Berlian menunggu Saka menyelesaikan tugas menulis braille yang diberikan olehnya.
Pikirannya melayang, Ethan—seperti biasanya—menunggu dirinya di mobil, di luar. Tangan Berlian mengusap permukaan meja yang licin, dia hafal, sejengkal dari sudut meja ada goresan tidak jelas dirasakannya, seperti ukiran huruf B di sana. Berlian mengelusnya, membayangkan bagaimana goresan itu bisa terjadi. Bau obat pembasmi nyamuk tercium dengan kuat olehnya.
“Sudah, Berlian. Ini.” Saka menyodorkan kertas hasil pekerjaannya pada Berlian. Berlian membaca melalui ujung jarinya.
“Bagus. Kamu cepat banget belajarnya. Apa lagi yang kamu mau tahu?”
“Begini, apakah orang buta punya rasa minder?”
Berlian tersenyum. “Pasti ada. Sama seperti orang dengan mata normal, kita juga memiliki perasaan, memiliki emosi.”
“Bisa jatuh cinta juga?”
Berlian masih mengembangkan senyum yang sama.
“Sangat bisa. Kenapa nggak?”
“Apa yang bisa bikin orang buta jatuh cinta? Maksudku, biasanya orang akan melihat dulu secara fisiknya, trus demen sama orang itu, lalu jatuh cinta. Ya kan?”
“Mungkin lebih banyak dari perhatian dan perlakuan yang diterimanya dari lawan jenisnya. Itu akan membuat jatuh cinta.”
“Apakah berat menjalani kehidupan sebagai orang buta?”
“Bagi mereka yang mengalami kebutaan setelah melewati masa bayi, mungkin iya. Apalagi orang dewasa, butuh masa penyesuaian. Tapi bagi mereka yang buta sejak lahir—seperti aku—semuanya biasa saja. Menjalani kehidupan seperti yang udah digariskan.”
“Terus gimana dengan penyandang tunanetra yang bisa membaca buku di komputer bahkan bisa menggunakan sosial media?”
Berlian tersenyum, dia mengeluarkan ponselnya.
“Sekarang udah modern, udah canggih, ada aplikasi khusus, bisa untuk ponsel atau laptop dan komputer. Nama aplikasinya JAWS atau Talk1. Gampang tinggal di download. Dengan aplikasi ini, tulisan apa pun yang ada di monitor akan dibacakan. Coba ini.”
Saka menerima headset yang disodorkan oleh Berlian. Tubuhnya bergeser, mendekat pada Berlian. Saka tersenyum mendengar suara orang bule membacakan teks dengan nada sangat cepat.
“Wow, kamu ngerti semua ucapannya?” tanya Saka heran, sembari mengembalikan headsetnya kepada Berlian. Berlian menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas-nya. Saka semakin mendekatkan tubuhnya pada Berlian.
“Iya, kami dikaruniai kelebihan oleh Tuhan, walaupun kami nggak bisa melihat, namun indra kami yang lainnya sangat peka.”
“Seperti begini?” Tiba-tiba Saka mengelus lengan Berlian. Berlian menarik tangannya secepat kilat. Dia menoleh kaget pada Saka.
“Kamu cantik, Berlian. Biarpun kamu buta, tapi kamu cantik. Ayolah, mumpung kita hanya berduaan sekarang…” rayu Saka, jarinya mengelus lagi lengan Berlian. Berlian semakin mencondongkan tubuhnya menghindar.
“Apa-apaan kamu?!” desis Berlian, dia langsung menyambar tasnya, lalu berdiri. Instingnya berkata bahwa dia harus waspada, bahwa dia harus menjauh.
“Ayolah… yang kamu butuhkan hanya uang, kan?” Saka mendekat. Berlian melangkah mundur, tangannya meraba-raba, mencari pintu keluar. Tetapi yang disentuhnya hanya dinding yang terasa dingin di telapak tangannya. Ingatannya melayang pada Ethan yang sedang menunggunya di luar.
Saka memegang lengan Berlian lagi, Berlian menggeliat melepaskan dirinya, “ETHANNN!!!” teriaknya kencang!
“Nggak akan ada yang dengar… ayolah, aku suka kamu…. Aku kasih kamu uang nanti.”
Berlian menjerit, melengking dengan kuat. “ETHAN!!! TOLONG!!! Dia mundur terus, berusaha menjauhi Saka yang dia pikir ada di hadapannya. “ETHAN!!! TOLONG!!! ETHANNN!” jeritnya histeris.
Tiba-tiba…
Brakk!!
Suara pintu dibuka kencang.
“b*****t!” Itu suara Ethan!
Lalu terdengar suara pukulan, kemudian suara tubuh yang terjatuh.
“Lo b******n!” teriak Ethan, lalu satu pukulan lagi terdengar. Kemudian senyap.
Berlian terpaku, air matanya perlahan meleleh di pipinya, kedua tangannya memeluk tasnya dengan erat. Kakinya lunglai, terasa sangat lemas tak berdaya.
“Kamu nggak apa-apa, Yan?!” Ethan bertanya dengan cemas, tangannya sekilas menyentuh pipi gadis yang terlihat pucat pasi itu.
Berlian menggigil, mengangguk, sambil memegang lengan Ethan dengan erat.
“Di… di… dia…?” tanya Berlian sangat gugup, sambil menoleh ke arah Ethan.
“Nggak apa-apa, kayaknya pingsan. Ayo kita keluar.” Ethan mengangkat tubuh Berlian dengan menarik lengannya.
Mereka berdua keluar, Ethan membanting pintu dengan kencang. Dia membimbing Berlian yang terlihat ketakutan dengan kejadian yang baru saja terjadi.
“Saka… dia… mau… dia… mau….” kata Berlian terbata-bata tidak jelas, ketika dia sudah duduk di dalam mobil Ethan.
“Sudah… sudah… kamu aman sekarang, dia nggak akan ganggu kamu lagi.” Ethan menepuk bahu Berlian yang mulai menangis tergugu.
Ethan menjalankan kendaraannya. Menjauhi rumah Saka.
Hening mencekam di antara mereka berdua. Tangis Berlian sudah reda, dia sudah merasa tenang. Dia langsung menceritakan semuanya pada Ethan.
“Makanya, apa aku bilang? Nggak usah ambil-ambil privat lagi! Ngerti?!” kata Ethan setengah membentak, terdengar gemas sekaligus.
“Iya, Than…. Aku nggak mau ambil les privat lagi, aku ngajar anak-anak di yayasan aja…” jawab Berlian perlahan. Lenyap sudah keinginan untuk mengambil les privat, walaupun dia tahu, tidak semua calon muridnya akan sebrengsek Saka. Saat ini hanya rasa takut yang menyergapnya.
Ethan tersenyum dalam diam. Matanya menyiratkan kepuasan.
“Kita makan dulu ya, nanti aku antar kamu pulang. Habis antar kamu, aku langsung pulang juga, aku ada janji….”
“Sama siapa?” potong Berlian, namun dengan cepat ditutupnya mulutnya.
Ethan melirik Berlian sekilas.
“Teman kantor. Kenapa?”
Berlian menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Nggak, pengen tahu doang.”
Obrolan mereka berlanjut, perlahan namun pasti Ethan telah membuat rasa takut Berlian melebur bersama suara tawa yang mereka keluarkan bersama-sama.
***
Berlian masih berdiri di pagar ketika Ethan membalikkan badannya, menuju mobilnya. Sederet kalimat keluar dari mulut Ethan, agar Berlian segera masuk ke dalam rumahnya, agar pintu langsung ditutup, agar gadis itu cepat-cepat masuk kamar dan tidur.
Berlian menunggu hingga suara mobil Ethan menghilang dari pendengarannya. Dia tersenyum, lalu membalikkan badan setelah memasang gembok di pintu gerbangnya.
Kring!
Berlian mengeluarkan ponsel dari dalam tas, memasang headset ke telinganya, sambil duduk di kursi teras rumah.
“Git!” teriak Berlian dengan senang, diletakkannya tasnya ke atas meja.
“Haloooo! Lama kita nggak teleponan, ya?” balas Anggit dari ujung telepon.
“Iya, udah lama banget. Minggu lalu ada ada masalah, Git, sama anak murid. Namanya Saka.” Meluncurlah dari bibir Berlian tentang kelakuan Saka.
“Duh, makanya benar, jangan kasi privat-privat lagi. Tapi lo sehat, kan?” tanya Anggit.
“Iya sehat lahir batin,” kata Berlian disertai tawa bahagia.
“Bagaimana dengan mister ‘Ehm!’ lo itu?” tanya Anggit menggoda. Berlian tertawa lepas.
Lalu tawanya terhenti, dia memiringkan kepalanya, mendengarkan, suara pagar dibuka… dari arah rumah Jonathan.
Jonathan baru pulang….
“Yan?” panggil Anggit.
Berlian menarik lamunan sekejapnya, berkonsentrasi lagi pada Anggit.
“Iya, sorry… gue ngelamun barusan.”
“Ngelamunin apa?”
Berlian mengangkat kedua kakinya, duduk bersila di atas kursi, menyandarkan punggungnya dengan posisi nyaman.
“Nggak, bukan apa-apa.”
“Ethan gimana?”
Rona panas seketika menyergap wajahnya.
“Ethan… gue bingung, Git… Ethan itu…too good to be true…” jawab Berlian dengan suara mengambang. Pikirannya melayang pada Ethan. Anggit tertawa.
“Tapi ini kenyataan kan? Jadi ceritanya lo jatuh cinta sama Ethan ini?”
Berlian menunduk, rasa panas di wajahnya menjadi-jadi.
“Terus terang aja sama gue… hahaha, lo kebaca banget sih Yan, bener kan tebakan gue?” sambung Anggit.
Berlian mengambil napas panjang. “Iya, gue jatuh cinta sama dia. Ethan baik, terlalu baik malah. Selalu perhatian sama gue, selalu ada buat gue. Rasanya nyaman aja berada di dekat dia, berasa udah seumur hidup gue kenal dia….”
“Terus Ethan sendiri gimana?”
“Gue nggak tahu, Git. Dia belum pernah ngobrol yang nyerempet-nyerempet soal cinta gitu deh. Dia perhatian tapi sekaligus jaga jarak sama gue, itu yang gue rasakan.”
Lalu mengalirlah cerita panjang lebar dari mulut Berlian, tentang apa pun yang telah terjadi selama pertemanannya dengan laki-laki itu. Perasaan ‘nyambung’, keteguhan Ethan untuk mengantar dan menjemput Berlian, perhatian laki-laki itu terhadap kebutuhannya, mengecat rumah, kelembutan Ethan saat ke pantai, hingga penyelamatan Ethan dari kecabulan Saka.
“Gimana menurut lo, Git? Apa gue yang terlalu GR? Apa gue salah, nerima semua perhatian itu sebagai tindakan atas dasar cinta ke gue?”
“Nggak, gue yakin, seratus persen yakin, dari cerita lo, Ethan itu ngasih perhatian lebih dari sekadar temen.”
Berlian menempelkan ponselnya rapat ke telinganya, seakan tidak mau melewati kata-kata dari temannya itu, kata-kata yang membuat perasaanya nyaman. Dia bergerak, mengubah posisinya lagi, menekuk kedua lututnya, menempelkan dagunya ke atas lutut. Angin berembus perlahan, Berlian mendongak. Mencium bau asap rokok… dari arah rumah Jonathan.
“Apa yang harus gue lakuin Git? Apa gue harus nunggu terus sampe dia sendiri yang nyatain perasaannya ke gue? Gimana kalau dia nggak pernah ngomong apa-apa?”
Tawa Anggit berderai di ujung telepon. Berlian ikut tersenyum.
“Aduh, lo baru juga kenal beberapa bulan, udah buru-buru aja pengen ditembak.” Berlian tertawa mendengar sindiran sahabatnya itu. “Tapi kalau lo nggak sabar, ya lo tanyain aja langsung!” lanjut Anggit.
“Ogah! Malu, masa cewek nanyain langsung perasaan cowok?” Berlian merengut.
“Lha, trus gimana? Pake jasa dukun? Paranormal? Suruh mereka nebak isi hati Ethan? Ya udah sana!” Anggit tertawa kencang. Berlian ikut tertawa.
“Mungkin gue sindir-sindir aja ya…. Gue nggak pernah tanya tentang love life dia, mungkin gue tanya pelan-pelan, nanti gue singgung sedikiiiit aja tentang perasaan dia ke gue. Gimana?”
“Nah, iya betul itu! Tapi gue warning lo dulu Yan, lo harus siap mental, jangan ngarep terlalu tinggi ok? Kita kan nggak tahu isi otak apalagi isi hatinya.”
Lo bener Git, gue sama sekali nggak bisa ngebaca isi hati Ethan.
“Terus kalau ternyata dia nggak punya perasaan apa-apa sama gue, gimana dong?” tanya Berlian, tiba-tiba dirasuki keraguan luar biasa. Ada rasa minder menerpanya. Minder yang tak beralasan.
“Yah lupain dia, jauhi. Karena kalau lo nempel terus sama dia, lo akan ngerasa semakin sakit. Iya kan?”
“Iya sih, nanti gue cari moment-moment gue bisa ngorek-ngorek perasaan dia. Ahhhh Anggittt, gue jatuh cinta beneran sama Ethan!” teriak Berlian.
Uhuk! Uhuk!
Berlian melenyapkan senyumnya, mendengarkan lagi, ketika terdengar suara batuk lagi, Berlian melanjutkan percakapannya dengan Anggit.
Itu hanya suara Jonathan yang batuk.
“Lo tahu nggak Git, gue belum cerita tadi, waktu ke pantai… Ethan romantissss bangetttt! Sepatu gue dilepasin sama dia, dipegangin, ngomong tentang warna-warna… gue ngerasa kayak bulan madu….”
“Emang lo pernah bulan madu? Pacaran aja belum pernah!” kata Anggit meledek. Tawa Berlian pecah lagi.
“Emang bulan madu ngapain aja sih Git, romantis-romantisan begitu doang kan?”
“Nggak, bulan madu itu main gaplek berdua!” teriak Anggit, suara dengusannya terdengar. Berlian tertawa lepas.
“Bikin anak… lo pernah gue tunjukin tulisan tentang bikin anak kan?”
Tawa Berlian semakin kencang, namun wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
“Oke, oke, udah, nggak usah dibahas…” elak Berlian, menghentikan derai tawanya, menghapus air mata yang keluar dari sela kelopak matanya yang tertutup.
“Takut kepengen?”
Tawa keduanya pecah lagi.
“Ya udah, ini anak gue manggil, mau tidur. Gue matiin teleponnya dulu ya. Dahh!”
“Dah Anggitttt!” Berlian menekan tombol memutuskan sambungan teleponnya. Dia menurunkan kakinya dari kursi, lalu berdiri, mengunci pagar. Dia membalikkan badan, berhenti sejenak, dan baru sadar bau asap rokok Jonathan semakin tercium tajam. Jonathan masih ada di garasinya pasti, duduk di bangku kayu yang menempel di tembok pembatas antara rumah mereka berdua.
Berarti dia ngedengerin obrolan tadi…. Berlian menoleh sekilas. Bodo!
Berlian melanjutkan langkahnya dengan riang dan senyum yang terukir di bibirnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintunya. Tak lama terdengar bunyi SMS terdengar. Berlian mendengarkan pesan dari seseorang yang langsung membuat senyumannya melebar.
Ø Aku udah sampai rumah. Kamu lagi ngapain?
Berlian mengetik dengan lincah.
Ø Syukurlah. Aku mau mandi dulu, dari tadi teleponan sama Anggit.
Ø Langsung tidur, Yan.
Ø Iya.
Ø Omong-omong, naskah novelnya udah kamu revisi? Aku pengen baca.
Ø Udah, bentar lagi aku kirim filenya ya. Tadi udah aku email naskah ini ke penerbit indie yang mau nerima naskah berupa softcopy.
Ø Baguslah. Udah sana tidur, jangan lupa kunci pintu. Nite.
Ø Nite
Berlian memeluk ponsel miliknya itu dengan sepenuh hatinya. Jiwanya tengah melayang, di antara awan-awan cinta yang terbentuk begitu saja. Melenakannya, karena kelembutannya. Memabukkannya dengan euphoria yang mendadak muncul setiap kali bayangan Ethan melintas di kepalanya.
***
Jonathan mengembuskan asap rokoknya ke atas kepalanya yang menempel di tembok. Kakinya terjulur ke depan. Beberapa puntung rokok terlihat di asbak kaleng di atas bangku yang sama.
Dia mendengarkan semua—SEMUA—cerita Berlian.
Kini sudah jelas semuanya. Sudah sangat jelas, dan dia tidak menyangkanya.
Kening Jonathan berkerut, otaknya bergerak lebih cepat dari biasanya.
Ting!
Suara notif terdengar dari ponselnya.
Dia menghisap rokoknya dalam-dalam sementara matanya membaca tulisan di monitor ponselnya. Sungging senyuman tercipta indah saat dia selesai membaca untaian kalimat itu. Dia menekan tanda ‘reply’, mengetik dengan cepat isi kepalanya. Suara notif terdengar lagi dan lagi. Setiap tulisan yang diterimanya, membuatnya tersenyum.
Saat lama tak terdengar lagi bunyi tanda pesan itu, dia mematikan rokoknya, lalu berdiri, masuk ke dalam rumahnya.
***
Sonya tersenyum puas, dibacanya sekali lagi sebelum menekan tombol ‘SEND’ di ponselnya.
Ø Gue nggak bisa ngelupain apa yang terjadi dengan kita berdua waktu itu. Pengalaman pertama yang nggak akan pernah gue lupakan. Kenikmatan yang selama ini gue hanya sekadar dengar sambil lalu dari temen-temen gue, ternyata apa kata mereka semuanya benar. Lo hebat. Gue baru ngerti apa yang disebut dengan laki-laki perkasa. Pilihan gue ternyata benar. Andai… andai saja, gue bisa mendapatkan itu lagi. Mungkinkah?
Dia menunggu dengan d**a berdebar. Dia merasa heran, baru pertama kali bertemu, laki-laki itu sudah meninggalkan kesan begitu mendalam padanya. Hal yang belum pernah dia alami sebelumnya. Kejutan ‘jackpot’ yang diterimanya pada hari bersejarah itu, membuatnya seperti seorang pecandu yang menjadi ingin lagi, ingin lagi, mencicipi rasa itu. o*****e pertamanya, dengan seorang laki-laki, bukan karena belaian tangannya sendiri.
Suara notif membuatnya terlonjak seketika. Dia membuka balasan yang diterimanya dengan berdebar.
Ø Kenapa nggak? Besok, di apartemen lo. Gue akan datang malam, setelah kerjaan gue selesai.
Suara teriakan ‘yes’ keluar dari mulut Sonya, dia melompat-lompat di atas kasur
pegasnya. Tubuhnya terlontar-lontar, tubuh seorang gadis muda yang dipaksa matang. Dia membanting tubuhnya, telentang, memejamkan matanya, mengenang setiap detil perlakuan laki-laki itu kepadanya. Sentuhannya, belaiannya, dan dia menginginkan lebih.
Sonya mengelus puncak dadanya sendiri yang mulai mengeras, tegang oleh gelora usia mudanya. Dia memeluk gulingnya dengan erat, memaksakan matanya terpejam, tidak sabar menunggu hari esok.
***
Catatan :
1. Talk : sama seperti JAWS, program pembaca tulisan di perangkat berlayar seperti komputer atau ponsel, diperuntukkan bagi kaum d*********s yang daya penglihatannya buruk atau hilang sama sekali (Tuna Netra)