Ethan merapikan bajunya, mengangkat lengannya ke atas lalu mengendusnya. Dia melakukan itu di kedua lengannya seolah hendak memastikan sesuatu. Terakhir, dia menarik lengan bajunya, sekali lagi mengendus. Setelah itu dia tersenyum lega.
Kepalanya celingukan di luar pagar. Tadi dia sudah menekan bel rumah Berlian, menunggunya. Tak lama kemudian Berlian keluar rumah. Ethan tersenyum lebar seolah Berlian adalah orang normal yang bisa melihat senyumannya.
“Aku!” teriak Ethan begitu melihat Berlian.
Berlian tersenyum begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Andai Ethan tahu apa yang dilakukan Berlian ketika tahu Ethan akan datang. Secepat kilat dia mandi, memastikan dirinya bersih dan wangi.
“Masuk aja, Than!” seru Berlian, menggagalkan niatnya untuk menghampiri pintu gerbang.
Suara pintu pagar didorong terdengar sebagian lalu ditutup lagi.
“Langsung dari kantor?” tanya Berlian.
“Iya.”
“Ayo masuk, kamu pasti capek. Aku udah bikinin kamu sesuatu.”
Ethan tersenyum, masuk mengikuti Berlian. Dia langsung mengambil duduk di ruang tamu, menyandarkan punggungnya. Sedangkan Berlian terus berjalan masuk dapur.
Mata Ethan menyapu seluruh ruangan yang sangat bersih. Dia tidak habis pikir bagaimana Berlian bisa melakukan ini sendirian. Samar-samar dia bisa mendengar suara bunyi sendok yang berdenting ke gelas dan kompor yang dinyalakan. Dirinya tersenyum.
Ethan berdiri, berjingkat, masuk lebih dalam lagi, meneliti setiap jengkal ruangan yang ada di rumah Berlian tanpa suara. Dia mencatat dalam hati, apa saja yang perlu dibenahi. Dia memperhatikan plafon rumah Berlian, tidak ada jejak kebocoran. Dia tersenyum lega.
Suara langkah Berlian mendekat, Ethan secepat kilat kembali ke kursinya.
Berlian membawa keluar, dua gelas es jeruk kelapa muda dan dua piring nasi dengan lauk semur daging sapi.
“Ayo makan, Than.”
Ethan menerima piring yang disodorkan padanya.
“Ahhh, wangi banget Yan!” serunya sambil mencium isi piringnya dan langsung menyantapnya. “Enak! Enak!” katanya, sambil tersenyum. Berlian tertawa, dia mulai memasukkan makanannya sendiri ke dalam mulutnya.
“Habis!” seru Ethan sambil meletakkan piringnya yang sudah kosong.
Berlian tertawa senang. “Tambah?”
“Masih ada? Entar aku mau lagi,” kata Ethan, tanpa malu-malu. Tawa Berlian masih menggema. Hatinya merasa senang, salah, hatinya merasa bahagia.
“Ada, masih banyak, sengaja masak lebih. Kasian anak kosan…” ledek Berlian. Ethan tertawa. Dia mengambil gelas minumannya, menyeruput kelapa mudanya dengan penuh nikmat.
“Enak banget, mau dong dimasakin terus sama kamu…” katanya sembari mengunyah, sesekali jarinya mengambil kulit batok kelapa yang mengambang.
Berlian menghentikan suapannya. Tersenyum malu. Dirinya merasa salah tingkah. Ethan tidak merasakan perubahan pada Berlian, dia masih berusaha menghabiskan sisa kelapa muda yang menempel di gelasnya.
“Udah makannya?” tanya Ethan ketika melihat Berlian sudah meletakkan piring kosongnya di meja dan gelas minumannya tersisa setengah. Berlian mengangguk, lalu menumpuk piring-piring itu lalu membawanya ke dapur. Ethan memperhatikan Berlian, berjalan hati-hati tapi cepat. Dia merasa Berlian pasti sudah sangat hafal lika- liku rumahnya.
“Gimana? Kamu udah pikirin, ke mana kamu pengen jalan-jalan?” tanya Ethan begitu Berlian sudah meletakkan bokongnya kembali ke atas kursi. Berlian tersenyum, perasaan malu menyerangnya lagi.
“Udah sih ….” jawab Berlian pelan, ragu.
“Jadi?”
“Aku…” Berlian berhenti sejenak. “… aku pengen ke laut. Aku pengen ke gunung. Aku pengen megang bunga Sakura beneran yang di Jepang ….”
Ethan mendengarkan ucapan Berlian dengan seksama. Menyimaknya, menyimpannya di dalam hati. Tatapan matanya melembut, bergerak-gerak seiring pikiran yang bergumul di dalam kepalaya.
“Hehehe, terlalu ya?” kata Berlian dengan senyum malu. “Terakhir aku ke pantai, saat aku masih kelas tiga SMP sama ibuku. Beberapa kali ke daerah pegunungan waktu SMA. Diajak ibu juga waktu itu … Kalau bunga sakura, aku pengen pegang kata orang bunganya cantik banget warnanya merah muda …” Berlian menutup kalimatnya dengan tersenyum lebar.
“Nggak, kata siapa itu terlalu?” Etha berdiri, “Ayo kita pergi.”
“Ke mana?” tanya Berlian bingung. “Kok, langsung? Emang mau ke laut sekarang?” tanya Berlian polos.
Ethan tertawa, tanpa sadar menyentuh rambut Berlian gemas. “Toko material. Aku mau beli cat tembok, besok aku mau ngecat rumah ini.”
Berlian melongo.
“Lho, kok…?” tanyanya bingung. “Ngapain ngecat?”
“Mau aja, sih,” jawab Ethan, ringan. Dia mengedarkan matanya lagi ke seluruh ruangan. “Rumah ini dicat warna kuning muda, kamu mau di cat warna lainnya atau masih sama?” tanya Ethan tidak memedulikan reaksi Berlian. Berlian merapikan rambutnya, terlihat bingung dan gugup.
“Nggak usah, Than…”
“Warna apa?”
Bahu Berlian melorot, dia tahu, dia tidak mungkin bisa mengubah pendirian Ethan lagi. Dia sudah mempelajari sifat Ethan setelah beberapa kali berkomunikasi dengan laki-laki itu, kemauannya harus dijalankan. Ini mengingatkannya kepada seseorang di masa kecilnya dulu.
“Ini warna kesukaan Ibu… warna yang sama aja deh…” jawab Berlian akhirmya.
Jonathan berdiri, “Mana kunci rumah?” tanya Ethan. Berlian berdiri, mengambil kunci rumah dari meja kecil di sebelahnya lalu menyerahkannya kepada Ethan.
“Ayo.” Ajak Ethan. Berlian berdiri, mengikuti Ethan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Berlian menarik napas panjang, dadanya sesak, bukan oleh kepedihan, tetapi oleh rasa lainnya, rasa yang sudah lama sekali tak pernah dialaminya lagi. Perasaan dilindungi oleh seseorang.
***
Catatan :
1. Cupido : Dewa Asmara (bahasa latin)