Mereka berhenti di rumah mewah. Bukan rumah lebih tepatnya mansion.
Mentari terkagum-kagum melihatnya, mansion ini seperti ada di novel-novel yang sering dia baca.
"Ini rumah siapa kak?" Tanyanya.
"......."
Mentari menoleh kan wajahnya saat Benji tak kunjung menjawab pertanyaanya.
Dia mengerutkan kening nya saat melihat Benji seperti gelisah dan khawatir. dia tidak pernah melihat Benji seperti ini sebelumnya.
Mentari menyentuh pundak Benji pelan.
"Kak..." ucapnya.
Akhirnya benji menolehkan wajahnya,Dia tersenyum kecil seperti terpaksa.
"Ayo kita masuk" ujarnya, Dengan memegang tangan Mentari.
Mentari mengangguk setuju,
Mereka pun keluar dari mobil.
Mentari terus melihat ke arah Benji, pria itu sedari tadi terus menghembus kan napas.
"Nanti di dalem apa pun yang terjadi lo diem aja, cukup ikutin gue" ucap Benji dengan menggenggam tangan Mentari erat.
Mentari menganggukan kepalanya.
Mereka pun berjalan masuk kedalam.
Di dalam sudah banyak orang yang sedang berkumpul dan mengobrol.
Ini bukan seperti pesta tapi seperti acara kumpul keluarga, walau semua orang memang memakai gaun dan jas. Mungkin memang seperti ini kalau orang kaya kumpul keluarga.
Suasana yang tadi ramai menjadi hening ketika Benji dan Mentari masuk.
Mereka semua menatap tak suka ke arah Benji.
Benji tak peduli dia terus berjalan menghampiri seseorang di sana dengan wajah datarnya.
Dia menghampiri seorang pria paruh baya, Benji mengulurkan tangannya untuk menyalimi orang itu.
"Selamat ulang tahun Pi" ucapnya.
Namun orang itu hanya menatap sekilas dan tak membalas uluran tangan Benji.
"Ayo kita ke ruang makan, langsung makan malam aja" ujar orang itu dengan berdiri dan pergi mengabaikan Benji begitu saja.
Semua orang pun pergi meninggal kan mereka berdua dengan menatap mereka sinis.
Mentari menatap Benji iba pria itu terdiam kaku. Dia semakin bingung apa yang terjadi. Tadi Benji memanggil pria itu pi, papi maksudnya. Jadi dia ayah nya Benji tapi mengapa bersikap begitu.
"Ya ampum cucu oma.." seorang perempuan tua turun dengan langkah pelan menghampiri mereka.
Benji tersenyum ke arah omanya.
Dan mereka berpelukan.
"Oma seneng kamu dateng" ujar omanya tulus.
"Oh ya ampun ini siapa, manisnya...? Ujar oma Benji yang baru menyadari ke hadiran Mentari.
"Saya mentari nek.." ujar Mentari dengan menyalami omanya Benji.
"Panggil oma aja, kamu pasti pacarnya Benji" ujar oma dengan mengelus bahu Mentari pelan.
"Ah bu.."
"Iya oma dia pacar aku" Benji memotong ucapan Mentari. Dia menatap Mentari dengan tajam.
"Oma seneng deh akhirnya Benji punya pacar, karena selama ini dia tidak pernah bawa perempuan kerumah"
Mentari tersenyum paksa menanggapi omongan oma.
"Ya udah mendingan sekarang kita makan malam" ujar oma dengan menggandeng tangan Mentari, dan Benji mengikuti dari belakang.
"Ck ngapain sih ni orang ke sini, bikin selera makan gue ilang aja" ujar seorang pria sinis, ketika melihat Benji masuk ke ruang makan. Sepertinya umurnya tidak jauh dari Benji.
"Kamu nggak boleh ngomong begitu ke kakak kamu Jimi" peringat oma.
"Dia bukan kakak aku oma" ujar Jimi tak terima.
"Jimi" peringat omanya.
Jimi memutar bola matanya malas.
"Udah lebih baik kita duduk yuk.." oma mengajak Benji dan Mentari duduk.
Mentari menoleh ke arah Benji pria itu terlihat biasa saja,tetap dengan wajah datarnya. tapi yang buat dia heran kenapa Benji tidak marah biasanya dia akan ngamuk kalau ada orang yang begitu padanya.
Makan malam pun di mulai semua orang fokus dengan makanan masing-masing tidak ada yang bicara.
Setelah selesai makan tadi Mentari di ajak oma Benji ke taman rumah untuk mengobrol.
"Sudah berapa lama kamu kenal sama Benji?" Tanya oma.
"Belum lama ini oma" jawab Mentari.
Oma meraih tangan Mentari
"Jangan pernah tinggalin Benji ya. Oma tau dari cara dia natap kamu sepertinya Benji sangat mencintai mu, oma seneng akhirnya Benji bisa menemukan orang yang bisa bersamanya, jadi oma mohon jangan pernah tinggalkan Benji" ujar omanya Benji memohon dengan tulus ke Mentari.
Mentari bingung harus jawab apa, dia tidak mau berjanji untuk hal yang mungkin tidak bisa dia tepati.
Tidak ada hubungan apa-apa antara dia dan Benji. Walaupun pria itu pernah mengatakan perasaanya tapi Mentari masih ragu.
"Gimana kamu mau kan janji sama oma.." ujar oma Benji ketika Mentari tak kunjung menjawab.
Mentari merasa kasihan, oma Benji sepertinya sangat berharap padanya. Dia pun akhirnya menganggukan kepalanya ragu.
Oma Benji tersenyum.
"Terimakasih..."
"Menurut kamu Benji itu orangnya seperti apa?" Tanya oma.
"Dia itu nyebelin oma, galak, tukang ngatur, jelangkung, penguntit masak ya oma dia itu sering masuk ke kamar Mentari diam-diam" cerocos Mentari.
Namun beberapa detik kemudian Mentari menuput mulutnya. Tersadar dengan ucapanya yang mengatai Benji di depan oma pria itu sendiri.
"Aaaaa... maksud tari bukan gitu oma kak Benji itu baik, cuman yang namanya manusia kan pasti ada salah gitu" ujar Mentari tidak enak.
Oma benji tertawa.
"Kamu ini lucu sekali, Benji memang begitu jadi kamu harus sabar menghadapinya" ujar oma Benji dengan mengelus rambut Mentari.