Bab 12: Linked (1)

979 Kata
Jonathan membelokkan badannya ke kiri, lalu berdiri mematung di depan pagar rumah Berlian. Beberapa saat kemudian tangannya menyentuh pintu pagar itu, membuat ketukan halus.             Berlian sedang berada di ruang tamu, sudah bersiap-siap berangkat ke kantornya.             “Siapa?” tanya Berlian ketika sampai di teras.             “Gue,” jawab Jonathan. Suara lembut itu terdengar bagai kejutan di telinganya. Suara yang hampir tak diharapkannya.             “Oh. Ada apa?” tanya Berlian dengan nada kaku, mendekati Jonathan. Wangi Citrus segar terendus dari tubuhnya begitu dia sudah tiba di hadapan laki-laki itu.              “Gue… minta maaf. Waktu itu gue emosi,” kata Jonathan. Tangannya dimasukkannya ke dalam kantong celananya, seakan merasa kikuk.             “Ya udahlah,” jawab Berlian, mirip suara desahan.             “Lo mau kerja? Mau gue anter?” Jonathan bertanya masih dengan nada manisnya.             “Nggak perlu. Gue bisa sendiri,” jawab Berlian, berusaha menekan nada suaranya serendah mungkin.             Senyap.             “Ya udah, gue berangkat dulu,” pamit Jonathan.             Berlian mengangguk lalu berbalik, mengambil kunci pagarnya dan langsung bergegas berjalan dengan tongkat pintarnya, tidak menyadari Jonathan memandanginya lekat dari dalam mobilnya yang sudah menyala.             Kakinya terus melangkah, telinganya sudah tidak mendengar lagi bunyi mobil Jonathan. Dia sudah di pertengahan jalan menuju halte, tiba-tiba ….             “Aduuhhh … aduhh ….” Terdengar seruan dari sampingnya. Berlian berhenti, menoleh.             “Kenapa?” tanya Berlian memiringkan kepalanya, mencari sumber suara yang baru saja didengarnya.             “Ini, Neng, kaki saya kejeblos lubang got…” jawab laki-laki setengah baya itu, wajahnya memperlihatkan rasa nyeri.             “Oh … bisa berdiri? Kakinya luka?” tanya Berlian sambil mengulurkan tangannya.             “Nggak apa-apa … hanya lecet …” jelasnya sambil meraih tangan Berlian yang menarik tubuh laki-laki itu hingga tegap berdiri.             “Syukurlah … maaf, saya buru-buru ke kantor ….” Berlian tersenyum.             “Tunggu!” Tiba-tiba laki-laki itu menarik tangan Berlian. Berlian terkejut dan langsung menyentak lepas tangannya. Kakinya membuat langkah mundur.             “Maaf … darimana kamu mendapatkan gelang itu?”             Berlian refleks memegang pergelangan tangan kanannya. Maksudnya?? “Ini milik almarhumah ibu saya …” kata Berlian, bingung. “Ibu … ? Kamu … Ber … berlian?” Deg! Ada satu perasaan aneh yang menerpa hati Berlian. Dia mengerutkan dahi. Merasa janggal mendengar kalimat yang diucapkan oleh orang yang tak dikenalnya itu. “Maaf, mungkin saya salah …” kata orang itu kemudian dengan nada lirih. Berlian berusaha tersenyum, namun yang keluar malah seringai kebingungan. “Saya pergi dulu, maaf …” Berlian membalikkan tubuhnya lalu melanjutkan perjalanannya ditemani pandangan mata tajam dari laki-laki tua itu. Kaki yang tadinya sedikit menekuk seolah kesakitan, kini diluruskannya, tak ada sedikit pun goresan atau lebam di kakinya yang hanya berbalut celana selutut.  Begitu sampai di halte, bus yang biasa dia naiki tiba. Berlian termenung sepanjang perjalanan. Ingatannya melayang pada Ethan, Jonathan dan laki-laki yang barusan membuatnya merasa heran. Nada suara orang itu menunjukkan seakan telah mengenal dirinya sebelumnya. Tapi tak ada sedikit pun ingatan tentang suara orang itu di kepalanya. Bus sudah bergerak maju, Berlian semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri, namun telinga tetap waspada mendengarkan teriakan kondektur. Rrrt! Berlian mengambil ponselnya. “Kamu di mana?” Berlian tersenyum mendengar suara itu. “Di bis.” “Hari ini aku nggak bisa jemput kamu, Yan. Ada lemburan di kantor. Kamu pulang sendiri ya?” Ada yang seakan luruh dari dinding hatinya. Rasa kecewa? “Iya nggak apa-apa.” Hanya sedikit sedih. “Ya udah, hati-hati.” Sambungan telepon terputus. Perjalanan berlanjut tapi kini dengan suasana hati sedikit berbeda. Ethan tidak akan menjemput dirinya hari ini, tumben. Ada rasa hampa yang menghasutnya. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Lo nggak ada hak buat ngarepin apa pun, Berlian! Dia menarik napas panjang lagi, lalu berdiri bersiap-siap untuk turun ketika kondektur meneriakkan nama halte yang ditujunya. Hari ini dia mengadakan meeting bersama dengan panitia yang telah dibentuk langsung oleh Pak Munir, ada lima orang termasuk dirinya yang menjadi panitia. Jadwal hari ini adalah membicarakan pengumuman lomba yang akan segera disebarkan melalui website dan sosial media milik yayasan. Berlian merasa puas, dia berharap lomba kali ini akan mendapatkan banyak peserta dari seluruh Indonesia.   ***   “Kita hanya mau ngingetin lagi, bahwa t***k-ngaso sampai hari ini belum dapetin pemenangnya. Gue ulangi pertanyaannya, catat baik-baik, ‘Jika duaribu limaratus tiga puluh enam adalah satu, maka duaribu limaratus tigapuluh tujuh adalah….’ Nah, jelas kan? Tadi penelepon kita jawabannya salah! Dia ngejawab  s-e-r-a-t-u-s-t-i-g-a, katanya dia dapat angka itu karena ada duit seratus tiga ribu di dompetnya…” Dito tertawa mendengar uraian Jonathan. “t***k-ngaso kita kali ini kayaknya benar-benar pelik, belum ada jawaban benar. Jadi terus tongkrongin Metro FM…” “Sembilan puluh sembilan koma tiga, brighten up your day!”             “Kita berdua pamit dulu, entar digantiin oleh abang kita yang nggak begitu cakep, Taufik Ababil di acara selanjutnya,  gue Jonathan Widiawan…” “Gue Dito Putra, thank you udah setia bersama radio kesayangan kita semua, lagu Worth It jadi lagu penutup sesi pagi kita! Sampai jumpaaaaa!” Lagu terdengar. Dito mematikan microphone. Serentak mereka berdua berdiri, menuju ke ruangan tepat di sebelah ruang siaran, tempat produser dan tim kreatif menunggu mereka berdua untuk pembuatan program acara yang baru.             Tepat jam tiga sore, Jonathan segera berkemas untuk pulang, dia hanya memberikan kode lambaian tangan kepada Dito yang memandangnya heran. Langkahnya lebar-lebar bergegas menuju tempat parkir. Dia mengingat janjinya pada gadis itu—jam empat sore—Sonya. Bibirnya tersungging senyum, pikirannya berkelana ke sela-sela tergelap relung hatinya. Dia mengambil ponselnya, dia harus memastikan gadis itu tepat waktu, karena demi Sonya, dia sudah membatalkan acara yang seharusnya tidak dia usik.             Apartemen itu sudah di depan matanya. Sekali lagi bibirnya ditariknya ke atas, membentuk senyuman. Dia melaju masuk ke dalam basement gedung. Dia segera turun, berjalan dengan tenang menyeberangi lahan parkir yang kosong. Hanya ada dua kendaraan di dekatnya. Dia menghentikan langkahnya melihat kedua mobil itu, keningnya sedikit berkerut, lalu langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat tujuan.     ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN