Prolog
Tahun 1997
Malang-Jawa Timur
“Bu… Ibu… kok Ibu nangis?” Tangan kecil itu meraba-raba pinggiran meja yang setengah reyot. Lalu menghampiri wanita yang dipanggilnya ibu itu. Mengelus wajah yang beberapa detik yang lalu masih basah oleh air mata, kini airnya sudah berpindah ke punggung tangan dan ujung bajunya.
“Ibu ndak nangis, Berlian. Ibu kepedasan,” jawab ibu sambil mengambil kedua tangan putrinya yang berusia lima tahun, menggenggamnya erat lalu meletakkan kedua tangan mungil itu ke dadanya.
“Ibu selalu kepedasan. Kata Ayah, ibu nakal, suka makan pedas,” kata bocah itu sambil tersenyum. Senyum terindah yang alam pernah berikan kepada wanita itu.
“Iya, ibu nakal.”
“Tapi Elli sayang sama Ibu.”
Lalu tawa terurai dari mulut Sang Ibu, tawa yang harus dikeluarkan dari mulutnya agar kecemasan putri tunggalnya yang belum tahu apa-apa itu tidak menjadi-jadi.
“Ayah mana?”
“Di kamar. Tap…”
Kalimat sang Ibu terpotong, kaki anak itu sudah melesat, menjauh dari ibunya, mendekat pada ayahnya.
“Ayah! Ayah!” panggil Berlian. Ketika sudah dekat dengan pintu kamar, dia menghentikan kakinya. Kini meraba lagi dinding luar kamar dengan tangannya.
Ketika dia masuk ke dalam kamar, kakinya membeku, terdiam.
Suara mirip barang yang dibanting ke lantai yang membuatnya berhenti. Dia tidak melihatnya, namun dia mampu merasakan ada yang salah dengan keadaan ayahnya.
“Ayah?” Dia mendekati laki-laki itu. Tangannya berusaha menjamah tubuh ayahnya.
Tangannya menyentuh tangan ayahnya, mengambil tangan kasar itu dengan kedua tangan lembutnya. Mengelusnya.
“Ayah kenapa?”
Sang Ayah menunduk, melihat anak yang sedang memandangnya—memandang dengan hatinya.
“Ayah luka,” jawab ayahnya singkat.
Berlian mengelus permukaan kain kasa yang membalut telapak tangan kanan ayahnya.
“Ayah main gunting?” tanya Berlian dengan nada polos.
Ayah tidak menjawab pertanyaan Berlian, malah menepiskan tangan putrinya itu dari tangannya sendiri, lalu melanjutkan apa yang tadi sedang dia kerjakan, mengemas baju-bajunya ke dalam tas ransel yang tadi dibantingnya dengan penuh amarah. Cermin besar di lemari retak. Ada sedikit percikan darah terlihat di sela-sela pecahan kacanya.
Berlian merasakan seseorang mengangkat tubuhnya, dia tahu dari kelembutan dan wangi melati yang menyeruak, itu ibunya.
“Akan kubuktikan! Akan kubuktikan aku bukan lelaki pengecut seperti yang bapakmu selalu ucapkan padaku! Aku bukan orang yang seenaknya bisa dihina-hina seperti itu!” teriak sang Ayah tiba-tiba.
“Mas! Bukan—”
“Kamu selalu membela bapakmu! Akan kubuktikan!” teriak sang Ayah lebih kersas lagi.
Laki-laki bertubuh pendek kurus itu melangkah menjauh, tidak menghiraukan panggilan berulang dari istrinya. Bahkan tak sekejap pun matanya melirik buah cintanya yang memeluk leher ibunya dengan wajah kebingungan.
Ibu Berlian meletakkan Berlian ke atas kursi ruang tamu, lalu dia menyusul langkah suaminya hingga keluar rumah.
“Mas!” teriaknya kencang di antara aliran airmatanya yang mengalir begitu deras.
Ayah Berlian tidak menoleh sekejap pun. Seorang lelaki tampak mengamati adegan itu dari balik pagar rumahnya, sebuah bekas luka memanjang mencoreng dahinya. Wanita itu berteriak lagi, lalu menjerit-jerit histeris, mengundang beberapa orang tetangganya keluar dari rumahnya. Sebagian hanya menatap dengan bingung, sebagian memandang terenyuh.
Drama itu ditutup dengan gerakan lemas wanita berambut panjang itu ke sisi pagar rumahnya yang terbuat dari bambu, lalu terduduk lunglai di atas tanah. Merasa percuma menahan suaminya, dia hanya mampu memandangi punggung tegap yang membawa pergi seluruh egonya yang terluka.
“Mbak…ndak apa-apa?” seorang tetangganya, mendekat dengan ragu. Ibu Berlian tidak menghiraukan perkataan tetangganya. “Mbak…” panggilan kedua ini membuat ibu Berlian menghentikan tangisannya, memandang tetangganya itu lalu menghapus air mata dengan punggung tangannya.
Mata merahnya memandang ke orang yang menyapanya, berusaha tersenyum walaupun gagal. “Ndak apa-apa, Dik,” katanya. Orang yang menyapanya hanya mengangguk sekilas dan senyum tipis seakan ingin menghibur. Dia mengulurkan tangan, mengajak ibu Berlian berdiri. Ibu Berlian menerima uluran tangan itu. “Terimakasih…” ucapnya pelan.
Hanya isak yang tersisa ketika dia memasuki rumah amat sederhana yang selama umur pernikahan dia tempati. Tatapan orang-orang mengiringi tubuh kurus itu memasuki rumahnya.
“Ibu menangis,” kata Berlian, sembari menyodorkan tangannya ke wajah ibunya, ketika dia merasakan ibunya duduk di sebelahnya. Ibunya menggerung, lalu memeluk putrinya itu, menciumi puncak kepalanya, menciumi wajahnya, menciumi kedua matanya yang tak pernah bisa terbuka.
“Ayah kenapa?”
Sang ibu terdiam, hanya terlihat dadanya naik turun oleh emosi, tangannya gemetar menyentuh kepala anaknya penuh rasa sayang.
“Ayah… pergi cari uang…” jawabnya lemah di antara isakannya.
“Buat beli mainan Elli?”
“Iya… buat beli mainan Elli.”
Berlian tersenyum, menunggu penuh harap mainan yang dijanjikan itu, mainan yang tak pernah terwujud.
***
Tahun 2003
Angin sore itu terasa kencang, mengibarkan rambut panjang seorang anak perempuan berumur sebelas tahun yang sedang duduk di bangku kayu panjang. Senyumnya terukir di wajahnya. Telinganya mendengarkan dengan seksama.
“Wah sialan! Tendangan gue tadi lurus kok!”
“Lurus sih, cuman bolanya yang belok sendiri. Halah!”
Lalu suara tawa terburai dari tujuh orang anak laki-laki yang berada di tengah lapangan, membahana, memecah keheningan sore hari itu. Mengalahkan bunyi gemerisik daun Akasia di atas kepala gadis kecil itu. Beberapa bunga kecilnya yang berwarna kuning terjatuh begitu saja di pangkuannya.
Gadis itu—Berlian— tertawa, dia ikut tertawa atas apa yang ditangkap oleh telinganya.
Seorang bocak laki-laki berlari memghampirinya.
“Minum,” katanya sambil terengah-engah. Peluhnya mengucur deras, poni rambut lurusnya sudah lepek, dadanya naik turun. Lesung pipinya terlukis jelas di pipi kirinya setiap kali dia menggerakkan otot sekitar mulutnya.
Berlian menyodorkan sebotol minuman bergambar Naruto kepada anak laki-laki itu. Suara tegukan terdengar jelas, dia bahkan mendongak, menghabiskannya dalam sekejap, membuat seorang anak laki-laki lainnya yang tiba-tiba mendatangi mereka memaki-maki.
“Sialan lo, Jo! Gue juga haus!” katanya sambil mengocok botol kosong itu lalu menunggingkannya karena penasaran.
Yang dipanggil Jo tertawa, mengambil botol itu dari tangan temannya, menutup botol itu lalu menyerahkannya kembali kepada Berlian yang tertawa mengikik mendengar obrolan mereka berdua. Tak lama kemudian keduanya memutar tubuh, kembali ke tengah lapangan.
Suara riuh tujuh orang anak laki-laki kembali ramai terdengar. Berlian masih tersenyum, menggambarkan sendiri bentuk keramaian itu di dalam angannya.
“Bee! Pulang yuk!” ajak Jo sambil berlari menghampiri Berlian. Hanya anak laki-laki itu yang memanggil namanya dengan panggilan Bee, ketika anak lainnya memanggil dirinya “Yan” atau “Lian”. Angin sudah tidak sekencang tadi, dan terik panas matahari di kota pinggiran Jakarta itu sudah tak sesengit kala penguasa siang menggaungkan kekuasaanya beberapa jam lalu. Kini semburat jingga merekah di ufuk barat.
Peluh anak-anak itu berlinangan di kening, pelipis dan pipi. Kilaunya terlihat, tatkala sisa pendar dari langit menerpa.
Berlian berdiri, lalu menepuk-nepuk rok panjang semata kakinya dengan tangan kanan. Mengepit botol kosong bergambar Naruto dengan lengan kirinya.
Tiba-tiba dirasakannya, sebelah kiri roknya juga terasa bergerak-gerak. Jo yang menggerakkan roknya, membersihkan dedaunan kering dan bunga yang rontok oleh hembusan angin. Dia tahu itu. Kebiasaan yang sudah melekat dalam ingatannya, sejak dulu.
Lalu Jo akan menggenggam tangan Berlian, mengarahkan langkahnya keluar dari lapangan, melalui lubang menganga di pagar kayu yang sudah terlihat lapuk. Jalan pintas tercepat untuk menuju rumah mereka.
“Nunduk!” seru Jo pada Berlian.
Berlian akan mengikuti setiap kata arahan Jo. Setelah itu dia hafal ke mana kakinya harus melangkah.
Dari arah berlawanan muncul sekelompok bocah, berumur tujuh-delapan tahun, mereka memandangi Berlian. Lalu mereka saling berbisik.
“Woi! Ada orang buta!” teriak salah satu dari mereka.
Yang lain tertawa.
“Orang butaaaa! Orang butaaaa!” ledek mereka.
Berlian menghentikan langkahnya. Dia tidak marah. Dia sudah sering mengalami ini, menjadi bahan tertawaan anak-anak kecil.
“APA KATA LO!?” Jonathan berteriak. Dilepaskannya genggaman tangan Berlian lalu dengan sekuat tenaga dia lari menghampiri anak-anak itu.
Mereka menghentikan tawanya dalam sekejab, lalu berbalik arah dan melarikan diri secepat mungkin.
“JO!” panggil Berlian.
Jonathan menghentikan kakinya mendengar panggilan Berlian. Ditatapnya bocah-bocah tengil yang sudah tampak jauh. Dadanya naik turun, tangannya mengepal keras. Dia membalikkan tubuhnya, kembali berlari menghampiri Berlian.
“Jo?” panggil Berlian.
Jonathan tidak menjawab,dia hanya mengambil lagi jemari Berlian dan digenggamnya erat.
Berlian tahu, Jonathan sedang kesal, tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Sudah beberapa kali terjadi hal seperti ini.
“Gimana tadi main bolanya?” tanya Berlian, berusaha mengalihkan perhatian Jonathan.
Jonathan menoleh, wajahnya yang basah oleh keringat mulai tersenyum.
“Seru lah!” jawabnya. Setitik keringat menetes dari pelipisnya,yang langsung disekanya dengan lengan bajunya.
“Aboy gimana hari ini?” pancing Berlian lagi.
“Tadi Aboy curang! Dia nge-gep aku! Tapi aku bales juga dia! Ha ha ha!” Jo bercerita, sambil mempraktekkan gerakan kaki menendang.
“Menang?” tanya Berlian, senyumannya masih mengembang lebar.
“Menang, dong! Aku striker-nya!” ucap Jo bangga.
Berlian bertepuk tangan. Sudah puluhan kali, tepuk tangan itu dilakukan, setiap kali Jo mengucapkan kemenangannya dengan nada bangga dan kepuasan, dan tidak ada yang bisa Berlian lakukan selain bertepuk tangan dan tersenyum lebar.
Tiba-tiba Jo berhenti melangkah.
“Sst! Jangan gerak, Bee!” Berlian diam, mengikuti perintah Jo.
“Ada apa?” bisik Berlian, pelan.
“Bentar.”
Lalu senyap tak ada suara.
“Ini.” Jo menarik tangan Berlian, membuka telapak tangan gadis itu, lalu meletakkan sesuatu di sana.
Berlian menganga, dia merasakan sesuatu bergerak di telapak tangannya.
“Jangkrik! Hahahaha,” teriak Jo sembari tertawa kencang.
“AHHH!” Berlian berteriak sambil mengibaskan tangannya kuat-kuat.
Jo terus tertawa.
“Hii! Sialannnn!” teriak Berlian sambil mengulurkan tangannya mencari Jo.
Jo masih tertawa.
“Itu jangkrik kesiangan, Bee…” candanya.
Berlian tersenyum, namun suara tawa Jo menggelitiknya. Dia tertawa lepas.
Jangkrik kesiangan….
Jo menghentikan tawanya, menggenggam tangan Berlian lagi, mengajaknya meneruskan perjalanan. Berbagai cerita lucu keluar dari mulut Jo, menirukan suara-suara binatang, membuat Berlian terkekeh, kemudian terbahak-bahak.
“Aku kemarin dihukum guru PPKN,” kata Jo sambil menyeringai.
“Kenapa?’
“Aku niruin suara dia kalau lagi ngajar. Begini…”
Jonathan memperagakan suara seorang laki-laki tua, entah sebenarnya mirip atau tidak, tapi itu membuat Berlian terkekeh tak henti-henti hingga air matanya mengalir keluar dari sudut mata. Tapi suara Jo benar-benar menjadi mirip seorang laki-laki setengah baya.
Ada saja yang diceritakan oleh Jo di sepanjang perjalanan dan semuanya membuat Berlian tertawa terbahak-bahak. Saat-saat yang sangat disukai oleh Berlian.
“Udah sampai. Masuk,” kata Jo, sambil meletakkan tangan Berlian di pagar rumah Berlian yang hanya setinggi bahu mereka.
“Udah tahu,” jawab Berlian sambil membuka pagar rumahnya, wajahnya merona kemerahan, bukan karena kepanasan tetapi karena baru beberapa detik yang lalu dia menghentikan gelaknya.
Lalu Berlian masuk ke dalam, dan seperti biasanya, Jo yang akan menutup pagar itu, setelah Berlian dilihatnya masuk ke dalam rumahnya.
Hanya beberapa langkah, Jo sudah masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Berlian bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah menyapa ibunya yang tengah berhadapan dengan laptop di ruang tamu mereka.
Berlian merasa senang, setelah bermain dengan Jo, dia selalu merasa gembira. Diraihnya handuk dan pakaian bersih dari dalam lemari, lalu dia beranjak pergi ke kamar mandi.
Tubuhnya telah merasa segar, dari pendengarannya dia tahu ibunya masih di ruang tengah, sibuk menyelesaikan pekerjaannya, suara ketikan keyboard. Berlian tidak mau mengganggu ibunya, dia masuk ke dalam kamarnya.
“Berlian, ada Anggit!”
Berlian terkesiap, tangannya yang memegang ponsel langsung meletakkan benda itu ke atas kasur. Menemui Anggit, sahabatnya, lebih menarik dari sekedar mendengarkan lagu-lagu kesayangannya.
Anggit sedang duduk di kursi teras rumah Berlian, dan Berlian dengan sigap langsung meletakkan bokongnya di kursi berbahan bambu itu.
Belum juga mereka mengucapkan sepatah kata, dari teras rumah sebelah—
rumah Jo—terdengar derai tawa dua orang anak. Berlian seyakin dirinya melihat dengan mata kepala sendiri, mereka adalah Jo dan Aboy. Suara dan tawa mereka sudah sangat dihafalnya.
“Udah terbukti, tim gue memang selalu menang, ya, kan?” Suara Jo.
“Halah, menang karena jimat,” Aboy terbahak. Suara Aboy.
Terdengar suara kursi bergeser, Berlian hanya menduga mereka saling bergelut. Suara tertawa Aboy terdengar lagi.
“Nah, lo sendiri tahu tim selalu menang karena selalu bawa Berlian ke lapangan, kan? Aneh.”
“Enak aja! Lihat dulu dong tendangan maut gue! Nih! Nih siapa berana nahan??” Jo menyanggah.
“Jangan-jangan lo demen sama dia, ngaku kan? Ngaku kan?” Aboy mendesak.
“Ahh… nggak lah. Gue kasian doang. Dia kan buta!” teriak Jo dengan nada kesal.
“Oh…Berlian…” ledek Aboy lagi.
“Ngapain suka sama cewek buta? Jelek lagi!” teriak Jo lagi, lalu menendang kaki Aboy sekeras mungkin.
Berlian mendengar semua itu, dia langsung berdiri dengan tangan terkepal. Anggit hanya bengong menatap Berlian yang tampak memerah wajahnya. Berlian berjalan dengan pasti, ke dekat pintu gerbang, meraba sebuah kran, memenuhi ember plastik kecil berwarna hitam di sana, mengisinya penuh.
“Halah… nih gue teriak ke Berlian sekarang ya?!” Aboy berteriak tak kalah keras.
“Gue nggak demen dia! Dia cuma cewek buta! Apaan sih?!” sangkal Jo, amarah bertambah.
Sebelum Aboy sempat menjawab, Berlian dengan berdiri di atas bangku di dekat tembok menuangkan ember berisi air itu melewati tembok pemisah rumah mereka.
Jo sempat melihat p****t ember dari ujung matanya lalu secepatnya berdiri, tetapi dia tidak bisa mengelak dari guyuran itu. Dia berbalik, matanya menatap ke atas, wajah merah padam yang disertai lengkungan cemberut di bibir Berlian.
“Aku benci kamu!” teriak Berlian kencang, sekencang debar di dalam dadanya yang menahan gejolak amarah.
Cih, siapa juga yang demen sama kamu???
***
Tahun 2015
Langit mulai redup, seolah kehabisan tenaga memberi sinarnya ke Bumi. Angin pun enggan bergerak. Tidak ada suara terdengar di lingkungan rumah itu, hanya suara tangis itu masih terdengar pilu. Berlian memeluk Anggit, menumpahkan segala dukanya di dalam pelukan sahabatnya itu.
“Udah… udah… sabar, Yan. Ibu udah tenang di dalam surga sana. Jangan sedih terus. Aku tinggal di sini beberapa hari, ok?” Anggit menghibur dengan menepuk-nepuk punggung Berlian yang berguncang keras. Mereka berdua duduk di kursi teras yang terbuat dari bambu.
Anggit menatap sekelilingnya, tikar yang tergelar untuk tempat duduk para pelayat belum juga dirapikan, baik yang di teras ini maupun yang di bagian dalam rumah. Gelas-gelas plastik bekas minuman masih tercecer di sana-sini. Tidak ada saudara yang datang, karena Berlian hidup sendiri, dengan ibu yang merupakan anak tunggal, kakek dan nenek juga sudah berpulang beberapa bulan yang lalu. Sedangkan keluarga ayahnya, entah berada di mana, hubungan mereka putus begitu ibunya membawa Berlian untuk hijrah ke Jakarta setahun setelah ayahnya pergi meninggalkan mereka berdua di kampung.
Anggit melepaskan pelukannya, lalu membiarkan gadis itu dengan kesedihannya. Dia mulai merapikan tikar yang terbentang di lantai garasi yang menyatu dengan teras itu. Ketika dia merasa susah untuk melipat selembar permadani besar, sebuah tangan mencengkeram lengannya. Anggit tercengang, namun dilepaskannya tangannya dari permadani itu, mengikuti bahasa isyarat yang diberikan padanya; tutup mulut.
Tanpa banyak bicara, Anggit mengendap masuk ke dalam rumah, membiarkan orang itu merapikan bagian teras.
Berlian menghapus air matanya.
“Gue nggak enak ngerepotin lo, Git. Suami lo gimana? Anak lo gimana?”
Hening tidak ada jawaban, hanya suara gesekan tikar yang didengarnya.
“Makasih, Git. Lo sahabat gue satu-satunya, nggak ada yang gue punya selain lo…” lanjut Berlian.
Suara gesekan tikar terhenti.
“Git?”
“Iya.”
Berlian memiringkan kepalanya. “Suara lo, serak. Kecapean ya?”
“Heeh.” Suara tikar dilipat dan kesibukan terdengar lagi.
“Gue pengen bilang, gimana hidup gue tanpa nyokap gue, tapi nyokap selalu ngomong ke gue, bahwa gue harus mandiri, bahwa gue harus selalu siap kalau hal ini terjadi. Waktu itu gue pikir gue siap, gue pasti bisa. Tapi… gue… gue rasa gue nggak siap, Git…” keluh Berlian. Tangisnya pecah lagi.
Tidak ada sahutan.
Berlian membiarkan dirinya tenggelam dalam tangisannya, hingga dia tidak menyadari Anggit sebenarnya baru keluar dari dalam rumah, membawakannya segelas teh panas. Sudah biasa bagi dirinya bermonolog seperti ini. Dia tidak mampu melihat, jadi bukankah wajar hal itu terjadi?
Tiba-tiba Berlian memiringkan kepalanya sedikit, seakan sedang memikirkan sesuatu, telinganya berusaha menangkap suara-suara lainnya sebelum dia mendengarkan suara gelas diletakkan di atas meja di sebelah kursi yang didudukinya. Dia tahu sahabatnya yang meletakkan itu. Namun suara lainnya…Berlian menegakkan kepala, meyakinkan dirinya sendiri tidak ada suara lainnya lagi.
Dia tidak pernah tahu, Anggit terlihat celingukan—seakan mencari-cari sesuatu—lalu berjalan ke depan untuk menutup pintu pagar yang sedari tadi terbuka.
@@@