Mataku membulat melihat Erlangga yang tersenyum manis saat mama membuka pintu. Firasat tak enak seketika menyeruak. Seingatku, aku merasa telah memberi pengertian sejelas-jelasnya di pertemuan terakhir kami beberapa hari lalu. Termasuk salah pahamnya tentang aku yang ia sangka akan memberi kesempatan padanya.
Dan menurutku, sepertinya semua telah clear saat itu juga. Lalu, alasan apalagi yang membuat dia merasa masih perlu untuk datang ke rumah ini? Wajah mama seketika berubah cerah. Meski harapannya akan siapa yang datang tak terkabul, namun kehadiran Erlangga nampaknya lumayan menaikan kembali moodnya. Terlebih saat sekilas, kami melihat goodie bag yang di tenteng pria itu. Aku tahu, mama akan bersikap ekstra ramah padanya.
“Aduuh … coba lihat siapa yang datang. Tante nggak mimpi, kan?” aku merasa mual dengan sambutan mama yang terkesan alay. Erlangga tersenyum ramah seraya meraih tangan mama untuk dicium. Dih, pintarnya pria satu ini mencari muka … ck!
“He he … nggak, dong Tan. Ini beneran saya,” jawabnya seraya melirik ke arahku. Aku memaksakan diri mengulas senyum yang mungkin terlihat kaku. Erlangga menyalami dan menatapku penuh arti. Aku mencoba untuk tak terlalu mengacuhkannya.
“Ayo masuk, Nak Er. Kita ngobrol di dalam. Dri, ajak dong mas Erlangganya!” mama mengerlingku. Mau tak mau, aku membawanya memasuki ruang tamu. Kalau tahu Erlangga akan datang, mending aku cepat tidur saja tadi.
“Ini ada sedikit oleh-oleh dari mami, Tan. Maaf, ya, ala kadarnya saja.” Erlangga menyerahkan goodie bag warna merah untuk mama, dan warna biru untukku. Aku menerimanya dengan tak begitu antusias. Beda dengan mama yang langsung membuka isinya secara live saat itu juga.
“Ya ampuun … kok repot-repot banget, sih jeng Sherly. Ini tas mahal, lho, Nak Er. Tante jadi nggak enak nerimanya,” mama menutup mulut, kala melihat apa isinya. Aku memutar bola mata mendengar aktingnya. Basi, ma!
“Enggak, kok Tan. Biasa aja. Semoga Tante suka, ya,” jawab Erlangga, tampak sedikit sungkan.
“Tentu saja Tante suka. Mami kamu itu paling top deh kalau urusan memilih barang. Tante suka sama seleranya. Sampaikan terima-kasih Tante ke mami, ya.”
“Pasti, Tan.”
Lalu, tatapan mama beralih cepat ke arahku. Melihat sikapku yang tak seantusias dirinya dalam menyambut Erlangga, membuat mama merasa perlu memberi kode tertentu dengan membulatkan matanya sekejap. Tentu saja tanpa sepengetahuan Erlangga.
“Kalian ngobrol aja, ya. Tante tinggal ke dalam dulu. Biar nanti mama suruh bik Yuyun membuatkan minum.” Mama bahkan mengantisipasi agar aku tak punya alasan untuk meninggalkan Erlangga barang sekejap saja.
Sepeninggal mama, kami saling terdiam sejenak. Sungguh, aku tak tahu harus memulai obrolan seperti apa dengan tamu yang kedatangannya bahkan tak kukehendaki.
“Apa kabar?”
Duh, pakai tanya kabar segala. Kayak yang sudah tahunan saja tidak bertemu!
“Baik. Kamu juga kelihatannya baik-baik aja. Jadi, aku nggak perlu tanya balik, kan?”
Alih-alih menciut dengan sikap garingku, Erlangga malah tertawa kecil. “Jangan galak-galak. Kamu malah makin cantik, tau, kalau lagi jutek begitu. Makin gemesin,” ucapnya, tanpa sungkan mengedipkan mata. Aku reflek melengos, mencoba untuk tak begitu menghiraukan.
Sejujurnya, aku tak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa dengannya. Aku sadar betul semua ini akan mengarah ke mana. Dan itu, sungguh membuatku malas menghadapinya.
“Tumben mampir,” ucapku, sekenanya. Asal ada bahan yang dibicarakan.
“Karena aku kangen.” Erlangga menjawab mantap, tanpa keraguan sedikit juga. Aku sempat melongo memandanginya. Apa aku sudah salah bicara dengan memberinya peluang ngawur seperti itu?
“Jangan judes gitu ngelihatnya. Aku berhak untuk merasa rindu sama siapa saja, kan? Yang penting pada kenyataannya, aku tak pernah memaksa untuk dibalas dengan rasa yang sama?” ia menatapku langsung ke retina mata. “Tapi kalau berbalas sama, akan lebih indah juga, sih,” lanjutnya lagi.
“Mas Er kan sudah tahu apa keputusanku.” aku mengingatkannya.
“Iya, aku sudah dengar. Tapi alasan yang pernah kamu utarakan itu tak sepenuhnya berisi penolakan, kan? Kamu hanya menginginkan kuliah dengan tenang tanpa gangguan, termasuk untuk hubungan cinta sekalipun. Aku bisa terima itu.”
“Tapi, aku rasa aku berhak untuk terus berjuang meyakinkanmu kalau aku layak untuk itu. Aku akan sabar menunggu. Cukup izinkan aku untuk bisa berada dekat denganmu, meski tanpa status sekalipun.”
Aku menghembuskan nafas berat tanpa sadar. Dari caranya yang tetap gigih mendekati meski tahu tak direspon dengan begitu baik, kurasa Erlangga tak bisa dipandang sebelah mata. Padahal kalau dipikir-pikir, masih banyak gadis lain yang lebih segalanya dariku. Yang mau menerima dia dengan tangan terbuka tanpa syarat apapun. Lalu pertanyaannya kenapa harus aku? Well, aku bukan satu-satunya gadis cantik yang ada di Jakarta ini, kan?
“Kenapa Mas Er harus melakukan itu? Mas tidak merasa sedang membuang-buang waktu?”
“Kalaupun memang seperti itu, setidaknya aku sudah melakukan yang seharusnya. Karena aku cinta sama kamu,” ucapnya, tanpa tedeng aling-aling.
Aku meringis sinis. Cinta? Bah!
Pengalaman kedua orang tua, membuatku sedikit trauma akan istilah cinta. Lihatlah papaku, betapa ia hanya mendulang akhir yang menyedihkan atas apa yang ia sebut sebagai cinta. Perjuangan mengejar cinta yang bahkan dalam prosesnya, harus menyakiti hati seseorang. Semua demi lebih mengikuti kata hatinya. Tapi, apa yang ia dapat?
Wanita yang dulu kutahu seolah tak bisa hidup tanpa papa itu, bahkan memilih melepasnya dengan mudah, tanpa kedip sedikit juga. Aku nyaris saja mempercayai kalau cinta itu memang ada. Sungguh, aku telah berjuang untuk memaafkan saat aku tahu akan sesuatu itu. Sesuatu yang penting, yang masih menjadi rahasia hingga kini.
Kupikir, aku bisa memaklumi dan mencoba menerima semua. Bukankah mata ini sendiri yang melihat betapa tak terpisahkannya mereka? Papa dan mama bahkan tak sanggup untuk saling berjauhan sekejap saja. Tapi nyatanya, akhir dari kisah mereka begitu ironi. Papa ditinggalkan hanya karena harta yang dimilikinya tak lagi sama, bahkan nyaris anjlok ke titik nadir.
Intinya, cinta adalah tentang sesuatu. kau mencintai seseorang, pasti karena sebab tertentu. Harta? Fisik yang rupawan? Tunggulah hingga apa yang menyebabkan semua itu berubah, apakah cintamu pun masih tetap sama?
Jadi, aku tak terlalu bahagia dengan pernyataan cinta semacam itu. Dan akupun tak mau terlalu berharap banyak akan cinta. Aku hanya menjalani apa yang ingin aku lakukan. Dan untuk saat ini, menerima Erlangga bukanlah bagian dari rencana.
Otakku telah terlanjur penuh dengan skema rancangan akan sesuatu, yang hanya melibatkan om Bram di dalamnya. Meski tanpa cinta. Bukankah definisi hidup adalah sesuatu yang harus kita isi dengan menggapai apa yang kita inginkan? Bila pada akhirnya akan membawa kebahagiaan, anggap saja bonus. Tak lebih. Dengan kata lain, kebahagiaan bukanlah tujuanku. Setidaknya untuk saat ini.
“Mas Er tidak merasa terlalu cepat membahas cinta? Apakah bahkan Mas mengenal aku dengan baik?”
“Bukankah itu yang aku pinta? Izin untuk mengenal kamu lebih baik lagi dengan tetap berada dekat denganmu?” Erlangga menyergah dengan membalikkan perkataanku sendiri.
“Tapi Mas gegabah dalam mengungkapkan cinta. Apa yang Mas lihat dari aku? Kita bahkan baru beberapa kali bertemu.”
Erlangga menatapku lamat-lamat. Actually, dia pria yang cukup menarik, lovable. Tapi sayang, aku kepalang menutup pintu hati.
“Kalau kamu tanya kenapa, jujur, aku juga nggak tahu. Kadang, kita tak butuh alasan untuk menyukai seseorang, kan? Mungkin juga kecurigaanmu benar, aku tertarik karena kamu cantik. Kamu … beda aja.”
“Please, jangan bilang masih banyak yang lebih cantik dari kamu. Karena hatiku juga nggak semurahan itu untuk mudah tertarik pada seseorang,” tambahnya lagi.
Aku hanya menggaruk kepala yang tak gatal. Sebenarnya, aku mulai mengantuk. Namun, entah sampai kapan aku akan terjebak dalam pembicaraan yang unfaedah ini.
“Cukup beri aku kesempatan. Sesuai janjimu kemarin. Kamu ingin lulus dulu, oke, aku bisa terima itu. Kecuali kalau ….” Erlangga menggantung ucapannya.
“Kalau apa?”
“Kalau itu hanyalah sekedar alasan kosong yang dibuat-buat, atau bisa jadi karena sesungguhnya, kamu punya pilihan lain.” Ia menatapku lekat.
“Dan kalau ternyata karena ada orang lain?” dan bodohnya, aku terpancing.
“Aku akan tetap berjuang. Aku harus mendapat jawaban, kenapa dia bisa menjadi pilihan kamu, bukan aku. Intinya, aku tak akan mundur semudah itu, Nona manis.”