Mobil Jonathan menembus keramaian jalanan. Padatnya kota Jakarta semakin terasa saat
jam kerja perkantoran berakhir. Bis kota, metromini, bajaj, dan mobil pribadi lainnya berjejalan. Sesak, seakan jalan raya tak mampu lagi menampung banyaknya kendaraan.
Ø Kita harus bicara!
Itu pesan dari Cathy. Dia sudah membalasnya, berjanji akan ke apartemen Cathy malam
ini. Namun dia memutuskan untuk mendatangi pacarnya itu lebih awal.
Dia teringat saat pertama kali berkenalan dengan gadis cantik itu, di sebuah night club mewah, di bilangan Jakarta Selatan. Aboy yang mendorongnya untuk menerima ajakan kencan gadis itu. One night stand, rencana semulanya. Namun setelah itu, Cathy menempel padanya seperti lintah di rawa-rawa. Hubungan saling menguntungkan sebenarnya lebih tepat daripada sebutan pacaran.
Gelora muda mengaliri darah mereka berdua. Seperti bensin bertemu dengan api, saling menyambar, panas, membara. Namun ketika bara itu akhirnya menjadi arang hitam, hanya dingin yang terasa. Hubungan yang tanpa dasar cinta, hanya mengejar kepuasan semata.
Sudah lama Jonathan ingin mengakhiri hubungannya dengan Cathy, bukan karena pertaubatan atau apalah sebutannya, namun hati nuraninya mendesak untuk melepaskan itu semua. Puncaknya terjadi beberapa bulan yang lalu, dan sebuah keputusan telah diambilnya.
Mobil berbelok masuk ke area apartemen, memasuki basement-nya. Lalu dengan santai dia berjalan, mendekati apartemen Cathy. Dia menekan belnya, lalu menunggu. Tak lama kemudia Cathy membuka pintu, begitu saling bertatap, wajahnya terlihat sangat terkejut.
“Jo? Kok sekarang datangnya? Katanya lo malam mau ke sini…” tanya Cathydengan suara pelan namun dalam dan mendesak, sedangkan tubuhnya tiba-tiba diam membeku. Tangannya terlihat menahan pintu agar tidak terbuka lebar.
“Gue ada waktu. Boleh masuk?”
“Kita ngobrol di bawah aja gimana?” tanya Cathy dengan panik. Pertanyaan yang malah membuat Jonathan semakin ingin masuk ke dalam apartemen itu.
“Kenapa? Gue sebentar doang. Gue mau masuk,” kata Jonathan, menatap Cathy langsung.
Cathy mengangguk penuh ragu, sekilas matanya melirik ke dalam. Dia mundur selangkah, memberi celah pada Jonathan untuk melangkah.
Tepat pada saat Jonathan masuk, dari arah kamar Cathy keluar seorang pria yang hanya menggunakan handuk kecil melilit di pinggangnya. Rambutnya basah, terlihat habis mandi. Dan demi apa pun, Jonathan tahu, pria itu, dengan tato di sepanjang lengannya, bukan sanak saudara Cathy.
Mereka berdua berpandangan.
Pria itu tercengang, namun Jonathan malah bersikap biasa saja. Jonathan menoleh ke arah Cathy yang sudah pias wajahnya. Mulutnya setengah menganga, tangannya mengepal gelisah.
“Sepertinya gue mengganggu pesta lo. Lo udah tahu apa yang akan gue sampaikan ke lo kan? Gue nggak perlu mengulang.”
“Jo…” Cathy memanggil dengan suara tercekat.
“Siapa dia, Sayang?” tanya orang itu, malah memperkuat dugaan Jonathan.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Jonathan segera melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Cathy. Cathy hanya diam menatap kepergian Jonathan, dan tubuhnya terasa panas dingin tegang karena pria ber-tato itu memandangnya dengan sorot mata tajam.
Jonathan langsung menuju ke mobilnya. Dia menyalakan rokok yang tersimpan di dashboard mobil. Menyalakannya, lalu menghisapnya kuat. Dia menjalankan mobilnya, keluar dari apartemen Cathy, keluar dari kehidupan wanita itu, selamanya.
***