Berlian sedang duduk di sofa ruang tamu, dia mendengarkan suara di headset-nya. Suara itu menyebutkan jam masih menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantornya pada hari Sabtu libur seperti ini. Ada pekerjaan tambahan dari Pak Munir, kepala Yayasan, tentang rencana yayasan untuk mengadakan lomba karya tulis berupa cerpen—cerita pendek—khusus penyandang tunanetra dalam rangka memeriahkan ulang tahun yayasan. Tahun lalu yayasan mengadakan acara bakti sosial ke panti-panti asuhan, dengan pertunjukan kesenian oleh anak-anak penyandang d*********s itu.
Dia membuka aplikasi SMS lalu mengetik dengan cepat :
Ø Pak Saka, maaf lama ngasi kabarnya. Saya hanya bisa ngasi les privat hari Selasa dan Jumat. Jam empat sore sampai jam lima sore. Seminggu lagi. Minggu ini saya belum bisa.
Tidak lama kemudian balasan masuk.
Ø Nggak apa-apa Bu. Ini alamat saya…
Berlian mendengarkan alamat yang ditulis oleh Saka, dan merasa bersyukur ternyata
masih di dalam kota Jakarta, Jakarta Utara.
Ø Berapa biaya lesnya?
Pesan dari Saka masuk lagi. Berlian mengetikkan sederet angka setelah dia memikirkan dalam-dalam. Dia sudah bertanya kepada beberapa teman dan kepala sekolah di yayasan Mitra Kasih yang mendukungnya seratus persen agar Berlian mengambil kesempatan itu. Balasan dari Saka membuatnya tersenyum, tidak ada keberatan atas angka yang telah disebut olehnya.
Ø Baik, sampai jumpa hari Selasa minggu depan, Bu Berlian.
Jari lentik Berlian mengetik kalimat “iya, sampai jumpa hari Selasa depan” , menekan tombol “send” lalu dia menekan tanda jam lagi. Sudah tepat pukul sembilan pagi.
Dia masuk ke dalam kamar, mengeluarkan foto dari dalam dompetnya, hanya mengikuti instingnya, agar foto satu-satunya peninggalan ibunya itu tidak rusak. Dia takut bertindak ceroboh lagi seperti saat dia menyenggol gelas yang membuat dompetnya basah. Dengan berhati-hati dia memasukkan foto itu ke dalam laci lemari bajunya.
Berlian memasukkan dompetnya lagi ke dalam tas, lalu berjalan keluar rumah. Dia terdiam ketika mendengar bunyi derit pagar dari sebelah rumahnya. Dia berusaha mengacuhkan bunyi yang didengarnya itu. Tangannya meraih gembok yang terkait di jeruji pagarnya, namun tiba-tiba gembok itu lolos dari tangannya, lalu terjatuh.
Berlian berjongkok, dia berusaha mencari gembok itu.
“Ini Bee.”
Berlian berdiri.
Suara lembut itu. Suara yang sudah lama sekali tidak didengarnya secara sengaja seperti ini.
Berlian mengambil gembok yang didekatkan ke tangannya.
“Makasih.” Berlian menjawab dengan nada datar.
“Kok tumben Sabtu keluar?”
Berlian diam, dia berpikir sejenak, bagaimana bisa Jonathan tahu kebiasaan dia.
“Ada kerjaan,” jawabnya singkat.
“Pulang malem?”
Apa peduli lo?
Rangkaian kata bernada sarkasme sudah berada di ujung lidahnya, tapi akhirnya dia telan sendiri.
“Nggak, paling jam empat-an.”
Jonathan diam sejenak.
“Sini, gue bantu.” Jonathan berusaha mengambil gembok di tangan Berlian.
“Nggak usah. Gue bisa sendiri,” jawab Berlian masih dengan nada dingin, tangannya menggenggam erat gembok besar itu, seakan takut Jonathan akan merebutnya.
“Ya udah. Gue pergi,” kata Jonathan. Langkahnya terdengar menjauh, suara gerbang berderit kembali terdengar, Jonathan sedang menutup pintu pagarnya, lalu bunyi pintu mobil dibanting terdengar juga di telinga Berlian.
Berlian menghembuskan napas yang sedari tadi secara tidak sadar ditahannya. Wangi parfum beraroma Citrus segar menerpa indra penciumannya. Wangi segar khas Jonathan, yang sesekali tercium olehnya, di beberapa kesempatan yang tidak pernah disengaja.
Berlian kembali melanjutkan menggembok pagarnya, menyimpan kunci rumahnya hati-hati ke dalam tasnya. Dia terdiam lagi, mendengarkan suara mobil Jonathan yang semakin menjauh, kemudian menghilang.
Dia menyusuri jalan yang sama, jalan yang setiap hari dilaluinya.
Suara motor terdengar di belakangnya.
“Ojek, Neng?” tanya seorang pria.
Berlian berhenti, tersenyum pada tukang ojek yang menyapanya.
“Nggak, terima kasih, Pak. Deket doang,” jawab Berlian sambil meneruskan perjalanannya. Halte bis sudah dekat, hanya beberapa meter lagi.
“Tunggu!”
Berlian menghentikan langkahnya.
“Manggil saya?” tanya Berlian sambil menoleh ke asal suara itu.
“Iya, saya…”
Ucapan tukang ojek itu terpotong oleh teriakan kondektur bis yang biasa dinaiki oleh Berlian.
“Maaf, bis saya sudah datang. Maaf,” kata Berlian buru-buru.
Berlian bergegas, meninggalkan tukang ojek yang menatap Berlian dengan senyum dan binar mata licik. Kedutan karena gangguan syaraf di pipinya terlihat, menambah keseraman di wajahnya yang terlihat berantakan. Rambut ikal panjangnya ditumbuhi beberapa helai uban, di antara rambut yang terlihat berminyak dan kusut.
Matanya memandang Berlian, hingga bis yang dinaiki gadis itu berlalu dan menghilang dari pandangannya.
***
“Halo, iya, Ma, iya sebentar lagi siaran. Papa mama sehat?” kata Jonathan mendengar suara ibunya di ponsel.
“Mama Papa sehat, kapan ke Pontianak? Mama kangen,” kata mamanya.
Jonathan tersenyum, terakhir kali dia ke rumah orangtuanya di Pontianak tahun lalu.
“Nantilah, Ma, masih sibuk,” jawab Jonathan.
“Kamu itu…bawa calon istrimu, kenalkan ke Papa Mama.”
Jonathan tertawa, setiap kali bahasan itu tidak pernah terlewat.
“Tenang, Ma, siap-siap aja pokoknya,” kata Jonathan dengan nada bercanda.
Lima menit berikutnya ibunya sibuk menginterogasi anaknya. Baru kali ini anaknya memberi jawaban berbeda. Biasanya: “Ah tar lah, Ma.”
“Aku siaran dulu, love you, Ma,” kata Jonathan.
Dia bergegas masuk ke dalam ruang siaran, melihat aba-aba mulai.
“Masih bareng kita di Metro FM, sembilan puluh sembilan koma tiga…”
“Brighten up your day! Satu-satunya radio yang selalu ngasih kalian lagu-lagu yang akrab di telinga.”
“Worth It, satu lagu ber-beat cepat, karya perdana Fifth Harmony baru aja kita dengerin di siang hari Sabtu ini. Biar hari lo menjelang malam mingguan ini tambah semangat. Tul nggak, Dit?’ kata Jonathan sambil melihat laptopnya, bibirnya tersenyum, mencetak lesung pipinya dengan jelas.
“Benar banget! Kemana acara lo Jo? Apakah ke lapangan dekat rumah buat mandangin bintang nun jauh di sana? Apa lo mau ke lokalisasi?”
Jonathan terbahak.
“Anda menjatuhkan nama baik saya, saudara Dito. Lokalisasi? Yang mana dulu, tidak semuanya saya kunjungi,” sanggah Jonathan yang malah memperparah joke yang dilempar oleh Dito.
Keduanya tergelak.
“Lupakan tentang lokalisasi, itu kurang baik nampaknya. Lebih baik kita balik lagi ke tangga lagu Indonesia Metro FM. Yang masih bertengger di urutan sepuluh, Kunto Aji dengan Terlalu Lama Sendiri-nya.”
“Kita akan puterin lagu ini buat lo-lo yang masih setia bareng kita di siang terik yang panas ini. Sayang banget hari ini Sabtu, t***k-ngaso sementara libur ya, nanti Senin kita mulai lagi,” sambung Dito.
“Line telepon kita masih terbuka buat sesi curhat jomblo nanggung—bagi derita lo bersama kita.”
“Kita bakal nemenin lo untuk sejam ke depan, entar gantian siaran sama Bang Nazir Jacko Garut Indah, di siaran lagu-lagu Manca Asia.”
“Udah, nggak berpanjang-panjang lagi, dengerin aja lagunya Kunto ini, pas banget sebagai soundtrack para jombloers sejati. Terlalu Lama Sendiri. Metro FM…”
“Brighten up your day!”
Jonathan mematikan microphone-nya. Lagu pun terlantun indah.
Kedua penyiar itu terlihat saling bercanda, ketika lagu selesai, keduanya melanjutkan tugas mereka.
Tepat sejam kemudian, pekerjaan mereka mengisi empat jam siaran di siang hari Sabtu selesai.
Mereka keluar dari ruang siaran, Jonathan menggeliat dan menguap lebar.
“Ke mana?” tanya Dito.
“Nge-gym, terus pulang. Kenapa?”
“Wuih, kirain mau berduaan sama Cathy.”
Jonathan tersenyum, dia masih meregangkan kedua lengannya ke atas. Dito memberi kode lambaian tangan lalu langsung keluar menuju lift.
“Jo!”
Sebuah teriakan dari ruangan di sisi kirinya mengejutkannya.
Jonathan membetulkan posisi tas laptop yang disandangnya, lalu menghampiri orang yang memanggilnya itu. Sekretaris Bosnya, seorang wanita awal tigapuluhan.
“Iya, Mbak?”
“Dipanggil Bapak,” jawab Arum sembari membuka lebar pintu ruangan.
Jonathan masuk ke dalam. Awan, Bosnya, pemilik stasiun radio tempat dia mencari nafkah selama ini tersenyum padanya.
“Duduk dulu, Jo.” Awan menyodorkan selembar kertas—terlihat seperti sebuah cek, kepada sekretarisnya.
“Untuk yayasan tunanetra yang biasanya, Pak?”
“Iya, tolong kasih tau mereka, kegiatan apa pun yang mereka butuh sponsor, radio kita akan mendukung mereka.”
“Baik, Pak.” Sekretaris itu meninggalkan ruangan Awan, menutup pintu lagi dengan rapat.
Jonathan menatap Awan yang masih terlihat sibuk membuka lembaran kertas di hadapannya. Sebuah suara terdengar dari belakang Jonathan duduk. Dia menoleh, matanya bertubrukan dengan seorang gadis cantik–-gadis muda—yang tengah duduk di sofa pojok ruangan.
Gadis itu menegakkan tubuhnya setelah melihat Jonathan. Seorang gadis yang terlihat sangat modis, dengan rambut hitam panjang terurai indah. Jonathan melirik gadis itu sekali lagi, yang masih tanpa malu-malu memperhatikan Jonathan dari atas ke bawah.
Awan mengangkat wajahnya setelah menyingkirkan tumpukan kertas yang tadi menyita perhatiannya. Awan tersenyum melihat gelagat gadis itu.
“Kenalkan, ini putri saya, baru pulang dari Singapura. Baru lulus SMA, maunya melanjutkan kuliah di sini dia,” kata Awan menjelaskan.
Gadis itu berdiri, ”Sonya. Permata Sonya.” Dia mengulurkan tangannya kepada Jonathan.
“Jonathan Widiawan,” balas Jonathan sembari berdiri dan menerima jabat tangan itu. Dia menatap mata gadis itu lekat, nama itu pernah didengarnya sesekali, namun baru sekali ini dia melihat wujudnya. Jonathan tak melepaskan pandangannya dari wajah di depannya. Merasakan betapa bentuk wajah itu begitu akrab di matanya. Dia merasa pernah melihat wajah itu di suatu tempat.
Sonya tersenyum, pandangannya juga tidak bisa lepas dari Jonathan.
Jonathan membalikkan badannya lalu kembali ke tempat duduk di hadapan meja kerja Awan, menyingkirkan pikiran yang terlintas. Dia melihat wajah bosnya itu. Seorang laki-laki separuh baya yang terlihat telah banyak makan asam garam kehidupan.
“Begini. Langsung pada permasalahannya. Saya udah berpikir lama tentang ini.” Awan membuka pembicaraan.
Jonathan menunggu. Dilihatnya tangan Awan saling berbelit satu sama lain—ciri khas yang diperhatikan Jonathan selama bekerja di stasiun radio itu, bosnya itu akan seperti itu kalau dia sedang berpikir keras. Mata Jonathan kembali menatap mata Awan.
“Saya berniat membangun stasiun radio baru, saya ingin kamu yang mengelola tempat itu.”
Alis Jonathan terangkat.
“Di mana?”
“Surabaya.”
Jonathan menatap Awan tak berkedip, rahang kuatnya terlihat mengetat, pelipisnya bergerak-gerak seirama dengan tekanan pada gigi geraham atas dan bawah yang dibuatnya.
“Saya pikirkan dulu, Pak. Terima kasih atas kepercayaan ini.”
Awan tertawa, lalu mengelus ujung hidungnya.
“Saya tahu. Pikirkan dahulu. Ini bukan rencana hanya untuk sehari-dua hari saja, tetapi bisa jadi untuk seumur hidup kamu, iya kan?”
“Iya, Pak Awan. Saya mengerti.”
“Lima tahun kamu bekerja di sini. Saya tahu kemampuan kamu. Saya punya tempat sendiri di Surabaya, apartemen buat kamu tinggali juga sudah saya sediakan. Tentu saja gaji dan insentif buat kamu juga sudah saya perhitungkan.”
“Terima kasih, Pak,” kata Jonathan dengan nada suara yang terdengar biasa-biasa saja.
“Ok, kamu pikirkan, saya beri waktu satu bulan dari sekarang.”
“Baik, Pak. Saya pamit dulu.”
Awan tesenyum, lalu mempersilahkan anak buahnya itu untuk pergi.
Jonathan berdiri, memberikan sedikit anggukan pada Sonya, lalu keluar dari ruangan Awan.
Arum melewati depan mejanya, tersenyum pada Jonathan. Dia sudah mengetahui rencana bosnya dan merasa bosnya telah memilih orang yang tepat.
“Mbak Rum!” panggil Jonathan, membuat wanita itu membalikkan badannya dan kembali ke depan meja Jonathan.“Tadi… gue lihat ada cewek, anak Pak Awan?”
“Sonya?”
Jonathan mengangguk. Ada rasa ingin tahu yang begitu besar, sehingga dia merasa perlu menanyakan lagi hal yang sebenarnya sudah jelas.
“Anak satu-satunya Pak Awan. Kasihan anak itu, ibunya meninggal karena kanker nasofaring saat Sonya masih kecil. Pak Awan menjadi orangtua tunggal sejak saat itu,” jelas Arum.
Jonthan tersenyum, lalu membiarkan Arum berlalu dari hadapannya.
Pikirannya melayang lagi, tawaran dari pemilik radio tempatnya bekerja bukan main-main. Dia merasa sangat beruntung. Menjadi penyiar radio adalah kesenangannya, tetapi dia tidak menutup mata untuk kesempatan yang lebih besar dalam karirnya selama itu masih berhubungan dengan radio. Matanya berkilat penuh semangat, namun kemudian kilatan itu luruh, oleh wajah seorang gadis yang tiba-tiba muncul di benaknya. Wajah yang merengut masam, terlihat begitu indah di pelupuk matanya.
Kring!
Bunyi ponsel mengalihkan perhatiannya. Jonathan meletakkan tasnya di atas meja kerjanya, lalu mengambil ponsel yang ada di dalam kantong celananya. Nama Catherine Geraldine terpampang di layarnya.
Cathy.
“Halo,” sapanya singkat.
“Kok lo dari kemarin nggak telepon gue?!” suara menyentak langsung terdengar di telinga Jonathan.
Jonathan duduk di kursinya, menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Atau lo udah lupa punya pacar gue??” Cathy memberondong dengan pertanyaan kedua.
“Bukan gitu. Gue sibuk. Maafin gue, oke,” jawab Jonathan sambil menengadahkan kepalanya ke atas, memandang langit-langit kantornya. Alih-alih mencoba membujuk wanita yang bernama Cathy itu, dia malah sedang memutar otak seolah sedang menyusun skenario.
Cathy diam.
“Sejak dua bulan lalu, lo semakin jarang hubungin gue. Lo berubah!” kata Cathy lagi tanpa menurunkan intonasi nadanya. Masih belum ada itikad membujuk pacarnya.
“Cathy… gue nggak bermaksud apa-apa. Gue cuma sibuk. Tolong ngertiin gue,” jelas Jonathan, matanya kini lekat ke titik alat pemadam kebakaran di atas kepalanya.
Suara mendesah keras terdengar dari Cathy, seperti kelhilangan kesabaran.
“Ntar malem lo mau jemput gue nggak?” desaknya.
Jonathan melihat jam tangannya yang menunjukkan angka tiga.
“Iya, gue jemput lo jam tujuh nanti malam, oke?”
“Awas kalau telat.” Suara Cathy terdengar merajuk.
“Iya. Udah ya, gue mau nge-gym dulu.”
Jonathan langsung mematikan ponselnya, dia tidak mengetahui betapa Cathy berteriak-teriak penuh kekesalan padanya di ujung telepon.
Jonathan mencari sebuah nomor telepon, lalu menekannya. Tak lama dia mulai menggerakkan bibirnya, berbicara. Dia terlihat begitu serius bertanya tentang sesuatu kepada lawan bicaranya, tentang jam kerja kantor itu. Senyum di bibirnya melengkung indah.
Dia menekan satu nomor lagi di ponsel, begitu terdengar kata halo, dia langsung berkata, “Gue ke apartemen lo sekarang, Boy, numpang mandi.”
Tanpa menunggu jawaban, Jonathan langsung bergegas keluar dari ruangan para staf radio yang masih ramai.
***