Jonathan menghisap rokoknya dalam-dalam, dia duduk di bangku panjang yang ada di teras rumahnya, menempel di tembok perbatasan rumahnya dan rumah Berlian, dia menatap lantai, masih ada sedikit sisa cat tembok di lantai. Pikirannya melayang. Dia mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat.
Di meja sampingnya ada satu bundel kertas yang terjilid rapi, sebuah kertas pembatas terselip di antara halamannya.
Dia mematikan rokoknya, langit sudah menunjukkan gelapnya. Berdiri, menggeliat, menghilangkan rasa pegal yang menerpa tubuhnya yang atletis. Kaos tanpa lengannya menunjukkan otot-otot yang terbentuk dengan baik berkat latihan fisik yang dilakukannya secara rutin selama ini.
Kring!
Jonathan mengambil ponsel di mejanya. Cathy.
“Jo…” panggil Cathy begitu terdengar Jonathan menanggapinya. Suaranya mirip rengekan yang begitu memelas. “Lo mau menjauh dari gue? Lo udah nggak cinta lagi sama gue?”
“Udah malam, Cat, gue capek. Nanti kita omongin masalah ini.”
“Tapi, Jo… gue… nggak mau kehilangan lo…”
Jonathan hanya diam. Bibirnya ditariknya dengan tegas, membentuk satu garis lurus.
“Nite, Cat.” Jonathan memutuskan menutup teleponnya.
Sebelum dia mengantongi ponselnya, sebuah pesan masuk, dari Sonya.
Ø Gimana, Jo? Mau kan?
What the fvck…!
Jonathan memaki dalam hatinya. Dia mengetikkan beberapa kalimat kepada Sonya, lalu
menekan tombol kirim.
Jawaban Sonya masuk. Mulut Jonathan menyeringai.
Ø OK
Jonathan berdiri lalu menghampiri pagar, menoleh sejenak ke arah rumah Berlian yang tampak sudah sepi, lalu mengunci pagar dengan gembok.
Tangannya meraih naskah yang baru setengah dibacanya, lalu dia masuk ke dalam rumah, duduk di sofa di depan pesawat televisi.
Dia mengambil remote control lalu menekan naik turun tombol pilihan channel acara televisi kabel, berhenti di saluran UFC1. Brock Lesnar2 yang sedang bertarung. Jo meletakkan remote control-nya, perhatiannya penuh ke layar di hadapannya itu.
Ketika acara itu sudah selesai, waktu sudah menunjukkan jam duabelas malam. Dia masuk ke dalam kamarnya. Dia benar-benar merasa sangat lelah hari ini..
Dia merebahkan tubuhnya, lalu mengambil sebuah buku yang terbuka halamannya di atas
mejanya. Buku berwarna hitam berjudul Positive Thinking dalam tulisan berwarna emas. Dia membaca beberapa lembar, lalu matanya mulai terpejam, tangannya terkulai dengan buku di atas d**a. Dengkurannya terdengar, tubuhnya sudah terlelap, namun jiwanya melayang-layang, pada impiannya. Ada senyum tersungging di bibirnya.
***
Ethan menjemput Berlian pada hari Selasa sore, di halte, menggiring Berlian dengan lembut, tidak mengindahkan segala keluh kesah yang keluar dari mulut gadis itu tentang betapa merepotkannya dia, betapa seharusnya Ethan tidak perlu melakukan hal ini kepadanya.
Lagu berirama slow mengalun merdu. Berlian menyukainya. Dia ingat, Ethan sangat bertolak belakang sifatnya dibandingkan dengan Jonathan. Jonathan lebih menyukai musik bernada cepat. Dia sering mendengarkan Jonathan menyalakan lagu dengan volume seakan seluruh dunia budeg.
Banyak hal yang dibicarakan oleh mereka, sesekali tawa keduanya terlontar begitu saja.
Ethan melirik Berlian, tersenyum seakan perasaannya begitu lega.
“Sebentar lagi kita sampai. Nomor rumahnya 245A kan?” tanya Ethan.
Berlian mengangguk sembari mengambil tas jinjingnya yang terbuat dari kain kanvas tebal, berisi segala peralatan stimulasi untuk mengenalkan huruf Braille pada Saka.
Berlian meraskan mobil sudah berhenti, dia tersenyum pada Ethan.
“Tinggal aja, Than. Aku nggak apa-apa. Nanti bisa sendiri kok pulangnya…” kata Berlian, masih terdengar nada sungkan di sana.
“Tanggung. Aku tunggu di sini. Sejam doang ini. Sana.”
“Ah, kamu…” desah Berlian sambil membuka pintu mobilnya. Ethan juga melakukan hal yang sama. “Tunggu aja di mobil, Than,” desak Berlian.
“Iya.” Ethan kembali ke mobilnya. Berlian menunggu hingga ada suara pintu mobil dibuka dan ditutup kembali, lalu mengetuk pintu pagar. Pintu pagar yang sempit karena tangannya menyentuh tembok kanan kirinya dengan mudah. Tangannya meraba-raba lagi, namun tidak ada bel.
Dia terus mengetuk plastik fiber yang melapisi bagian pagar itu, dan ucapan permisi berkali-kali diteriakkannya. Tiba-tiba pintu terbuka, Berlian menyiapkan senyumnya.
“Hai!” Seseorang menyapanya. Suaranya mencicit, itu pasti Saka.
“Hai juga,” balas Berlian.
“Masuk. Masuk. Silakan,” ajak Saka.
Berlian mengikuti Saka. Bau obat anti nyamuk tercium seketika ketika dia memasuki rumah itu.
“Maaf, maaf, saya nyemprot sarang semut barusan, bau obat ya?”
“Nggak apa-apa,” balas Berlian memaklumi.
“Sebentar, di depan Ibu…”
“Berlian aja… tanpa “ibu”….”
Saka tertawa. Suara tawa yang aneh, sengau, mirip suara orang yang tersedak.
“Baik, baik, Berlian. Saya pikir juga kita mungkin seumuran.” Berlian mengangguk. “Di depan Ibu ada meja pendek, duduknya di atas bantal, masalah nggak?”
“Nggak masalah. Bisa kita mulai?” tanya Berlian sembari meletakkan tas kainnya di atas meja. Dia sendiri duduk di atas bantal yang ada di sana, di atas hamparan karpet yang lembut.
Pelajaran dimulai. Berlian ingin memperkenalkan macam-macam peralatan yang digunakan oleh kaum d*********s seperti dirinya terlebih dahulu.
“Peralatan menulis bagi penyandang tunanetra cukup sederhana Saka, namanya reglet dan stylus….” Berlian mulai menjelaskan sembari menyerahkan seperangkat peralatan menulis itu kepada muridnya.. Lalu berlanjut dengan mempraktekkan menulis braille huruf per huruf, kemudian melatih sensor ujung jarinya dengan alat yang dibuat sendiri oleh Berlian, potongan dus yang ditempeli bulatan terbuat dari Styrofoam.
Di sepuluh menit terakhir waktu lesnya, Berlian memberikan tugas sederhana kepada Saka. Saka tampak mengerjakan tugasnya itu dengan tekun dan tidak banyak omong. Berlian menunggu, tangannya berada di atas meja, mengusap permukaan meja yang licin, dan ukiran kayu bermotif bunga di sepanjang sisinya. Sejenak pikirannya terbang ke luar, memikirkan Ethan, namun diusirnya jauh-jauh seketika.
Berlian menutup kelas privatnya, lalu berpamitan pada Saka. Dia keluar dari pintu dan terdengar pintu itu langsung ditutup oleh Saka.
Saat dia hendak berbelok ke arah mobil, dia mendengar suara pintu mobil dibuka. Seseorang—pasti Ethan—menghampirinya, lalu mengarahkan Berlian untuk masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana les-nya?” tanya Ethan sambil menyalakan mobil.
“Bagus, dia cepet nangkap pelajaranku,” jawab Berlian. “Rumah Saka bau obat anti nyamuk banget. Sampai sekarang aku masih bisa nyium baunya…” kata Berlian lagi, sambil mengendusi udara.
Ethan tertawa, lalu memutar pewangi mobilnya menjadi maksimum, menghilangkan bau apa pun itu yang dimaksud oleh Berlian.
“Makan dulu?” tanya Ethan.
“Boleh. Aku lapar….”
Ethan tertawa. “Baru sekali ngasih les aja udah lapar….” Ledeknya yang dibalas dengan cubitan Berlian di lengannya.
Mobil melaju dengan perlahan, keluar dari komplek perumahan, menuju jalan protokol yang padat oleh kendaraan. Langit berwarna jingga meredup, warna merah rem mobil berderet panjang di sejauh mata memandang. Ethan melirik lagi Berlian, yang tengah bersenandung, menyanyikan lagu barat yang terasa akrab di telinganya.
***
Catatan :
1. UFC : Ultimate Fighting Championship (salah satu cabang olah raga beladiri yang mengijinkan pemainnya memakai berbagai tehnik bertarung, seperti pergumulan, tendangan, dan pukulan).
2. Brock Lesnar : Juara UFC untuk kelas berat.