Mentari menelungkup kan wajahnya di meja, sambil menunggu mata kuliah pertamanya di mulai. matanya bengkak akibat kemarin dia terus menangis.
Tak...
Seseorang menendang meja Mentari.
Mentari tak peduli dia tetap menelungkup kan wajahnya. Itu paling teman kelasnya yang sering menganggunya.
Tak...
Orang itu terus menendang meja Mentari.
"Eh cupu bangun lo jangan pura-pura tidur" ucap orang itu.
Mentari tetap tak menggubris dia sangat hafal suara siapa ini. Itu suara Danu salah satu teman cowok di kelas nya yang sering menganggunya.
Danu menarik kerah baju belakang Mentari.
"b***k lo ya, gue bilang bangun" ujar Danu kesal.
Mentari memegang lehernya yang sedikit tercekek karena ulah Danu, dia memperbaiki kaca matanya yang sedikit turun. Dia melihat kearah Danu yang ada di sebelahnya. Kelas masih sepi hanya ada mereka berdua.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Ada hubungan apa lo sama si Benji?"
"Nggak ada apa-apa" jawab Mentari.
Danu memicingkan matanya.
"Jangan bohong lo, walaupun gue tau nggak mungkin juga si Benji suka sama lo yang model begini"
Mentari mengangguk, ucapan Danu membuat dia semakin yakin kalau yang di ucap kan Benji kemarin hanya bohong saja.
"Terus ngapain kemarin dia gandeng tangan lo?"
Mentari mengerut kan keningnya kenapa Danu sangat kepo.
"Dia salah gandeng orang katanya" jawab Mentari asal, agar Danu tidak bertanya lagi.
"Hahahahaha" tawa Danu pecah.
Mentari menggaruk kuping nya bingung.
" udah gue duga nggak mungkin lo sama Benji ada apa-apa ya kan.." ucap Danu.
"Si culun nggak mungkin bisa jadi sama pangeran kampus" lanjut Danu mengejek.
Mentari tersenyum masam mendengar ucapan Danu.
"Ck udah deh rasa penasaran gue udah ke bayar" ujar Danu kemudian berlalu pergi.
Mentari menghembus kan napas nya
"Jangan sedih Tar... kamu kan udah biasa di ejek kayak gitu" ujarnya menyemangati diri sendiri.
***
Mentari baru saja keluar dari ruang dosen untuk mengumpul kan tugasnya.
"Ih serem banget ya si Benji makin lama makin nyeremin.." ucap seorang siswi yang berpapasan dengan Mentari.
"Ya walaupun gitu dia tetap aja ganteng kan"saut yang lainya.
"Iya lah itu udah pasti namanya juga pangeran kampus, tapi takut juga sih punya pacar kayak gitu, kalau kita berantem bisa-bisa semua badan kita di patahin sama dia"
"Tapi salah tu cewek ke gatelan banget" bela yang lainya.
Mentari menajam kan pendengaranya, menguping pembicaraan mereka. Dia mengerutkan keningnya ada apa lagi dengan Benji, batinya.
"Ikut gue.."
Betapa terkejutnya Mentari saat Benji menarik tanganya. Begitu juga semua orang yang ada di sana. Semakin curiga dengan hubungan Mentari dan Benji.
Benji menarik tangan Mentari ke dalam ruangan yang kemarin lagi.
"Lepasin kak..." ucap Mentari.
Dia melihat raut wajah Benji yang terlihat sangat marah.
Benji melepaskan tangan Mentari, dia pun duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa. memejam kan matanya Mencoba mengontrol emosinya.
Mentari ikut duduk di sebelah Benji.
"Ada apa?" Tanya nya takut-takut.
Benji membuka matanya dan menoleh ke arah mentari. Dia meraih tangan Mentari menggenggam nya erat. Dan terus menatap ke arah Mentari.
Mentari jadi gugup saat Benji menatapnya intens seperti ini.
"Kenapa lo nangis?" Tanya Benji saat melihat mata Mentari yang bengkak.
"Ah ini gara-gara nonton drama korea" bohonnya.
"Tadi aku denger kalau kamu..."
"Iya gue patahin tangan orang" Benji memotong ucapan Mentari, saat tau apa yang akan gadis itu tanyakan.
"APA.." teriak Mentari kaget. Bagaimana bisa Benji melakukan itu dan pria itu terlihat biasa saja. Tanpa merasa bersalah.
"Salah dia kegatelan megang-megang gue" ujar Benji dengan kesal.
Mentari segera menarik tanganya dari Benji. takut kalau tanganya akan di patahin juga, dia bergidik ngeri.
Benji tersenyum simpul
" kalau lo nggak papa, gue justru seneng kalau lo yang megang" ucapnya dengan memegang tangan Mentari lagi.
Namun Mentari menarik tangannya lagi, dia segera berdiri.
"Maaf kak aku masih ada kelas" ucapnya tak mau berlama-lama ada di tempat ini.
Benji segera menarik tangan Mentari agar kembali duduk.
"Temenin gue bentar aja" ujar nya.
Dia menarik pinggang Mentari agar lebih dekat denganya memeluk mentari dari samping.
menaruh kepalanya di pundak Mentari, dan menyembunyikan wajahnya di selah leher gadis itu. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mentari.
Mentari bergerak tidak nyaman.
"Mmmm kak jangan begini" ucapnya.
"Bentar aja temanin gue" ujar Benji tak terbantah.
Mentari akhirnya diam dan membiarkan Benji memeluknya.
" jangan takut sama gue, gue nggak akan nyakitin orang yang gue sayang" kata Benji dengan memejam kan matanya.
Mentari hanya diam tak tau harus berkata apa, dia merasa serba salah.
Benji semakin mengerat kan pelukanya.
" gue sayang sama lo Tari..." ujarnya tulus.
"Pokoknya lo punya gue..." sambungnya lagi.
Bukanya senang Mentari malah semakin takut, kalau hatinya yang lemah ini nanti bisa luluh oleh ucapan Benji. Dia nggak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu.