisa deket sama Mila" ujar Romi enteng.
"Sampai kapan lo mau pacaran sama dia?"
"Ya sampai Mila bisa jadi milik gue, padahal gue udah jijik banget deket-deket sama tu cewek cupu"ucap Romi dengan ekspresi jijik.
Mentari membuka mulutnya, dia tak percaya dengan apa yang udah dia dengar. Air matanya mengalir deras Dia berlari pergi dari sana.
"Huuuuuu...." semua orang menyoraki Mentari dan tertawa mengejek.
"Tari... "seru Mila berusaha mengejar mentari, setelah menapar Romi dengan keras karena berani menpermainkan sahabatnya.
"Mentari..." teriak Mila.
Namun Mentari terus berlari menulikan pendengaranya,bahkan dia tidak peduli kalau sekarang sedang hujan deras.
Dia menangis sekencang mungkin Romi sangat tega padanya, pria itu hanya memanfaat kannya selama ini. Padahal dia sangat tulus mencintai Romi.
Harusnya dia sadar dari dulu mana mungkin seseoarang seperti Romi mau denganya, tapi dengan bodohnya dia percaya dengan semua ucapan manis romi.
Benar kata orang-orang kalau angka lima tidak pernah bisa bersanding dengan aka sepuluh.
"Aaaaaaaaa hiks..hiks... kenapa kamu jahat sama aku, apa salah aku hiks... hiksss" teriak Mentari dengan menangis di bawah guyuran hujan.
"Ayah...tolong Mentari apa memang Mentari tidak pantas di cintai hiks ... hiksss cuma ayah pria yang tulus mencintai Tari hiks..." Mentari terus menangis hatinya sakit dadanya terasa sangat sesak.
Flashback of