Bab 3: First Sight (2)

987 Kata
Pertemuan Berlian dengan ketua yayasan berlangsung tidak lama, karena Berlian sudah sangat mengerti maksud dari pimpinannya itu. “Sudah, Pak? Point-point-nya itu saja?” tanya Berlian. “Iya, cukup,” jawab Ketua Yayasan. Berlian berdiri dan mengulurkan tangan. Ketua yayasan menyambut uluran tangan tersebut, dia merasakan antusiasme dan semangat.. “Pokoknya kamu susun dulu masalah mekanisme lomba menulis cerpen khusus penyandang tunanetra ini, nanti kita bahas bersama dengan anggota panitia yang akan kita tentukan minggu depan.” “Baik, Pak. Saya langsung pamit pulang dulu. Saya akan buat mekanisme lombanya di rumah. Senin saya akan jelaskan ke Bapak.” “Baik Berlian. Sampai jumpa Senin.” Berlian mengangguk, lalu keluar dari ruangan atasannya, lalu melewati meja resepsionis. “Belian! Tadi ada yang nanya kamu!” Berlian menoleh. “Siapa Mbak Nung?” Kening Nunung berkerut, terlihat berusaha mengingat. “Aduh masalahnya aku lupa nanya siapa namanya. Cowok. Suaranya kayak gemeteran gitu.” “Gemeteran?” Berlian tertawa, resepsionis yayasan itu ikut tertawa. “Maksudku, kayak kakek-kakek gitu suaranya, udah tua kayaknya deh.” Berlian mengerutkan alisnya. Tidak ada bayangan sedikit pun tentang siapa yang tadi mencarinya berdasarkan deskripsi temannya itu. “Dia tanya nomor hapeku?” Berlian merasa penasaran, dia mendekati meja lalu mengetuk dengan ujung jari. “Nggak, Ber. Dia nggak tanya nomor hape kamu, cuma tanya kamu pulang jam berapa setiap hari, trus dia langsung nutup teleponnya gitu aja,” jawab Nunung, merasa sedikit bersalah karena seharusnya dia lebih tanggap menanyakan nomor telepon atau pun keterangan lainnya. Kalau ternyata orang itu punya kepentingan darurat, bagaimana? Nunung menatap Berlian, campuran rasa bersalah dan kasihan terlihat jelas di wajahnya. “Nggak apa-apa, ya udah aku pulang aja ya?” ucap Berlian sembari tersenyum. Toh, kalau pun hal itu sangat penting, orang itu akan terus berusaha meneleponnya lagi. “Malam mingguan, Ber?’ tanya Nunung kali ini dengan nada menggoda. “Iya, sama kodok,” jawab Berlian yang ditanggapi dengan suara tawa lantang. “Dadah Mbak Nung, sampai jumpa Senin!” “Iya Ber, hati-hati di jalan!” Berlian mendekap tasnya, lalu berjalan keluar. Suara kendaraan terdengar ramai. Dia menuju ke halte yang terdekat dengan kantornya itu. Tongkat penuntunnya menyentuh permukaan trotar menciptakan suara benturan pelan yang teratur. Begitu tongkatnya menyentuh tiang halte, dia meraba tiang itu kemudian langsung duduk di kursi yang terbuat dari pipa besar stainless steel, menunggu teriakan kondektur bis menyebutkan nama kompleks perumahan tempat tinggalnya. Begitulah kesehariannya. Tidak jarang ada ibu-ibu atau wanita tua yang akan mengajaknya mengobrol, mungkin penasaran orang buta seperti Berlian bisa naik bis sendiri. Ibunya yang mengajari itu semua. Naik bis bersama ibunya tentu saja dia tidak merasakan masalah, tetapi pertama kali dia harus naik bis sendiri banyak kejadian yang menjadi pengalaman hidup. Apalagi dia tidak bisa bergerak lincah laiknya seorang normal. Dulu, menghadapi supir yang tidak sabaran, atau terjatuh saat dia berdiri dan bis berhenti mendadak, sudah biasa dia lakoni. Awalnya terasa malu menghinggapi, tetapi sekarang Berlian sudah sangat terbiasa dengan itu semua. Tiba-tiba Berlian merasakan seseorang duduk di sampingnya. Seorang laki-laki, aroma lembut parfum mirip wangi permen cokelat bercampur wangi kayu manis. Dirasakannya laki-laki itu bergerak-gerak dari kursi yang mereka duduki. “Halo? Darwin? Mobil gue mogok, ada di bengkel. Besok baru gue ambil. Gue naik bis. Iya, gue hati-hati. Bye.” Berlian mendengarkan monolog itu. Suara laki-laki itu begitu berat dan dalam. Prak! Berlian menajamkan telinganya, terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh. “Aduh, sialan, pecah lagi ini kacamata…” bisik laki-laki itu, pelan tapi terdengar cukup jelas di telinga Berlian. “Baru minggu lalu ganti, sekarang harus ganti lagi. Mana lagi itu pulpen gue…” mengoceh pada dirinya sendiri. “Maaf, kamu … perlu pulpen?” tanya Berlian, menunjukkan rasa empati pada orang itu. Sejenak suasana hening. Berlian tersenyum, dia mengerti, mungkin laki-laki di sampingnya ini terkejut, melihat seorang gadis buta tak dikenal menyapanya. “Oh iya, iya … kalau ada sih pinjam sebentar, mau catat hal penting…” jawab suara bernada bariton itu. Berlian membuka tasnya, mengambil sebuah pulpen dan mengulurkannya pada orang itu. “Terimakasih.” “Kaca mata kamu tadi pecah?” tanya Berlian lagi, kali ini karena penasaran saja. “Iya, pecah, keinjek,” jawab laki-laki itu setelah menuliskan sesuatu di buku yang sedang dipegangnya. “Kacamata minus?” “Iya.” “Tapi nggak apa-apa tanpa kacamata?” “Nggak apa-apa, Mbak …  hanya sedikit blur.” “Minus berapa?” tanya Berlian, ada rasa penasaran menyergap. Laki-laki itu tidak langsung menjawab. “Tiga,” katanya akhirnya. Berlian tersenyum, mengingatkannya pada anak ketua yayasan yang dulu rebut-ribut karena tanpa kacamata minus tiganya dia katanya merasamenjadi bagian dari yayasan tunanetra itu karena pandangannya sangat rabun. “Berlian,  namaku Berlian,” kata Berlian lalu mengulurkan tangan dan senyum tipis di wajahnya. “Ethan.” Ethan menyambut uluran tangan Berlian. Ufuk barat mulai memerah, menyelimuti bumi langit Jakarta yang masih terasa pengap oleh asap kendaraan juga oleh debu yang beterbangan karena kemarau.             Kedua manusia itu terlihat akrab, sesekali obrolan mereka diselingi tawa. Waktu telah bersahabat, bus yang Berlian tungggu belum datang hingga 30 menit kemudian.             “Bisku datang,” kata Berlian sambil berdiri saat telinganya mendengar teriakan kenek di kejauhan.             “Kalideres, kan?” tanya Ethan.             “Iya.”             “Sama, aku juga naik bis itu. tapi nanti mungkin kamu turun duluan, aku di terminalnya,” jelas Ethan.             Berlian mengangguk, lalu mendekati bis berwarna hijau itu, melangkah naik.             Bus langsung bergerak maju ketika mereka berdua dan beberapa penumpang sudah berada di dalam. Ethan menarik lengan Berlian, menyuruhnya duduk di tempat yang kosong untuk mereka berdua.             Obrolan berlanjut, tentang apa pun yang ada di dalam pikiran mereka. Baru kali ini Berlian mendapatkan teman ngobrol di dalam bus, biasanya orang akan memandang risih atau malas begitu melihat dirinya buta. Atau karena Jakarta sudah berhasil membentuk manusia-manusia egois yang membuat mereka lupa kodratnya sebagai makhluk sosial? Entahlah, Berlian dan Ethan sendiri masih tenggelam dalam perbincangan ringan.              Sementara  di luar sana langit Jakarta sudah kehilangan cahayanya. Gelap.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN