Ethan menekan nomor telepon Berlian, menunggu dengan sabar hingga tersambung. Hingga deringan kelima, belum juga terangkat. Namun pada deringan keenam, Ethan baru mendengar suara Berlian.
“Halo?” tanya Berlian dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
“Belum bangun kamu? Aku mau jemput kamu sebentar lagi.”
Ethan. Berlian langsung terjaga penuh.
“Jam berapa sekarang? Mau ke mana?” tanya Berlian sambil menggeliat. Tubuhnya masih tertutup selimut.
“Jam enam, noh matahari udah keluar. Limabelas menit lagi aku sampai di rumah kamu. Siap-siap.” Ethan mematikan teleponnya tanpa mengatakan ke mana dia akan membawa pergi.
Khas Ethan.
Berlian meletakkan ponselnya kembali ke atas meja kecil di samping ranjangnya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bergerak turun dari ranjang, rasa kantuk yang tadi sedikit mendera kini menghilang tanpa bekas. Dengan penuh semangat dia bergerak lincah mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi.
Suara panggilan dan ketukan di pintu pagar membuat Berlian tersenyum. Dia menyentuh lagi sekilas rambutnya, bajunya, lalu meraih sepatu santai di rak sudut kamarnya dan memakainya langsung.
“Yan!”
Suara panggilan Ethan terdengar lagi, bergegas Berlian keluar dari kamar.
“Iyaaaa!” jawabnya kencang, lalu bergegas menghampiri pintu gerbang. Ethan mengambil kunci yang ada di tangan Berlian, lalu membuka gerbangnya.
“Udah siap?”
“Bentar, ada kelupaan.”
“Apaan?”
“Belum pakai lipstik.”
Ethan menatap Berlian dengan bingung, melihat dari atas kepala hingga ujung kaki gadis itu. “Kenapa harus pakai lisptik? Nggak perlulah. Ayo!”
Berlian tertawa malu.
Aku hanya ingin terlihat cantik di matamu, Than.
“Bawa jaket. Gih, sana ambil dulu,” perintah Ethan. Berlian membalikkan tubuhnya, masuk lagi ke dalam kamarnya.
Ethan sudah menunggu di dekat pagar. Begitu Berlian keluar, dia segera mengunci pintu rumah dan pintu pagarnya. Dia membimbing Berlian untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Ke mana sih kita, Than?”
“Ke tempat sesuai permintaan kamu waktu itu…” Ethan mulai menjalankan kendaraannya.
Berlian menoleh, berusaha mengerti maksudnya.
Etha menoleh dan tersenyum. “Pertama, ke pantai. Kedua….”
“Gunung!” potong Berlian dengan cepat. “Ke mana?”
“Ciwideuy. Pernah dengar? Kawah putih.”
“Iya iya! Aku pernah dengar tentang tempat itu. Ahhh Ethan, aku emang belum pernah ke sana. Asik!” seru Berlian dengan senyum yang sangat lebar. Lagu dari audio player mobil di putar. Wajah Berlian begitu sumringah, bibirnya mengikuti lantunan lagu Thousand Years yang menggema lembut.
Mobil mereka melambat. Berlian menoleh, berkata dengan nada bingung, “Udah sampai? Cepat amat.”
“Belum. Kita sarapan dulu ya? Di sini bubur ayam sama lontong sayurnya enak.” Berlian mengangguk. Kini apa pun yang Ethan rencanakan bagi dirinya, dia hanya merasa harus mengikutinya, harus memercayai laki-laki itu.
Ethan menyentuh lengan Berlian ringan, mengajaknya masuk ke dalam tenda yang terbentang panjang. Hampir seluruh kursi terisi. Ethan mendorong punggung Berlian pelan, mengarahkannya ke tempat yang kosong.
Kedatangan mereka berdua menarik perhatian, seolah tontonan hiburan. Apa yang lebih menarik sebagai bahan gossip dibandingkan pemandangan pemuda tampan terlihat berpacaran dengan seorang gadis buta? Ethan tahu mereka berdua menjdi pusat tontonan. Bukannya menghindari, dia malah bersikap masa bodoh dan seperti biasanya pada Berlian. Ketika satu sama lain saling berbisik, Ethan malah sibuk membersihkan dagu Berlian yang terkena cipratan kuah.
Tidak sampai satu jam, keduanya sudah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan bahan gosip dan sebagian kisah cinta yang manis di mata beberapa orang lainnya. Perut kenyang, rasa bahagia, membuat wajah Berlian bersinar cerah. Perasaan nyaman yang jarang-jarang didapatkannya dari seorang laki-laki.
Dua jam berlalu, sekali lagi Ethan menepikan mobilnya.
“Udah nyampe?” tanya Berlian.
Ethan membuka safety belt Berlian.
“Belum, ada yang aku pengen tunjukin ke kamu.”
Berlian tersenyum, dia menunggu, kebiasaan Ethan membukakan pintu mobil baginya menjadi ritual manis yang selalu dia harapkan.
Angin sejuk menerpa keduanya. Berlian mengangkat kedua lengannya ke atas, menikmati sepoi angin dan udara segar. Hal yang langka--atau mungkin tidak akan pernah terjadi di Jakarta.
“Ih, segar banget, Than!” seru Berlian.
Ethan membuka kacamatanya lalu mengikuti gerakan Berlian, menghirup dalam-dalam udara segar, memenuhi rongga paru-parunya.
Seorang wanita setengah tua terlihat beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Ethan menyuruh Berlian diam di tempat, sementara dia mendekati wanita itu. Ethan menanyakan beberapa hal lalu dia menarik lengan Berlian, memasuki sebuah kebun kecil dengan deretan tanaman kecil di dalam pot plastik berwarna hitam.
“Ini tempat apa, Than?” bisik Berlian sambil berjalan pelan, merasakan sesuatu menggelitik pergelangan kakinya. Itu pasti rumput, pikirnya.
“Sini, jongkok Yan. Sini.” Ethan menarik lengan Berlian dengan lembut, menarik jari tangannya mendekati sebuah tanaman pendek dalam pot yang berbuah lebat.
Senyum Berlian mengembang seketika, tatkala permukaan buah yang terasa kasar menyentuh jarinya.
“Apa ini, Than?” tanyanya takjub, tak henti-hentinya mengelus buah kecil itu di seluruh permukaannya yang kasar.
“Strawberry. Coba pindahin tangan kamu sedikit ke atas… nah….”
“Wahhh ini lebih besar! Apa warnanya, Than?”
“Merah.”
“Merah…” Berlian tersenyum. “Andai aku bisa melihat apa itu merah.”
“Merah itu… seperti bibir kamu…. Merah.” Ethan menyentuh sekilas bibir Berlian yang tersentak kaget, kemudian berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan berpura-pura mencari-cari buah strawberry lainnya. Berlian berusaha menunduk sedalam mungkin, dia tidak mau Ethan menangkapnya tersipu seperti itu.
“Ini, pegang.” Ethan menarik tangan Berlian, menyerahkan sebuah keranjang berukuran mini. “Kamu boleh petik strawberry ini, sebanyak yang kamu mau.”
Berlian menoleh cepat. “Kita mau nyolong?”
“Silly!” Ethan tertawa. “Ya nggak lah, tempat ini jadi tempat rekreasi juga, nanti kita bayar. Berapa banyak yang kamu ambil, nanti ditimbang. Masa nyolong, ada-ada aja kamu….”
Berlian tertawa, rona merah terlihat jelas di wajah mulusnya. Beberapa menit kemudian Berlian memotong tangkai buah strawberry itu dengan gunting khusus yang sudah disediakan oleh pengelola tempat itu. Berlian memilih dengan cermat, dengan instingnya sendiri, memilih yang berukuran besar.
Ethan hanya mengamati gerakah hati-hati Berlian, menatap wajah putih gadis itu dalam diam. Wajahnya terlihat begitu serius, komentar-komentar Berlian hanya terdengar sambil lalu di telinganya. Ada yang berkecamuk di dalam dadanya. Sesuatu yang sudah dia rencanakan untuk diungkapkan hari ini. Untuk melengkapi rencana yang telanjur membesar tanpa bisa dia cegah.
“Udah, segini aja cukup. Nanti pulangnya kita bikin jus ya?” Berlian menunjukkan keranjang kecil yang sudah terisi setengah penuh.
“Boleh, tapi aku mau yang manis.”
Berlian tersenyum.
“Mau petik raspberry juga?” tawar Ethan.
“Apa itu?”
Ethan menarik tangan Berlian, masuk lebih ke dalam. Wanita pengelola tempat itu sudah memberi tahu Ethan sebelumnya tanaman apa saja yang ada di sana.
Dengan penuh semangat Berlian mulai menyentuh buah yang ukurannya lebih kecil dari strawberry itu.
“Warnanya juga merah. Katanya ada yang berwarna hitam, tapi di sini lagi nggak ada.”
Berlian manggut-manggut mendengarkan Ethan, sementara tangannya menyentuh satu persatu buah itu. Membayangkannya dengan caranya sendiri. Jarinya meraba permukaan buah yang mirip kumpulan bola-bola berukuran kecil. Memetiknya dengan penuh semangat. Angin segar berembus pelan, Ethan berdiri di belakang Berlian, menatap punggung itu, memperhatikan gerakan tangan gadis yang berjari lentik itu.
Rasa pegal tak dirasakannya, dia hanya memandang terus Berlian yang terlihat sangat menikmati kegiatannya. Sesekali dia mendengar Berlian berteriak dan menunjukkan pada Ethan apabila dia menemukan buah yang lebih besar dari sebelumnya.
“Habis ini kita langsung naik ke Ciwideuy, oke?” kata Ethan sambil menyerahkan beberapa strawberry dan raspberry yang sudah dicucinya dengan air mineral dari botol miliknya. Berlian mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil dengan tangan menggenggam buah itu. Ethan meletakkan satu kantong plastik kecil buah itu ke tempat duduk belakang. Setengah jam yang sangat berkesan bagi Berlian.
Gadis itu mengunyah perlahan, sesekali bibirnya mengerucut, karena rasa asam yang dirasakannya. Namun itu tidak membuatnya jera.
Ethan tertawa pelan, sembari mengambil sebuah raspberry yang terlihat menggiurkan dari tangan Berlian lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.
Sejam kemudian mereka tiba di tempat yang dituju. Kawasan Pariwisata Kawah Putih Ciwideuy. Ethan memarkirkan mobilnya. Tempat itu terlihat ramai, namun tidak begitu padat.
“Pakai jaket kamu, Yan. Dingin nanti.” Ethan mengambil jaket dari tangan Berlian.
Berlian mengangguk. “Masukkan lengan kiri kamu…” Ethan membentangkan jaketnya di belakang tubuh Berlian, “sekarang yang kanan.” Ethan langsung merapikan jaket yang dipakai Berlian, merapikan juga rambutnya.
Ethan menyentuh punggung Berlian lembut. Mengarahkannya menuju pintu masuk.
“Setelah ini akan ada anak tangga panjang… kalau kamu capek tinggal bilang, oke?”
Berlian tersenyum dan mengangguk. Ethan menggenggam tangannya, menariknya untuk mengikuti langkah kakinya. Setiap kali menuju undakan baru, Ethan akan memberitahu dirinya.
“Naik.” Itu katanya, singkat.
“Bau apa ini? Kayak bau kentut…” kata Berlian sambil mengenduskan hidungnya ke udara.
Ethan tertawa, “Ini bau belerang, tapi aku percaya kentut kamu pasti juga sebusuk ini baunya…” goda Ethan.
Berlian tertawa kencang, dicubitnya lengan Ethan dengan perasaan gemas.
Titik sentral tempat wisata ini sudah di hadapan mereka, bau belerang yang berasal dari kawah semakin kuat tercium. Pemandangan luar biasa, ukiran Sang Alam, bentangan air danau alami berwarna biru kehijauan dan batu putih yang mengelilingi kawah ini terlihat begitu menakjubkan.
Walaupun Berlian tidak bisa melihatnya, namun semua itu begitu terasa nyata di dalam angannya. Ethan menjelaskan apa pun yang terlihat di hadapannya.
“Kita foto-foto dulu, Yan. Sini, aku cari posisi yang aman tapi bagus.” Ethan menarik tubuh Berlian membelakangi pemandangan indah. Ethan menghampiri seorang pemuda di dekat mereka, meminta bantuannya untuk mengambil foto mereka berdua.
Setelah itu mereka kembali menghadap ke arah kawah, Ethan masih sibuk menceritakan apa saja yang terlihat olehnya.
Udara terasa lebih dingin, Berlian mendekap jaketnya erat. Ethan melirik gadis itu, untuk sekejap, tangannya terulur untuk memeluk, namun ditariknya cepat, menggagalkan apa pun yang menjadi rencananya. Dia kembali mentatap ke depan, kedua tangannya dimasukkannya ke dalam kantong celana jeans-nya.
“Udah lapar?” tanya Ethan.
“Heeh, udaranya dingin, bikin laper,” jawab Berlian.
“Bilang aja gembul,” goda Ethan lagi.
Berlian membuat gerakan memukul, namun ditariknya cepat. “Takut kamu jatuh ke bawah, nggak ada stok Ethan lagi.” Berlian meringis.
Ethan tertawa. Untuk kesekian kalinya, tertawa bebas bersama gadis itu. Tawa yang bukan suatu kepura-puraan. Dia menatap Berlian lekat, ada suatu keraguan menerpa hatinya, namun dikeraskannya rahangnya, bagaimanapun rencananya harus dilaksanakan.
“Capek?” tanya Ethan, melihat Berlian menghentikan langkahnya dan terlihat memukul-mukul betisnya, ketika mereka telah sampai di pertengahan jalur tangga itu.
“Lumayan,” jawab Berlian.
Ethan bergerak maju, ke hadapan Berlian, lalu berjongkok, dengan punggung menghadap ke Berlian.
“Ulurkan tangan kamu,” suruh Ethan.
Berlian mengerutkan keningnya, namun tetap mematuhi permintaan Ethan, dia mengulurnya tangannya, menyentuh tubuh Ethan.
“Itu pundakku. Ayo, aku panggul kamu sampai ke bawah,” kata Ethan.
Berlian ternganga.
“Ethan… nggak… jangan… aku nggak apa-apa, kok.”
“Berlian??”
Berlian bergidik mendengar nada suara Ethan yang terasa begitu mengintimidasinya—dengan indah.
“Tapi….”
“Kamu mau bikin aku malu? Ditolak oleh seorang cewek di tengah keramaian seperti ini?” Ethan berbohong, tidak ada seorang pun di dekat mereka saat ini.
“Than… aduh… aku….” Berlian berusaha tetap mengelak.
Ethan menarik tangan Berlian dengan sekali sentakan, tubuh gadis itu langsung oleng dan jatuh tepat di punggung Ethan. Dengan sigap Ethan langsung berdiri, mengangkat kedua tungkai Berlian yang berbalut celana panjang berwarna biru langit, ke sekitar pinggangnya. Lalu mengapitnya dengan kedua lengannya dengan erat.
“Ethan…” bisik Berlian, sangat pelan, karena tenaganya sudah terhisap habis oleh kerja jantungnya yang semakin keras.
“Nggak capek jadinya, kan?” kata Ethan, tidak memedulikan protes yang keluar dari mulut Berlian.
Berlian tidak menjawab, tangan kanannya memeluk bahu Ethan. Tangan kirinya memegang tas tangan kecil miliknya. Hidungnya menempel di kepala Ethan, wangi tubuhnya mengisi penuh pikirannya, tak ada tempat tersisa untuk memikirkan hal lainnya.
Dia merasa nyaman, mendekap punggung tegap itu, merasakan kehangatannya.
Dia mengendus lagi, mengenali wangi tubuh yang sudah berbulan-bulan menemaninya. Andai….
“Kalau gendong kamu begini, aku inget adik perempuanku….” Lamunan Berlian terpotong.
“Adik?” tanya Berlian.
Ethan melangkahkan kakinya perlahan.
“Iya, kamu ngingetin aku ke adikku, yang sudah lama meninggal dunia. Pertama kali aku ngeliat kamu, aku seperti ketemu adikku lagi…. Aku senang bisa jadi kakak kamu, Yan. Berjanjilah, kamu akan selalu menjadi adikku.”
BAM!
Berlian terdiam, dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menempel di leher belakang Ethan. Nafasnya terasa berhenti mendadak.
Oh??
Adik???
Kakak???
Jadi… selama ini Ethan hanya nganggep aku sebagai adiknya??? Bukan sebagai….
Lalu… kenapa dia selalu….
“Yak, kita sudah di dekat mobil, aku turunkan kamu.” Ethan berjongkok lagi, menahan beban tubuh Berlian, membiarkan gadis itu menapakkan kakinya ke bumi dengan baik.
Ethan langsung membukakan pintu untuk Berlian, namun Berlian tetap berdiri, terlihat teguh dan kokoh namun jiwanya sedang rapuh.
Seribu perasaan berkecamuk, berputar, seperti p****g beliung. Mengempasnya kuat jatuh ke bawah. Hatinya terkoyak, serpihannya terbang terurai bersama angin yang berembus pelan.
Ditahannya kuat-kuat air mata yang sudah siap tumpah.
“Yan? Ada apa?” tanya Ethan. Wajah Berlian pias, tangannya mencengkeram tali tasnya dengan sangat kuat. Buku-buku jarinya terlihat memutih. Rasa marah, kecewa, sedih, patah hati, bercampur menjadi satu. Dia marah, karena dia membiarkan dirinya sendiri terlena, atas kebaikan dan perhatian Ethan selama ini. Dia kecewa karena… cintanya sudah mulai berkembang dan dia harus mematahkannya sendiri.
“Nggak ada apa-apa, cumin capek aja,” jawab Berlian pelan. Hilang sudah cerianya. Mendung bergelayut tanpa bisa dicegah di dalam hatinya.
“Ayo, kita turun, kita cari tempat makan ya?” ajak Ethan.
Berlian mengangguk, terasa berat.
Cintanya bertepuk sebelah tangan dan dia merasa konyol—super konyol—mengartikan kebaikan Ethan selama ini sebagai bagian dari perasaan cinta yang mungkin hadir di antara mereka.
Berlian masuk ke dalam mobil, menarik sabuk pengamannya tanpa gairah. Sungguh, dia ingin menangis kencang-kencang, tetapi tidak mungkin. Ethan akan menganggap dirinya konyol dan mungkin akan membencinya.
Ethan masuk, lalu tetap bercerita seperti biasa, menggoda Berlian yang menurutnya tiba-tiba cemberut seperti boneka beruang yang dulu pernah dimiliki oleh adiknya.
Adiknya.
“Nah, bentar lagi kita sampai,” kata Ethan. Berlian diam.
“Dulu aku pernah ke sini, enak-enak makanannya,” kata Ethan lagi, Berlian masih diam.
“Kita sudah sampia.” Berlian hanya menganguk.
“Kamu kok jadi murung, sih, Yan?” Ethan bertanya sambil menghentikan mobil. Dia turun membuka pintu mobil lalu menuntun Berlian. Ethan mengedarkan pandangannya, memilih duduk di salah satu saung yang posisinya agak jauh dan di sudut.
“Awas undakan naik,” kata Ethan. Berlian berusaha tersenyum, namun bibirnya bergetar.
“Kamu kedinginan?” Ethan melepaskan jaketnya sendiri, lalu menyampirkannya ke punggung Berlian. Berlian menunduk, pertahanannya sudah hampir jebol. Dia tidak tahan. Air matanya sudah siap mengucur. Dia menarik napas panjang.
Tidak! Airmata ini nggak boleh keluar! Aku akan terlihat lebih bodoh lagi!
Ethan memanggil pelayan resto, memesan untuk dirinya sendiri dan untuk Berlian yang hanya sanggup mengangguk pelan pada apa pun yang Ethan pesankan untuk dirinya.
“Boleh aku nanya?” Berlian berkata lirih, menguatkan hatinya. Ingin menuntaskan ganjalan yang ada di hatinya, agar dia tahu langkah apa yang harus diambilnya.
“Boleh… nanya apa?”
Berlian terdiam sejenak, mendadak merasa kelu, mendadak merasa tidak mampu untuk mengucapkan apa-apa. Satu pertanyaan yang ada di kepalanya saat ini.
“Kamu… udah… punya… pacar?”
Lirih, tak mampu mengalahkan detak jantungnya sendiri yang bertalu-talu di antara denyutan rasa sakit.
Ethan menatap Berlian lekat, tidak bisa menjawab langsung pertanyaan itu.
“Kenapa kamu tanya itu?”
Berlian memaksakan dirinya tersenyum, mencoba mengatur nada suaranya sebiasa mungkin.
“Cuma pengen tahu, selama ini kita belum pernah ngobrol tentang ini…” jawab Berlian sambil menyunggingkan senyum. Hatinya berdenyit perih.
Ethan hanya diam. Berlian semakin yakin, Ethan tidaklah sebebas yang dia duga.
“Aku mau jujur sama kamu, Yan. Kamu satu-satunya temanku yang paling dekat sekarang.”
Teman…
Berlian menunduk, setiap ucapan yang keluar dari mulut Ethan seakan menggores hatinya.
“Aku punya pasangan.” Ethan masih menatap wajah Berlian, matanya bergerak-gerak seolah mencari-cari sesuatu di wajah gadis itu.
Berlian mengangkat wajahnya. Kalah. Dia menunduk lagi.
Siapa cewek yang beruntung itu, Than? keluh Berlian dalam hati.
Ethan mengambil napas panjang, matanya belum lepas dari wajah gadis di hadapannya itu.
“Sejak dua tahun lalu…. Namanya… Darwin.”
Berlian menoleh, mulutnya terbuka tanpa dia sadari. Selama beberapa detik, hanya keheningan yang terjadi.
“Darwin?” tanyanya, bingung.
“Aku gay, Yan.”
Berlian merasa darahnya turun dari kepala menuju ke bagian bawah tubuhnya. Otot-ototnya melemas tiba-tiba. Tangannya menyentuh lantai kayu saung, menopang berat tubuhnya yang seakan oleng ke depan.
***