“Gay…?” ulangnya tak percaya. Perasaannya berkecamuk berat. Kalau tadi dia merasa sakit hati karena Ethan hanya menganggapnya sebagai pengganti adiknya, lalu apa yang harus dia rasakan saat ini?
Limbung. Jiwanya limbung, dua kenyataan yang diterimanya berturut turut hari ini, dan dua-duanya sama-sama membuat dirinya terjatuh ke dalam jurang pesakitan. Sepertinya sudah tidak ada lagi celah yang mungkin bisa dikoreknya, untuk menemukan sebuah kata: cinta.
Merebut cinta dari seorang wanita, itu sangat mungkin. Itu hal yang biasa. Tetapi, merebut cinta dari seorang pria? Apa yang harus dilakukannya? Berganti kelamin?
“Iya. Kamu nggak suka punya teman seorang gay?” tanya Ethan. Ringan.
Berlian mengelengkan kepalanya pelan. Tangisnya menjadi urung. Airmatanya mengering tanpa sempat terjatuh di pipinya. Tamparan keras baru saja diterimanya, membuatnya mengedepankan kerja otak daripada hatinya.
Ethan, laki-laki yang dicintainya, laki-laki yang pernah diharapkan lebih baginya, laki-laki yang telah membuat hari-harinya indah; seorang gay? Apakah ini lebih baik atau lebih buruk dibandingkan dengan jawaban lainnya : bahwa pacar Ethan adalah seorang perempuan?
Berlian mengambil napas perlahan, seakan takut keresahan hatinya akan terbaca oleh Ethan. Namun dia memutuskan, dia telah memutuskan dengan segenap hatinya. Ini lebih baik daripada mengetahui dia harus bersaing dengan seorang wanita. Ini lebih baik daripada mengetahui dia kalah bersaing dengan sesama kaumnya.
Mengetahui pacar Ethan adalah seorang laki-laki, membuatnya kehilangan rasa cemburunya. Dia tidak lagi cemburu. Fakta itu mengurangi rasa sakit hatinya. Mungkin dia akan tetap bisa memiliki Ethan, dengan cara yang berbeda. Dia berusaha mengatur napasnya yang sedari tadi mengalir tak teratur, mengikuti gejolak batinnya.
Sebenarnya dia ingin berlari jauh, menjadi seorang pengecut yang tidak sanggup menghadapi kenyataan. Dia ingin diam, hanya diam, meredam seluruh kericuhan yang terjadi di dalam pikirannya, namun dia tidak bisa bertingkah seperti itu. Apa yang seharusnya terjadi, telah terjadi. Selama ini dia hanya gede rasa, terlalu merasa tersanjung. Itu yang terjadi.
“Seorang teman bagiku, nggak memandang status. Entah dia seorang yang normal menurut norma masyarakat, atau pun seseorang yang memiliki pilihan hidup yang berbeda.” Berlian mengangkat kepalanya, tersenyum kepada Ethan.
Senyum yang kini terlihat tulus. Dia hanya merasa ada yang hal yang lebih besar daripada sekadar sakit hati.
“Terima kasih, Yan. Ini yang aku butuhkan. Bukan celaan, bukan hinaan. Aku juga nggak mau jadi beda kayak gini. Aku pernah berusaha keluar, tapi aku belum mampu. Aku hanya ingin jadi diriku sendiri, dan… inilah aku.”
Berlian mengangguk, pikirannya melayang… saat pertama kali ketemu Ethan, Ethan menerima telepon dari seseorang yang dipanggilnya Win. Lalu di rumahnya waktu itu, Ethan juga menerima telepon, dan mengatakan sesuatu yang kini menjadi jelas semuanya; love you too, Win.
Ini adalah artinya.
Ketika makanan tiba, mereka hanya menikmati semuanya dalam diam, namun tanpa Berlian sadari, Ethan masih begitu lekat menatapnya.
Mereka masih terdiam, saat semua makanan habis. Ethan masih berusaha membangkitkan keceriaan Berlian. Berlian mulai tersenyum, dia merasa tidak ada gunanya menyesali kenyataan ini.
“Habis ini mau ke mana?” tanya Ethan sambil menyeruput habis minumannya, lalu memindahkan duduknya lebih mendekat ke Berlian. Angin gunung yang dingin semakin kencang terasa.
“Terserah kamu, mending pulang aja, kamu pasti capek nyetir.”
“Nggak lah…” Ethan bergeser lagi semakin mendekat, seakan mau melindungi tubuh Berlian dari dinginnya hawa pegunungan.
Berlian menoleh, tersenyum pada Ethan.
“Than… boleh aku pegang wajah kamu?”
Ethan menoleh dengan cepat. Pupil matanya bergerak-gerak memperhatikan wajah Berlian yang masih tersenyum. Dia bingung, apa isi otak wanita di sampingnya ini.
“Boleh. Kenapa?”
“Ini cara seorang buta mengenali wajah orang lain.”
Ethan meraih tangan Berlian tanpa aba-aba, membuat gadis itu sekali lagi tersentak kaget. Getar asmara yang dikiranya telah hilang, ternyata masih menguasainya. Otak dan hatinya tak sejalan. Kenyataan itu ternyata tak membuat rasa cintanya lenyap seketika.
Ethan menuntun kedua tangan Berlian ke pipinya. Berlian tersenyum, memegang pipi Ethan dengan lembut. Tangannya mulai bergerak perlahan, menyentuh gagang kacamata yang kemudian langsung dilepas oleh Ethan. Jari Berlian terus bergerak, menelusuri rahang Ethan yang terasa kasar, menyentuh dagunya, membelai pelan bibirnya, lalu ke hidung. Ethan memejamkan matanya, wajahnya terlihat tenang, namun jakunnya naik turun. Jari Berlian bergerak ke atas, mengusap kelopak matanya, mengelus alis tebalnya, memainkan jemarinya di keningnya, lalu turun lagi ke sepanjang jejak yang telah dilaluinya tadi.
“Kamu cakep.” Berlian tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di pipi Ethan. Ketika Berlian hendak menarik tangannya menjauh, Ethan menangkap tangan itu, namun setelah dilihatnya wajah Berlian tampak terkejut, dia melepaskannya cepat-cepat.
“Aku emang cakep, paling ganteng…” bisik Ethan di telinga Berlian.
Berlian tertawa pelan. “Paling ganteng sekebun binatang?”
Ethan tertawa. Diam-diam dia merasa lega, Berlian sudah kembali bersikap seperti biasanya.
“Ayo pulang!” ajak Ethan. Mereka berdua berdiri, menghampiri tempat kasir, lalu keluar ke tempat parkir. Baru seratus meter berjalan, Ethan teringat, dia meninggalkan kacamatanya di lantai saung. Dia melirik Berlian yang tengah memandang keluar jendela. Dia tetap melajukan mobilnya, tidak memedulikan kacamatanya, dia tidak pernah membutuhkan kacamata itu.
***