Sonya menatap laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya, hanya limabelas senti jarak
antara wajah antara mereka. Dengusan napas yang berat terdengar jelas di telinganya, menyapu ujung keningnya, sementara hidungnya sendiri mengendus wangi segar yang terurai dari d**a bidang laki-laki itu.
“Lo yakin?” tanya laki-laki itu dengan suara ringan, matanya lekat menatap ke bawah, tepat ke belahan d**a yang terbusung, kecil tapi dengan kemekaran yang indah.
“Nunggu apa lagi?” Sonya bertanya balik. Matanya menatap ke atas, bertemu dengan tatapan tajam sang laki-laki yang seolah sudah siap menerkamnya. Jantungnya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya, namun pikirannya mengembara ke sebuah foto tas mahal yang sudah lama diidamkannya.
Sudut bibir laki-laki itu tertarik ke atas.
Rejeki nomplok, akhirnya gue terima juga tantangan ini, pikir laki-laki itu sembari merasakan lambat laun aliran darahnya mengalir dengan cepat. Dia tergugah.
Tangannya diangkatnya, mencengkeram lengan atas Sonya dengan lembut, mengelusnya perlahan. Sonya bergidik, ada sedikit rasa takut menghampirinya, namun dia mengenyahkan sekelibat rasa itu. Jantungnya memacu lebih cepat lagi, nafasnya mendadak seperti tertahan begitu saja.
Gue harus punya tas mahal itu… gue harus punya tas mahal itu….
Batinnya melafalkan kalimat sakti yang membuatnya bisa memaksakan diri untuk tersenyum. Sonya membuka vest jeans yang dipakainya, meninggalkan selapis kaos tipis dengan belahan d**a yang pendek. Suara pakaian jatuh menjadi dentuman keras di kedua pasang telinga itu.
“Lo gila…” kata suara yang mulai terdengar berat. Darahnya mengalir semakin cepat, menimbulkan percikan di sel-sel tubuhnya, lalu mulai berkumpul di satu tempat. Bagian dirinya yang mulai setengah keras.
Kring! Kring!
Sonya menoleh, melihat ke arah tas miliknya yang ada di atas sofa, tempat dia menyimpan ponselnya. Laki-laki itu hanya melirik sekilas, dan batinnya berteriak senang ketika Sonya menarik kepalanya, tak mengindahkan suara deringan telepon itu.
Ketika suara deringan itu berhenti, laki-laki itu sudah menurunkan kepalanya, memagut bibir merah Sonya dengan lembut, tangannya meremas bukit kenyalnya, dan seketika itu juga, dirinya sudah menegang maksimum.
Tak ada putaran balik. Sebilah keraguan yang sempat terbersit di d**a Sonya, menguap seketika juga, kelihaian laki-laki itu telah membuainya. Dia merasa tidak salah pilih. Ini saatnya. Kalaupun otaknya berpikir lebih jernih, namun sentuhan yang diterimanya secara intens telah membuat bagian dirinya yang lain meronta, untuk meminta lebih.
Kaos milik Sonya sudah terangkat ke atas, dibuang sekenanya di lantai. Jari kekar laki-laki itu menelusuri kaki bukit yang kini hanya ditutupi selembar kain. Lalu dengan pasti menurunkan tali penutupnya ke bawah, membuat bukit mungil sewarna pualam putih menyembul begitu indahnya
Laki-laki itu tercekat, dia sudah sering melihat pemandangan seperti ini, tetapi kali ini hal
itu mampu membuatnya mengakui, dia menginginkan dirinya tenggelam di dalam kemurnian ini. Sonya menelan ludah, menatap laki-laki yang baru dikenalnya itu dengan gairah yang tersulut besar.
Laki-laki itu, dengan balutan celana jeans pudarnya, memainkan jemarinya di puncak bukit milik Sonya, memelintir, membuat suara desahan keluar dari mulut gadis itu tanpa disadarinya. Ketika jari itu menyentil ujungnya yang keras, Sonya sudah kehilangan semua akal sehatnya. Dia tidak pernah menyangka akan bisa terhanyut dan terlena oleh permainan yang diciptakannya sendiri.
Tungkainya terasa lemas, dia mencengkram pinggang laki-laki itu yang kini menundukkan kepalanya, memainkan lidahnya di atas p****g yang semakin mengeras, menari-nari sebelum menghisapnya kuat. Sonya melenguh. Dia sudah di tahap pasrah.
Tingtong!
Suara bel pintu menyentak keduanya. Mereka melirik pintu bersamaan.
Tingtong!
Laki-laki itu memiringkan tubuhnya, tetapi Sonya menahan lengan kekar itu.
Tingtong!
***
“Yan?”
“Iya?” sahut Berlian sambil mengempit ponsel antara dagu dan pundaknya, sementara tangannya bergerak lincah di atas tuts.
“Lagi ngapain?”
Berlian tersenyum, dia menghentikan ketikannya. Lalu mengambil ponsel dan meletakkannya di telinganya secara normal. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok. Dingin yang meresap ke punggungnya tak membuat dingin hatinya yang tiba-tiba menghangat.
“Lagi ngetik sesuatu. Kamu di mana?”
“Baru pulang.”
“Jam berapa sekarang?” tanya Berlian.
“Setengah sepuluh. Ini lagi on the way home.”
“Beres kerjaannya?” Ethan tidak langsung menjawab. “Than?” panggill Berlian.
“U… dah… udah. Ngetik apa kamu?”
Berlian tertawa pelan. “Mau tau atau mau tau banget?”
Ethan tertawa. “Mau tau banget lahhh!”
“Rahasia, nanti aku tunjukin kalau udah selesai, ok?”
“Clue-nya aja deh paling nggak. Apaan?”
“Yee, dibilang rahasia…”
“Ya sudah, terserah…” kata Ethan terdengar ngambek. Berlian tertawa lagi.
“Jangan nelepon sambil nyetir, udah matiin dulu hape kamu.”
“Hm.”
“Nite, Ethan!” pungkas Berlian karena kecemasan yang tak dibuat-buat.
“Tunggu bentar, aku udah sampai di rumah, sebentar aku telepon kamu lagi!” seru Ethan. Berlian menarik ponselnya dari telinganya. Menunggu. Ujung bibirnya tersenyum, namun menghilang ketika didengarnya suara mobil dari kejauhan. Mendekat… ke rumah Jonathan.
Baru pulang dia, pikir Berlian.
Jo akan membuka pintu pagarnya, dengan sentakan keras. Jo akan memasukkan mobilnya, menekan pedal gas sekali dengan kencang sebelum dia mematikan mesin kendaraannya. Jo akan langsung menutup pagar dengan kekuatan yang sama seperti saat dia membukanya, lalu dia akan langsung mengunci pagarnya dengan gembok. Suara aktivitasnya akan berhenti tak terdengar lagi, ketika dia masuk ke dalam rumahnya, setelah bunyi pintu rumah terdengar.
Berlian menarik napas dalam-dalam sembari didengarkannya ritual yang baru saja diejanya dalam hati. Semua terjadi persis seperti apa yang diperkirakan olehnya.
Rrrt!
Berlian mangambil ponselnya dengan sigap.
“Kamu udah makan?” tanya Ethan tanpa mengucapkan salam lagi.
Berlian tersenyum sambil merebahkan kepalanya ke atas bantal bermotif garis-garis melintang berwarna biru muda dan abu-abu.
“Udah. Kamu?”
“Belum, ini lagi buka bungkusan nasi.” Berlian tertawa.
“Kasihan anak kosan,” kata Berlian sambil mendengarkan suara bungkusan nasi yang dibuka, denting sendok dengan piring.
“Makanya, kamu jangan bikin susah anak kos ini …” kata Ethan di antara suara kunyahannya. Berlian tertawa lagi.
“Than …” panggil Berlian.
“Hm?” Suara Ethan menggigit krupuk terdengar.
“Aku pikir… aku pengen nambah murid untuk les privat ….”
UHUK! UHUK!
Suara batuk karena tersedak terdengar tiba-tiba.
“Than?” panggil Berlian lagi, merasa was-was. “Than? Kamu nggak apa-apa?”
Suara batuk masih terdengar, lalu beberapa saat kemudian suara batuk itu berhenti.
“Ng … gak … huk! huk!... Nggak apa-apa … huk!” Lalu hening tak ada suara. “Nggak apa-apa. Apa kata kamu tadi?”
“Aku mau ambil les privat lebih banyak lagi!” kata Berlian dengan bibir tersenyum.
“Alasannya? Kamu butuh uang, Yan?”
“Bukannnn! Aku hanya ingin ngajar orang-orang buta kayak aku yang belum bisa baca tulisan braille. Mereka yang mungkin nggak punya uang, nggak punya kesempatan untuk belajar membaca. Menurut kamu?”
“Janganlah Yan. Tujuan kamu emang bagus, tapi kamu sendiri nggak boleh terlalu capek, belum lagi kalau anak didik kamu nantinya macem-macem. Udahlah, cukup di yayasan aja kamu ngajar.”
Berlian menekuk bibirnya, dia tidak menyangka Ethan tidak menyetujui idenya.
“Tapi, kayak Saka, aku udah beberapa kali ngajar, dia baik-baik aja. Bukan orang jahat, dia ….”
“Belum tahu aja kamu bagaimana sebenarnya hati orang-orang, iya kan?”
“Kamu curiga sama Saka?” kejar Berlian.
“Bukan, aku nggak nuduh dia, aku hanya bilang hati orang siapa yang bisa menebak. Iya kan?”
“Tapi ….”
“Kamu itu kalau dikasih tau, ngeyel terus!” Nada suara Ethan terdengar ketus.
Nyali Berlian menciut, dia menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.
“Iyaaaa aku ngerti …” kata Berlian akhirnya.
Suara kertas bungkus nasi diremas terdengar, dimasukkan ke dalam kantong plastik, lalu sunyi.
“Than, aku baru ingat, ada seseorang … laki-laki, kayaknya udah tua gitu, dia bertingkah … kayak aneh gitu.”
“Aneh gimana?”
“Entah … dia ngomong tentang gelangku, trus dia bilang kenal aku …” Berlian mengelus gelang perak di pergelangan tangannya.
“Kamu kenal suaranya?”
“Nggak.”
“Ceritain dari awal,” pinta Ethan.
Berlian menceritakan semua pengalaman yang terasa aneh baginya. Pertemuan tak sengaja yang terasa ganjil. Ethan mengerutkan dahinya, berusaha mencerna cerita Berlian dengan baik, namun dia tidak bisa membayangkan kejanggalan yang dimaksud oleh gadis itu.
“Ya udah, kamu harus lebih hati-hati lagi, ok? Pulang kerja, langsung tutup dan kunci pintu. Entar kalau aku ke rumah kamu, aku mau bikin kunci duplikat rumah kamu.”
“Buat apa?” tanya Berlian merasa bingung.
“Nggak kenapa-napa, tapi emang kunci harus ada duplikatnya dan disimpan baik-baik.”
Berlian tersenyum, dia sangat percaya kepada Ethan. Hatinya telah berkata, dia mempercayai laki-laki itu. Untuk apa dia melarang Ethan memegang kunci rumahnya?
“Iya, nanti aku ingetin pas kamu ke sini.”
Obrolan berlanjut ke topik lainnya, berjam-jam, hingga keduanya merasakan kelelahan dan kantuk menggoda mereka untuk saling mengucapkan selamat malam.
***