LIMA BELAS.

717 Kata
Mentari telah menyelesaikan mata kuliahnya, dia segera membereskan bukunya dan segera keluar. Untuk menemui Benji di parkiran. Karena pria itu bilang akan mengajak nya ke suatu tempat, dia sempat menolak tapi yang namanya Benji tidak akan bisa di bantah. Brak... Seseorang menggebrak meja dengan keras. Mentari meghembus kan napasnya lelah. "Apalagi ini..." batinya. Di sana sudah berdiri Veve dan teman-tamanya, Veve menatap Mentari tajam. "BERANI-BERANINYA LO DEKETIN BENJI, LO NGGAK SADAR DIRI APA LO NGGAK PUNYA KACA DI RUMAH" bentak Veve murka. "Aku sadar kok" jawab Mentari. Veve tersenyum miring. Lalu dia menarik rambut Mentari dengan kecang. "Aw .." ringis Mentari kepalanya terasa perih. "Bagus kalau lo sadar dasar cupu, lo itu sama sekali nggak pantas sama Benji" Veve menarik rambut Mentari semakin kuat. Mentari mencoba menahan air matanya, bukan karena dia takut tapi kepalanya terasa sangat sakit. "Awas kalau lo deket-deket lagi sama Benji" ucap Veve memperingat kan, lalu mendorong Mentari hingga jatuh. Mereka pun pergi meninggal kan Mentari yang terjatuh. Mentari mengusap air matanya dia segera berdiri, kepalanya terasa sangat sakit. Drtttttt... drrrttttt My love ❤ Itu Benji yang telpon, dan nama itu Benji sendiri yang memberikanya. Handphone nya berhenti berdering, dia memang sengaja tidak menjawab telpon dari Benji. Mentari mengganti nama Benji di kontak nya. JELANGKUNG Dia pun memperbaiki penampilanya yang kusut akibat ulah Veve. lalu segera keluar untuk menghampiri Benji sebelum pria itu marah. "Lama" ujar Benji saat Mentari masuk ke mobil. "Maaf" ucap Mentari. Benji pun tak mau ambil pusing dia udah capek marah-marah sama Mentari. Dia pun segera melajukan mobilnya meninggal kan kampus. Tak ada yang bicara selama di perjalan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Mentari mengerut kan keningnya saat Benji ternyata membawanya ke butik. "Turun" ucap Benji dengan keluar dari mobil. Mentari mengikuti saja dia malas berdebat. "Selamat sore mas Benji..." sapa pegawai di sana dengan tersenyum. "Ambil pesanan gue kemarin, terus pakek in ke dia" ujar Benji dengan mengarah kan dagunya ke Mentari. Mentari melebar kan matanya. "A.. aku" ucap nya kagek dengan menunju diri sendiri. "Kenapa aku?" Tanyanya lagi. "Kalau udah di ganti bajunya, langsung bawa ke salon sebelah" perintah Benji kepada pelayan toko tersebut, lalu pria itu pergi meninggal kan Mentari begitu saja. "Kak Benji.." panggil Mentari namun Benji sama sekali tidak menoleh. "Mari mbak ikut saya" ucap pelayan itu membawa Mentari ke ruang ganti. "Tapi mbak saya nggak mau beli baju" kata Mentari mengelak. "Maaf mbak tapi saya cuma menjalan kan tugas disini, jadi saya mohon bantuanya kalau tidak nanti saya kena marah" ujar perempuan itu. Mentari menghebuskan napasnya, dia jadi serba salah. Akhirnya dia pun menurut dan mengikuti perempuan itu. "Nah ini mbak gaunya silah kan di pakai atau mau saya bantuin " "nggak usah aku bisa sendiri " tolak Mentari lalu mengambil gaun itu. Gaun berwarna putih yang sangat cantik. "Wah sangat cocok sama mbak" ujar pelayan itu dengan tersenyum. Mentari hanya tersenyum kecil sebagai balasan. dia masih bingung kenapa di suruh pakai gaun ini. Jangan bilang Benji mau mengajaknya ke pesta, jujur dia sangat benci pesta. Mentari pun di bawah ke ruangan sebelah untuk di rias, karena memang butik ini bersebelahan dengan salon. Setelah kurang lebih setengah jam dia pun akhirnya selesai. "Wah manis banget..." ujar orang yang mendandaninya. Mentari menatap pantulanya di cermin, wah dia tak menyangka kalau itu dirinya. Mentari keluar dari sana dia melihat Benji duduk di sofa dengan memain kan handphone nya. Benji memakai tuxedo berwarna hitam dengan kemeja putih dan dua kancing atasnya di biarkan terbuka, dia terlihat sangat tampan. Mentari menundukan kepalanya saat Benji melihat ke arahnya. Benji berdiri dan melangkah kan kaki mendekati Mentari, dia berhenti tepat di depan Mentari jarak mereka sangat dekat sekarang. Membuat Mentari sangat gugup. Benji menatap Mentari intens dia mendekat kan wajahnya ke telinga gadis itu. "Cantik banget pacar jelek gue.." bisiknya. Mentari mengangkat wajahnya menatap Benji dengan kesal, niat muji nggak sih batinya. Benji tersenyum kecil melihat Mentari yang merengut kesal, sangat lucu. Semua orang di sana melihat ke arah mereka iri. iri dengan Mentari karena bisa bersama pria setampan Benji. Beberapa perempuan terus menatap Benji dengan memuja sedari tadi. Benji mengandeng tangan Mentari dan berjalan keluar dari butik dengan wajah datarnya. Dia sangat muak dengan perempuan-perempuan yang terus menatapnya sedari tadi. "Kita mau kemana sebenarnya?" Tanya Mentari saat mereka sudah di dalam mobil. "Nanti jugo lo tau" ujar Benji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN