Bab 1: Metro FM

4342 Kata
 Bangunan berlantai tujuh itu kelihatan lengang, sunyi, sepi, di lobinya pun hanya tampak beberapa orang berlalu lalang. Di lantai enam bangunan itu sedikit berbeda, ada suara musik mengalun di koridor lantai itu. Sebuah ruangan terlihat mencolok di antara kepungan tembok berwarna kuning pucat. Ruangan yang penuh dengan peralatan elektronik, studio radio. Bagian luar sisi ruangan itu terbuat dari kaca tebal, orang-orang yang hilir mudik di koridor lantai enam itu bisa melihat langsung kegiatan siarannya. “Selamat pagi Metrovers yang baru menyalakan radionya, ketemu lagi sama gue Jonathan Widiawan dan… Dito Putra, yang selalu siap nemenin pagi lo-lo semua dari tadi jam enam sampe nanti tepat jam sepuluh.” “Sekarang jam di ruangan kita nunjukin angka delapan lewat sepuluh menit, kita udah bersama-sama sekitar dua jam-an, masih banyak lagu yang bakal kita puterin buat lo,” sambung Dito. “Saat ini yang siap nemenin lo semua… Can’t Remember To Forget You, Shakira featuring Rihanna. Duet dua penyanyi seksi Shakira dan Rihanna. Masih inget lagu ini, kan?” tanya Jonathan dengan senyum lebar. “Eh, Jo, gimana pendengar nggak akan inget lagu ini? Dari kemaren lo setel lagu ini terus, emang apa sih yang sebenarnya lo harapin?” kata Dito, mendramatisir suaranya, menciptakan atmosfir menarik bagi pendengarnya. “Sstt… ini sebenarnya rahasia, liat di youtube, nggak?” tanya Jonathan dengan suara pelan. “Iye… gue lihat…” Suara Dito ikut berbisik. “Apa yang lo rasakan waktu ngeliat video clip-nya?” tanya Jonathan, sambil melirik pada Dito. “Ah… surga dunia, diapit dua cewek seksi….” Jawab Dito dengan bibir ditarik lebar dan mata berkedip-kedip. “Ah, lo pikiran jorok mulu. Bukan… maksud gue, motif spreinya bagus.” Dito tertawa kencang, terkena umpan yang dilempar oleh Jonathan. “Lo cuci tuh sprei, gue bareng dua penyanyi seksi itu aja.” “Lha, kok nyuci?” tanya Jonathan, dengan nada penuh tanya yang dibuat-buat. “Lo pikir spreinya bakal tetap bersih kalo gue ada di antara mereka berdua?” “Bini lo lagi dengerin noh!” seru Jonathan, menyambar Dito tergelak. “Aduh gue lupa. Maaf, Mi, ini kelakuan Jo, Mi… gue nggak bakal ngapa-ngapain kok Mi...” kata Dito dengan nada memelas. Keduanya lalu ngakak bersamaan. “Kita biarin aja Jonathan berkutat sama cucian spreinya, kita langsung dengerin lagu ini sambil nikmatin kemacetan Jakarta pagi hari ini. Metro FM…” “Sembilan puluh sembilan koma tiga, brighten up your day!” Jonathan mematikan microphone-nya. Lantunan lagu terdengar. Tuk! Suara ketukan di kaca jendela terdengar. Mereka berdua menoleh, produser acara mereka, Jarwo, berseru kencang. “Iklan setelah ini! Masuk dulu!” “Sip!” Jonathan menunjukkan tanda jempolnya. “Gue kemarin nge-futsal sama anak lantai bawah. Lo kenapa nggak pernah ikut lagi?” tanya Dito. Lagu barat itu masih mengalun ke seantero ruangan, dan ruangan lainnya juga di stasiun radio itu yang memiliki pengeras suara. “Gue sibuk. Ada proyek.” “Kerjaan baru?” Jonathan mengangguk. “Tapi nggak baru juga. Udah lama, cuma ada proyek di film yang baru.” Dito manggut-manggut sambil menatap laptop yang menyala di depannya. Tangannya sibuk membalas sapaan para penggemarnya di salah satu sosial media, sedangkan Jonathan sedang membolak-balik lembaran kertas acara dari produser mereka. Ketika lagu sudah hampir berakhir…. “Oh oh oh oh ohhhh I can’t remember to forget youuuu...” Jonathan mengikuti akhir lagu, sambil meletakkan kertas bertulisan “Monthly Planning”  di bagian atas kertas itu. “Masih bareng kita di sembilan puluh sembilan koma tiga… Metro FM….” “Brighten up your day!” sambung Dito. Di ujung kalimatnya, suara rekaman iklan yang dibacakan oleh mereka berdua kini terdengar. Dito melihat lagi laptopnya, lalu tersenyum lebar pada Jonathan. “Kartika… lihat komennya….” Jonathan menarik tubuhnya beserta kursi yang didudukinya mendekati Dito. Jonathan tersenyum seketika. “Jo… gue gemes deh sama lo. Bisa kita ketemuan?” Dito membaca komen yang dia maksud. Jonathan hanya tertawa, memperlihatkan sederet gigi rapi dan lesung dalam di pipi kirinya. “Ckckck, dia hampir tiap hari lho nggak pernah absen nanyain lo. Lihat bohay-nya….” Jonathan hanya tersenyum tipis. Iklan berakhir. “Kita udah dengerin lagu-lagu dari Top Chart 20 Metro Fm sejak tadi pagi, sekarang kita mau ngasi lo-lo semua acara yang udah pasti lo tunggu-tunggu dari tadi. Bener?? Ini dia! t***k-ngaso…!” “Tebak-Tebakan Ngasah  Otak!” Sambar Dito dengan nada setengah berteriak. “Hadiahnya apa, Dit?” “Seperangkat alat masak dibayar tunai!” Jonathan tertawa. “Salahhh! Yang benar hadiahnya adalah… lo-lo traktir kita!” “Salahhh! Jangan dengerin Jo teman-teman sekalian. Itu hoak! Yang nggak salah adalah nraktir gue doang!” Lalu keduanya tertawa. “Ok, ok, kita hentikan drama ini, hadiahnya masih sama kayak teka-teki minggu lalu, voucher belanja sebesar satu juta rupiah di pasar tradisional.” Dito ketawa, “Di supermarket!” “Ah ya, di Supermarket, selain itu ada merchandise spesial dari Metro FM. Sekarang siap-siap dengerin pertanyaannya…” “Mulai dari hitungan satu sampe seribu!” “Kebanyakan, Bro, bisa sampe besok kita ngitungnya!” sela Jonathan. “Baiklah Spongebob, kita hitung satu dua tiga!” kata Dito dengan sangat cepat. “Pertanyaan t***k-ngaso kali ini adalah…. Denger dan catet bener-bener. Ini dia…” Jonathan berhenti sejenak. “Jika duaribu limaratus tiga puluh enam adalah satu, maka duaribu limaratus tigapuluh tujuh adalah…” “Nah lo! Yang ngaku sarjana, dan ahli matematika, ayo ditunggu teleponnya di nol dua satu satu satu lima lima dua dua sembilan sembilan. Penelepon pertama bakal dapet kesempatan ngejawab. Penelepon kedua silakan gigit jari aja. Buat yang belum beruntung bisa nelepon ke sini, besarkanlah tawakal dan sabar. Jangan lupa, sebutin jawaban sama alasan lo ngejawab itu.” “Iya… iya… kita kasi clue-nya nggak nih?” tanya Dito. “Boleh, boleh, kita kan penyiar yang baik hati…” jawab Jonathan. Dito tertawa. “Clue-nya adalah… berpikirlah seperti anak kecil,” sambungnya. “Kalau masih kecil tapi pikirannya dewasa gimana?” “Ahhh Anda terlalu mengada-ada, Pak. Bisakah Anda tidak berisik karena penelepon kita udah masuk nih. Halooo?” kata Jonathan. “Bisa, bisa. Silakan Anda ber handai taulan…” “Handai taulan… susah nih kalau siaran sama yang udah lanjut usia…” ledek Jonathan. “Halooo pagi Jonathan… pagi Ditooo!” suara seorang wanita terdengar. “Pagi juga… Yulia…” sapa Dito sambil membaca informasi penelepon di layar laptopnya. “Yulia! Jawabannya apa Yul?” tanya Jonathan. “Ng… jawabannya adalah… delapan!” “Yakin ini jawaban yang bener, Yul? Kita langsung kunci nih jawaban.” Dito menggoda. “Yakin deh!” “Atas dasar apa lo menjawab delapan, Yul? Kita-kita pengen tahu dulu nih…” tanya Joanthan. “Apakah lo pake kalkulator? Apakah lo pake primbon?” Dito bertanya dengan nada suara berkesan misterius. Yulia tertawa tertahan. “Nggakkk, gue jawab delapan karena… itu adalah nomer kamar kosan gue….” “Yaaahhh!” Jonathan dan Dito teriak bersamaan, lalu terbahak. “Hadeh, gue pikir itu dapet dari semedi, atau paling nggak, lo ngitung-ngitung dulu kek di atas kertas!” kata Jonathan. Yulia tertawa lepas akhirnya di sana. “Kalian kan ngomong, clue-nya itu mikir kayak anak kecil, gue udah mikir cara gitu…” elak Yulia. “Tapi ya nggak selugu gitu lah kelesss,” jawab Dito. Keduanya terbahak lagi. “Ok deh, kita udah kunci jawaban Yulia dan kita liat jawabannya benar atau nggak,” kata Jonathan sambil mengusap ujung matanya yang berair.             “Yulia tadi ngejawab delapan. Apakah jawaban dia yang merupakan ide maksa itu benar??”             Tet Tot!                       Bunyi mirip terompet fals bergema di ruangan kaca itu.             “Anda belum beruntung Yuliaaa!” teriak Dito. Yulia juga berteriak kecewa.             “Makanya Yul, lain kali pake kalkulator ya. Jangan cuma mandangin nomer kamar. Besok coba lagi, ok?” kata Jonathan.             “Ogah.”             “Kenapa Yul?”             “Pulsa habis.”             Jonathan dan Dito tertawa lagi.             “Ok deh, Yul, thanks udah berpartisipasi! Ngomong-ngomong kamar lo nomer delapan, alamatnya di mana, Yul?”             “Gue di…”             “Jangannn Yul! Jangannn, kejebak lo sama Jonathan,” potong Dito cepat sambil tertawa.             “Ah, sirik aja lo, Dit. Okelah, kali ini gue nggak berhasil. Sttt… kirim message ke gue ya?” tawa Yulia terdengar semakin kencang mendengar canda mereka berdua.             “Bye bye Yuliaaaa,” teriak dua penyiar itu, dan sambungan telepon pun terputus.             “Kali ini hadiah belum berhasil direbut, kita simpenin dulu, besok bakal kita buka lagi line telepon untuk t***k-ngaso-nya. Stay tune always di Metro FM, sembilan puluh sembilan koma tiga…”             “Brighten up your day!”                                                    Dito mematikan microphone-nya, dan Jonathan langsung menyalakan lagu yang sudah mereka siapkan. It might seem crazy what I’m about to say Sunshine she’s here, you can take a break I’m a hot air balloon that could go to space With the air, like I don’t care baby by the way Jonathan berdiri, mengangkat tangannya ke atas, meregang. Sementara Dito langsung perhatian pada laptopnya lagi. Jonathan mulai bergerak, bergoyang mengikuti irama lagu yang menghentak, membuat jantungnya berdetak lebih kencang, pembuluh dara melebar, rona segar tampak di wajahnya  seiring senyum yang membingkai wajah tampan itu. Jeans berwarna biru langit terlihat serasi dengan kemeja sportif berwarna biru gelap dengan lengan kemeja tergulung hingga sikunya. Tubuh tingginya bergoyang, dari mulutnya terdengar lantunan lirik lagu yang dinamis itu. Gerakan kakinya lincah mengikuti beat lagu.     Because I’m happy Clap along if you feel like a room without a roof Because I’m happy Clap along if you feel like happiness is the truth Because I’m happy Clap along if you know what happiness is to you Because I’m happy Clap along if you feel like that’s what you wanna do               Dito memutar kursinya, melihat keluar melalui tembok kaca. Di sana ada tiga orang wanita muda sedang memandang Jonathan dengan wajah berseri-seri. Sebenarnya bukan wanita muda, mereka lebih terlihat seperti tiga orang siswi pelajar sekolah menengah ke atas. Mereka bisa mengganti baju mereka, tetapi gesture tubuh mereka yang masih dipenuhi darah muda, tidak bisa berbohong. Dito melambaikan tangannya, mereka bertiga membalas dengan mimik ceria. Salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu dari tas sandangnya yang besar. Sebuah gulungan kertas. Dia membuka kertas itu lalu menghadapkan tulisannya ke arah studio.             WE LOVE YA, JONATHAN! “Fans lo, Jo,” kata Dito sambil menunjuk dengan dagunya. Jonathan memutar tubuhnya, masih dengan gerakan disko-nya. Dia sedikit membungkuk lalu tersenyum lebar sembari mengedipkan sebelah matanya pada mereka. KYAAA! Suara jeritan mereka seolah menembus dinding kaca pemisah itu. Dua orang dari mereka memegang pipi mereka masing-masing dengan mata terbelalak lebar. Sedangkan satu orang lagi melompat-lompat sambil berteriak histeris. JONATHANNN! Jonathan tersenyum, membalikkan badannya lalu duduk di kursinya kembali tepat pada saat lagu selesai. “Masih bersama kita di sembilan puluh sembilan koma tiga, Metro Fm, Happy-nya Pharrell Williams baru saja lo dengerin. Saat ini di studio, kita kedatangan tiga orang cewek cantik…” KYAAAA! Jeritan histeris kembali terdengar dari luar. Jonathan menoleh, melambaikan tangan lagi pada mereka dan tersenyum lebar. “… yang ikut nyimak siaran pagi ini dari luar ruangan kita,” kata Jonathan. “Selanjutnya…” Kedua penyiar itu terus melanjutkan siaran mereka, bertik-tok satu sama lain, saling menyela, saling mengejek, lalu tertawa bersama menghibur semua pendengar.   ***   Udara menyelinap dari kisi-kisi di atas jendela rumah, mengisi ruangan yang tidak begitu padat oleh perabotan. Berlian masih tampak tekun di depan laptopnya. Headsetnya terpasang di telinganya. Mendengarkan aplikasi screen reader JAWS1  membacakan segala tulisan yang terlihat di layar monitor laptopnya. Dia menggerakkan kursor ke arah penunjuk waktu, mendengarkan jam berapa saat ini, lalu mulai menutup semua aplikasi yang dia buka. Kursor mengarah ke pojok kanan atas layar. “Closed.” Suara JAWS terdengar, Berlian menekan tombol berwarna merah dan bergambar tanda silang. “Do you want to save changes you made to “Novel”?” Program JAWS membacakan dialog box yang terbuka. Ketika Berlian menggeser kursornya sedikit ke bawah, terdengar suara lagi. “Save” “Don’t save” “Cancel” Berlian memilih tombol save. Dia menutup seluruh aplikasiyang terbuka, lalu mematikan laptopnya itu.  Menutup laptopnya kemudian berdiri membawanya masuk ke dalam kamarnya dengan langkah perlahan. Hampir seumur hidupnya dia berada di rumah ini. Berjalan tanpa tongkat pintarnya di dalam rumah sudah menjadi keahliannya.  Dia meletakkan laptopnya dengan hati-hati di atas meja yang ada di sudut kamarnya, lalu menghampiri lemari bajunya, menyentuh satu persatu blus yang tergantung rapi di sana. Mengenali modelnya dari sentuhan tangannya. Kemudian tangannya merogoh bagian tersembunyi di sisi dalam blus, merasakan sehelai benang yang dia jahitkan di sana. Benang wol tebal, berarti warna blus yang dia pegang adalah hijau. Tangannya berpindah ke rak di sisi lain lemari. Tumpukan celana panjang ada di sana. Dia meraba kain celananya, dan menarik salah satu dengan hati-hati, merogoh bagian belakang celana itu, ada benang wol juga sebanyak dua lembar, warna celana yang sedang dipegangnya adalah hitam. Dia meletakkan celana panjang itu di atas ranjang, berdampingan dengan blus yang tadi dipilihnya. Kata Anggit sewaktu dia menunjukkan baju yang baru dibelinya melalui foto, kombinasi hitam dan hijau adalah aman. Nggak nabrak, Yan. Itu kata Anggit. Anggit menjadi fashion stylist dadakan bagi Berlian, sejak mereka masih kecil. Anggit akan mematutkan baju Berlian, memberi tahu warnanya, dan Berlian akan mengikatkan tali dengan berbagai ketebalan atau bentuk yang berbeda sebagai tanda pengenal. Dia menghafal semuanya itu.   Setelah berganti baju, dia mengambil lipstik yang ada di mejanya, sebuah lipstik berwarna pink lembut transparan. Anggit yang memberikan itu padanya. Mirip lipgloss tapi memiliki warna. Dia mencolek ujung lipstik itu dengan ujung kelingkingnya, lalu memulasnya rata pada bibirnya. Merasakan sentuhan jari di bibirnya agar rata dan tidak keluar dari garis bibir, berusaha serapi mungkin. Dia tersenyum puas, sembari membersihkan sisa lipstik di ujung jarinya dengan menggunakan tissu.             Biarpun buta, Berlian ingin tampil seperti layaknya seorang wanita normal. Menjaga penampilan sebaik dan serapi mungkin. Dia tidak mau kekurangan fisiknya itu menjadi alasan tidak bisa berprestasi dan menjadi orang yang berguna. Ini yang selalu ditanamkan oleh ibunya sejak dia masih kecil. Mengerjakan segalanya sendiri dan menjadi manusia yang mandiri. Tidak mengandalkan bantuan orang lain dan berkarya sebaik mungkin, di bidang yang dia senangi.             Menjadi orang buta bukan pilihannya. Dia tidak pernah meminta dilahirkan sebagai orang buta. Garis hidupnya yang telah membawanya seperti ini, takdir yang harus dijalaninya. Hanya ada satu tombol yang ada di hadapannya, maju ke depan. Berlian keluar dari kamarnya, dengan sebuah tongkat pintar di tangannya. Dia menyampirkan sebuah tas berwarna cokelat tua di bahu kirinya. Rambut panjang di bawah pundak dibiarkannya terurai. Dia menutup pintu rumahnya, berjalan cepat keluar, lalu mengunci pintu pagarnya. Dengan langkah pasti dia berjalan menuju jalan besar, sekitar tigapuluh meter dari rumahnya yang ada di komplek perumahan di daerah Jakarta Barat.  Dia melangkah dengan pasti di sepanjang trotoar, lalu berhenti di sebuah halte. Telinganya bersiaga. Berbagai suara didengarnya, percakapan dua orang wanita, suara plastik yang terseret oleh entah apa pun, bahkan derap kaki yang menjauh atau mendekat terdengar begitu jelas baginya. Ketika sebuah teriakan terdengar dari kejauhan menyebutkan nama daerah yang ditujunya, dia melambaikan tangan, menghentikan bus itu. Berlian dengan sigap menaiki bus, namun tiba-tiba seseorang terasa menyikutnya, mendahuluinya dengan terburu-buru. Berlian hanya diam, menunggu siapa pun itu, berlalu. “Belakang, Neng! Belakang terus!” teriak kondektur bus, nyaring, mengalahkan deru mesin kendaraan. Berlian berjalan terus ke bagian belakang mengikuti petunjuk kondektor, mencoba mengandalkan instingnya untuk menemukan kursi kosong untuk dirinya. “Kanan, Neng! Kosong!” teriak kondektur, sekali lagi membantu Berlian. Berlian menoleh dan mengangguk kecil, seulas senyum terbentuk di bibirnya. Berlian menggapai sandaran kursi, menyeimbangkan tubuhnya, lalu mengempaskan tubuhnya di kursi. Berlian terus mengarahkan wajahnya ke depan, walaupun perasaannya mengatakan seseorang di sebelahnya sedang mengamati dirinya. Dia memutar-mutar sebuah gelang berwarna perak, peninggalan almarhumah ibunya, seakan perbuatan itu mampu menenangkan dirinya. Sekitar tigapuluh lima menit bis melaju tenang, sesekali berhenti di tiap halte sepanjang jalan. Lamunannya melayang, di antara kegelapan yang pekat. Di antara suara bising hutan belantara riuh kendaraan ibukota. Mengendap memasuki area terdalam di pikirannya, dia tersenyum pada sesuatu yang hanya ada di pikirannya sendiri. “Mallll! Yang turun di Mall! Siap-siap!”  Teriakan kondektur memecah alam khayalnya, seperti toa tepat di telinganya. Berlian berdiri, dia sudah cukup mahir untuk tetap tegak berdiri ketika bus masih berjalan. Ucapan permisi keluar dari mulutnya ketika dirasakannya ada yang menghalangi jalannya. Berlian menuruni pijakan kaki pintu keluar bus, hawa panas pagi menjelang siang kota Jakarta langsung menyerang tubuhnya. Dia bergegas, menuju bangunan tiga lantai yang berada di sebelah Mall. “Pagi!” sapa Berlian ketika dia memasuki ruangan terdepan bangunan itu. Ruangan resepsionis. “Pagi Mbak Berlian,” jawab seorang wanita, tetap tersenyum  walaupun dia tahu Berlian tidak akan melihat senyumannya. “Anak-anak udah datang?” “Udah Mbak, kecuali Azrul, orangtuanya tadi nelepon, Azrul sakit campak.” “Ya ampun! Nanti aku telepon orangtuanya deh.” “O ya, tadi ada yang nyari Mbak Berlian. Aku kasih nomer hape Mbak, nggak apa-apa kan? Katanya tentang les privat.” Berlian mengerutkan keningnya. Les privat? “Nggak apa-apa Mbak Ruth,” katanya kemudian. Berlian tersenyum, lalu meninggalkan ruang resepsionis, menuju ruangan lainnya, di mana telinganya sudah mendengar suara anak-anak yang sedang mengobrol. “Good afternoon!” sapa Berlian begitu memasuki ruang kelas tempat dia mengajar. “Good afternoon, Miss!” Delapan orang anak kecil berusia sepuluh hingga dua belas tahun menjawab dengan lantang. Berlian meletakkan bukunya di mejanya. Dia maju ke depan, mendengarkan setiap suara yang dikeluarkan oleh murid-muridnya. “Kita mau melanjutkan pelajaran kemarin. Tentangggg?” tanya Berlian lantang. “Simple Present Tense, Miss!” jawab mereka dengan antusias. “Bagus. Sekarang keluarkan buku panduan dan reglet2 kalian.” Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras, berulang-ulang, dalam ritme yang sama. Berlian tersenyum, dia mengenali bunyi itu. Ulah Ferdi. Salah satu anak didiknya yang memiliki  kelainan autis.  Berlian menghampiri anak itu, menyentuh lengan Ferdi perlahan. Bunyi ketukan yang berasal dari stylus3 yang dipukul-pukulkan ke meja berhenti. Ferdi meletakkan stylus-nya. “Wah, hari ini ketukan kamu nyaring banget suaranya,” kata Berlian menyerupai pujian sambil berlutut di samping Ferdi. Yang diajak berbicara menoleh ke arah berlawanan, seakan enggan untuk menoleh pada Berlian. Lalu tangannya bergerak-gerak lagi, memukul-mukul meja dengan jari-jarinya, tubuhnya bergerak ke depan dan belakang. “Kamu pasti sedang senang hari ini ya… coba mana kertas dan reglet kamu….” Berlian merogoh ke dalam tas yang digantung di bagian belakang kursi. Ferdi terus-menerus mengetuk. Berlian menarik lembut tangan Ferdi untuk memegang kertas dan reglet di depannya, anak itu menghentikan gerakan jemarinya, namun tubuhnya masih bergoyang-goyang ke depan dan belakang. “Kita mulai belajarnya ya? Minggu lalu kamu dapat nilai seratus di tes grammar lho, hari ini kamu mau dapat nilai bagus lagi?” kata Berlian berusaha memancing perhatian anak berusia duabelas tahun itu. “Mau?” ulang Berlian, masih dengan nada lembut. Ferdi menghentikan gerakan tubuhnya, lalu mengangguk, berkali-kali. Berlian berdiri, menyentuh kepala anak itu sekilas, lalu kembali ke depan kelas. Ferdi berhenti mengangguk, kini tangannya bergerak-gerak seakan sedang melakukan sesuatu di dunia yang dia ciptakan sendiri. Lalu untuk sejam berikutnya, kelas menjadi atraktif dengan tanya jawab yang intens antara guru dan murid.  Berlian sangat bahagia, perkembangan belajar anak didiknya bagus. Dan Ferdi, biarpun dia seolah selalu berada di dalam dunianya sendiri, masih bisa mengikuti pelajarannya dengan sangat baik. Kemampuan berbahasa anak itu adalah pemberian luar biasa Sang Pencipta kepada Ferdi. Dari orangtua Ferdi, Berlian mengetahui, selain bahasa Inggris, Ferdi juga mulai menguasai bahasa lisan Perancis dan Jerman.  Waktu berlalu cepat, masa mengajarnya sudah selesai. Anak-anak di dalam ruangan itu, layaknya anak-anak biasanya, langsung berhamburan keluar kelas. Suara gelak tawa masih terdengar. Berlian mengumpulkan kertas hasil tes murid-muridnya, mencari kertas bertuliskan nama Ferdi, lalu mulai membaca jawaban-jawaban tes yang ditulis di sana. Senyum di bibirnya tersungging, hari ini Ferdi menunjukkan prestasinya lagi. Berlian mengumpulkan semua berkasnya, mendekapnya di d**a, lalu keluar ruangan kelas, menuju ruangan khusus staf yayasan. Dia menghampiri mejanya sendiri. Hanya tiga-empat orang di dalam ruangan itu, beberapa orang lainnya sedang bertugas di luar kantor atau mengajar. Mereka yang di dalam ruangan sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing, tidak menghiraukan kehadiran Berlian sebagai satu-satunya guru pengajar yang memiliki d*********s. Tangan Berlian menggapai ke pojok depan sebelah kanan mejanya, mengambil segelas air putih yang sudah disediakan baginya. Dia meneguknya, lalu meletakkan gelasnya di atas meja. Wajahnya menampakkan senyuman, senyum yang selalu mengembang setiap kali dia selesai mengajar. Ulah anak-anak didiknya menjadi hiburan tersendiri di dalam hidupnya. Mengajar sudah menjadi bagian dari dirinya. Dia menegakkan punggungnya ke sandaran kursi, menekan bagian belakang tubuhnya, lalu menggeliat. Dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, lalu membelai foto yang ada di sana, foto sepasang suami-istri dengan seorang bayi mungil dalam gendongan sang ayah. Foto kedua orangtuanya.  Jarinya terus membelai foto itu. Simpan foto ini, Berlian. Foto ayah, ibu dan kamu, saat masih kecil. Tapi Elli nggak bisa liat fotonya, Bu. Nggak perlu mata untuk melihat itu, cukup dengan hati kamu. Rrrtt! Berlian menghentikan gerakan tangannya lalu mengambil ponsel yang berbunyi dari dalam tasnya. “Halo?” “Halo… dengan Ibu Berlian?” Suara cempreng terdengar, suara yang mirip suara mencicit. “Iya, saya sendiri. Ini siapa?” “Perkenalkan, saya Saka… Saya penulis novel. Saya ingin les privat tulisan braille hanya untuk kepentingan penulisan novel saya, sekedar pendalaman karakter tokoh untuk novel yang sedang saya tulis, bisa?” Berlian terdiam sejenak. Dia belum pernah memberikan les privat selama ini.  “Bisa,” jawabnya setelah mempertimbangkan banyak hal, “tapi waktu saya terbatas.” “Nggak apa-apa, Ibu, saya bisa menyesuaikan kok. Kapan bisa mulai?” “Saya atur jadwal saya ya, Pak. Nanti saya kasih kabar.” “Baik, Bu.” Telepon ditutup. Ada senyum terlukis di sudut bibir Berlian. Tangannya meraih foto dalam dompetnya lagi, mengelusnya lalu memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas. Namun dia lupa, dia menyenggol gelas yang masih berisi sedikit air minumnya. Air membasahi mejanya, dompetnya, dia cepat-cepat mengangkat dompetnya itu. Berlian mengambil sekotak tisu dari lacinya, lalu mengeringkan dompetnya dengan hati-hati. Kemudian dia merapikan gelasnya lagi, bersyukur tidak ada kertas bertebaran di atas mejanya. Dia mengambil ponsel-nya, memasang perangkat headset ke telinganya, mencari nama Azrul di sana.   ***   Laki-laki itu menutup teleponnya dengan senyum merekah. Ditatapnya kantong belanja terbuat dari kertas di kursi penumpang di sebelahnya, beberapa kardus berukuran kecil terlihat di dalamnya. Senyumnya kian melebar. Dia keluar dari mobil sedan miliknya yang diparkir di halaman luas sebuah rumah berukuran besar. Angin sore menerpanya sepoi-sepoi. Dengan langkah tegap dia berjalan menghampiri pintu depan rumah yang terlihat megah. Di dinding bagian teras rumah itu terpasang nama : Eureka Production House. Dia berjalan cepat, memberikan senyum pada seorang office boy yang sedang berjaga di meja depan, lalu langsung memasuki sebuah ruangan di bagian dalam rumah itu. “Ethan! Tumben lo telat, ke mana aja sih? Hik,” sapa seorang pria dengan jalan yang melambai, wajah terlihat lebih putih dari lehernya karena bedak, dan bibir mengkilat karena pelembab bibir. Tubuhnya berbalut kaos ketat dan celana jeans body fit. Suara hik cegukan terdengar beberapa kali kemudian. Ethan duduk di salah satu sofa di sana, dan pria yang baru saja menyapanya itu, ikut mengempaskan dirinya ke sebelah Ethan, lalu mengelus lengan kekar Ethan yang putih bersih. Brak! Pintu ruangan terbuka. Ethan menggeser lengannya dengan cepat. Sebuah suara terdengar. “Hei Win! Ethan udah da…” kalimatnya terputus, begitu matanya melihat orang yang dicarinya ada di hadapannya. “Giliran lo,” katanya pada Ethan. “Hik. Parah lo Surya, nggak bisa lihat orang senang…” kata Darwin cemberut sambil mengerutkan bibirnya maju ke depan. Bola matanya diputar-putar di balik kacamatanya yang berbingkai hitam. Ethan langsung berdiri, tidak menghiraukan tingkah Darwin—salah satu pemilik studio tempatnya bekerja ini. Dia langsung mengikuti langkah orang yang  dipanggil Surya itu.  “Bentar lagi kita mulai,” kata Surya sambil mendorong pelan pintu suatu ruangan. “Hai Than, buruan. Ini naskah lo. Lanjutin yang kemarin,” kata seorang laki-laki yang duduk di belakang control panel. Ethan meraih sebundel naskah. Dia membuka lembaran pertama naskah yang dipegangnya lalu mengerutkan keningnya. “Kenapa, lo? Nggak bisa kebaca? Tulisannya kekecilan?” “Enak aja, mata gue sehat, nggak ada minus apalagi plus silinder. Lo yang lagi sakit ingatan kali, ini kan naskah film yang udah di-dubbing bulan lalu Fer,” kata Ethan sambil nyengir, melempar naskah di tangannya ke pangkuan Ferry. Surya tertawa. Ferry mengambil naskah itu, lalu menepuk dahinya dengan dua jari. Dia memutar kursinya, bergeser mendekat ke sebuah lemari kecil, kemudian membuka lacinya dan mengambil sebundel naskah lainnya. Dia membaca tulisan yang ada di depan, lalu menyerahkannya pada Ethan.  Crazy Little Thing Called Love, tulisan yang tertera di halaman terdepan. Ethan  dan Surya memasuki ruang dubbing, ada seorang wanita yang langsung tersenyum melihat Ethan. “Gue pikir lo absen, Than.” “Nggak lah Liv, tadi ada keperluan dikit.” Livia tersenyum tipis, dan langsung menunduk, membaca naskah yang sedang dipegangnya.  Ethan melihat ke layar televisi yang ada di hadapannya. Surya memberi kode dengan jarinya, tiga… dua… satu…! Ethan membaca cepat naskah di tangannya, lalu matanya melihat ke layar kaca. “Nam… sedang apa kau di sini?” Suara Ethan mendadak berubah, menjadi lebih lembut, terdengar sebagai seorang laki-laki yang masih berusia muda. Sesuai dengan karakter yang terlihat di film yang sedang diputar itu. “Kak Shone… aku…” Livia menjawab sebagai lawan main Ethan. Sekitar satu jam proses dubbing mereka lakukan, beberapa scene terpaksa harus diulang , karena lupa teks atau intonasi suara yang tidak sesuai dengan tuntutan skenario. Setelah proses dubbing selesai, dia menemui manajer PH, yang menawarkan pekerjaaan dubbing  terbaru, tiga film keluaran Thailand lagi, sama seperti yang tengah dia kerjakan. Dia akan sangat sibuk beberapa minggu ke depan. Langit sudah menunjukkan warna senja ketika Ethan keluar dari Production House itu. Ethan menyalakan mobilnya, melirik sekilas lagi bungkusan di tempat duduk sebelahnya, senyum terukir di bibirnya yang indah.   ***   Hmm… aku ingat itu. Aku ingat sekarang…. Seorang pria berumur lima puluhan, berpenampilan kusam, berada di seberang sebuah rumah. Dia sedang menatap seorang gadis yang sedang membuka pintu gerbang. Seringai liciknya tercipta begitu cepat. Matanya menyipit. Kepalanya mengangguk-angguk, merasa puas  dengan apa pun yang  ada di dalam pikirannya. Dia membuang puntung rokok yang baranya sudah mencapai bagian filter, menginjaknya berkali-kali, lalu pergi menjauh dengan seribu rencana yang disusunnya sejak pertama kali dia melihat gadis itu di atas bus. Tidak mungkin salah lagi. Itu pasti dia! Dia memiliki benda itu!  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN