Bab 8: Love in The Air (1)

1561 Kata
Kini, menjemput dan mengantar Berlian sudah menjadi kebiasaan Ethan. Hampir setiap hari. Di halte dekat Yayasan Mitra Kasih. Jarak yang semula masih terbentuk di antara mereka berdua semakin merapat.             Di antara pertemuan itu, Ethan belum  mengungkit lagi masalah keinginan terpendam Berlian untuk mengunjungi suatu tempat, dan Berlian pun seakan enggan mengatakannya terlebih dahulu kepada laki-laki itu.             “Berlian, kamu di mana?” kalimat tanya pembuka yang selalu diucapkan oleh Ethan.             “Di rumah.”             “Nggak ke mana-mana, kan?”             “Nggak, sekarang Sabtu, aku libur. Kenapa?”             “Aku ke rumah kamu, nanti sore.”             Berlian tersenyum. Ada potongan daging sapi mentah di meja di hadapannya. “Nggak usah bawa apa-apa. Aku masak.”             “Beneran??? Kamu bisa masak???”             “Biasa aja keles. Aku selalu masak kalau weekend.”             “Tapi…” ada nada ragu di suara Ethan.             “Kenapa?”             “Api… kamu harus hati-hati, Berlian.”             Jari Berlian menarik-narik ujung kaosnya tanpa sadar. “Aku udah biasa kok, Than, jangan khawatir.”             “Ya udah, aku ke kantor dulu, ada kerjaan.”             “Hati-hati, Than,” bisik Berlian, lalu menutup teleponnya ketika mendengar jawaban “ya” dari seberang sana.             Berlian meletakkan ponselnya di atas meja. Bibirnya masih membentuk senyuman, tangannya meraih pisau lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.   ***               Jonathan memasuki café tempat yang disebutkan oleh Sonya. Café La Tanza, café yang berada di lantai paling bawah apartemen tempat tinggal Aboy. Dia sudah sering ke tempat itu.             Hanya sekali dia melihat Sonya, namun dia sangat mengingat bagaimana tampang anak bosnya itu. Sosok gadis muda cantik itu belum terlihat di manapun. Jonathan mengambil tempat duduk paling sudut ruangan itu, sebenarnya itu tempat yang sering dia pakai apabila sedang hangout bersama Aboy.             Dia merasa sangat penasaran, apa maksud Sonya mengajaknya bertemu.             Jonathan mengambil asbak yang ada di dekat meja kasir lalu menyulut rokoknya.             Kring!             Ponselnya berbunyi, dia mengira itu Sonya, namun ternyata yang terlihat di layarnya adalah Cathy.             “Ya,” sapanya langsung. “Sejak hari Minggu kemarin, lo belum telepon gue lagi! Lo kenapa sih Jo? Lo berubah banget! Lo seakan menjauhi gue! Lo seakan punya dunia lo sendiri di mana gue nggak lo ijinin untuk masuk!” Jonathan menjauhkan ponsel dari telinganya. Kepul asap rokok melayang-layang seakan membentuk siluet seorang gadis. Dia meniup asap itu, lalu buyar. Gadisnya telah hilang. “JO!” bentak Cathy kencang. “Nggak perlu teriak-teriak. Lo kan nggak kesepian.” Cathy terdiam. “Maksud lo?” tanya Cathy, kini dengan nada suara mendadak turun dua oktaf. “Nggak perlu gue jelasin kan? Lo alergi cengkeh, sejak kapan lo ngerokok kretek?” “Jo… itu… gue…” Cathy tercekat, seperti tikus terjerat perangkap. Tidak menyangka  Jonathan bersikap seperti ini setelah percintaan panas mereka terakhir kali hari Minggu pagi itu. “Lo jangan asal nebak!”             “Gue mau ketemu temen gue, sampai nanti.” Potong Jonathan cepat. Sekilas dia teringat lagi tumpukan puntung rokok kretek di asbak di apartemen Cathy.             Cathy terdengar hendak protes, namun Jonathan langsung menutup teleponnya. Segelas kopi telah berada di depannya, pesanannya ketika mengambil asbak tadi. Matanya keluar ruko, melihat sebuah mobil sport berwarna merah perlahan parkir di sisi seberang di mana mobilnya sendiri berada.             Seorang gadis keluar dari mobil itu. Dia melepaskan kacamatanya dan baru Jonathan tersadar, bahwa dia adalah orang yang sedang dia tunggu. Jonathan mematikan rokoknya, memandangi gadis yang menghampirinya dengan senyum lebar. Sonya mendekati Jonathan dengan langkah seakan memiliki pegas di telapak kakinya. Dandanan khas ABG melekat di tubuhnya. Rambut panjangnya, yang seingat Jonathan berwarna hitam waktu terakhir kali ketemu, kini menjadi berwarna pirang. Rok mininya, benar-benar mini. Kaki panjang mulus yang terlihat di sana, membuat fantasi di mana seharusnya kedua kaki itu membelit.             “Hai!” Sapa Sonya, sambil menarik kursi di depan Jonathan.             Jonathan tersenyum.             “Ada apa?” tanya Jonathan tanpa basa-basi. Diperhatikannya lagi tubuh gadis itu, dari atas ke bawah. Lekukan-lekukan yang baru terbentuk, belum terlalu menonjol, namun sudah sedap dipandang mata.             Sonya tersenyum, lalu menyodorkan tubuhnya ke depan, mendekat pada Jonathan.             “Aku boleh tanya nggak?”             “Silakan.” Jonathan menyesap kopinya. “Mau minum? Makan?” tanyanya cepat. Sonya menggeleng-gelengkan kepalanya, rambut pirangnya bergerak mengikuti gerakan kepalanya.             “Uhm… gini…” Sonya melirik kanan kiri, seakan takut ada yang mendengarkan ucapannya nanti. “Aku punya geng, temen sekolah di Singapura. Empat orang, termasuk aku.”             “Lalu?” Jonatan meletakkan cangkir kopinya.             “Aku umur delapan belas tahun ini. Tahun depan sembilan belas.”             Jonathan menatap Sonya tidak mengerti. Dia mengambil cangkirnya lagi, menempelkan pinggiran cangkir itu ke mulutnya, merasakan panas air kental kehitaman membasahi bibirnya.             Sonya mencondongkan badannya lebih ke depan lagi, berbisik dengan intonasi sangat jelas pada Jonathan.             “Aku-pengen-kamu-ngambil… my virginity.”             Ugh!             Jonathan tersedak. Diletakkannya cangkirnya cepat-cepat, sedikit cairan kopi meleleh dari mulutnya. Dia mengambil tissu yang ada di meja, mengelap lelehan itu perlahan.             “What did you say???” tanya Jonathan lagi, dengan alis yang bertaut.             “I… want… you… to… fvck… me. Take my virginity,” kata Sonya sambil tersenyum Senyum iblis berbaju Sailor Moon. “What the hell are you talking about…?” tanya Jonathan tak percaya. Tak percaya pula hal ini akan dialaminya. Senyum iblis Sonya masih bertahan, kini tanduk merahnya seakan terlihat jelas.             “Aku udah telanjur ngomong ke geng aku, bahwa aku udah nggak perawan. Mereka semua udah melakukan itu tahun lalu, aku belum,” jelas Sonya dengan mata memandang polos pada Jonathan. “Ketika aku ngeliat kamu pertama kali di studio, aku tahu, kamu yang boleh mengambilnya dari aku.”             “Damn…” Jonathan mendesis sambil menggaruk kepalanya. “Fvcking crazy idea. And you think all of your friends have lose it?”             Iblis bertanduk merah berbibir basah it u mengangguk berkali-kali pada Jonathan.             “Iya, aku pernah lihat mereka pakai dildo.”             s**t!             Jonathan menatap lekat mata gadis di hadapannya, tak percaya pada telinganya sendiri. “Please?” tanya Sonya dengan kedua tangannya saling menggenggam. Dia memohon seakan untuk sesuatu seperti “berikan aku segelas air minum” atau “aku lapar, aku butuh makanan”. Dia memohon untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu sampai memohon. Siapa pun yang memiliki batang, akan begitu bahagia menerima tawaran itu. Jonathan memiliki benda itu.             “Apa yang kamu harapkan setelah kamu berhasil melepas keperawanan kamu?” tanya Jonathan pada iblis yang begitu menggiurkan kini di matanya.             “Mereka akan ngasi aku tas HM terbaru!” pekiknya senang sambil kini menekan kedua pipinya yang keluar semburat kemerahan karena bahagia. “Papa nggak mau beliin aku tas itu, katanya mahal, katanya mending dia pake uangnya buat stasiun radio baru!”             Oh my God… hanya demi sebuah tas….             Jonathan menarik napas panjang.             “Mau kan? Aku juga nggak akan sembarangan milih orang. Kata temenku, malam pertama itu harus diberikan kepada seseorang yang spesial. Aku kira kamu spesial.”             Hah!             Jonathan termangu menatap “hidangan fresh from the oven” di hadapannya.             “Aku janji, nggak akan ngomong ke siapa-siapa, I swear!” katanya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, membentuk sumpah.             “Jo!”             Jonathan mengalihkan pandangan matanya dari Sonya. Aboy. Aboy melangkah cepat, mendekati mereka berdua.             “Ngapain lo di sini?” tanyanya sambil memandang Jonathan, lalu memandang Sonya tak berkedip. Jonathan memperhatikan temannya itu, yang terlihat sedang mengeluarkan senyum mautnya. Senyum yang selalu dikeluarkan oleh Aboy saat dia menyukai seorang gadis.             “Kenalin, ini Aboy,” kata Jonathan. “Ini Sonya. Lo nggak ke toko lo, Boy?”             “Tadinya. Tapi kayaknya nggak jadi deh…” Suara Aboy mengambang, tak melepaskan pandangannya dari Sonya.             Aboy tersenyum, senyum yang sangat Jonathan hafal. Senyum karena terkena panah dewi Amor. Sonya hanya memandang Aboy sekilas, lalu kembali menatap Jonathan dengan tatapan penuh harap.             Jonathan berpikir cepat, merasa tidak tepat untuk melibatkan Aboy. Di berdiri.             “Saya harus ke kantor sekarang. Udah telat. Lain kali kita sambung, Sonya.”             “Yeee, tunggu!” teriak Sonya ketika Jonathan melewati dirinya sambil menepuk punggung Aboy.             Jonathan bergegas ke mobilnya, tidak menghiraukan panggilan gadis yang sedang menjajakan keperawannnya itu. Jonathan menyalakan lagi sebatang rokok, lalu dihisapnya kuat. Tiba-tiba dia menoleh ke belakang. Aboy sedang duduk sambil tersenyum di kursi tempat dia duduk tadi.             Jonathan tertegun, Aboy juga memiliki benda itu.             Dienyahkannya pikiran yang melintas di kepalanya, dia menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum mematikannya dengan ujung kakinya ke tanah. Dia melihat kedua orang itu sekali lagi, masih di tempat semula, entah apa yang dikatakan Aboy namun terlihat Sonya tertawa lebar.             Sebelum masuk ke dalam mobilnya, matanya menangkap warna merah mobil Sonya, di sisi belakang mobil terlihat jelas stiker Hello Kitty berwarna pink ditempel di sana. Bibirnya sedikit tertarik ke atas. Girl will remain the same.             Mobilnya bergerak meninggalkan  kawasan apartemen itu. Meninggalkan seekor kucing dan ikan segar di dalam satu ruangan.             Pikirannya segera teralihkan, dia berkonsentrasi pada jalanan di depannya.  Dia menyalakan lagu berirama rock untuk menemaninya menekuri jalanan yang padat oleh kendaraan dan merayap pelan seperti sekelompok semut yang beriringan.             Jonathan setengah berlari keluar dari mobil menuju lift gedung kantornya, begitu pula ketika pintu lift terbuka, dia menggerakkan kakinya selebar mungkin menuju kantornya. Dia tiba hanya sepuluh menit dari jam mulai siaran.             “Darimana lo?” tanya Dito begitu dia menlihat rekannya itu membuka pintu ruang siaran.             “Kesiangan,” jawab Jonathan.             “Lo keliatan makin sibuk aja akhir-akhir ini.”             “Demi hidup,” jawab Jonathan, diplomatis.             “Hidup adek lo?” ledek Dito.             Keduanya tertawa. Lambaian tangan produser mereka menghentikan tawa yang begitu keras.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN