Kantor yayasan nyaris hening, hanya bunyi keyboard dan kertas yang dibolak-balik sesekali terdengar. Semua orang di ruangan itu terlihat fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Berlian tersenyum puas, beberapa email para peserta lomba menulis cerpen sudah masuk. Dia segera memindahkan semua file ke dalam folder bersama, agar bisa dilihat oleh semua anggota panitia.
“Bu Berlian! Udah ada peserta yang masuk ya?” tanya seorang anggota panitia lomba, dua meja di sebelah kirinya.
Berlian menoleh, “Iya, udah mulai masuk. Boleh langsung dinilai, unsur ekstrinsik dan intrinsiknya, Pak. Langsung aja di form penilaian yang udah saya bagikan waktu itu,” jelas Berlian.
“Baik, Bu. Semoga tahun ini pesertanya lebih banyak!”
Berlian mengangguk. Itu juga sudah menjadi harapannya sejak awal. Ruangan menjadi sunyi kembali. Dia mendengarkan jam, sudah waktunya pulang. Sebentar lagi Ethan akan menjemputnya.
Besok sore, kamu tunggu di halte, tepat jam 3, aku tunggu. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat.
Ke mana?
Bisa nggak kamu nggak usah tanya?
Berlian tersenyum sendiri, mengingat percakapannya dengan Ethan semalam. Khas Ethan, mengintimidasinya dengan begitu indahnya, hingga dia merasa terbuai alih-alih merasakan keterpaksaan.
Berlian mengucapkan selamat tinggal pada tiga orang rekannya di ruangan itu, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kantor yayasan. Dia tidak mau membuat Ethan menunggunya terlalu lama.
Salam dari Ruth di meja depan dijawabnya dengan cepat. Dia tidak mau kehilangan sedetik pun waktunya.
“Yan!” suara panggilan bernada berat terdengar. Berlian menghentikan langkahnya. Senyuman langsung tersungging di bibirnya. Ethan. Dia menuruni undakan lantai di depan kantor yayasan dengan berhati-hati.
“Udah lama? Katanya di halte?” tanya Berlian ketika Ethan menyentuh punggungnya.
“Sama aja di sini juga. Baru sampai, kok. Ayo, keburu malam.” Ethan mendorong punggung Berlian agar masuk ke dalam mobil. Berlian langsung duduk, melipat tongkatnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
“Aku beli permen ini tadi.” Ethan meletakkan sebungkus manisan di pangkuan Berlian, sembari menekan pedal gas mobilnya, mulai bergerak maju.
“Permen? Permen apa?” tanya Berlian penasaran.
“Buka aja, itu buat kamu.”
Berlian meraba bungkus plastiknya, mencari pinggiran plastik yang bergerigi. Merobek bagian itu. Tangannya meraba masuk.
“Permen kenyal! Aku suka permen ini! Kok kamu tau sih aku suka ini?” Berlian setengah berteriak. Kedua tangannya memegang permen yang terbungkus plastik kecil itu.
Ethan melirik gadis yang tampak begitu bahagia, bibirnya menciptakan senyuman tipis.
“Ya taulah, di mana-mana di ruang tamu kamu, di teras, ada permen itu,” jawab Ethan.
“Masa sih, Than? Perasaan aku udah lama nggak beli ini deh…” kata Berlian sambil membuka satu bungkusan kecil di tangannya, lalu menyodorkan isinya yang berbentuk burger kecil ke arah Ethan. Ethan menatap ragu, lalu mengambil permen yang disodorkan padanya dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Dia tidak pernah menyukai permen jenis begini.
“Ada. Kamu pasti lupa itu tercecer, di bawah meja,” jawab Ethan sambil memaksakan dirinya untuk mengunyah cepat dan menelannya sekaligus.
Berlian membuka satu buat dirinya sendiri, merasa heran dengan penjelasan Ethan. Seingat dia, terakhir kali dia membeli permen itu, itu sebelum ibunya meninggal dunia, dan dia merasa sangat yakin sudah membersihkan semua lantai rumahnya. Namun dienyahkannya perasaan ragu itu ketika manisan kenyal itu sudah di dalam mulutnya.
“Hmm … enak, udah lama nggak makan permen ini …” desah Berlian dengan senyum lebarnya. Mulutnya sibuk mengunyah sedangkan tangannya sudah mengambil manisan itu lagi dan langsung membukanya.
Ethan tertawa, sekilas tangannya menyentuh ujung kepala Berlian.
“Mau lagi?” tawar Berlian.
“Nggak deh. Biar kamu semua yang makan.”
Berlian tersenyum, mengunyah perlahan.
“Makan manisan ini, ngingetin aku ke seseorang waktu kecil dulu. Dia sering banget beliin aku permen ini di warung,” kata Berlian sambil mengingat-ingat.
Ethan menoleh. “Siapa?”
“Jo … tetangga sebelah.”
“Oh, baik banget dong dia sama kamu. Jarang-jarang temen cowok seperti itu.”
Berlian mengeluarkan suara “hah” sekali dari mulutnya.
“Kenapa?”
“Nggak ada apa-apa.”
Senyum Ethan tersungging. Ingatannya melayang di suatu waktu. Flashback yang begitu menyenangkan hatinya.
Mobil terus bergerak, tak sekecap kata pun dilontarkan Ethan kepada Berlian, ke mana tujuan mereka sebenarnya. Dan begitu pula sebaliknya, Berlian seakan tak peduli ke mana laki-laki itu akan membawanya.
Mulutnya sibuk dengan dua kegiatan, mengunyah manisan itu atau bersenandung mengikuti lagu-lagu berirama slow yang dikenalnya dengan baik. Lagu-lagu manis yang sering dia dendangkan kala dia masih remaja.
“Semua lagu kesukaan kamu ini adalah lagu kesukaanku,” kata Berlian ketika sebuah lagu berakhir.
Ethan menoleh pada Berlian, lalu matanya menangkap satu cover CD yang menyembul dari sunboard di atas kepala Berlian yang bergambar tengkorak. Lambang sebuah grup musik beraliran musik Rock.
Ethan tidak menjawab pertanyaan Berlian, dia kembali memusatkan pikirannya pada jalan di hadapannya.
Sejam kemudian laju mobil melambat, lalu berhenti sama sekali.
“Udah sampai?” tanya Berlian sambil menegakkan tubuhnya.
“Udah,” jawab Ethan.
Ethan keluar dari mobil, lalu membukakan pintu bagi Berlian.
Berlian keluar tanpa ragu. Ketika angin sore menerpa wajahnya Berlian segera mengetahui ke mana Ethan membawanya.
“As you wished, Princess. Laut. Kita ke pantai. Tempat yang kamu inginkan,” kata Ethan sambil tersenyum.
Mulut Berlian mengangah.Tak percaya. Kejutan yang terasa begitu manis.
“Oh, Than …. Aduh … aku nyusahin ya …” kata Berlian. Dia mengangkat sedikit wajahnya, menikmati aroma laut yang tercium kental di hidungnya. Ingatan tentang ibunya saat membawanya ke pantai terakhir kali menyeruak sanubarinya, rasa rindu memeluknya dengan manis.
“Iya, karena kamu bawel. Aku kan udah janji. Aku akan selalu tepati janjiku, Yan.”
Entah mengapa, rasa panas langsung membuat wajah Berlian merona. Dia menyukai janji-janji yang keluar dari mulut Ethan. Sekecil apa pun janji itu, terasa begitu indah dan besar baginya. Dia memalingkan wajahnya, menyembunyikan roma kemerahan itu. Dia merasa jengah, pada dirinya sendiri yang tak mampu menahan rasa tersanjung.
“Ayo,” ajak Ethan.
Berlian mengeluarkan tongkat pintarnya, dia pikir, dia membutuhkannya, karena tempat ini adalah sama sekali baru baginya. Sebelum Berlian memanjangkan tongkatnya, Ethan merebut tongkat yang terbuat dari alumunium itu, lalu menekuknya kembali menjadi bilah pendek kemudian memasukkannya ke dalam tas Berlian.
“Nggak usah pake tongkat, aku yang akan memandu langkah kamu,” kata Ethan sembari meraih jemari Berlian dan digenggamnya dengan kuat. Berlian tersentak, oleh getaran yang dikirim oleh syaraf peka di bawah kulit tangannya. Pertama kalinya dia membuat kontak fisik seperti itu. Perlahan, jarinya membalas genggaman itu. Rasa nyaman menyergapnya, membuai perasaanya menjadi indah. Genggaman tangan Ethan telah menggenggam pula hatinya.
Berlian mengikuti ke mana Ethan menarik dirinya. Dia percaya laki-laki itu, melangkah seakan matanya sendiri bisa melihat.
Di depan ada dua undakan naik.
Awas, di kiri kamu ada tiang lampu.
Sebentar lagi agak landai … pelan-pelan….
Kalimat-kalimat petunjuk itu dengan sabar dilontarkan oleh Ethan.
Suara debur ombak mulai terdengar, wangi laut semakin kuat. Senyum Berlian mengembang, begitu pula senyum Ethan, ketika dia melihat bibir yang merekah itu.
Angin pantai menyapu wajah mereka berdua, mengacaukan rambut Berlian. Suara-suara dari para pengunjung tak mampu mengalahkan suara angin yang menderu, namun Berlian bersyukur, keramaian itu telah meredam suara yang berasal dari dalam dadanya. Bunyi degup jantungnya yang bertalu-talu, yang sebenarnya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
“Buka sepatu kamu, biar kaki kamu kena air laut.”
Berlian melongo, seakan tak mengerti dengan perintah Ethan. “Sepatumu dibuka, biar kamu bisa ngerasain pasirnya, airnya,” kata Ethan mengulang sambil melepaskan genggaman tangannya. Berlian mengangguk, lalu membungkukkan badannya, hendak mengambil sepatunya.
Tiba-tiba dirasakannya sebuah tangan memegang kakinya yang berbalut celana katun.
“Angkat,” pinta Ethan.
Berlian merasakan kehangatan yang luar biasa saat tangan laki-laki itu menyentuh pergelangan kakinya ketika menarik sepatu pantofel-nya. Badannya menjadi limbung, seakan menjadi sehelai daun kering yang akan terbang melayang hanya karena hembusan lirih sang bayu. Dia mencari pegangan, dengan sigap Ethan meraih tangan Berlian, menggenggamnya kuat.
“Kenapa, Yan?”
Aku melayang, Than….
“Aku nggak apa-apa, Than. Nggak seimbang doang,” jawab Berlian sambil mengatur nafasnya yang seolah berhenti mendadak. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Ethan.
“Satunya lagi.” Ethan memegang kaki Berlian yang lain.
Berlian menurunkan kaki telanjangnya. Dingin pasir yang lembab karena air laut langsung terasa di telapak kakinya. Sejuk mengalir melalui indera perasanya, bertemu dengan kehangatan yang memancar dari matahari sore. Semua terasa seimbang, terasa begitu pas, terasa nyaman melingkupinya. Bahkan angin laut pun seakan memanjakannya dengan hembusan yang menderu.
“Ayo.” Ethan berdiri, meraih lagi tangan Berlian.
“Sepatuku?” tanya Berlian bingung.
“Udah aku pegang,” jawab Ethan sambil menarik tangan Berlian untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Berlian ternganga untuk sekejap. Dia banyak membaca dan mendengarkan buku-buku novel romantis, lalu membayangkan dan mendambakannya. Kemudian akan menghilang begitu saja karena dia yakin hal itu tidak akan pernah terjadi di dalam kehidupannya.
Namun kini dia mengaku salah. Walaupun dirinya bukan Cinderela, tapi dia sudah menemukan pangerannya. Biarpun dia tidak pernah mengetahui wajahnya, tidak pernah akan menjadi masalah baginya. Apakah akhir ceritanya akan berakhir bahagia atau sedih, dia tidak memikirkan hal itu lagi.
“Langit saat ini warnanya udah bukan biru lagi…” kata Ethan, setengah berteriak, mengalahkan suara orang-orang di sekitarnya dan suara alam yang seakan berlomba menarik perhatian.
“Apa sekarang warnanya?” tanya Berlian, dia bergidik setiap kali bibir ombak menyentuh kakinya, bukan karena takut tetapi karena Ethan akan mempererat genggaman tangannya setiap kali ombak kecil mendekat.
“Cakrawala sekarang kemerahan… matahari udah mulai tenggelam di ufuk barat.”
“Bagaimana warna biru itu, Than?” tanya Berlian sambil menoleh dan tersenyum.
Ethan menghentikan langkahnya, terdiam sejenak, lalu merengkuh bahu Berlian, menghadapkannya melawan angin.
“Biru itu sejuk… seperti angin yang saat ini berembus…” bisik Ethan tepat di telinga Berlian. Berlian tersenyum. “Ini adalah warna biru, Yan….”
Berlian merasakan angin laut yang menerpa wajahnya, sejuk.
“Seperti apakah langit kemerahan itu?” tanya Berlian lagi.
Kedua tangan Ethan masih berada di lengan Berlian, mengarahkan badan gadis itu untuk membelok, menghadap ke arah barat. Dia berdiri di belakang Berlian.
“Angkat wajahmu ke atas sediki. Kamu merasakan hangatnya sinar mentari? Itu adalah langit yang kemerahan, langit sedang merayu matahari untuk pulang dan tidur…” bisik Ethan. Matanya menerawang jauh saat mengatakan kalimat itu.
Ethan memejamkan matanya sekejap, sebelum akhirnya membuka kembali karena gerakan tubuh Berlian terasa di tangannya. Wajahnya tersenyum.
“Setelah ini akan gelap, bukan? Nggak akan ada lagi matahari yang menerangi. Sama seperti yang selalu kulihat, gelap…” kata Berlian. Ethan menunduk, melihat wajah Berlian dari samping. Beberapa helai rambut Berlian menyentuh pipinya, menggoda. Ada senyum terulas di bibir tipis gadis itu.
“Kamu memiliki mataharimu sendiri…” jawab Ethan.
Berlian masih tersenyum. Ethan mengambil tangan kanan Berlian, lalu menempelkannya di d**a gadis itu. “Di sini. Mataharimu.”
Rona panas menjalar cepat ke wajah Berlian, mengalahkan kehangatan alam yang baru saja dirasakannya. Cara Ethan menjelaskan semua pertanyaannya, membuatnya semakin meyakini, dirinya sendiri adalah jelmaan Cinderela dengan pangeran tampan yang akan selalu membawakannya kebahagiaan.
Berlian menekan dadanya sendiri, dengan telapak tangannya, menekan gemuruh yang tiba-tiba mendatanginya. Tak ada lagi suara alam, tak ada lagi suara pengunjung pantai. Yang terdengar saat ini hanya bunyi detak jantungnya dan suara berat Ethan di telinganya.
“Udah? Mau terus jalan?” tanya Ethan.
Berlian mengangguk, tanpa sadar, berkali-kali mengangguk. Lidahnya tak kuasa untuk mengucapkan sepatah kata pun. Terlalu indah.
“Sebentar…” kata Ethan sambil menghentikan langkahnya. Dia membungkuk, mengambil sesuatu di antara hamparan pasir pantai dan air laut yang tergenang. “Ini kulit kerang,” kata Ethan sambil meletakkan setengah cangkang kerang berwarna putih.
Berlian tersenyum sambil memegangi benda itu, merasakannya, membentuk imajinasi sendiri di dalam pikirannya.
“Aku pernah pegang kulit kerang ini dulu, kata ibu buat hiasan gantungan. Selain itu bisa buat apa sih Than kulit kerang seperti ini?”
Ethan menggenggam tangan Berlian lagi. Menariknya untuk terus berjalan.
“Kerokan.”
Berlian menghentikan langkahnya, lalu tertawa. Disusul oleh Ethan.
“Ngaco. Tapi bener juga sih, kalau mau kulit kamu luka-luka,” kata Berlian di sela-sela tawanya. Bibirnya terasa kering, pipinya kebas oleh hempasan angin pantai yang terus menerus mendera tubuhnya.
Angin semakin dingin terasa, pantai sudah tidak seramai ketika mereka tiba tadi.
“Kita balik yuk? Udah mulai sepi, banyak yang bubar,” ajak Ethan.
“Yuk. Aku lapar,” kata Berlian.
Ethan tertawa.
“Sama, kita makan seafood.”
Berlian mengangguk. Apa pun akan dia makan, perutnya merasa begitu kelaparan, emosinya seakan telah menyerap habis tenaga di dalam dirinya.
Langit telah kelam, sepasang anak manusia itu berjalan perlahan, meninggalkan jejak tapak kaki yang dalam, namun kemudian larut menghilang tanpa bekas karena ombak yang menitikan buihnya ke pantai.
***
Jonathan keluar dari kamar mandi sambil melemparkan pakaiannya ke dalam keranjang pakaian kotor yang ada di sudut ruang dekat pintu kamar mandi. Dia berpikir harus membawa semuanya ke laundry besok. Dia bergegas menghampiri lemari bajunya, tapi kemudian dia menoleh lagi lalu menggagalkan rencananya untuk mengambil baju.
Dia keluar dari kamarnya hanya dengan handuk melilit di pinggangnya, menuju ruang tengah. Dia menarik salah satu laci di dekat rak kaca berisi pernak-pernik kecil porselen milik ibunya, mengeluarkan selembar plastik bekas yang selalu dikumpulkan oleh ibunya dulu.
Dia langsung masuk lagi ke dalam kamarnya, membuka keranjang pakaian kotornya, mengeluarkan celana panjang yang barusan dilemparkannya, memasukkannya ke dalam kantong plastik itu. Bagian bawah celananya kotor dan basah. Dia tidak mau pakaiannya yang lain terkena kotoran itu. Dia meletakkan plastik itu di lantai, di samping keranjang itu.
Dia kembali mendekati lemarinya, kemudian membuka lebar pintunya, mengambil kaos yang berada di paling atas tumpukan dan celana pendek berwarna abu-abu. Dia memakai bajunya cepat-cepat, lalu berkaca di depan cermin panjang yang ada di dinding sebelah lemari. Dia mendekatkan wajahnya, matanya berwarna merah.
Jonathan menghampiri tempat tidurnya. Direbahkannya kepalanya yang basah ke atas bantal, merasa tidak nyaman, dia menegakkan tubuhnya.
Dia mengambil ponsel dari meja nakas, lalu membuka-buka album foto, menatap lekat wajah seorang gadis yang tengah tertawa lepas.
Dia tersenyum, membuka lagi foto-foto lainnya. Melihatnya satu persatu, tatapan matanya melembut.
Puas menatap foto-foto itu, dia menekan tanda pesan, ada dua pesan yang dia tahu jelas siapa pengirimya. Pesan yang sebenarnya diterimanya sejak tadi sore.
Ø Lo keterlaluan. Gue butuh kejelasan dari lo!
Dari Cathy. Jarinya menekan pesan kedua.
Ø Gue pikir, lebih baik kita berpisah aja. Percuma gue nunggu patung kayak lo! Ngomong sama tembok!
Jari Jonathan sudah bergerak menekan tanda “reply”, namun diurungkannya, dia
mematikan ponselnya, melirik sekilas ke jam beker yang ada di sebelahnya, 23.30. Masih pagi baginya, tapi tubuhnya sudah tak bisa lagi menahan rasa kantuk.
Dia merebahkan badannya, tidak peduli dengan rambutnya lagi, lalu terlelap dalam buaian malam.
***