Zia diam, tidak lagi sibuk berontak seperti yang dilakukannya tadi. Manik matanya takut-takut menatap mata Ardi yang tajam menusuk ulu hatinya. Bukan hanya tatapannya saja yang membuat Zia berhenti berontak, tapi ancaman yang baru saja diluncurkan oleh pria di hadapannya itu. “Aku nggak akan segan-segan cium kamu. Dan kali ini bukan di pipi, tapi di bibir!” ulang Zia dalam hati. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan, setelah hening beberapa saat Zia mengangguk ragu. Dirasakannya Ardi menghela nafas lega, lalu menyingkirkan tangannya dari mulut Zia. “Inget, kamu harus denger penjelasanku sampe akhir dulu. Dan nggak ada acara teriak-teriakan,” tutur Ardi masih dengan nada yang tidak terbantahkan. Zia menelan ludah, bukan hanya karena takut ancaman suaminya, tapi juga karena takut pada s

