Sejak subuh, Berlian sudah terbangun. Alarm bahagia di tubuhnya bekerja dengan baik. Hari ini Ethan akan datang. Dia membasuh dirinya sekadarnya saja, mengikat rambutnya rapi ke belakang kemudian langsung ke dapur. Dia sudah menyiapkan semua bahan masakan semalam.
Sepanjang memasak, ingatan tentang Ethan membuatnya tersenyum. Hanya mengingat hal kecil tentang Ethan saja membuat jantungnya berdegub lebih kencang. Sejam lebih dia berkutat di dapur, terkadang suara merdunya terdengar, memecah kesunyian di rumah yang hanya didiaminya sendiri itu. Setelah selesai memasak, Berlian segera ke kamarnya, mengambil handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya. Dia berdendang lagi, hatinya merasa bahagia.
Berlian menghabiskan waktu menunggu Ethan dengan mendengarkan cerita pendek dari para peserta. Satu per satu cerita dia dengarkan sampai tamat, lalu membuat beberapa catatan di form penilaian yang dia buat khusus. Lama kelamaan tubuhnya mulai terasa pegal, dia mendengarkan petunjuk waktu, lalu tersentak kaget, karena ternyata dia menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperkirakannya. Dia segera menutup laptopnya, dengan tergesa menuju dapur, memastikan sekali lagi masakannya panas untuk Ethan.
Saat semuanya selesai, dia tersenyum puas. Di hadapannya, di atas meja sudah tertata rapi, nasi putih, sayur asem, cumi kering-tahu-tempe goreng. Di dalam kulkas sudah siap es buah melon buatannya sendiri.
Ethan sudah berjanji padanya, akan datang siang ini. Berlian duduk manis, lalu mengambil bacaan berhuruf Braille, lalu membacanya perlahan.
Tiba-tiba terdengar bunyi pagar rumahnya diketuk. Berlian berdiri, berjalan keluar. “Mas—” Kalimatnya menggantung begitu saja saat menyadari sesuatu. Itu pasti bukan Ethan. Ethan akan langsung masuk, tanpa mengetuk dulu. Dia bergegas keluar rumahnya.
“Siapa?” tanya Berlian.
“Saya … saya … Ber… Berlian…” jawab sebuah suara. Orang itu! Orang yang waktu itu terpelosok ke lubang got di trotoar! Berlian masih mengingat suaranya.
“Iya… ada perlu apa, Pak?” tanya Berlian, merasa aneh.
“Ini… saya… maaf sebelumnya. Saya mau….”
“Ada apa, Yan?”
Ethan! Berlian tersenyum. Dia tidak menyadari mobil Ethan datang.
Ethan langsung menyelinap, masuk, lalu berdiri di sisi Berlian, menatap langsung tamu itu.
“Nggak ada apa-apa, Bapak ini mau ngomong sesuatu…” kata Berlian.
“Ada perlu apa, Pak?” tanya Ethan, mengambil alih.
“Begini… saya mau mengucapkan sesuatu pada Ber… Mbak ini. Kemarin saya bertemu Mbak Berlian, saat kaki saya terperosok di trotoar, saya jadi yakin kalau dia itu…” Orang itu menghentikan ucapannya.
Ethan mengerutkan dahinya, melihat ke arah orang itu, sama sekali tidak ada senyum tampak di wajah tampannya.
Orang itu terlihat kikuk dan gugup. Berkali-kali matanya melirik Ethan dan Berlian bergantian.
“Saya… hanya ingin… berterima kasih. Itu saja. Maaf,” kata bapak tua itu.
Berlian tersenyum.
“Nggak apa-apa kok, Pak. Nggak apa-apa. Saya hanya bantu Bapak berdiri aja waktu itu.”
Ethan masih menatap lekat orang itu. Matanya terlihat menyelidiki, tajam. Dia tidak memiliki rasa nyaman melihat laki-laki itu.
“Ada yang lain?” tanya Ethan tegas.
“Eh… tidak… tidak. Cukup. Terima kasih.”
Orang itu membalikkan badannya, lalu dengan langkah tergesa menjauh pergi dari rumah Berlian.
“Aneh,” guman Ethan.
“Kenapa?”
“Aneh aja tingkahnya. Kayaknya ada yang dia sembunyiin. Hati-hati Yan. Selalu kunci pagar dan pintu rumah, oke?” urai Ethan sambil menutup pagar.
“Iya, jangan khawatir, Than.”
Ethan langsung masuk ke dalam rumah, dan mengempaskan dirinya ke sofa.
“Aku haus Yan. Minum dong,” pinta Ethan. Berlian langsung masuk ke dalam dan mengambil es buah melon yang sudah dia siapkan.
“Apa itu? Kok ijo?” tanya Ethan melihat minuman berwarna hijau di gelas besar yang disiapkan khusus oleh Berlian untuk Ethan.
“Es melon, coba, enak nggak?”
Ethan menerima minuman itu dan langsung menegaknya.
“Segar banget, Yan,” kata Ethan lalu menghabiskan semua minuman itu walaupun dia melihat banyak biji melon mengambang.. “O ya, katanya kamu mau nunjukin sesuatu. Apaan?”
Berlian memutar tubuhnya, masuk ke dalam kamarnya. Dia membawa laptop miliknya.
Ethan membiarkan Berlian membuka laptopnya, kemudian menatap layar laptop yang diarahkan kepadanya.
“Apa ini…? Dari… penerbit… penolakan?” Ethan mengangkat kepalanya, memandang Berlian yang tengah tertawa kecil.
“Aku malu sebenarnya mau cerita ke kamu. Tapi aku pengen cerita ke kamu. Aku ngirim naskah novel ke penerbit besar empat bulan lalu, Than, ini tanggapannya, ditolak…” jelas Berlian, lalu menyeringai malu.
Ethan tertawa.
“Terus? Kamu nyerah?”
“Ya nggak lah, ngapain nyerah. Aku malah beruntung dikasih komentar segini banyaknya, aku jadi tahu kelemahanku. Aku mau kirim ke penerbit lainnya setelah aku benerin.”
Ethan tersenyum, “Nah… gitu dong. Cerita tentang apa?”
“Pembunuhan.”
“Apa???”
Berlian tertawa mendengar reaksi Ethan,
“Aku suka baca novel pembunuhan. Aku pikir kenapa aku nggak coba nulis sendiri?”
“Astaga! Itu keren menurutku, Yan. Kirain bacaan kamu novel-novel percintaan gitu.”
“Aku suka semua bacaan, kecuali tentang filosofi,” kata Berlian sambil terkikik.
Ethan ikut tertawa.
“Gila, filosofi. Berat itu. Kapan kamu mau kirim lagi?”
“Secepatnya, tadi aku sempat benerin sebagian. Paling beberapa hari lagi udah selesai revisinya. Revisi besar sih, tapi tetap ceritanya sama, hanya aku tambah kejutan-kejutannya.”
“Hebat! Boleh aku baca?”
Mulut Berlian terbuka, menganga. “Kamu mau baca?”
“Aku suka baca, buku apa aja juga. Emang kenapa?”
“Jarang-jarang cowok suka baca novel.”
“Novel aku emang jarang baca, hanya novel tertentu yang nggak termehek-mehek.”
Berlian tertawa, “Dijamin, novelku nggak akan bikin termehek-mehek, tapi bikin pusing karena teka-tekinya.”
Ethan tertawa. “Aku mau baca pokoknya, setelah kamu revisi. Aku akan kasih nilai objektif nanti, ok?”
“Mau!”
Kring!
Ponsel milik Ethan berbunyi.
“Halo… iya Win, iya gue ngerti. Nanti malem ya… pasti… buat lo… spesial. Jangan! Jangan, gue lagi di luar. Love you too, Win…”
Senyuman di bibir Berlian menghilang.
Siapa yang menelpon Ethan? Win? Nama yang sama… dulu Ethan juga menyebut “Win” ketika pertama kali bertemu dengannya di halte bis. Pacar-nya-kah? Pakai ngomong “love you too” segala, batinnya bergumul.
“Siapa?” tanya Berlian, berusaha mengeluarkan nada yang terdengar biasa.
Ethan tidak langsung menjawab.
“Darwin, teman sekantor.” Terdengar enggan.
Berlian tersenyum, merekah, merasa lega. Dia pasti salah dengar tadi.
Ternyata cowok, bukan cewek.
“Mau makan sekarang?” tanya Berlian dengan hati tenang.
“Mau, tapi habis makan aku langsung pulang ya?”
Berlian mengangguk dengan berat hati. Mulutnya sudah menyiapkan kata tanya “kenapa” tapi dia tahu, dia tidak bisa mencegah laki-laki itu pulang. Dia langsung berdiri, menyembunyikan wajah kecewanya dari Ethan. Saat dia kembali ke ruang tamu dengan dua tangan memegang piring berisi makanan, wajahnya sudah tersenyum. Dia hanya merasa tidak ada gunanya bersedih untuk hal sepele seperti ini. Mungkin Ethan sedang banyak kerjaan, dan masih ada hari esok untuk bertemu.
Berlian menyodorkan piring bagian Ethan.
“Than, aku pikir sekali lagi, kayaknya aku mending ambil les privat lagi deh…” kata Berlian sebelum mulai menyantap makanannya.
Ethan menghentikan kunyahannya, dia menatap Berlian tak percaya.
“Paling nggak, satu-dua murid lagi…” sambung Berlian. “Nggak ada bahayanya, kok…. Aku bisa pergi sendiri kalau kamu repot. Muridku pasti baik-baik kok, kan di rumah mereka, nggak mungkin macem-macem…” lanjutnya lagi.
“Terserah,” jawab Ethan singkat sambil melanjutkan suapannya. Matanya masih menatap Berlian, terlihat tengah berpikir keras.
“Kamu marah?”
“Nggak. Ngapain marah? Kamu itu keras kepala, kalau belum ada kejadian, belum percaya.” Ethan berkata dengan nada kesal.
Berlian diam, lalu melanjutkan suapan makanannya sendiri.
“Eh, aku punya murid, di yayasan, namanya Ferdi, kamu masih ingat ceritaku?” Berlian memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.
“Iya aku masih ingat. Kenapa?”
“Beberapa hari lalu orang tuanya ke yayasan, ngobrol sama aku, katanya Ferdi terlihat aneh akhir-akhir ini, sering buka laptop, tapi begitu orangtuanya mendekat, dia langsung menutup laptop-nya. Mereka takut Ferdi membaca hal-hal yang nggak benar, walaupun orangtuanya sebenarnya udah pasang filter di laptop itu.
“Udah nyoba ngobrol sama Ferdi-nya langsung?”
“Udah, besoknya aku langsung coba deketin Ferdi, tapi seperti biasanya, dia nggak mau terbuka. Biarpun dia sekarang semakin dekat sama aku, tapi dia belum mau bercerita banyak.”
“Sabar aja, kamu pasti bisa nolong anak itu,” kata Ethan sambil meletakkan piring kosongnya di atas meja.
“Iya, semoga dia nggak ada masalah apa-apa,” kata Berlian, sambil terus mengunyah pelan.
Berlian benci, kali ini Ethan menepati kata-katanya, dia langsung pulang tak lama setelah dia menghabiskan makanannya dan mengobrol beberapa menit. Seperti yang selalu Ethan bilang, dia selalu menepati janjinya.
Suara mobil menjauh seakan membawa pergi pula hatinya. Kesunyian membekapnya seketika. Dia menutup pintu pagar perlahan, lalu menguncinya. Angin sore berembus pelan, mendayu. Seperti hatinya.
***